Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Pilihan yang Sulit


__ADS_3

Hari ini, tepat hari Selasa. Dan itu artinya, tenggat waktu dua hari yang telah diberikan oleh Rega kepada Naziah. Untuk memberinya jawaban atas lamarannya, sudah habis sejak semalam. Terhitung sejak malam diundangkannya Naziah dan Ifah ke rumahnya, yaitu di kediaman Rega.


Dan hari ini, seharusnya Naziah sudah siap dengan jawabannya. Namun, mengetahui kalau Rega sedang berada di Jepang. Dalam rangka mengadakan kunjungan kerja ke berbagai suppliernya di sana. Selama kurang lebih tiga hari. Naziah memilih cuek dan sibuk bekerja seperti biasanya.


Tetapi, sehari sebelum hari itu, Naziah telah memberi kabar kembali pada Ibunya melalui telepon. Untuk membahas tentang hal itu dengan lebih serius.


*Flashback On


Tut... Tak butuh waktu lama, sambungan telepon dari Naziah itu langsung terjawab.


"Assalamu'alaikum, Kakak! Apa kabar, Nak?" sapa Mama Adel, ibu Naziah dari seberang teleponnya.


"Wa'alaikumsalam, Mama. Alhamdulillah, kabar Kakak baik. Mama sendiri, bagaimana kabarnya?" jawab Naziah dengan sangat lembut. Kemudian balik menyapa ibunya itu.


"Alhamdulillah, Mama juga baik. Ada apa Kak? Tumben nelpon pagi-pagi gini!" tanya Mama Adel, tak kalah lembut dari anaknya itu. Setelah menjawab pertanyaan Naziah tentang kondisinya saat ini.


Mama Adel sangat memahami ketiga anak gadisnya, termasuk Naziah. Mereka akan langsung terbuka dan bercerita serta meminta pendapat padanya. Tentang segala hal yang mereka hadapi dan menurut mereka sulit mengambil kesimpulan, dalam kehidupan sehari-harinya.


"Ma'! Naziah pernah ceritakan pada Mama! Soal Naziah yang mendapat lamaran dari Big Bos di kantor tempat Naziah saat ini bekerja." panggil Naziah dan bertanya demi memastikan. Sebelum dia bercerita banyak dan panjang kali lebar nantinya.


"Em... iya, Kak pernah cerita itu. Emang kenapa dan ada apa dengan lamarannya, Kak?" jawab dan tanya Mama Adel lagi.

__ADS_1


"Oh iya... sebelum itu, apa Mama nggak lagi sibuk?" tanya Naziah


"Dibilang sibuk... kayaknya, nggak juga. Mama cuma lagi menjahit baju daster Mama yang sedikit robek di ketiaknya. Jadi, nggak terlalu sibuk. Bicaralah!!!" jawab Mama Adel dan mendesak Naziah untuk segera menceritakan maksudnya menelpon.


"Em... begini, Ma. Sampai saat ini, Kakak belum memberikannya jawaban, Ma. Karena, Kakak masih dilema dan galau untuk memberinya jawaban. Sejujurnya saat ini, Kakak masih sangat menikmati kesendirian ini. Dan belum terbersit pikiran untuk menikah. Tapi semalam, pria itu sudah menuntut diberikan jawaban atas lamarannya itu. Dan hanya memberi waktu pada Kakak. Selama dua hari ke depan, terhitung mulai hari ini." jelas Naziah.


"Kakak sayang...! Usiamu saat ini sudah cukup dewasa. Dan gadis seusia dirimu, memang sudah pantas untuk menikah. Tetapi, semua keputusan itu Mama serahkan padamu. Mama tidak bisa memaksa. Sebab yang akan menjalani semuanya nanti adalah dirimu sendiri. Walau sejujurnya, selama ini Mama selalu berdoa untukmu. Agar cepat diberikan jodoh yang terbaik dan segera menikahi dirimu. Karena itulah, saat mendengar kau mendapat lamaran lagi, Mama sangat senang dan bersyukur. Dan berharap, Kakak akan menerima lamaran dari pria tersebut." ucap Mama Adel bijak dan jujur.


"Benarkah??! Tapi, Ma'----" ucap Naziah


"Naziah...!" panggil Mama Adel lembut. Dengan memotong ucapan anaknya itu.


Mendengar ibunya memanggil dengan nama aslinya. Dan bukan memanggil dengan panggilan kesayangannya. Naziah tahu, jika saat ini, ibunya itu ingin berbicara serius dengannya. Karena itu, dengan cepat dia menjawab dan menajamkan pendengarannya. Untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan ibunya itu.


