
Di tengah tengah perjalanan di kilometer ke 2 muncul Giant Rabbit sebesar kambing, menghalangi jalan.
Monster hewan yang lincah dan suka bertarung apalagi dengan manusia, Giant Rabbit itu sengaja mencegat mereka bertiga hanya untuk mencoba bertarung.
Di habitatnya Giant Rabbit, suka bertarung dengan pejantan lain untuk memperebutkan betina, dan bertarung dengan monster hewan lain apabila memasuki daerah kekuasaannya.
Di pertengahan kilometer ke 2 ini ternyata adalah daerah kekuasaan dari Giant Rabbit, sehingga Monster tersebut mencegat untuk mengusir mereka supaya tidak memasuki daerah kekuasaan dirinya.
Mereka bertiga pun berhenti berjalan karena di depan mereka ada Giant Rabbit yang menghalangi jalan.
Maria pun segera mendorong Libear untuk berada di garis depan "Kalau kamu memang kuat, ayo lawan monster itu"
Libear pun menunjuk dirinya sendiri sambil melihat kearah Willy dan Maria "Apa hanya aku saja yang harus melawan"
Willy dan Maria pun kompak dia mengangguk kepalanya.
"Bukanya kita ini satu party, kenapa harus aku sendiri yang melawannya" keluh Libear.
Willy pun berkata so bijak tetapi menusuk hati "Tunjukan bahwa kata Maria itu salah bahwa kamu itu bukan beban untuk kami"
"Iya, untuk apa Willy memberikan mu Arman dan sarung tangan besi itu kalau bukan untuk bertarung seperti sekarang ini" timpal Maria.
Dengan berat hati Libear pun maju melangkah kedepan untuk melawan monster hewan jenis Giant Rabbit tersebut.
Libear memiliki level di tingkat prajurit, tetapi dia tidak memiliki sihir pelepasan, dia menggunakan sihir untuk tubunya sendiri seperti memperkuat tinjunya, mempercepat gerakan serang dan pertahanan tubuh.
Libear pun bersiap dia membentuk kuda kuda penyerangan, tetapi Giant Rabbit langsung bergerak melompat kesana kemari, dan sesekali menerjang Libear dengan tentangan kakinya.
Sesekali Libear mengelak dan balik menyerang, tetapi serangan Libear maupun serangan dari Giant Rabbit tidak ada yang kena.
Giant Rabbit adalah monster hewan berlevel pembentukan, tetapi karena jenis ini memiliki kelincahan yang tinggi, Giant Rabbit bisa di bandingkan dengan monster kelas prajurit.
Libear di buat babak belur oleh serangan dari Giant Rabbit tersebut dan Giant Rabbit pun sama di buat babak belur oleh Libear.
Maria dan Willy hanya asik menonton pertarungan tersebut dan sesekali mereka berdiskusi.
"Maria, apa kamu lihat kelincahan dan kecepatan monster itu" tanya Willy.
Maria yang dari tadi Mengamati, menyadari sesuatu "iya aku tahu, ternyata pergerakan monster itu berhubungan dengan sihir elemen angin yang muncul di kakinya"
"Ternyata kamu menyadarinya juga, pantas pergerakan monster itu begitu cepat, padahal monster itu hanya berlevel pembentukan, dan sihir angin yang keluar dari kakinya mendorong dia untuk bergerak lebih cepat di saat dia melompat" komentar Willy.
Setelah beberapa lama Libear pun berteriak "Akhirnya Aku dapat Mengalahkannya, aku menang"
__ADS_1
Brak....
Libear menjatuhkan diri ke tanah karena kelelahan, Willy pun menghampiri Giant Rabbit yang masih hidup tetapi sudah terkapar lemah.
Dengan pisau belati yang ada di pinggang, Willy mengambil dan segera menyembelih Giant Rabbit tersebut, kemudian Giant Rabbit itu di kulit oleh Willy.
Dia memisahkan kulit dan dagingnya dengan cepat dan memasukanya kedalam sihir dimensi item Book, Willy juga mengambil inti monster dari Giant Rabbit.
Semua Willy ambil dari bagian kecil sampe besar tidak ada yang kelewat, dengan keahlian dan kecepatannya, Libear yang sedang berbaring lemas, tidak menyadari bahwa Giant Rabbit yang dia kalahkan sudah menjadi potongan daging.
"Dasar payah, begitu saja sudah tepar padahal itu hanya monster tingkat rendah" ucap Maria sinis.
"Kamu mengatakan begitu karena kamu hanya menonton saja, tidak ikut bertarung, monster itu begitu cepat aku kewalahan menghadapinya" ucap Libear sambil terengah-engah.
Maria mengambil botol potion dari tas selempang kecil yang dia bawa yang terhubung dengan sihir dimensi item Book.
