
Pesta Pernikahan antar putri Clarisa dan Raja Gibran pun sudah selesai para tamu undangan semuanya sudah meninggalkan kerajaan Jovalavia.
Tersisa orang orang dari kerajaan Eldragon dan Lareagon yang memang mereka adalah masih terikat keluar dari Raja Hendrik Jovanka.
Di ruangan Tempat makan malam Raja Freevik Reagon meminta ijin untuk meninggalkan kerajaan Jovalavia.
"Menantu ku Raja Hendrik, Besok pagi aku akan kembali kekerajaan ku, karena mempersiapkan prajurit untuk berperang.
Minggu depan harus sudah berangkat ke Medan perang dan melawan kerajaan Inggarsia"
Ratu Elisia sedikit gelisah karena Willy dan Maria ada di pihak mereka dan mungkin Willy pun akan ikut mengangkat senjata untuk ikut berperang.
Ratu Elisia khawatir kalau sampai terjadi sesuatu kepada Willy karena dia masih anak-anak dan masa depannya masih panjang.
Raja Hendrik Jovanka pun menjawab Raja Freevik Reagon.
"Baiklah Ayah mertua, apa perlu aku mengirim pasukan untuk membantu pasukan kerajaan Lareagon"
Raja Freevik Reagon menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, ini adalah perang bangsa Dwarf melawan kerajaan Inggarsia yang telah menghina kami"
Dengan gelisah Ratu Elisia pun bertanya.
"Apa anak ku Willy akan ikut berperang juga, karena dia sudah menjadi salah satu komandan dari pasukan kerajaan Lareagon"
Willy mengerti kekhawatiran ibunya tersebut dia pun menenangkan ibunya
"Ibunda tenang saja, Willy ikut dalam rombongan prajurit tetapi Willy berada di barisan paling belakang, karena Willy bukan bangsa Dwarf.
Willy hanya menjadi penyemangat pasukan yang Willy pimpin dan tidak ikut terjun ke Medan perang"
Pernyataan Willy didukung oleh Raja Freevik Reagon.
"Itu benar anak ku, cucu ku ini hanya ikut menjadi pendukung saja, karena tanpanya rencana kita tidak akan berjalan dengan lancar.
Putra Eldra bukan hanya sebagai pendukung tetapi dia juga penentu kemenangan dari pasukan kerajaan Lareagon"
Raja Hendrik Jovanka dan yang lainnya merasa bingung dengan pernyataan dari Raja Freevik Reagon dia menyebutkan Willy adalah penentu kemenangan bagi kerajaan Lareagon.
Raja Hendrik Jovanka bertanya dengan serius.
"Apa maksud ayah mertua dengan anak ku Willy sebagai penentu kemenangan"
Raja Freevik Reagon tidak menjawab tetapi Raja Gibran lah yang menjawab pertanyaan dari Raja Hendrik Jovanka.
"Ayah mertua, keponakan ku ini orang yang di luar dugaan, selama dia berada di kerajaan Lareagon, keponakan ku ini sudah membuat senjata-senjata canggih yang diluar akal sehat.
Bahkan Ayah mertua mungkin pernah melihat salah satu senjata yang sudah ponakan ku buat"
Raja Hendrik sedikit bingung karena merasa belum pernah melihat senjata yang di buat oleh Willy.
"Aku rasa aku belum pernah melihat senjata yang di buat anak ku"
Clarisa mengelus punggung dari ayahnya tersebut karena Clarisa duduk di samping Raja Hendrik Jovanka dan Raja Gibran.
__ADS_1
"Ayahanda pernah lihat pasukan Dwarf waktu kita berjalan di Red karpet"
Raja Hendrik Jovanka mengangguk, kemudian Clarisa berkata lagi.
"Mereka mengarahkan senjatanya keatas ketika kita berjalan, dan ada suara Ledakan yang keluar dari senjata tersebut kemudian membentuk kembang api, itulah senjata yang di buat oleh adik kecilku ini"
Raja Hendrik Jovanka pun bertanya kembali.
"Apa istimewanya senjata itu, itu kan hanya pelontar kembang api saja"
Raja Hendrik Jovanka menganggap senjata yang di pakai oleh para Dwarf adalah pelontar kembang api, tetapi di sana Raja Alfred Eldragon dan Raja Freevik Reagon tertawa.
"Hahaha...."
"Hahaha...."
Raja Hendrik Jovanka pun heran melihat kedua mertuanya tertawa terbahak-bahak menertawakan diri nya.
"Apakah yang aku ucapkan itu salah"
Raja Freevik Reagon menjawab.
"Salah besar..."
Raja Hendrik Jovanka kaget
"Apa..."
Kemudian Clarisa dengan tenang menjelaskan.
"Ayahanda Raja, senjata itu adalah senjata yang sangat hebat, pasukan Willy pernah mengalahkan monster bukit hitam dengan senjata tersebut.
