
"Tuan ingin diisi dengan lauk pauk yang mana ini?" tanya Naziah dengan nada lembut namun terpaksa.
"Terserah kamu saja. Aku akan makan, apa saja yang kau berikan!" jawab Rega datar tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah ayu Naziah.
"Jangan bilang begitu, Tuan! Entar... kalau saya kasih makan racun, emang mau?" ucap Naziah
"Jika kau memang menginginkanku mati karena racun itu. Aku akan lakukan!" ucap Rega mulai menggombal.
"Waw!!! Apakah ini benar Tuan Rega, Si Big Bos yang terkenal jutek, pemarah dan Arogan itu? Saya tak mengenalmu." ucap Naziah dengan nada mengejek.
Mendengar ucapan itu, seketika Rega menatap tajam wajah Naziah itu.
"Apa maksudmu?" tanya Rega marah namun bingung juga.
"Tuan Rega...! Aku hanya mengenal Anda seperti itu. Tidak mengenal Anda seperti saat ini. Yang suka merayu dan menggombal seperti tadi." jawab Naziah apa adanya.
"Kau pikir, aku pria perayu dan penggombal semua wanita, begitu?" tanya Rega lagi, ingin memperjelas.
"Mungkin...?!" ucap Naziah ambigu.
Tanpa diduga Naziah, tangan Rega sudah terulur dan menyentil dahi Naziah sedikit keras. Sehingga membuat Naziah langsung meringis sambil mengusap-usap bekas sentilan jari-jari tangan Rega tersebut.
"Aauhhh... Sa...kit, Tuan! Kenapa Anda melakukannya dan menyakitiku?! Uuh sssst..." ucap Naziah sambil terus mengusap-usap dahinya itu dan meringis.
__ADS_1
"Aku sengaja. Biar otakmu yang mungkin agak geser itu kembali ke posisi semula dan berpikir dengan benar. Aku bicara serius, bukan semata-mata merayu ataupun menggombalimu, Nona Naziah!" ucap Rega.
Melihat tindakan yang dilakukan Rega pada Naziah barusan. Membuat Devan, Bi' Suni dan Ifah terkejut. Namun sedetik kemudian, mereka saling melirik satu sama lain dan kompak menggelengkan kepala mereka. Tak habis pikir dengan tingkah absurd calon pasangan itu.
Rega dan Naziah, seakan sudah tak melihat orang lain di sana, selain mereka berdua. Hingga merasa dunia hanya milik mereka berdua saja, saat ini. Tanpa menghiraukan tiga orang lainnya yang masih ada di sana dan sedang makan. Bahkan, mereka juga belum menyentuh makanan mereka. Yang sejak tadi sudah siap untuk disantap.
"Ya sudah, maafkan aku?! Sini aku obati!" ucap Rega sambil kembali mengulurkan tangannya dan ingin menyentuh bekas sentilannya yang ada pada dahi Naziah.
"Eeeh... nggak perlu, Tuan!!! Sebentar lagi, sakitnya juga akan hilang sendiri." ucap Naziah sambil memundurkan kepalanya. Agar tak tersentuh oleh Rega.
"Baiklah. Maafkan aku?! Itu kelihatan memerah, pasti sakit ya? Sekali lagi, Aku minta maaf ya?!" ucap Rega tulus dan merasa menyesal telah menyakiti Naziah.
"Iya, tidak apa-apa, Tuan." jawab Naziah berpura-pura memaafkan.
'Udah tahu sakit, pakai nanya lagi. Hufh... menyebalkan!!!' batin Naziah
"Terimakasih, calon istriku! Ayo kita makan!!!" ucap Rega sepintas lalu, tersenyum senang. Kemudian memulai makannya. Setelah sebelumnya membasahi tenggorokannya dengan meminum air.
Dan mereka pun mulai memakan makanan di piring mereka hingga tandas. Begitupun dengan Devan, Bi' Suni dan Ifah yang sudah memulai makannya lebih dulu. Saat Rega masih sibuk merayu dan menggombali Naziah yang sibuk menyiapkan makanan untuknya.
*****
Hampir dua puluh menit kemudian, akhirnya mereka semua selesai makan. Dan telah berpindah tempat duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Naziah bersama dengan Ifah duduk di sofa panjang yang ada di sana. Sementara Rega dan Devan, masing-masing duduk di sofa tunggal. Sedangkan Bi' Suni, masih sibuk membersihkan meja makan dan mencuci piring bekas mereka makan tadi. Naziah dan Ifah sempat menawarkan diri untuk membantunya. Namun, Bi' Suni menolak lembut dengan mengatakan; kalau mereka adalah tamu agung, saat ini. Jadi, tidak diperkenankan untuk membantu pekerjaan asisten rumah tangga.