"Mama memang belum kenal dan belum pernah bertemu sekalipun dengan pria yang melamar dirimu itu. Namanya pun, Mama nggak tahu! Karena kau, tak pernah menyebutkan namanya saat membicarakannya. Tetapi, firasat Mama mengatakan, dia adalah pria yang baik untukmu dan juga pria yang sholeh, Nak. Dan sepertinya, doa-doa Mama selama ini telah diijabah oleh Allah SWT.


Saran Mama, beristikharahlah Nak! Serahkan semua kepada-Nya. Semoga Allah segera memberikan petunjuk-Nya." ucap Mama Adel kembali panjang lebar. Mengungkapkan firasat yang dirasakannya dan memberi saran pada anak tertuanya itu.


"Aamiin!!! In Syaa Allah, Ma'. Kakak akan lakukan itu. Mama memang yang terbaik, terimakasih sarannya!" jawab Naziah dengan bahagia. "Oh iya, nama pria itu, Adrian Rega, Ma'." sambung Naziah menyebutkan nama pria yang telah melamarnya.


"Terimakasih kembali, sayang." ucap Mama Adel. "Ohh... ya??! Nama yang bagus. Oh iya kak, apa Anto sudah menelfon mu, semalam?" tanya Mama Adel langsung mengganti topik.

__ADS_1


"Em... belum, Ma'. Memangnya kenapa dengan dia?"


"Istrinya, si Mia sudah melahirkan semalam. Katanya, anaknya cewek, Kak." jawab Mama Adel terdengar bahagia.


"Benarkah?!!!" ucap Naziah, ragu. "Wah... Anto pasti sedang bahagia sekali! Sampai lupa memberi kabar padaku. Ya sudah, Kakak akan menelfon dia dulu ya, Ma. Assalamu'alaikum!" ucap Naziah, langsung buru-buru ingin menelfon sahabatnya dan mengakhiri panggilan bersama ibunya.


"Kak! Mama berharap, tahun depan... Mama juga sudah bisa berubah status seperti Mamanya Anto. Dari seorang ibu menjadi seorang nenek. Itu akan sangat membahagiakan rasanya, Kak. Kau mengerti kan, maksud Mama? Mama harap, kau mengerti! Ya sudah, jaga diri dan kesehatan mu. Wa'alaikumsalam." ucap Mama Adel dan berharap penuh, bahwa anaknya itu akan mengerti maksudnya.


Usai membalas salam anaknya. Mama Adel langsung mengakhiri panggilannya itu. Dan Naziah hanya mampu mendesah berat mendengar harapan ibunya itu.


"Hehhh...!" desah Naziah, terdengar sangat berat.


*Flashback Off


Dan hari ini, meski Naziah tampak fokus dengan pekerjaannya. Tetapi sesungguhnya, hati dan pikirannya sedang tak begitu fokus dengan apa yang dikerjakannya. Sesekali, konsentrasinya buyar dan jantungnya sedikit berdebar tak menentu. Kala pikirannya terbersit sebuah pertanyaan tentang seperti apa nantinya reaksi Rega, saat mendengar jawaban atas lamarannya itu.


Entahlah, ada apa dengan jantungnya? Naziah juga tak mengerti dengan dirinya sendiri saat ini. Sebelumnya, dia tidak pernah mengalami hal seperti itu. Dia berusaha untuk kembali fokus bekerja. Dan mendoktrin dirinya dengan mengatakan, semua hal yang terjadi itu, mungkin hanya reaksi ketegangan yang dia rasakan saat ini. Dan doktrin itupun sedikit banyaknya, mampu mengembalikan konsentrasinya yang buyar.


Naziah memang telah menyiapkan jawabannya atas lamaran Rega itu. Dan sudah memantapkan hati dan juga pikirannya. Serta lahir dan batinnya yang akan merasakan dampak dari jawaban yang akan diberikannya itu. Yang mungkin, akan mempengaruhi cerita hidupnya ke depan. Semuanya, tinggal menunggu kedatangan Rega yang akan menagih jawaban darinya itu.


Sungguh, Naziah seperti merasa sedang dihadapkan disebuah persimpangan jalan. Yang mana, harus dia tentukan dengan baik. Akan memilih dan menempuh jalan yang mana. Yang semuanya memiliki resiko yang akan dihadapi nanti. Sesuai dampak dari pilihannya itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2