PAHLAWAN TERPILIH

PAHLAWAN TERPILIH
Apa Yang Harus di Jelaskan Lagi


__ADS_3

Setelah mereka semua makan tiba-tiba Heri Jovanka bertanya kepada Willy.


"Dek kok, kakak ga lihat Maria dari tadi kemana dia, apakah dia tidak bersama mu"


Kemudian Clarisa menimpali


"Iya, katanya Maria ada di kerajaan Jovalavia ini, dari pertama pulang dari federasi bebas sampai sekarang Maria tidak bersama Willy"


Kemudian Willy pun menengok kearah sekitarnya dan yang ada hanya mereka yang sedang di meja makan dan beberapa orang pelayan. Willy pun berbisik kepada Raja Hendrik Jovanka.


"Tolong kalau bisa para pelayan di suruh keluar jangan sampai ada yang lain kecuali kita yang berada di sini"


Raja Hendrik Jovanka pun bertanya.


"Memangnya kenapa nak..."


"Lakukan saja karena ini rahasia"


Raja Hendrik Jovanka pun mengangguk kemudian dia berbicara kepada pelayanan yang berada di sana.


"Pelayan semua keluar dari ruangan ini jangan ada satu orang pun yang masuk termasuk para penjaga"


Pelayan yang ada di sana membungkukan badan kemudian berbicara.


"Baik yang mulia Raja"


Mereka pun semua pergi meninggalkan ruang makan dan setelah itu Willy pun bangkit dari kursi yang dia duduki.


Willy menggunakan sihir dimensi item Book dan mengeluarkan benda yang dia beli dari federasi bebas, benda tersebut adalah Pot Sihir yang bisa mengeluarkan Monitor sihir.


Raja Hendrik Jovanka pun bertanya.


"Itu alat apa nak ?...."


Sambil meletakkan pot tersebut di meja lain yang tidak jauh dari sana Willy menjawab.


"Ini adalah pot sihir yang Willy beli dari federasi bebas, pot yang bisa menampilkan gambar dan suara bisa juga di pakai untuk alat komunikasi jarak jauh"


Kemudian Willy pun mengaktifkan pot sihir tersebut dan munculah cahaya biru keluar dari dalam pot tersebut dan cahaya itu membentuk kotak memanjang.


Kemudian muncullah sebuah gambar yang situasinya seperti berada di kerajaan Nebulosus, disana terlihat tempat duduk dan perlengkapan lainnya.


Tempat duduk berupa sofa yang mewah berwarna merah tua dan di belakang sofa itu terlihat sebuah meja dan kursi kayu, itu seperti meja dan kursi kayu tempat bekerja karena di pinggir nya terlihat banyak buku.


Dan terlihat ada seseorang yang duduk di kursi kayu tersebut dan seorang lagi berada di sofa, kemudian raja Alfred Eldragon pun bertanya kepada Willy.


"Kenapa pot sihir itu menampilkan keadaan di ruang kerja anaknya Raja Adrian Plakona"


Raja Alfred Eldragon bertanya demikian karena yang terlihat duduk di bangku kayu adalah anak dari Adrian Plakona, dan belum juga di jawab oleh Willy, Raja Hendrik Jovanka pun bertanya.


"Apa benar orang yang duduk di sofa itu Raja Adrian Plakona dan itu yang duduk di kursi belakang sofa adalah Putra Mahkota Erik Plakona"


Willy hanya tersenyum kepada semua dia hanya berkata.


"Lihat saja apa yang terjadi di kerajaan Nebulosus"


Mereka pun dengan khusu melihat layar monitor tersebut.


*


Dan cerita beralih ke Kerajaan Nebulosus.


Raja Adrian Plakona yang sedang duduk di sofa berbicara kepada anaknya yang bernama Erik Plakona.


"Hai Erik, apa rencana kita sudah matang, bagai mana dengan pengikut kuil cahaya apakah mereka sudah membangun kuil dewa cahaya di kerajaan Jovalavia dan kerajaan lainnya"

__ADS_1


Erik Plakona pun menjawab dengan sedikit tertawa.


"Hahaha....apa yang ayah khawatirkan, itu semua sudah kita kerjakan dan lagi kita dibantu oleh para kesatria Dewagon dari kuil suci dewa cahaya"


Kemudian dengan nada kesal Raja Adrian Plakona berkata.


"Aku sudah tidak sabar untuk menggulingkan pemerintahan kerajaan Jovalavia dan membuat mu jadi Raja disana"


Erik Plakona pun tertawa kembali


"Hahaha.....Ya ayah aku juga sudah tidak sabar melihat kematian Si Raja bodoh yang telah menikahi Isabel, aku sudah banyak berkorban demi kejayaan kita dengan melepaskan Isabel dari pelukan ku"


Raja Adrian Plakona pun sedikit marah kepada Erik Plakona.


"Dasar anak Bodoh, mengapa kamu masih mengharapkan Isabel, dia hanyalah Budak yang aku jadikan bidak untuk kesuksesan rencana kita"


Erik Plakona pun berusaha membela Isabel.


"Tapi ayah, Billy adalah putra ku, dia adalah darah dagingku dan cucu mu juga"


Raja Adrian Plakona pun mengayunkan tangannya sambil berdiri dan melangkahkan pergi dari ruangan tersebut.


"Ya.. terserah kamu saja, ingat masih banyak putri anak Raja yang bisa kamu nikahi, si Isabel itu hanya budak s*k mu yang aku angkat sebagai anak sendiri untuk mengikat hubungan kerjasama dengan kerajaan Jovalavia"


Raja Adrian Plakona pun membuka pintu kemudian keluar dan menutup kembali pintu tersebut dengan rapat.


