Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Menemui CaMer


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama hampir 4 jam lamanya. Akhirnya, mobil yang dikemudikan oleh Aldi. Sudah melewati gerbang desa tempat tinggal orang tua Naziah saat ini.


Melalui petunjuk yang diberikan oleh Anto. Tentang rumah dan nama orang yang akan mereka temui. Aldi dan Rendi berhasil menemukan rumahnya. Setelah sebelumnya bertanya pada orang yang kebetulan mereka temui di tepi jalan.


Aldi memarkirkan mobilnya di bahu jalan tepat didepan rumah yang mereka cari. Setelah mobil itu terparkir rapi, Aldi dan Rendi keluar dari dalam mobil tersebut. Setelah sebelumnya masing-masing dari mereka merapikan pakaian mereka. Yang terlihat sedikit kusut setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh.


"Assalamu'alaikum...! Selamat sore...!" ucap Rendi dan Aldi kompak.


Rumah yang mereka datangi itu terlihat sederhana. Namun asri dan dipenuhi berbagai tanaman bunga dengan berbagai warna serta jenisnya.


Karena salam mereka belum mendapat jawaban. Rendi sendiri mengulang kembali salamnya,


"Assalamu'alaikum...!!!" ucap Rendi dengan sedikit mengeraskan volume suaranya.


"Wa'alaikumsalam...!"


Barulah terdengar suara wanita yang menjawab salam Rendi dari arah yang cukup jauh dalam rumah tersebut.


Kemudian disusul suara langkah seseorang dari balik pintu. Yang membukakan pintu rumah. Dan dari balik pintu itu menampakan dua gadis remaja dengan pakaian tertutup dan berjilbab.


"Maaf, ini dengan siapa dan sedang mencari siapa?"


Tanya sopan dan ramah, salah satu gadis yang mata dan senyumnya sedikit mirip Naziah.


"Iya. Permisi nona! Kami sedang mencari ibu Adelia. Ibu dari Naziah Chairunnizwa. Apa benar ini rumahnya?" jawab dan tanya Aldi.


Kedua gadis itu saling pandang dengan kening sedikit berkerut. Kemudian kompak mengangguk.


"Iya, benar. Kalian siapa ya? Dan ada keperluan apa mencari ibu kami?" jawab dan cerca gadis itu dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Kami adalah salah satu donatur yang mengadakan dana beasiswa untuk para mahasiswa berprestasi dari Universitas X. Dan ingin melakukan sesi tanya jawab dengan wali murid yang akan mendapatkan beasiswa tersebut. Dan mahasiswi dengan atas nama Naziah Chairunnizwa adalah salah satu dari mahasiswi yang beruntung itu. Jadi, boleh kami bertemu dengan ibu Adelia nya?"


Jelas Aldi berbohong. Mereka sengaja berpura-pura seperti saran dari Anto sebelumnya. Agar bisa bertemu dengan Ibu dari Naziah. Karena jika tak berpura-pura menjadi seperti tamu penting. Maka, kedua adik dari Naziah itu. Tidak akan mengizinkan ibu mereka untuk bertemu dengan orang asing.


Sebab, sejak kecil ketiga kakak beradik itu. Sudah diajarkan untuk saling menjaga dan melindungi. Apalagi setelah orang tua mereka tinggal lah seorang ibu saja tanpa seorang ayah. Maka, mereka semakin bersifat posesif atas keselamatan dan keamanan ibu mereka itu.


"Baiklah. Adik aku akan memanggilkan ibu kami. Jadi, silahkan duduk dulu di sana!"


Jawab dan ucap Elvira mempersilahkan para tamu ibunya itu untuk duduk di kursi teras. Setelahnya, ia memberi kode pada Lastri, sang adik untuk memanggilkan ibu mereka.


Ya, kedua gadis remaja yang menyambut Aldi dan Rendi itu. Adalah Elvira dan Lastri.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Lastri kembali. Dan diikuti oleh ibu Adelia berjalan di belakangnya.


"Assalamu'alaikum?!" ucap Ibu Adelia. Demi menyapa kedua tamunya itu.


"Wa'alaikumsalam Bu." jawab Rendi dan Aldi hampir bersamaan.


Mendapati sikap sopan, ramah dan menghargai yang lebih tua dari kedua anak muda yang menjadi tamunya itu. Ibu dari seorang Naziah Chairunnizwa itu sesungguhnya sedikit bingung.


Karena kelihatan dari tampilannya, kedua tamunya itu adalah orang-orang yang lebih berilmu. Dan bahkan, mungkin lebih segalanya dari dirinya. Jadi, seharusnya mereka tak perlu menyalami tangannya dan menghormatinya sampai seperti itu.


Namun, berbagai pertanyaan yang muncul di benaknya. Tak mampu ia ucapkan dan hanya mampu ia ucapkan dalam hatinya. Sambil menampilkan senyum ramahnya demi menghargai kedua tamunya itu.


