Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Berpikir


__ADS_3

Naziah diam dan tampak berpikir lama. Serta berulang kali tampak menghembuskan nafas berat. Kemudian terlihat mengurut-urut pelan kedua pelipisnya.


"Ren, tolong beri aku waktu untuk berpikir. Jangan mendesak aku seperti ini!!! Saat ini, otakku masih terlalu lelah untuk berpikir. Jika aku sudah siap menjawab, aku pasti memberitahumu. Jadi, tolong beri kesempatan aku untuk berpikir tenang?!!!" jawab Naziah.


"Baiklah, Zi'. Aku harap, setelah aku kembali dari kota S. Kau sudah bisa memberikan aku jawabanmu itu." ucap Rendi


"Em... Insya Allah." jawab Naziah dari balik layar ponsel itu. Sambil mengangguk pelan dan tampak mengurut kening serta pelipisnya.


Sesungguhnya, melihat Naziah dalam keadaan berpikir keras seperti itu. Hati kecil Rendi ikut merasakan perasaan seperti tertekan. Yang diakibatkannya dan sedang dirasakan oleh Naziah. Yaitu memaksanya untuk segera memberikan balasan atas perasaan cintanya itu.


Sedang ia tahu, jika saat ini Naziah masih dalam masa penyembuhan. Paskah sakit yang ia alami beberapa hari yang lalu. Namun, itu semua harus ia lakukan. Anggaplah Rendi bersikap egois. Tapi, itulah seorang Rendi Saat ini. Pernah menjadi pria yang mencintai seorang wanita dalam diam dan berakhir patah hati.


Hingga membuatnya trauma dan tak ingin lagi menyembunyikan perasaannya itu. Jika hatinya sudah memilih dan sangat terpaut pada seorang wanita. Maka, ia harus mengungkapkan perasaannya itu. Dan bersiap dengan jawaban yang akan ia terima. Entah perasaan kecewa ataupun bahagia nantinya.


Seperti saat ini, Rendi siap menunggu jawaban yang akan diberikan Naziah nantinya. Meski ia harus tersiksa dengan rasa penasaran. Karena menunggu dalam beberapa hari kedepannya, hanya untuk sebuah jawaban.


"Istirahatlah!!! Aku akan matikan panggilannya. Assalamu'alaikum?!" ucap Rendi


"Iya. Wa'alaikumsalam." jawab Naziah.


Dan mereka bersama-sama mengakhiri panggilan videonya.


"Silahkan diminum dulu tehnya Nak Rendi dan Nak Aldi! Maaf... kami hanya bisa menyajikan ini?!!" ucap Ibu Adelia merasa sungkan.


"Iya, terimakasih Bu. Ini sudah lebih dari cukup." ucap Rendi.


Usai berterima kasih, Rendi dan Aldi pun mulai meminum teh tersebut. Kemudian, segera berpamitan untuk kembali ke kota. Karena esok hari, mereka berdua harus ke kota S. Untuk kepentingan kerajaan bisnis yang mereka jalani saat ini.

__ADS_1


*****


Sementara di kontrakannya, usai mengakhiri panggilan videonya dengan Rendi. Masih dalam posisi duduk di atas lantai yang beralaskan sajadahnya. Naziah kembali menghela nafas berat sambil menutup matanya.


Pengakuan atas perasaan Rendi padanya tadi. Memang sempat ia anggap sebagai canda saja. Jadi, ia tidak begitu mengambil hati ungkapan tentang perasaan padanya itu. Dan bersikap biasa-biasa saja.


Namun, setelah pengakuan itu kembali diucapkan. Dan bahkan di utarakan tepat dihadapan ibu dan adik-adiknya. Yang merupakan keluarga milikinya saat ini. Naziah langsung menjadi begitu frustasi atas itu semua.


Jadi, demi menenangkan hati dan pikirannya itu. Naziah memutuskan untuk berdzikir sebentar. Dan akan beristirahat, jika rasa kantuk itu datang menyerangnya dan membuatnya tertidur. Serta berharap, saat bangun nanti. Untuk sementara, masalah yang baru saja mengganggu hati dan pikiran itu, bisa terlupakan.


*****


"Aaaa....!!!" teriak Tita


Benar saja, saat terbangun dari tidurnya. Karena mendengar suara cempreng dari Tita, yang tiba-tiba berteriak kencang dari arah dapur. Naziah terkejut dan langsung berlari menemui sahabatnya itu. Hingga ia lupa akan masalah yang sempat mengganggu hati dan pikirannya, sebelum tertidur.


