
Rega menggandeng tangan Naziah mulai turun dari mobil. Hingga memasuki sebuah ruangan VVIP dalam restoran itu. Yang mana di sana sudah ada Devan beserta dua tamu VVIP dari Rega itu. Yaitu tuan Funihiro dan asisten pribadinya. Tak sedikitpun Rega melepaskan genggaman tangannya dari tangan istrinya itu.
"Selamat siang, Tuan Hiro! Maafkan kami, karena membuat anda menunggu!" ucap Rega dalam bahasa Mandarin ya. Sambil sedikit membungkukkan badan memberi hormat pada kliennya itu.
Sesaat setelah kakinya mulai melangkah memasuk ruang VVIP yang telah mereka reservasi sebelumnya. Bersama dengan itu, Naziah yang setia disampingnya pun ikut membungkukkan badannya pula. Sambil tersenyum ramah pada kedua tamu spesial suaminya itu.
"Tak apa-apa, Tuan Rega. Kami juga baru saja sampai beberapa detik lalu. Silahkan duduk!" jawab Tuan Funihiro, sopan dan ramah. Kemudian, mengalihkan pandangannya pada Naziah. "Siapa dia, Tuan Rega? Bisakah kau memperkenalkan dirinya padaku?" lanjutnya.
Mendengar itu, Naziah dan Rega seketika saling pandang dan tanpa sengaja sama-sama tersenyum.
"Perkenalkan, Dia istriku, Tuan. Sekali lagi, aku minta maaf karena membawanya ikut serta untuk makan siang bersamaku dan juga bersama kalian. Apa anda tidak keberatan, Tuan?" jawab Rega
Masih dengan bahasa Mandarin nya. Memperkenalkan Naziah pada kliennya itu. Dan sekali lagi meminta maaf, karena merasa tak enak hati. Perihal membawa istrinya bergabung bersama mereka.
"Tentu saja, tidak apa-apa. Kenapa juga aku harus keberatan?! Justru, Aku senang. Andai kutahu, kalau Tuan Rega sudah menikah. Aku pun mungkin akan membawa istriku pula, saat kemari. Biar istri-istri kita juga ikut akrab seperti kita, nantinya." ucap Tuan Funihiro, tak keberatan dan malah serasa senang. Sambil tersenyum dengan sangat hangat menerima Naziah di sana.
Mendengar jawaban klien suaminya itu yang tak keberatan atas hadirnya dia di sana. Naziah pun tak tinggal diam. Dia pun senang karena diterima dengan baik oleh tamu penting dari suaminya itu. Untuk itu, dengan tersenyum hangat sambil sedikit membungkuk hormat. Dan mengucapkan terimakasih langsung pada Tuan Funihiro itu menggunakan bahasa Mandarin pula sama seperti yang dilakukan oleh suaminya, Rega.
"(Xiexie ni, Xiansheng! Ni Zhen shanliang. Hen Gaoxing jian Dao ni.) Terimakasih,Tuan! Kau begitu baik hati. Senang bisa mengenalmu." ucap Naziah dengan begitu fasih.
Mendengar Naziah mengucapkan terimakasihnya dengan menggunakan bahasa Mandarin seperti itu padanya. Tuan Funihiro dan asistennya saling pandang dengan wajah cukup terkejut. Lalu kemudian, tersenyum senang sambil mengangguk-anggukkan kepala mereka.
Hal sama pun terjadi pada Rega dan Devan. Mereka pun tak kalah terkejutnya dari kedua tamu mereka itu. Mereka sungguh tidak pernah menyangka, kalau Naziah bisa berbahasa Mandarin juga, seperti mereka.
"(Bu keqi, Lei Jia furen. Wo ye hen gaoxing renshi ni.) Sama-sama, Nyonya Rega. Aku juga senang bisa berkenalan denganmu." balas Tuan Funihiro, tersenyum senang.
Kemudian, sambil menunggu menu makan siang pesanan mereka disiapkan. Naziah, Rega dan Devan serta kedua tamu asing mereka itu. Saling berbasa-basi dan bersenda gurau dengan begitu akrab, sebentar. Hingga makanan mereka datang dan mereka pun mulai makan dengan khusyuknya.
Meski Naziah baru berkenalan dengan kedua klien suaminya itu. Tapi, berkat keramahan dan penguasaan bahasa asingnya yang mumpuni. Naziah mampu berbaur dengan cepat dengan orang asing tamu dari suaminya itu.
Dan karena hal itu pula, kadar rasa sayang dan bangganya seorang Rega menjadi suami dari seorang Naziah. Menjadi semakin bertambah lagi. Hingga membuatnya tak bosan untuk terus memandangi wajah cantik istrinya itu dan bibirnya terus tersenyum. Sepanjang makan siang yang sedang mereka jalani itu sambil mengobrol ringan.
__ADS_1
Tepat pukul 1 siang lebih sedikit, Rega, Naziah,Devan dan kedua tamunya itu pun membubarkan diri mereka.
