
Sore harinya ibunya Willy yaitu Ratu Elisia pulang kembali ke Menara pengawas tetapi dia membawa kejutan untuk Willy yaitu Ratu Elisia diantar oleh pangeran pertama yaitu Heri Jovanka.
Setibanya di sana mereka di sambut oleh Willy dan Maria, Willy pun senang karena kedatangan Kakanya yang sangat dia cintai.
Willy pun berlari dan memeluk kakaknya itu
"Kaka, bagai mana kabarmu apa kamu baik baik saja"
Sambil memeluk Heri Jovanka dia mengeluarkan air mata.
"Kaka mu ini seorang pahlawan, tidak akan di kalahkan dengan mudah oleh musuh"
"Sukur lah Kaka baik baik saja, jangan berangkat lagi tetaplah di kerajaan Jovalavia dan jangan berperang lagi, Willy hawatir terjadi sesuatu dengan Kaka"
Heri Jovanka tertawa
"Hahaha....untuk sebulan kedepan Kaka berada di sini tetapi untuk bulan selanjutnya Kaka harus menjaga perbatasan kerajaan Jovalavia dan wilayah kekuasaan Raja Iblis Garuda"
"Apa Raja Iblis Garuda itu sangat kuat"
"Iya Raja Iblis Garuda itu kuat setara dengan seorang pahlawan, dia adalah monster jenis burung yang tinggal di Dungeon Garuda"
Kemudian Heri Jovanka menyinggung kejadian waktu Willy di keroyok oleh Billy dan teman temannya.
"Kaka dengar kamu melawan teman temannya kak Billy sampai salah satu dari mereka babak belur dan mereka pun tidak menerima kekalahan mereka hingga kamu di keroyok oleh mereka apakah itu benar, sekuat apa kamu sekarang"
Heri Jovanka sambil tersenyum, Willy pun garuk-garuk kepala dia berbicara sedikit merendah.
"Itu hanya keberuntungan saja, aku tidak sekuat yang Kaka banyangkan"
Heri Jovanka memanggil Maria
"Maria kemarilah saya ingin melihat kekuatan dari Willy, coba Bertarung dengan Willy"
Maria menolaknya
"Maaf Pangeran pertama, saya tidak bisa melawan pangeran ke 3, karena dia selama ini hanya belajar menari saja bukan belajar bela diri"
Rumor yang beredar di istana bahwa Willy hanya bermain main dan belajar menari itu terdengar langsung dari Maria yang sehari hari bersama dengan dirinya
Heri Jovanka bertanya kepada Willy untuk memastikan semuanya
"Apa betul yang dikatakan oleh Maria bahwa kamu selama ini belajar menari"
Willy sambil tersenyum berbisik kepada Kakanya
"Kak saya belajar beladiri, saya dibimbing oleh seseorang dalam mimpi yang bernama Wildan, dia mengajarkan saya beladiri yang namanya pencak silat, tetapi jurus jurusnya seperti tarian padahal itu jurus yang sangat mematikan"
Ya Willy memang setiap hari bermimpi dia melihat wujud sejatinya yaitu Wildan sedang memperagakan jurus jurus silat dan setelah Willy terbangun Willy mencoba mempraktekan ulang jurus jurus tersebut.
Memang nampak kalau orang lain lihat itu seperti sebuah tarian tetapi sebenarnya itu adalah jurus ampuh yang mematikan.
Heri Jovanka pun mengangguk angguk mencoba untuk percaya kepada Willy, dan untuk membuktikan nya Willy disuruh berlatih tanding dengan Maria.
__ADS_1
"Kalau kamu memang berlatih ilmu beladiri ayo Kaka ingin lihat, berlatih tanding lah dengan Maria"
Willy pun mengangguk
"Baiklah kalau Kaka memaksa"
"Apa pangeran pertama yakin saya harus melawan pangeran ke 3"
Tanya Maria, Heri Jovanka pun meyakinkan Maria
"Cobalah 3 sampai 4 jurus saja"
"Ya baiklah"
Mereka pun bersiap untuk bertanding, dan ketika Maria akan menyerang.
"Ciat..."
Tombak Maria sudah akan di hantamkan ke tubuh Willy, tetapi Willy berteriak
"Berhenti....."
