
Melinda memerintahkan semua pelayan untuk menyimpan semua foto-foto Arya, agar Sanum tidak curiga. termasuk menyulap kamar mewah arya menjadi kamar perempuan dan kamar tidur disamping Arya menjadi kamar Devan dan revano.
Sanum menyalami Oma, yang ternyata juga sudah menunggu nya dirumah yang cukup mewah dan besar.
"Selamat datang Sanum dan kesayangan ku Davina." Ucap Oma yang sangat bahagia, karena impiannya selama ini terwujud dengan sendirinya.
"Terimakasih Tuhan, sekarang aku bisa menikmati hari tua ku dengan tenang dan bahagia. karena memiliki cicit-cicit yang mengemaskan." Ucap Oma dalam hatinya.
"Tante bagaimana dengan Revano dan Devan?" yang Sanum. memikirkan kedua jagoannya yang masih di indoneia.
"Tenanglah Sanum, besok mereka pasti sudah sampai dan berkumpul dengan kita. Mami sudah memerintahkan Sena untuk menjemput mereka termasuk bi Ijah." terang Melinda.
"Mami?" gumam Sanum pelan, namun terdengar oleh Melinda.
"Sanum, mulai sekarang panggil Mami saja ya nak. karena kamu sudah mami anggap sebagai anak kandung sendiri." terang Melinda tersenyum tulus.
"Terimakasih mi," Ucap Sanum memeluk erat tubuh! Melinda.
__ADS_1
"Iya sayang,"
Sementara Arya membanting apapun yang ada diruangan kerjanya, begitu mengetahui jika Sanum ternyata memiliki seorang anak perempuan yang sedang sakit parah, sehingga Sanum rela menjual dirinya pada Arya, untuk mendapatkan jumlah uang biaya operasi anaknya.
"Apa kalian yakin jika dia benar-benar anakku.?"
"Ya tuan, ini sampel rambut dan hasil tes DNA nya." Ucap Zein.
"Wanita brengsek, teganya kamu membohongiku selama ini." Arya mengepalkan tangannya emosi. dia hanya tahu jika Sanum memiliki Davina dan langsung menuju rumah sakit milik mamanya tempat Davina pernah dirawat.
Melihat kedatangan Arya, pimpinan rumah sakit dan karyawan nya langsung menunduk hormat dan mempersilahkan Arya menuju ruangan maminya.
"Selamat datang Tuan Arya."
"Jangan kebanyakan basa-basi, dirumah sakit mana kalian merekomendasikan putriku Davina, dan siapa orang yang menjamin biata pengobatan nya.?" Arya langsung pada Poko pertanyaan nya.
"Maaf Tuan kami benar-benar tidak tahu," Ucap tim dokter yang sudah bekerjasama dengan Melinda dan Oma.
__ADS_1
Arya mengepalkan tangannya, menatap tajam satu persatu dokter itu.
"Tidak mungkin, berterus terang lah jika tidak ingin nasip kalian sebagai tenang kesehatan berakhir sekarang." Ucap Arya yang mulai berdiri dan mendekati datu persatu mereka yang menunduk.
"Ma... maaf Tuan Arya, berdasarkan informasi dia dijamin Nona Sanum! sendiri dengan pinjaman uang, setelah dia berhasil melunasi dia pergi ke Amerika." Ucap seorang perawat.
"Mungkin dia mengunakan uangku untuk melunasi semua nya, dan sekarang setelah semua selesai dia membawa anak ku kabur dengan sisa uang yang aku berikan." gumam Arya yang memerintah orang-orang nya untuk melacak keberadaan Sanum kenegaraan lain, kecuali Meksiko dia sangat yakin jika Sanum tidak akan mungkin bersembunyi di negara itu.
"Maaf bos, kami kesulitan melacak keberadaan Nona Sanum. nama dan data-data nya seolah-olah sudah diganti. aku yakin ada seseorang yang memiliki pengaruh cukup besar untuk membantu Sanum melakukan semua ini." terang Zein.
"Siapa orang yang membantu Sanum itu?"
Arya mondar-mandir sambil memikirkan hal itu, timbul rasa khawatir dan cemburu jika seseorang yang melindungi Sanum itu seorang pria tampan dan kaya raya. tapi Arya menepis segera pikiran nya itu.
"Tidak mungkin dia seorang pria, kalau tidak mana mungkin Sanum lebih memilih menyerahkan tubuhnya pada diriku."
Meskipun kecewa dan marah pada sikap Sanum yang tidak pernah jujur, namun Arya bahagia paling tidak Sanum telah memiliki anak dan sanum sudah berhasil merawat nya dengan baik.
__ADS_1