Rega dan Naziah memutuskan langsung kembali ke kantor mereka. Sementara itu, Devan bertugas mengantarkan kedua tamu asing itu ke bandara untuk kembali ke negara mereka. Sebab, urusan mereka telah selesai dan berakhir dengan makan siang tadi.
Dalam perjalanan kembali ke kantor. Rega yang sedang mengemudikan mobilnya. Sesekali mengalihkan pandangannya menatap Naziah yang duduk di kursi penumpang tepat di sisinya. Dengan bibirnya yang terus tersenyum senang.
Naziah yang dipandangi pun menjadi bingung dengan sikap suaminya itu. Dia yang begitu peka terhadap keadaan sekitarnya. Memang, sejak tadi juga sudah menyadari akan apa yang dilakukan oleh Rega itu. Namun, ia berusaha untuk acuh saja. Tetapi, karena ini dijalankan dan tak ingin terjadi apa-apa pada perjalanan mereka itu. Naziah pun memberanikan diri untuk bertanya. Ada apa dengan tingkah suaminya yang menjadi seperti itu.
"Hmmmm." sahut Rega dengan gumaman nya. Sambil berusaha fokus pada jalanan yang mereka lalui saat itu.
"Kenapa terus memandangi wajahku dan tersenyum seperti itu, Hem? Apa ada yang salahkah pada wajahku ini?" ungkap Naziah, akhirnya.
"Em... tidak ada yang salah sama wajahmu, Sayang. Mas hanya ingin terus memandang wajah cantikmu itu. Sebelum nantinya, kita akan berpisah lagi saat di dekat kantor. Aku akan sangat merindukanmu, pasti nantinya." jawab Rega begitu santai. Masih dengan terus sesekali menatap wajah Naziah dengan tersenyum.
__ADS_1
"Heh!!! Kita 'kan hanya pisah beberapa jam lagi saja, Mas. Setelah malam nanti, kita pasti akan ketemu lagi saat di rumah. Masa iya, hanya pisah beberapa jam saja. Sudah akan rindu seperti itu! Nggak masuk akal, Mas." ucap Naziah tak mengerti akan ke bucinan suaminya itu terhadapnya.
Ya, saat ini Rega sedang terkena virus budak cinta. Apalagi dengan hubungan antara dia dan Naziah. Yang memang sebenarnya sudah sangat halal untuk terus menempel bak prangko. Tak seperti di awal-awal saat masih penjajakan. Rega mesti menjaga sikapnya sebagai Bos dari Naziah. Meski ia begitu tertarik pada bawahannya itu dan ingin segera memilikinya seutuhnya. Kini, saat semua impiannya itu sudah tercapai. Naziah malah ingin mereka merahasiakan terlebih dahulu hubungan halal itu. Hingga nanti selesai acara resepsi mereka digelar.
Jadi, meski berat melakukan semua permintaan istrinya itu. Untuk menjaga jarak mereka saat ini. Namun, demi sayang dan cintanya. Rega pun rela melakukannya. Tetapi, dengan cara mencuri waktu kebersamaan seperti itulah. Rega akan memanfaatkan waktu bersama Naziah itu dengan sebaik mungkin.
"Sayang... kok ngomongnya 'gitu?! Apa kau belum mencintaiku? Setiap orang yang sedang jatuh cinta itu akan seperti Mas ini, Sayang. Apa kau tidak pernah tahu akan hal itu? " ucap dan tanya Rega, sedikit seperti merajuk. Tetapi, tetap fokus dengan kemudinya.
"Aku tahu, Mas. Dan saat ini, aku sedang berusaha untuk mencintaimu lebih dalam lagi dengan pelan-pelan. Tapi, aku mohon...! Janganlah terlalu berlebihan mencintaiku. Mas sendiri tahukan! Sesuatu yang berlebihan itu sangat tidak baik loh. Apa Mas mau, kalau.... " jawab Naziah pelan dan sangat lembut, namun terpotong. Dengan posisi tubuhnya yang dibuat sedikit menghadap tubuh suaminya yang sedang fokus menyetir mobil mereka itu.
Karena, tiba-tiba jari telunjuk Rega melekat pada bibir ranumnya. Sengaja untuk menghentikan bicara Naziah yang mungkin akan kearah yang buruk, menurutnya. Sambil berucap;
"Stop, Sayang. Jangan diteruskan, Mas mengerti." ucap Rega.
Sambil memarkirkan mobilnya tepat ditepi jalan. Persis tepat ditempatnya tadi saat dia menjemput Naziah. Dan menetralkan perseneling mobil tanpa mematikan mesin mobilnya itu.
__ADS_1
"Baiklah. Karena, kita sudah sampai ditempat kau ingin diturunkan. Sebelum kau turun, tolong berikan Mas mu ini sesuatu yang bisa membuat Mas nggak terlalu merindukanmu nanti!" ucap Rega penuh nada mengiba.