Maria membuka tutup botol tersebut kemudian menyiramkannya ke arah Libear yang sedang berbaring.
"Mengapa kamu menyiram aku, air apa ini" ucap Libear kaget dan dia pun bangun.
"Cerewet kayak emak emak di pasar saja, aku berusaha mengobati mu tau" ucap maria.
Seketika potion yang disiramkan oleh Maria meresap ke badan Libear, yang membuat luka lebam dan luka gores hilang seketika.
Maria pun mengambil botol potion kecil satu lagi "Bangun minumlah ini"
Libear tidak ragu untuk meminumnya, karena pas tadi dia siram dengan Potion penyembuh luka dia pun kaget karena tiba-tiba lukanya menutup dan hilang.
"Terima kasih banyak sekarang stamina ku sudah kembali normal" ucap Libear.
"Ya harus dong, siap yang nanti harus bertarung kembali kalau ada monster yang menyerang, Ingan Potion penyembuh dan MP potion itu tidak murah, kamu harus membayarnya dengan cara bekerja dengan melawan monster yang menghadang kami" ucap Maria
"Ayo kita lanjutkan perjalanan" ajak Willy.
"Hai baru saja aku bernafas, sudah mau pergi lagi" keluh Libear.
"Sudah ayo pergi, nanti kamu tinggal kamu di sini" ucap Maria sambil melangkah pergi.
Maria dan Willy sudah berjalan duluan, Libear kemudian berdiri dan menengok ke kiri dan ke kanan "Loh dimana tadi monster yang sudah aku kalahkan, kok tidak ada"
Kemudian Libear melihat Willy dan Maria sudah berjalan menjauhi dia, dan dia ingat perkataan dari Maria yaitu jangan banyak bertanya, dia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya dan kemudian berlari menyusul.
"Hai kalian berdua tunggu aku" teriak Libear sambil berlari.
__ADS_1
Mereka pun berjalan sampai memasuki kilometer ke 3, di jalan Libear selalu mengeluh untuk beristirahat tetapi tidak pernah di tanggapi oleh Willy dan Maria, mereka berdua terus berjalan menyusuri gelapnya hutan, Libear pun setia mengikuti meski dia sambil menggerutu.
Libear sudah tertinggal agak jauh, mungkin dia benar benar kelelahan karena habis bertarung melawan Giant Rabbit, Willy menengok ke belakang dan terlihat Libear berjalan pelan seperti seekor kura-kura, dengan berjalan guntai seperti zombie.
"Ayo kita berhenti untuk beristirahat dan makan, kita akan membakar daging monster yang tadi sudah Libear kalahkan, untuk kita santap sebagai makanan kita hari ini" ucap Willy.
Maria pun mengangguk dan mencari tempat untuk beristirahat, dia pun membuat api unggun dengan skillnya, Willy mencari ranting dan batang pohon agak besar untuk menusuk daging yang akan mereka bakar.
Setelah siap Willy dan Maria pun mulai membakar daging tersebut, dengan berbekal garam, gading bakar itu akan terasa lebih nikmat, apalagi di siram kecap dan saos tomat, membuat air liur menjadi menetes.
Libear yang perutnya sudah berbunyi kerubuk, mencium bau harum daging bakar, yang membuat dia jadi tambah lapar, Libear pun mempercepat langkahnya, yang ternyata Willy dan Maria sedang membakar daging.
"Akhirnya kamu sampai juga ayo duduk dan beristirahat lah, daging sebentar lagi mulai matang, ayo ambil yang besar sesuai dengan ukuran tubuh mu" ucap Willy.
"Terima kasih kawan, kamu memang sahabat yang pengertian" puji Libear.
Dia pun tanpa ragu langsung mengambil bagian daging yang paling besar, meskipun itu masih setengah matang, tetapi dia gak tahan dan langsung menyantapnya.
"Huh ..huh..huh..panas panas" ucap Libear yang kepanasan menggigit daging yang baru di angkat dari pembakaran.
"Jangan buru-buru, tidak akan ada orang yang akan mengambilnya, dan perbekalan kita masih banyak, tiup dulu sebelum di makan, itu kan panas" ucap Willy.
"I..iya, terima kasih " ucap Libear.
"Terima kasih melulu, habis ini bekerja lah dengan keras, jangan lambat seperti kura kura" ucap Maria.
"Apa an sih, cewek jutek, bisa gak sedikit baik seperti Willy, ini malah....." Ucap Libear
"Sudah berhenti bertengkar, kita sedang makan dan manfaatkan lah waktu makan dan istirahat kita ini" ucap Willy.
Mereka pun kemudian menyantap daging bakar tersebut.
***
Jangan Lupa mampir di Novel karya ku yang lain ya kak
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini
__ADS_1
👇
http://saweria.co/DaniSutisna