PAHLAWAN TERPILIH

PAHLAWAN TERPILIH
Pertunangan Putri Clarisa


__ADS_3

Raja Gibran berkata kepada Raja Alfred.


"Ayahhanda Raja, Aku bukan tipenya Putri Clarisa itu sangat memalukan tau"


Raja Freevik Reagon tertawa.


"Hahaha.... Anak muda jaman sekarang malu malu tapi mau hahaha....


Hai Clarisa apa kau mau dipersunting oleh Gibran, kamu sudah tahu kan sikap dan tingkah laku dia sejak kecil kalian sering main bersama di istana ini"


Clarisa menundukkan kepalanya pipinya memerah kerena malu.


"Itu terserah kakek saja, kalau kakek setuju aku tidak bisa menolak keputusan dari kakek, terapi bagai mana dengan Kak Gibran sendiri karena sejak menginjak remaja dia selalu bersikap dingin kepada ku"


Raja Gibran pun angkat bicara.


"Maaf kalau aku dingin kepadamu sebenarnya aku mencintaimu, dari kamu kecil tetapi apalah daya, karena ayahhanda Raja selalu mengurung diri dalam kamar, tugas kerajaan semua aku yang mengurungnya.


Bahkan aku mengangkat diriku sebagai Raja kerajaan Eldragon karena sikap ayahhanda Raja yang selalu mengurung diri, sebenarnya aku bersikap dingin karena aku banyak pikiran dan kerjaan dan membuat otaku menjadi mumet maka dari itu raut muka ku jadi masam"


Raja Alfred tertawa


"Hahaha.... berarti kalian berdua setuju aku tunangkan, maaf Gibran ayahmu ini tidak berguna tetapi untuk kedepannya ayah mu ini memiliki semangat hidup lagi karena anggota keluarga kita bertambah.


Hai Freevik bagai mana kalau besok saja mereka tunangkan mungpun aku ada disini dan sekalian kita rayakan pesta perjamuan"


"Hahaha .... Terserah padamu saja karena ini adalah kebahagiaan kita bersama kita adakan pesta"


Clarisa berbicara kepada mereka semua.


"Bagai mana dengan Ayahanda Raja Hendrik Jovanka dan Ibunda Ratu Vanessa apakan mereka perlu di beritahu mereka adalah ayah dan ibuku"


Kemudian Raja Freevik Reagon melotot kepada Clarisa.


"Sejak kapan kamu mempunyai ayah seperti itu, sejak kecil kamu dibesarkan di sini dilingkungan Para Dwarf, dan bahkan kamu tidak dianggap oleh mereka, buat apa mereka dikasih tau, kamu adalah tanggung jawab kakek"


Ferik Reagon menambahkan


"Dan Sekarang Kerajaan Jovalavia sedang dalam keadaan darurat perang dengan kerajaan Manusia Binatang, beberapa hari lagi akan terjadi perang terbuka antara Jovalavia dan kerajaan Pemonst"


Raja Alfred mengemukakan pendapat.


"Kita tidak boleh ikut Campur dalam permasalahan ini biarlah mereka berselisih nanti juga akan damai pada waktunya, yang penting kita sekarang mereyakan acara bahagia kita.


Dan kalau sampai mengancam nyawa anak mu Ratu Vanessa baru kita juga akan turun tangan, tetapi permasalahan perang ini adalah perebutan wilayah kekuasaan.


Karena kerajaan Pemonst sedang dalam kerisis jadi mereka mencari lahan yang subur untuk di garap menjadi pertanian tetapi mereka malah masuk wilayah kekuasaan kerajaan Jovalavia"


Raja Gibran ikut menambahkan.


"Kerajaan Pemonst itu lemah, Kerajaan Jovalavia tidak mungkin kalah dengan Para manusia setengah binatang yang lemah"

__ADS_1


Mendengar Raja Gibran berbicara begitu Clarisa dan yang lainnya pun merasa senang apalagi disana ana Heri Jovanka yang seorang pahlawan maka Raja Hendrik Jovanka pun pasti aman.


*Keesokan harinya


Ratu Elisia telah sadar dari pingsannya kemudian dia bangun dari tidurnya.


"Di mana ini, kenapa ada Clarisa disini"


Clarisa tidur di sofa kamar Ratu Elisia sambil menunggu Clarisa pun tertidur pulas di Sofa, Clarisa pun bangun.


"Eagh....Eh ternyata Ibunda Ratu ke 3 sudah siuman, bagai mana sekarang apakah masih ada yang terrasa sakit, jangan banyak bergerak dulu"


Ratu Elisia bertanya kepada Clarisa


"Dimana ini, apa ini di kerajaan Jovalavia"


Clarisa menggelengkan kepalanya


"Bukan, ini Kerajaan Lareagon. Ibunda Ratu ke 3 terkena racun dan pingsan, Willy dan Ferik membawa ibunda Ratu ke 3 kesini.


