
Sesampainya di sana waktu sudah menjelang Fajar meskipun sedikit gelap mereka pun di ajak oleh Raja Freevik Reagon dan Raja Alfred Eldragon menuju pasar tradisional.
Kemudian Raja Alfred menemui Bos dari pasar tradisional tersebut yang khusus menjual hasil laut di kawasan federasi bebas tersebut.
"Hai Bos, kita memiliki barang bagus untuk di jual"
Bos pasar sedikit tertawa
"Hahaha....aduh tuan kenapa orang-orang dan anda begitu kotor dan berbau amis, apakah yang hendak anda jual, kalau dilihat dari tinta yang ada di tubuh anda pasti anda akan menjual gurita yang besar betul tidak"
Raja Alfred pun tertawa
"Hahaha....tebakan mu benar, ternyata bos pasar ini sudah berpengalaman juga"
Bos pasar itu mengelus hidungnya.
"Haha...iya dong kalau tidak berpengalaman mana bisa jadi Bos di sini, mana boleh saya lihat"
Bos pasar meminta melihat tangkapan yang di bawa oleh Raja Alfred. Kemudian Raja Alfred berbisik kepada Raja Freevik.
"Freevik keluarkan tentakel Kraken yang kita tebas cukup satu saja saya pengen lihat reaksi dia bagai mana, dan kalau harganya bagus kita bisa makan besar"
Raja Freevik pun mengangguk.
"Tenang saja percayakan saja pada ku"
Kemudian Raja Freevik Reagon mengeluarkan tentakel monster Kraken yang begitu besar. Dari dalam item Room yang dia buka
Brak....
Bos pasar pun melotot karena satu tentakel dari monster Kraken tersebut begitu besar bahkan halaman tempat biasa melelang ikan yang besar pun terpenuhi oleh tentakel tersebut yang melingkar.
Dan tentakel monster Kraken pun menjadi tontonan orang orang yang berada di sana. Bos pasar pun binggung menentukan harganya dan dia tidak tahu harus berbuat apa.
Karena baru pertama kali dia melihat tentakel monster Kraken yang hanya di ceritakan oleh para pelaut dan hanya menjadi buah bibir atau legenda saja. Dan sekarang orang orang melihatnya dengan mata dan kepalanya sendiri.
"A....apa ini Tentakel monster Gurita yang kata sebagian pelaut bisa menelan satu buah kapal dan dapat menyebabkan ombak stunami"
Raja Alfred dan Raja Freevik mengangguk.
Kemudian bos pasar pun bertanya lagi.
"Apa kalian sudah mengalahkan monster tersebut"
Mereka berduaan pun mengangguk.
"Ini bukti nyata kami membawa tentakel monster tersebut dan lihatlah tinta yang ada di badan kami, ini adalah tinta monster Kraken tersebut"
Kemudian Bos pasar itu menghitung keuntungan yang dapat dia peroleh kemudian dia pun mengajukan tawaran kepada Raja Alfred.
Seratus Ribu Koin emas bagai mana itu sudah harga paling tinggi soalnya saya pikir bahwa tentakel ini tidak memiliki tulang keras dan laku untuk di jual.
Raja Alfred pun menyetujuinya.
"Baiklah seratus ribu koin emas juga boleh"
Kemudian Raja Alfred berbisik kepada bos pasar.
"Kalau kamu membutuhkannya lagi datang saja ke penginapan di tengah kota yang di sewa oleh kerajaan Lareagon sebelum kompetisi ini berakhir"
Bos pasar mengangguk
"Baik lah tuan"
Kemudian bos pasar memerintahkan anak buahnya.
"Hai kalian ambil uang koin emas di peti itu dan berikan kepada mereka"
Anak buah bos pasar mangambik peti dan memberikannya kepada Raja Alfed.
"Ini tuan uangnya"
"Terima kasih ya..."
Raja Alfed pun berterima kasih kepada bos pasar.