Sesampainya di pintu pembatas antara dapur dan ruang makan. Naziah, Ulfi dan Anto hampir bertubrukan satu sama lain.


Mereka mendapati Tita yang terduduk di atas meja dapur. Dengan wajah pucat karena ketakutan.


"Tolong aku!!! Dibawah meja ini ada kadal tadi. Hiks...hiks..." jawab Tita sambil menangis tersedu.


Sejak kecil, Tita memang sangat takut sekali dengan kadal. Karena itulah, saat melihat binatang itu. Meski dari jarak jauh sekalipun, ia akan begitu ketakutan dibuatnya.


"Allahuakbar 'Ta. Kau hampir membuatku mati terserang serangan jantung. Karena mendengar suara teriakanmu itu. Sumpah!!! Dadaku terasa sakit karena debaran jantung ku yang begitu cepat dan kuat. Hahh...hah..." ucap Ulfi. Sambil memegangi dadanya yang sakit.


"Astaghfirullah...! Ayo, kau harus duduk Ul'!!! Biar ku ambilkan air untukmu." ucap Naziah. Sambil merangkul pundak sahabatnya itu dan mengajak untuk duduk di kursi meja makan.

__ADS_1


Sementara itu, Anto pun sibuk menenangkan Tita. Dan membujuknya untuk turun dari meja tersebut. Agar bergabung dengan Naziah dan Ulfi di meja makan.


"Maafkan aku Ul'...?! Aku sangat ketakutan tadi." ucap Tita dengan suara yang masih terdengar sedikit bergetar karena sisa ketakutannya tadi.


"Iya, aku sudah maafkan. Kau juga tidak sengaja melakukannya kan?! Jadi, tidak apa-apa. Aku sudah merasa lebih baik kok." jawab Ulfi setelah merasa lebih tenang.


"Ya sudah, karena sudah masuk waktu magrib. Kita siap-siap sholat berjamaah ya...!?!!" ucap Naziah lembut. Dan semua sahabatnya menjawab dengan anggukan kepala mereka.


Usai melaksanakan sholat berjamaah. Naziah mengajak ketiga sahabatnya itu untuk makan malam bersama seperti biasa. Dan lanjut berbincang-bincang santai di ruang TV.


Karena keesokan harinya adalah hari Senin. Naziah yang sudah merasa kondisinya lebih baik. Memutuskan untuk kembali masuk kampus dan melanjutkan tugas-tugas dari kampusnya. Yang telah tertunda beberapa hari karena sakitnya.


Dan bukan hanya akan ke kampus. Naziah pun memutuskan sudah akan bekerja kembali di bengkel.


Mendengar keputusan Naziah tersebut. Awalnya, Ulfi, Anto dan Tita menentang keputusannya itu. Karena mengingat kesehatan Naziah yang kelihatan belum pulih sepenuhnya.


Namun, dengan segala bujukan dan rayuan yang dilakukannya. Naziah akhirnya berhasil mendapat dukungan dari para sahabatnya itu. Dengan syarat, Anto akan mendatangi pemilik bengkel tempat Naziah bekerja. Untuk memberitahu pada pemilik bengkel itu. Agar pekerjaan yang diberikan pada Naziah tidak terlalu berat dulu dalam beberapa hari ke depan.


Dan syarat itupun, di iyakan oleh Naziah dengan hati pasrah terhadap sikap overprotektif ketiga sahabatnya itu.


*****


Hari pun berlalu begitu cepat. Tak terasa, seminggu telah berlalu dari waktu yang diberikan Rendi pada Naziah. Untuk memberinya jawaban atas permintaan tentang menjadi tunangannya.


Tepat pukul 11.30 WITA, pesawat yang ditumpangi oleh Rendi. Telah mendarat sempurna di bandara.


Dengan dijemput oleh Dokter Karina saat tiba di bandara. Rendi dan Aldi, akhirnya sampai lebih cepat di rumahnya yang ada di kota P itu.

__ADS_1


Setelah sampai, Rendi segara membersihkan diri. Dan memutuskan beristirahat sejenak untuk melepas penatnya.


Karena malam hari nanti, ia dan Aldi. Sudah berencana akan melakukan sesuatu. Yang memang telah mereka rancang dari kota S. Dan rencana itu akan dilaksanakan di kota P tersebut, setelah mereka sampai.


__ADS_2