
Willy dan Maria pun minum teh bersama kakek Fahetar. Setelah itu baru mereka melanjutkan latihan.
Maria yang baru pertama kali ke goa ini merasa takjub, di dalam goa begitu terang dan banyak batu keristal yang memancarkan cahaya serta sungai dangakal dengan air yang jernih dan banyak terdapat ikan.
Serta rumah bambu yang sederhana ditempati oleh seorang kakek tua yang legendaris.
Kakek Fahetar pun memerintahkan kepada Willy untuk berlatih tanding dengan Maria karena kebetulan Willy ada teman untuk berlatih tanding.
"Ayo sekarang kakek ingin melihat hasil latihan mu selama ini, coba berlatih tanding dengan Maria"
Willy dan Maria mengangguk
"Baik kek"
Mereka berdua berdiri kemudian berjalan ketempat yang biasa di pake latihan oleh Willy.
Maria mengeluarkan senjatanya berupa tombak buatan Willy yang bisa di lipat.
Sreng....
Tombak yang terlipat berubah menjadi tombak berukuran panjang, Maria pun bersiap dalam posisi siap bertarung.
Willy menggunakan pedang kayu pemberian dari Kakanya yaitu Heri Jovanka, pedang kayu yang sering di pake untuk latihan Willy.
Pedang kayu itu di aliri energi sihir mirip seperti haki, supaya pedang kayu menjadi kuat dan setajam pedang asli.
Kakek Fahetar memulai
"Iya siap latihan tanding dimulai"
Maria tidak ragu untuk menyerang Willy.
"Ciat...."
Swur....
Trang....
Trang ....
Bruk....
Suara ayunan tombak dan benturan tombak dengan pedang kayu Willy.
Mereka saling menyerang satu sama lain, teknik demi teknik dan jurus demi jurus Maria keluarkan.
Tetapi serangan dari Maria dengan mudah Willy tahan, Willy melompat berjongkok dan berguling untuk menghindari serangan dari Maria.
Kakek Fahetar berteriak
"Maria gunakan seluruh kekuatan mu kamu boleh menggunakan sihir untuk melawan Willy"
__ADS_1
Maria menggabungkan jurus tombaknya dengan sihir petir yang dia miliki menjadikan kecepatan serangan Maria menjadi meningkat pesat.
Willy pun tidak ragu, dia menggunakan jurus beladiri pedang tingkat tinggi yang di ajarkan oleh kakek Fahetar dari kitab beladiri yang memandu Willy.
Swuk....
Trang....
Brak....
Pedang berayun dan beradu dengan tombak Maria, kemudian tombak itu pun patah jadi dua, kakek Fahetar segera menghentikan pertarungan mereka.
"Sudah cukup berhentilah"
Mereka seketika itu menghentikan pertarungan, Maria sambil terengah-engah karena kecapean sedangkan Willy tidak terlihat kelelahan.
"Hai pangeran bodoh hah...hah..hah... Kenapa kamu itu apa tidak cape hah"
Maria berbicara kepada Willy sambil terengah-engah.
"Aku belum cape ini juga jurus belum aku keluarkan semua nya ini aku keluarkan hanya tingkat dasar saja"
Maria kaget lalu menatap kakek Fahetar
"Apa benar itu kek, pangeran ke 3 baru mengeluarkan setengah jurus dari tahap dasar"
Kakek Fahetar tertawa
"Hahaha....iya bahkan itu baru dasarnya saja karena nak Willy anak yang cerdas dia baru beres belajar sampai tahap menengah, masih banyak yang harus dia pelajari"
Maria pun bertanya kepada kakek Fahetar.
"Kek apa aku bisa sekuat Pangeran ke 3"
Kakek Fahetar mengangguk
"Bisa saja asalkan kamu giat dan rajin berlatih nanti kakek ajarkan, kakek punya kitab beladiri ilmu tombak mungkin akan cocok dengan keahlian mu bertombak"
Maria pun senang karena akan diajari oleh kakek Fahetar.
Setelah latihan usai mereka pun kembali menuju menara pengawas tempat mereka tinggal.
Setelah sampai ratu Elisia menyambut anaknya.
"Kenapa baru pulang, ini sudah hampir malam banyak monster berbahaya yang berkeliaran ibunda tidak mau terjadi apa apa lagi dengan kamu"
Ratu Elisia memeluk Willy yang baru pulang, kemudian ratu Elisia bertanya kepada Maria.
"Maria apa yang dilakukan Willy seharian ini, aku kan menyuruh mu mengikuti dia"
Maria melihat wajah Willy yang memberikan isyarat, tetapi ratu Elisia langsung berkata.
__ADS_1
"Ayo katakan jangan berbohong, kamu sudah saya anggap sebagai Anaku sendiri, apakah kamu akan berbohong kepada keluarga mu sendiri"
Maria menundukkan kepalanya, dia tidak bisa berbohong kepada ratu Elisia karena selama ini dia juga dirawat oleh ratu Elisia dan dia juga sudah menganggap ratu Elisia sebagai ibunya sendiri"
"Anu...ratu ternyata selama ini pangeran ke 3 berlatih ilmu beladiri dan sihir kepada kakek legendaris"
Ratu Elisia mendengar Maria mengucapkan kakek legendaris.
"Kakek legendaris, apa maksud mu dengan kakek legendaris ayo jelaskan"
"Pangeran ke 3 berguru kepada penyihir agung Volyaw Fahetar di goa dalam hutan, dan kami menyebutnya sebagai Kakek Fahetar"
Ratu Elisia merasa shock tetapi juga merasa sangat senang,
"Apa itu benar Anaku, kamu sedang berguru kepada penyihir agung Volyaw Fahetar"
Willy mengangguk.
"Iya ibunda"
"Kenapa tidak bilang dari awal kalau kamu berguru kepada penyihir agung itu dan mengapa kamu bisa bertemu dan berguru kepada beliau"
Willy menjelaskan semuanya.
"Sebenarnya waktu itu yang menolong ku adalah kakek Fahetar, dia menyelamatkan ku ketika jatuh dari jurang, dan selama itu aku dilatih sihir dan ilmu beladiri pedang tingkat tinggi dan kakek Fahetar juga melihat bejana Ilahi aku"
Willy menceritakan ketika 3 orang pahlawan menilai tingkatan level bejana Ilahi dan bejana Ilahi Willy ada di tingkat Level D awal
Ternyata bejana Ilahi milik Willy terbalik dan kakek Fahetar sudah merubah posisi bejana Ilahi yang ternyata Willy memiliki bejana Ilahi melebihi Level pahlawan
Dengan penampang kekuatan yang lebar, jadi Willy sekarang tinggal mengisi energi sihir dan kekuatan dengan sering berlatih dan menambah skill skill baru.
Ratu Elisia pun mengijinkan Willy dan Maria untuk berlatih bersama penyihir agung Volyaw Fahetar, dan ratu Elisia pun menitipkan salam kepada penyihir agung apabila Willy dan Maria pergi berlatih lagi.
"Baik lah kalau begitu ibunda mengerti, ibunda akan mengijinkan Willy berlatih asal ajak Maria bersama dan sampaikan salam dari ibunda kepada penyihir agung"
Willy mengangguk
"Baik ibunda"
Ratu Elisia pun menyuruh mereka untuk mandi kemudian bersiap untuk makan malam dan istirahat.
***
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk
Like
Komen
Vote
__ADS_1
*Rate**
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.