"Terima kasih Bos, senang berbisnis dengan anda"
Mereka pun pulang dengan senang dengan mendapatkan seratus ribu koin emas.
Sisanya masih berada di sihir dimensi item Room milik Raja Freevik Reagon dan itu nanti sebagian lagi akan di jual ke kerajaan lain dan inti monster nya di berikan kepada Willy.
Sesampainya di penginapan Clarisa menunggu cemas karena dari semalam mereka tidak ada.
"Aduh dari mana saja kalian semua, kakek sudah tua juga masih kotor kotoran pake tinta lagi.
Aduh kalian ternyata bau amis, cepat pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri"
Semua kena marah Clarisa dan semua orang menundukan kepalanya kepada Clarisa.
Sebelum membersihkan diri Raja Freevik Reagon menemui Koki di dapur dan memberikan beberapa potong Tentakel monster Kraken.
"Koki tolong masakan ini untuk kita ya dan kalau sudah selesai panggil semua orang untuk makan"
"Baik tuan ku Raja..."
Semua orang pun membersihkan diri dan tidak selang beberapa waktu makanan yang di buat oleh koki penginapan pun sudah jadi semua orang yang berada di penginapan ini semua di panggil oleh pelayan penginapan untuk segera ke lantai bawah dan makan bersama.
Semua orang pun telah selesai membersihkan diri dan mereka langsung menuju ke lantai bawah.
__ADS_1
Willy bersama anak anak yang lain duduk dalam 1 meja, para kapten pun duduk dalam satu meja.
Kemudian Clarisa datang dengan membawa banyak kantong berisi uang koin emas, di perkirakan ada sekitar 100 uang koin emas dalam satu kantong.
Brak....
Clarisa meletakan kantong uang itu di meja tempat dimana Willy dan anak anak berada.
"Apa ini kak"
Willy bertanya kepada Clarisa. Dan Clarisa pun menjawabnya.
Ini adalah kantong uang, kalian masing-masing dapat satu kantong yang berisi uang, ini adalah kesepakatan dari kakek Freevik dan ayah mertua Maharaja Alfred.
Kemudian Clarisa membagikan uang tersebut kepada anak anak termasuk Willy dan Maria.
Semua anak pun berterima kasih.
"Terima kasih putri Clarisa"
"Iya sama sama"
Kemudian Clarisa pun membawa sisa kantong uang itu ke para kapten dan uang itu pun di bagikan kepada para kapten.
Di meja tempat Willy anak anak pun sedang mengobrol.
"Padahal kita hanya menonton saja kenapa kita kebagian uang ini, mana banyak lagi"
Willy pun tersenyum
"Sudah terima saja itu sudah rejeki kalian semua"
Kemudian Vico bertanya kepada Willy
"Eh putra Eldra, aku mau tanya apa benar yang kamu gunakan untuk membelah Monster Kraken itu adalah pedang Dewa Naga Agung"
Willy pun mengangguk.
"Suut.... Jangan keras nanti yang lain dengar sini aku ceritakan"
Mereka pun saling mendekat dan tubuh mereka bertumpu pada meja yang berada di tengah mereka.
Willy pun mulai bercerita.
"Pedang ini aku cabut di tugu pedang kerajaan Lareagon, awalnya mereka marah kepadaku karena naik ke monumen pedang yang di anggap suci oleh bangsa Dwarf.
Setelah aku berhasil mencabut pedang itu mereka malah berlutut di depanku dan menyebut ku putra Eldra, nah di sanalah asal-muasal aku di panggil putra Eldra padahal namaku sendiri adalah Willy"
Mereka pun mengangguk
"Oh jadi itu ceritanya"
Semua orang menjadi kagum kepada Willy. Kemudian Nolan memberanikan diri bertanya kepada Willy.
Willy pun merespon pertanyaan dari Nolan.