Erik Plakona pun beralih, dia berdiri dari tempat duduknya kemudian pindah duduk ke sofa dan menyilangkan kakinya.


Beberapa saat kemudian Ratu Isabel membuka pintu kemudian tanpa berbicara dia langsung masuk kedalam setelah itu dia duduk di pangkuan Erik Plakona.


Ratu Isabel pun berkata dengan nada manja


"Maaf sayang, aku jarang ke kerajaan ini, aku tidak dapat terus membuat alasan untuk kembali ke pelukan mu, si Raja bodoh itu selalu mencegah kepergian ku"


"Hahaha...tidak apa-apa, yang penting rencana kita sudah kamu lakukan, kan sekarang kamu ada di sini sampai selesainya acara pernikahan si Clarisa sama si Gibran. Kita bisa bersenang-senang lebih lama"


Erik Plakona sambil mencubit manja hidung Ratu Isabel,


"Aw...sakit tahu..."


Jawaban manja Ratu Isabel, tanpa ragu Erik Plakona mencumbu Ratu Isabel, tangannya yang sebelah kiri seperti pendaki gunung Everest dan nyanyi naik naik ke puncak gunung.


Ratu Isabel pun teriak manja


"Aw...tangan mu nackal..."


Erik Plakona pun menci*m bibir dari Ratu Isabel sampai mereka berdua beradu jigong.


Setelah itu Ratu Isabel pun berkata.


"Rencana kita berjalan sangat lancar, semua para pelayan sudah aku ganti dengan anak buah ku sendiri, bahkan di antara mereka ada assassin master yang hebat.


Tidak perintahkan saja siapa yang harus di bunuh dia akan langsung membunuhnya tanpa ragu, dan beberapa prajurit kita sudah menyusup.


Mereka sudah berbaur dengan prajurit lainnya sehingga tidak akan ketahuan mana prajurit Jovalavia dan mana prajurit kita"


Erik Plakona pun memuji Ratu Isabel.


"Hahaha...memang kamu wanita yang pintar, tidak salah aku memilih mu"


Clepok....


Ketika mereka sedang bercumbu tiba-tiba Billy masuk kedalam ruangan tersebut dan melihat ibunya sedang berpelukan dengan Erik Plakona.


"Apa yang sedang ibunda lakukan dengan paman Erik, kalian berdua sangat menjijikan"

__ADS_1


Ratu Isabel dan Erik melepaskan pelukannya. Kemudian Erik Plakona memanggil Billy.


"Sini nak biar aku jelaskan kepada mu"


Billy pun mendekam dengan raut muka yang marah setelah mendekati dia menyilangkan tangannya di depan dada.


"Apa yang harus di jelaskan lagi, kalian berdua sudah berbuat tidak senonoh, dan bukannya kalian berdua saudara kenapa kalian melakukan ini"


Ratu Isabel pun mencoba menenangkan Billy,


"Tenang anak ku Billy, ibunda akan jelaskan, jangan berdiri duduklah"


Billy pun dengan terpaksa duduk kemudian Ratu Isabel pun menjelaskan.


"Sebenarnya kamu bukan anak dari Raja Hendrik Jovanka, tetapi anak dari Erik Plakona, orang yang berada di depan mu ini"


Billy membelalakkan matanya sambil berbicara seolah tidak percaya.


"Apa..."


Ratu Isabel pun melanjutkan


"Tenang dulu nak, ibunda akan lancutkan bercerita beberapa tahun yang lalu ketika kamu belum lahir.


Dulu ibunda dan Ayah mu Erik Plakona adalah pasangan kekasih yang baru menikah dan sedang baru hamil 2 bulan.


Tetapi Raja laknat yang bejat itu, tiba tiba melamar ibunda, lewat ayah Adrian Plakona, yang di sangka ibunda anak dari ayah Adrian Plakona.


Padahal ibunda menantu dari ayah Adrian Plakona, dan dengan terpaksa ayah Adrian Plakona dan Erik Plakona melepas ibunda untuk menjadi istri ke 2 Raja Hendrik Jovanka"


Erik Plakona pun menambahkan cerita


"Ya nak, apa yang di katakan ibunda mu itu benar, aku lah ayah mu sebenarnya, kamu adalah anak ku, darah daging ku.


Sebenarnya ayah mu ini tidak rela melepaskan ibunda mu, tetapi apa daya semua demi kerajaan Nebulosus,


karena waktu itu Raja Hendrik Jovanka mengancam akan meluluhlantakan kerajaan Nebulosus ini kalau dia tidak bisa menikahi ibunda mu"


Kemudian Ratu Isabel berkata lagi.


"Ibunda di korbankan demi kedamaian kerajaan Nebulosus ini, dan untuk mengikat hubungan politik dan kerjasama dengan kerajaan Jovalavia maka ibunda dengan terpaksa menikah dengan Raja Hendrik Jovanka"


Ratu Isabel dan Erik Plakona berusaha meyakinkan Billy dengan bercerita banyak kebohongan tentang Raja Hendrik Jovanka supaya Billy membenci Hendrik Jovanka.


Billy pun menjadi percaya kepada Ratu Isabel dan Erik Plakona dan mulai menerima kenyataan bahwa Erik Plakona adalah ayah kandung dari Billy.


Erik Plakona pun memanggil Billy


"Sini nak panggil aku ayah dan duduk di sini"


Billy pun bangkit dan berpindah duduk di tengah tengah mereka, kemudian Ratu Isabel dan Erik Plakona memeluk Billy.


"Kita di sini adalah keluarga yang utuh, kamu di kerajaan Nebulosus ini diperlakukan dengan baik karena kamu adalah calon putra mahkota kerajaan Nebulosus ini"


***


*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.


Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini


👇


http://saweria.co/DaniSutisna


*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.

__ADS_1


__ADS_2