Seperti janjinya tadi, Rega pun menceritakan dan menjelaskan semua pertanyaan-pertanyaan yang sempat terlintas dibenak Naziah dan juga Ifah sejak tadi. Tentang dia yang memang majikan Bi' Suni yang juga merupakan pemilik rumah itu. Dan juga, hubungan sebenarnya antara dia dan Devan. Yang sebenarnya, selain hubungan antara Bos dan sekretaris. Mereka juga adalah saudara sepupu dari ayah mereka.
Kemudian, Rega juga menjelaskan perihal dia yang mengundang Naziah dan Ifah untuk datang makan malam di sana. Karena, dia ingin memastikan saja. Bahwa, gadis pemilik nama Naziah yang menjadi penolong asistennya pagi tadi itu adalah gadis yang sama. Yang juga merupakan gadis yang telah dilamarnya, sekitar dua hari lalu.
"Oh iya, Aku baru tahu loh, Pak Rega... Pak Devan! Kalau Mba' Naziah ini jago bela diri. Setelah tadi, dia ngaku sendiri. Hehehe... Karena, aku memaksa bertanya, bagaimana bisa dia melakukan perihal gerakan secepat kilat untuk merebut dompet milik Bi' Suni yang ada ditangan tuh jambret, tadi." tutur Ifah sambil sedikit cengengesan.
"Benarkah??? Bukankah kalian sudah berteman dan akrab hampir dua tahun lamanya?" tanya Devan, ragu. Dan sedikit mengungkapkan sepengetahuannya.
"Iya, itu benar, Pak Devan. Tapi, baru tadi pagi saja dan bertepatan saat sedang bersamanya. Terjadi suatu tindak kriminal terhadap seseorang didepan mata. Dan Mba' Naziah ikut campur dan pelaku kriminal itu lari tunggang langgang karenanya. Hahaha... jika mengingat wajah ketakutan si jambret itu saat lari. Aku tidak bisa menahan tawa hahaha... tampak lucu sekali!" tutur Ifah lagi panjang lebar dan tertawa sendiri. Karena terus membayangkan wajah lucu si jambret yang ketakutan akibat gertakan Naziah.
"Kami sudah tahu, kalau Naziah memang pandai bela diri, Nona. Bahkan, dia bisa dikatakan master bela diri. Karena saat terjadi insiden tertikamnya diriku. Aku sendiri menyaksikannya melawan kesepuluh preman yang hampir semua berbadan kekar. Berhasil dilumpuhkannya hanya dalam waktu dua menit saja." timpal Rega ikut menceritakan perihal kemampuan bela diri yang dimiliki oleh Naziah itu.
Ya, saat bercerita tentang kemampuan bela diri yang dimiliki Naziah itu. Sejenak, ingatan Rega kembali ke saat dia menyaksikan sendiri. Bagaimana gesit dan brutalnya Naziah melawan para preman saat itu. Hingga semuanya terkapar tak berdaya sampai rombongan polisi datang menjemput mereka.
Sungguh!!! Sejak saat itu, kekagumannya pada seorang Naziah. Semakin bertambah dan semakin ingin memilikinya seutuhnya. Tanpa ada yang mengganggu. Karena itulah, setelah dirinya diizinkan keluarga dari rumah sakit. Rega tidak ingin membuang waktu dan langsung datang ke kantor. Untuk menemui Naziah sekaligus melamarnya.
"Jadi, bagaimana dengan lamaranku untukmu kemarin, Zi'? Apa sudah kau pikirkan? Dan bisa memberiku jawabannya malam ini!" tanya Rega beruntun.
Dia sudah tak sabar menanti jawaban Naziah. Setelah pertemuan kedua mereka itu.
"Tuan Rega! Aku masih butuh waktu untuk menjawabnya. Sebab, ini bukan hanya sekedar lamaran sebagai pacar 'kan?! Tetapi, ini adalah lamaran untuk hidup bersama di masa depan. Untuk membina dan mewujudkan sebuah keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah nanti" jawab Naziah menjelaskan.
__ADS_1
"Beri saya waktu satu Minggu?!" tawar Naziah