"Kalau tentang itu Maria lah yang lebih ahli biar Maria yang menjelaskannya"
Maria sedikit kaget
"Kok malah aku sih, aku kan di ajari sama seperti Willy oleh kakek Fahetar"
Mereka pun berpikir karena pernah mendengar nama yang disebutkan oleh Maria. Siren pun mengingat siapa yang bernama kakek Fahetar tersebut.
"Apa yang di maksud oleh Maria adalah penyihir Agung Volyaw Fahetar"
Semua anak kaget ketika mendengar Siren menyebutkan nama penyihir agung Volyaw Fahetar.
Maria dan Willy pun mengangguk kemudian Maria mengiyakan perkataan dari Siren.
"iya betul, memang kakek Fahetar pasti terkenal di kalangan para Magi seperti Siren karena dia adalah sosok Penyihir Agung yang di puja para magi"
Yarnt pun penasaran dan bertanya kepada Willy dan Maria.
"Apa penyihir agung Volyaw Fahetar itu adalah guru kalian"
Willy dan Maria pun mengangguk, tiba tiba di belakang mereka terdengar suara yang menjawab pertanyaan dari Yarnt.
"Benar Penyihir Agung Volyaw Fahetar adalah guru kami bertiga"
Semua orang pun meyapa.
"Selamat datang Raja Ferik Reagon silahkan duduk"
Orang yang menjawab tadi adalah Raja Ferik Reagon, kemudian dia duduk di dekat Willy lalu melanjutkan Berbicara.
"Kami bertiga belajar banyak hal dari kakek Fahetar, dari beladiri pedang tingkat tinggi, beladiri tangan kosong, beladiri tombak dan sihir kami pelajari.
Itu semua berkat putra Eldra yang membawa saya dan Maria dan memperkenalkan kami kepada kakek Fahetar"
Semua melotot dan mulut mengaga seakan mereka tidak percaya.
Tavin berbicara kepada Siren.
"Hai Siren coba Cubit aku apakah aku tidak sedang bermimpi"
Siren pun mencubit Tavin dengan keras.
"A....Aduh"
__ADS_1
Teriak Tavin memecah keheningan di meja tersebut.
Vico dan Yarnt masih penasaran karena mereka tahu dari buku cerita 3 petualang legenda, yang disebut 3 pahlawan benua itu sudah meninggal dunia.
"Apa kalian tidak membohongi kami, saya pernah membaca cerita dongeng yang berjudul 3 petualang legenda bahwa ke 3 orang dalam cerita itu semua telah meninggal dunia.
Di antaranya yaitu Pahlawan Dumpi Sunne yang meninggal di Benua bagian selatan dan Pahlawan Legia Lareagon meninggal di benua bagian tengah dan Penyihir Agung Volyaw Fahetar sendiri dia menghilang dan tidak tahu meninggal di mana.
Yang pasti mereka sudah meninggal, dan tidak mungkin mereka masih hidup karena secara umur ini sudah melebihi umur sebagai seorang manusia"
Willy pun mengangguk
"Memang kakek Fahetar sudah meninggal tetapi sebelum beliau meninggal dia menggunakan kekuatan sihir terakhirnya untuk membuat Hologram dirinya dan kami itu berguru kepada Hologramnya kakek Fahetar"
Mereka pun mengangguk meskipun sedikit tidak percaya tetapi buktinya adalah mereka sudah melihat kekuatan dari Willy dan Maria yang telah mengalahkan monster Kraken.
Dan jurus yang di gunakan Willy dan Maria itu adalah sihir tingkat tinggi dan siapa lagi yang bisa mengajarkan sihir tersebut kalau bukan penyihir agung Volyaw Fahetar.
*Di tempat yang lain
Raja Gramostola sedang mencari ke 2 anaknya, dan ada informasi mereka pergi ke penginapan yang di sewa oleh kerajaan Lareagon.
Raja Gramostola takut ke 2 anak nya itu balas dendam karena mereka kalah di penyisihan oleh peserta turnamen dari kerajaan Lareagon.