Raja Hendrik Jovanka menjadi shock, tidak henti hentinya Willy membuat dirinya kaget dengan penemuan dan kehebatannya.
Raja Hendrik Jovanka pun memandang Willy kemudian mengangkat tangannya dan menunjukan 2 jempolnya.
"Hebat, ternyata anak ku hebat. Apa boleh pasukan ayah mu ini memiliki senjata seperti itu"
Hendrik Jovanka mengacungkan jempolnya dia juga ingin memanfaatkan Willy untuk keuntungan kerajaannya.
Willy sedikit menggelengkan kepalanya.
"Tidak...."
Willy berkata dengan ketus dan datar, Raja Hendrik Jovanka pun bertanya.
"Kenapa, bukanya aku ayah mu dan kerajaan ini tempat kelahiran mu, ayolah bantuan ayah mu ini untuk memperkuat kerajaan ini.
Kalau kerajaan ini kuat rakyatnya juga akan aman dan damai, tidak seperti sebelumnya yang selalu di hantui rasa takut"
Raja Hendrik Jovanka sedikit merayu Willy tetepi Willy hanya menggelengkan kepalanya kembali.
"Ada harga yang harus dibayar, untuk senjata ini, karena senjata ini sangat rahasia dan bisa berakibat buruk kepada tatanan kehidupan"
Hendrik Jovanka menjadi cemberut tetapi dia tidak menyerah.
__ADS_1
"Apa yang kamu inginkan akan aku berikan untuk mu, aku janji"
Willy pun mengangguk
"Tepati dulu janji mu, yaitu membuat pangkalan militer di hutan bekas tempat tinggal aku dan ibunda"
Willy berbicara seakan bukan dengan seorang Raja atau seorang ayah, dia masih teringat perlakuannya beberapa tahun yang lalu yang membuat Willy dan ibunya menderita.
"Aku tahu kamu masih marah kepadaku, aku sudah beberapa kali berjanji kepada ibunda mu, dan aku berjanji padamu aku akan menjadi ayah dan suami yang baik.
Dan besok aku akan memerintahkan orang untuk memulai pekerjaan membuat pangkalan militer yang kamu inginkan dan seperti Blue print yang kamu buat.
Apakah ada lagi yang kamu inginkan dari ayah mu ini, aku akan berusaha memenuhinya"
Tanpa basa basi Willy langsung berucap.
"Aku ingin 5.000 prajurit terlemah di kerajaan ini yang berusia 18 sampai dengan 25 tahun dan itu nanti di bawah kepemimpinan ku, yang lainnya aku ingin kamu berpisah dengan Ratu Isabel"
Raja Hendrik Jovanka langsung tertawa.
"Hahaha.... keinginan mu begitu mudah, tapi kenapa kamu ingin prajurit yang lemah. Bahkan aku bisa berikan prajurit terkuat di kerajaan ini.
Dan untuk Ratu Isabel, memang aku berencana untuk menceraikan nya, karena penghianatan dia di belakang ku tidak bisa di maafkan"
Heri Jovanka pun penasaran mengapa adiknya itu ingin meminta prajurit terlemah di kerajaan Jovalavia, dengan penasaran dia pun bertanya.
"Dek, mengapa kamu ingin prajurit lemah, padahal di kerajaan ini banyak kesatria hebat berlevel C2, Bahkan para kesatria yang di pimpin oleh ku saja rata rata ada di level C3"
Willy tersenyum dan menjawab pertanyaan dari kakaknya itu.
"Aku hanya perlu prajurit yang berlevel D saja bahkan kalau ada yang berlevel E juga tidak apa-apa"
Heri Jovanka semakin tidak mengerti dengan pemikiran adiknya tersebut.
"Apa... level E, bahkan itu tidak masuk dalam daftar syarat menjadi seorang prajurit, apa itu tidak salah"
Willy mengangguk.
"Ya memang tidak salah, aku ingin menunjukkan bahwa orang yang lemah juga bisa bermanfaat dan tidak di pandang sebelah mata"
Willy sebenarnya masih kesal, sehingga dia menyindir ayahnya sendiri yang hanya mementingkan reputasi dan kekuatan kerajaan Jovalavia sendiri.
Raja Hendrik Jovanka pun menundukan kepalanya, dia sedikit tersindir dengan perkataan dari Willy.
"Maafkan ayah mu ini, nak. Aku menyesal sudah memperlakukan mu dan Ibunda mu dengan buruk, itu karena khasutan si sialan Isabel"
Raja Hendrik Jovanka menyalahkan Ratu Isabel yang selalu menghasut Raja Hendrik Jovanka untuk menyingkirkan Ratu Elisia dan Willy dari kerajaan Jovalavia.
***
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini
__ADS_1
👇
http://saweria.co/DaniSutisna