Maria pun berhenti menyerang, kemudian dia mencibir
"Kenapa kamu takut ya, trus mau menyerahkan duluan"
Willy malah tersenyum kepada Maria sambil menatap sinis
"Kamu itu seorang Asasin, meskipun kamu masih anak berusia 7 tahun tapi tingkatan mu telah berlevel kesatria, terus kamu itu menggunakan senjata apa namanya kalau kamu itu curang"
Heri Jovanka tertawa
Maria memajukan bibirnya sambil cemberut
"Baiklah kalau begitu"
Kemudian Maria melemparkan senjatanya ke samping agak jauh sampai ditombak yang dilemparkannya menancap
Setelah itu Heri Jovanka menjadi wasit dan memulai pertandingan.
"Ya ayo pertandingan di Mulai"
Maria menerjang, tetapi Willy hanya diam dan ketika kaki Maria akan menyentuh tubuh dari Willy, Willy pun melangkahkan kakinya kearah samping dan terjangan dari Maria pun tidak mengenainya.
Maria terus menyerang dari memukul menendang dan jurus sapuan, tetapi Willy hanya mengelak berjongkok, melompat dan menghindari semua serangan dari Maria.
Gerakan gerakan yang diperagakan oleh Willy benar benar seperti orang yang sedang menari, Willy menghindar dengan lemah gemulai tetapi mendorong dan menakis serangan dari Maria penuh dengan tenaga.
Maria pun berhenti menyerang terus dia bertanya kepada Willy.
"Kenapa kamu hanya mengindar saja apa kamu takut ayo lawan dan serang balik"
Willy menjawab dengan nada meremehkan.
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa memukul wanita, yang telah berjanji bila aku bertambah kuat dia akan menjadi istri ku, pertandingan ini seharusnya kita lakukan bukan sekarang tetapi satu Minggu lagi, tetapi karena kak Heri mau melihat perkembangan ku, ya terpaksa aku menunjukan kemampuanku kepada mu"
Pok....
Pok....
Pok....
Heri Jovanka bertepuk tangan
"Sudah sudah pertandingan ini sudah selesai jangan di teruskan lagi"
Maria kesal karena tidak bisa mendaratkan serangan kepada Willy dia pun pergi mengambil tombaknya lalu masuk kedalam menara pengawas.
Ibunya Willy yaitu Ratu Elisia melihat kemampuan bela diri yang dipelajari Willy itu dengan takjub, mereka mengira bahwa Willy selama ini hanya bermain-main dan belajar menari.
Tetapi sebenarnya Willy itu sedang melatih pisiknya ketika dia berlari kesana kemari diatas tangga, dan loncat loncat seperti seekor kodok.
Itu sebenarnya adalah sebuah latihan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang lain. Willy adalah anak yang jenius ibunya tahu bahwa suatu hari nanti dia akan menjadi orang yang hebat maka dari itu ibunya tidak pernah melarang Willy ketika bermain dan berlatih.
Dan hasilnya adalah ketika Willy berlatih tanding dengan Maria dia bisa mengindari serangan dari Maria yang begitu kuat dan mematikan.
Heri Jovanka pun menjadi takjub dia pun memuji Willy
"Kamu hebat dik, bisa menghindari serangan serangan dari Maria yang begitu sengit dan sangat patal apa bila terkena serangannya, Kaka percaya kamu bisa lebih hebat dari Kaka"
Kemudia Heri Jovanka menggunakan sihir penilaian untuk melihat level dari Willy.
"Kamu sekarang sudah mencapai level pembentukan atau level E, dan hebatnya kamu bisa mengimbangi kecepatan dari Maria"
Willy tersenyum sambil garuk garuk kepala.
"Iya kak tapi, Kaka harus janji tidak akan memberitahu kepada siapapun mengenai hal ini karena kata orang yang membimbing aku di dalam mimpi dia selalu berkata, Kalau kita tidak memiliki energi sihir maka kita harus menciptakan skill untuk bertambah kuat, dan dengan beladiri yang saya pelajari maka skill itu akan tercipta"
Heri Jovanka pun mengelus ngelus kepala Willy
"Syukurlah sekarang Kaka bisa tenang, ternyata kamu di anugrahi oleh sang maha pencipta seorang yang dapat membimbing kamu menjadi lebih kuat walaupun orang yang membimbingmu itu masuk kedalam mimpimu, itu hal yang sangat langka"
Setelah melihat perkembangan dari Willy Heri Jovanka pun pamit
"Baiklah ini sudah sore sebentar lagi langit akan menjadi gelap Kaka permisi dulu kembali ke istana"
"Iya hati hati dijalan kak"
Heri Jovanka pun pergi meninggalkan tempat itu untuk kembali ke istana kerajaan.
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk
Like
Komen
Vote
__ADS_1
*Rate**
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.