Dari kemarin mereka belum pulang Raja Gramostola takut ke 2 anaknya itu kenapa kenapa dan kalau ke 2 anak nya meninggal karena perkelahian di luar arena raja Gramostola pun bertekad untuk mengumandangkan perang kepada kerajaan Lareagon.
Raja Gramostola membawa banyak prajurit menuju penginapan yang di sewa oleh kerajaan Lareagon dan kebetulan di persimpangan jalan bertemu dengan rombongan dari Raja Hendrik Jovanka yang sama sama akan menuju penginapan yang di sewa oleh kerajaan Lareagon.
"Hai mau kemana kamu Raja Gramostola, kenapa kamu berjalan cepat sudah begitu kamu membawa banyak prajurit"
Raja Gramostola sedikit emosi karena dari semalam dia sangat khawatir.
"Apa urusannya dengan mu, kamu sendiri mau kemana pagi pagi buta begini"
Raja Hendrik Jovanka pun tertawa
"Hahaha...kamu di tanya malah balik bertanya, jawab dulu tujuan mu mau kemana dan aku pun akan menjawab akan kemana kami pergi"
Kemudian Raja Gramostola pun menjawab.
"Aku akan ke penginapan kerajaan Lareagon, ke 2 Anaku yang bodoh itu tidak pulang dari semalam, prajurit bilang dia pergi ke penginapan kerajaan Lareagon dan sampai sekarang belum kembali"
Raja Hendrik Jovanka pun tertawa
"Hahah.... Anak mu itu yang bernama Vico dan Yarnt kan, yang kalah di penyisihan grup kemarin"
Raja Gramostola menjawab
"Iya aku khawatir mereka balas dendam dan pertarung di luar arena, aku takut ke 2 anak ku kenapa kenapa"
Raja Hendrik Jovanka pun menepuk pundaknya Raja Gramostola.
"Jangan khawatir, Anaku tidak akan membunuh orang, dia orangnya baik dan murah hati, ayo kita sama sama ke sana kebetulan aku juga mau menemui mertua ku"
Mereka pun bersama sama menuju ke penginapan kerajaan Lareagon dan sesampainya di sana anak anak mereka sedang tertawa terbahak-bahak dengan sesamanya.
"Kak...kak itu Aya kemari membawa para prajurit"
Kemudian Vico dan Yarnt berdiri dan menghampiri ayah mereka,
"Ada apa ayah kemari dengan membawa banyak prajurit"
Vico bertanya polos. Raja Gramostola tidak bisa marah karena mereka adalah anak kesayangan Raja Gramostola, mereka pun di peluk erat.
"Kemana saja kalian, kenapa tidak pulang semalam, ayah khawatir dan ayah takut kalian melakukan hal bodoh dengan menantang ulang dan berkelahi di luar arena"
Mereka berdua pun meminta maaf.
"Maaf kan kami Ayah, kami tidak memberitahukan kepada ayah kami ada di sini bersama teman teman dari Lareagon dan Eldragon"
Vico menunjuk ke arah meja yang disana terdapat anak anak. Dan anak anak pun melambaikan tangannnya kepada raja Gramostola.
"Syukurlah kalian berdua di sini memiliki banyak teman"
Kemudian Raja Freevik dan Raja Alfred turun dari lantai atas menuju ke lantai bawah.
Raja Hendrik Jovanka dan Ratu Vanessa serta pangeran Heri Jovanka pun menyapa.
"Ayah mertua Freevik Reagon.....Ayah Mertua Alfred Eldragon"
"Ayah...ayah angkat..."
"Kakek...kakek..."
Kemudian Willy pun melambaikan tangannnya.
"Kak sini duduk di sini"
Heri Jovanka pun mengangguk dan melambaikan tangannnya.
"Iya dek sebentar"
***
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini
👇
__ADS_1
http://saweria.co/DaniSutisna
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.