
Sanum membuka matanya saat merasakan sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya. dia kembali memejamkan mata merasa malu jika Arya Melihat mata dan wajah bahagia nya sekarang.
"Selamat pagi sayaaaaang......!" Arya kembali ke! bisikan kata-kata yang membuat Sanum terbang melayang
"Pagi juga kak mas" balasnya pelan sambil meringkuk dalam balutan selimut tebal.
"Tumben bermalas-malasan, masih ngantuk ya?"
"Bawaan Dede calon bayi Kita mungkin mas."
Sanum mengusap pelan perut nya, susah kebiasaan setiap hamil Sanum jadi suka bermalas-malasan di tempat tidur.
"Apa masih pengen lagi?" arya menggoda Sanum.
"Iya mungkin mas." ucap Sanum sambil beranda, mengangguk pelan dengan muka merah bak kepiting rebus, membuat Arya tanpa sadar memegang gemez pipinya itu dengan kedua tangannya.
"Aduuuuuh sakit mas" rengek Sanum manja.
"Habisnya sikap mu itu selalu membuat ku gemez, mandi bareng yuk" Arya turun dari tempat tidur dan memakai piyama tidur yang tergeletak di lantai
__ADS_1
"Ngak mau"
Sanum menenggelamkan wajahnya kedalam selimut, dia merasa malu membayangkan tanpa busana, mandi bersama suaminya. meskipun Arya sudah sering melihat tubuhnya.
"Ayolah Sanum sayang....bentar aja" bujuk Arya kembali duduk disisi tempat tidur.
"Tubuhku gendut mas dan jelek, ngak langsing seperti dulu lagi." Sanum akirnya tanpa sadar mengeluarkan unek-uneknya.
"Siapa bilang tubuh kamu jelek, buatku kamu wanita yang paling seksi dan tercantik di dunia ini" goda Arya.
"Iiiiii gombal"
"Belah lah Sayang, pasti ada namamu disini." membuat Sanum tertawa lepas.
Tanpa banyak bicara dan persetujuan lagi, Arya menyusupkan kedua tangannya kedalam selimut tebal yang menutupi tubuh Sanum dan menyibaknya, Arya langsung mengendong tubuh istrinya menuju kamar mandi.
Dengan hati-hati Ary merebahkan Sanum kedalam Bathub, dengan aroma wangi mawar yang membuat kedua pasangan itu merasa tenang, Arya ikut masuk dengan posisi dibelakang Sanum posisi favorit nya.
Tangan lembut Arya mengelus setiap lekukan tubuh Sanum, yang membuat gairah keduanya langsung bergelora kembali. ciuman demi ciuman lembut tidak luput dari wajah hingga leher jenjang bumil itu. ******* nikmat terdengar dari bibirnya.
__ADS_1
Pagi itu mereka kembali melanjutkan penyatuan yang tidak pernah membuat mereka berdua bosan, Sanum dan Arya seolah-olah kecanduan untuk melakukan itu.
"Terus sayang.....aku menyukai permainan mu ini" bisik Arya
Kedua nya sama-sama mencari puncak keindahan, Sanum akirnya terkulai lemas dipangkuan Arya. dia hanya membiarkan dirinya digendong menuju shower dan dimandikan Arya.
Setelah mereka berdua membersihkan tubuh dan berpakaian kembali, tiba-tiba ponsel Arya berdering tanda panggilan masuk. tertera nama Zein dilayar ponsel itu.
Arya mengangkat panggilan tersebut, sementara Sanum merapikan penampilannya didepan cermin besar yang terdapat di kamar itu. dengan mengolesi bedak tipis dan sedikit Lips gloss menambah kecantikan Sanum benar-benar terlihat Natural.
Setelah menutup panggilan telpon, dengan ragu Arya menyampaikan permasalahan yang dihadapi sahabatnya itu..
"Stevani?"
"Ya, fiasalah sahabatnya Safira."
"Kasihan ya mas, bagaimana dengan kondisi nya sekarang?"
"Menurut keterangan Zein, dia masih koma."
__ADS_1
"Kasihan sekali, semoga gadis itu cepat sembuh mas." Sanum terlihat sedih, teringat jika hal itu juga menimpa dirinya.