"Sebelumnya, kami ingin minta maaf pada kalian, Adik-adik cantikku?!" ucap Rendi dengan nada merayu.


"Maaf...??! Karena tadi, kami telah sedikit berbohong demi untuk bisa menemui Ibu kalian." sambung Rendi jujur.


"Iya. Sesungguhnya kami hanya mengikuti saran yang dianjurkan oleh sahabat kakak kalian, yaitu Anto. Yaitu dengan mengaku sebagai utusan salah satu donatur penyedia dana beasiswa dari kampus mereka. Dengan begitu, kami bisa menemui ibu tanpa harus mendengarkan berbagai pertanyaan dari para gadis kecil ini, Bunda!" jelas Aldi pada Ibu Adelia, ikut menimpali dan mencoba lebih akrab.

__ADS_1


"Dasar Kak Anto rese'!" umpat Lastri lirih. Namun tetap terdengar oleh telinga Ibu Adelia. Sehingga ia membelalakkan mata demi menekan amarah anak bungsunya itu.


"Kami maafkan. Sekarang, bisa kalian perkenalkan siapa sebenarnya kalian? Kemudian cepat jelaskan! Apa maksud dan tujuan kalian sebenarnya ingin bertemu dengan ibu kami ini? Dan tidak usah banyak berbasa-basi dengan kami." jawab dan tanya Elvira ketus.


Ibu Adelia sedikit mengangguk, setuju dengan pertanyaan awal yang lontarkan oleh Elvira. Namun setelahnya, ia jadi tersenyum sedikit malu kearah Rendi dan Aldi. Karena kedua anak gadisnya itu bersikap ketus seperti itu pada para tamu itu.


"Jangan seperti itu, El'!!! Biarkan mereka memperkenalkan dirinya masing-masing. Dan menjelaskannya dengan pelan-pelan saja." ucap Ibu Adelia bijak.


"Tidak apa-apa Bu. Aku juga memang tidak suka berbasa-basi. Baiklah, perkenalkan namaku, Rendi Rahardian. Dan ini adalah sahabatku, namanya Rifaldi." ucap Rendi memperkenalkan diri mereka.


"Dan Aku akan mengatakan, jika maksud kami datang kemari. Adalah... ingin melamar anak ibu yang bernama Naziah Chairunnizwa, untukku." jawab Rendi jujur dan langsung pada intinya.


Mendengar pernyataan jujur tersebut. Ibu Adelia memandang tanpa ekspresi, wajah Rendi sejenak karena sedikit shok. Kemudian saling melempar pandang dengan Elvira dan Lastri. Yang duduk disisi kiri dan kanannya.


"Melamar Ziah???" tanya Ibu Adelia lagi. Demi memastikan kata yang didengarnya benar. "Apa kau sudah mengenal anakku itu dengan benar, Nak Rendi? Bisakah kau menceritakannya lebih detail lagi?!" pinta Ibu Adelia lemah lembut.


"Karena selama ini, aku belum pernah bahkan bisa dibilang tidak pernah mendengar. Jika Naziah anakku sedang menjalin hubungan serius dengan seorang pria. Sehingga, saat Nak Rendi mengatakan akan melamarnya. Jadi, aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk menanggapimu." jelas Ini Adelia selanjutnya.


"Iya Bu. Awal pertemuan kami memang tanpa sengaja sebulan yang lalu. Dan saat itu, aku memang sudah jatuh hati padanya. Kemudian, kami kembali dipertemukan di rumah sakit beberapa hari lalu. Dalam waktu yang memang cukup singkat itu. Hatiku sudah sangat yakin memilihnya. Karena itu, aku langsung menemuinya dan mengungkapkan maksud hatiku. Namun, Ziah memberiku tantangan. Untuk melamar dirinya langsung pada orang tuanya. Jika memang benar aku bersungguh-sungguh terhadapnya."


"Dan akupun menerima tantangan itu, Bu. Sehingga, dengan ditemani sahabatku ini dan dengan dukungan dari Anto, sahabat Ziah sendiri. Aku bisa sampai di sini." jelas Rendi panjang kali lebar.


Karena Rendi bersungguh-sungguh. Diapun menyanggupi tantangan dari Naziah itu. Dan mendatangi orang tua dari pujaan hatinya tersebut.


Sedang Naziah sendiri, tak akan menyangka. Jika tantangan yang ia berikan akan disanggupi oleh seorang Rendi.


**Bersambung dulu ya guys....


Maaf ya... jika ceritaku ini mungkin sedikit garing. Aku kehabisan cerita nih... Jadi, mohon dukungannya biar tambah semangat. Dan jika berkenan, tolong kritik dan saran dari kalian (pembaca setiaku) untuk cerita recehku ini ya...🥺

__ADS_1


Salam** cinta 💕 dariku.


__ADS_2