Jangan banyak bergerak dulu saya akan panggil pelayan untuk membawa makanan dan memberitahu kesemua orang bahwa Ibunda Ratu ke 3 sudah bangun"


Clarisa pergi meninggalkan kamarnya Ratu Elisia. Tidak begitu lama Raja Freevik Reagon, Raja Alfred dan yang lainnya masuk ke kamar Ratu Elisia untuk menjenguknya.


"Syukurlah, Anaku sudah siuman ayah mu ini sangat khawatir"


Ratu Elisia bingung karena melihat orang yang tidak dikenalnya memanggil Anaku dan menyebutkan dirinya Ayah.


"Ibunda syukurlah, ibunda sudah siuman"


Ratu Elisia mengelus kepalanya Willy dengan lembut kemudian dia berbicara.


"Ibunda mu ini tidak akan mati begitu Mudah sebelum ibunda melihat kamu menjadi orang yang hebat dan mencapai cita cita yang engkau inginkan"


Kemudian Ratu Elisia bertanya kepada Raja Alfred.


"Ngomong ngomong siapakah anda kenapa memanggil saya anak dan menyebutkan anda sebagai ayah"


Kemudian Raja Alfred mendekati Ratu Elisia dan bersimpuh di hadapannya.


"Maafkan Ayah mu ini nak, kamu sangat menderita sejak kamu kecil bahkan aku tidak bisa bertemu dengan ibumu Elvia, dan aku hanya mendapatkan kabar bahwa ibumu sudah meninggal dan kamu tidak tahu kabarnya.


Karena kakek mu Raja Flander tidak menyetujui hubungan antara Ibumu dan ayahmu ini, bahkan mereka menganggap ayahmu ini sebagai musuh dan pendosa yang harus dihindari"


Kemudian Ratu Elisia bertanya lagi kepada Raja Alfred.


"Kenapa anda bisa tahu bahwa aku ini anak mu, dan bagai mana kamu tahu tentang ibuku, apa kamu pahlawan yang sering diceritakan oleh ibuku pahlawan hebat dari Party petualang, apa kau benar-benar ayah ku"


Ratu Elisia menangis kemudian memeluk Raja Alfred.


"Iya aku ayah mu itu yang sering diceritakan oleh ibumu si pahlawan pemarah Paru petualang, aku tahu tentang mu karena kalung yang dipakai oleh mu adalah milik ibumu yang aku berikan kepadanya"

__ADS_1


Suasana Haru menyelimuti kamar Ratu Elisia. Mereka semua ikut menangis melihat ayah dan anak yang sudah lama tidak bertemu.


Bahkan Raja Alfred meninggalkan Ratu Elisia ketika dia masih dalam kandungan, dan kembali kelembah keabadian sambil menyelinap setelah mendengar kabar Elvia menginggal.


Tetapi Ratu Elisia pada saat itu sudah di buang oleh Raja Flander karena dianggap sebagai aib bangsa Elf karena Ratu Elisia mempunyai darah campuran.


Setelah itu Ratu Elisia dibawa ke Aula depan istana kerajaan Lareagon karena akan adanya pesta pertunangan antara Clarisa dan Raja Gibran.


Raja Gibran menghampiri Ratu Elisia yang sedang duduk disampingnya ada Willy dan Maria.


"Maaf telat memperkenalkan diri, Nama saya Gibran saya adalah adik anda anak dari Ayahanda Raja Alfred Raja dari kerajaan Eldragon"


Raja Gibran mencium tangan Ratu Elisia, tanda hormat adik kepada kakaknya.


"Ternyata aku punya adik, syukurlah ternyata aku tidak sendirian lagi sekarang aku punya saudara. Selamat ya atas Pertunangan mu dengan Putri Clarisa"


"Terima kasih kak, kalau kakak butuh sesuatu jangan ragu minta saja dan bilang kepada saya, saya akan berusaha memenuhinya.


Dan saya juga bersyukur karena saya punya kakak seperti anda, dan punya keponakan yang tampan seperti ini"


Willy tersenyum kepada Raja Gibran.


"Paman memuji, Willy jadi malu dengan ketampanan ini"


Raja Gibran mendekati Willy kemudian bertanya.


"Hai bocah tampan, apakah kamu mau menjadi seorang Raja, karena ibumu adalah anak pertama dan kamu anak laki laki sudah semestinya kamu mewarisi kerajaan Eldragon.


Kalau kamu ingin Aku akan memberikanya kepadamu, karena kamu adalah pewaris pedang pusaka dewa naga agung, aku akan melayani mu sebagai penasehat kerajaan"


Pembicaraan antara Raja Gibran dan Willy terdengar oleh semua orang, tetapi Willy menggelengkan kepalanya.


"Willy tidak mau menjadi Raja, Paman Gibran saja yang menjadi Raja Eldragon Willy tidak mau terikat oleh status sebagai Raja, Willy ingin hidup bebas bisa kemanapun yang Willy mau. Jadi seorang Raja itu merepotkan"


Semua orang yang mendengar kata kata terakhir Willy yaitu jadi raja itu merepotkan semuanya tertawa terbahak bahak.


"Hahahaha ...."


***


*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk


Like


Komen


Vote


*Rate**


*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.

__ADS_1


__ADS_2