Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Tidur Terpisah


__ADS_3

"Emmm, aku bersedia... menjadi pendamping hidupmu" ucap Naziah, akhirnya.


Naziah yang semula menatap Rega saat berbicara. Perlahan-lahan menurunkan pandangannya sesaat. Dan kemudian kembali mengangkat pandangan, tetapi sudah mengalihkannya ke lain arah. Saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Apa???"


Rega yang sejak tadi diam, kembali bersuara dengan bertanya dengan suaranya yang naik satu oktaf. Karena tidak yakin dengan pendengarannya atas kalimat terakhir dari Naziah tersebut. Sambil menatap intens kearah wajah Naziah.


"Apa kau bisa mengulang kalimat terakhirmu tadi?" tanya Rega lagi. Dengan memperjelas kembali kalimat pertanyaannya itu.


"Sudahlah! Aku rasa, kau sudah mendengarnya dengan sangat jelas. Jadi, aku tidak ingin mengulanginya lagi." jawab Naziah dengan jelas menolak untuk mengulang kalimatnya tadi. Sambil memutar bola matanya, malas.


Kemudian, sedikit melirik jam yang ada dinding ruang tamunya itu. Dan jam itu telah menunjukan pukul 22.12 WITA. "Sudah jam 10 lewat. Ayo, sana pulang!!! Nggak baik, jam segini masih di rumah para gadis. Nanti dikira kita ada apa-apa lagi?! Sana pulang!!!" usir Naziah halus.


"Nggak mau, sebelum kamu mengulang kalimat yang tadi." tolak Rega. "Biarin aja kita digrebek orang-orang. Supaya sekalian dinikahkan malam ini." sambungnya dengan sangat santai.


Membuat mata Naziah seketika membulat dengan sempurna, mendengarnya.


"Astagfirullahal'adzim! Nauzubillah min dzalik!" ucap Naziah sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Kenapa berkata begitu sih?! Menyebalkan." sambungnya dengan nada meninggi dan kesal.


Kemudian, Naziah segera beranjak dari duduknya dan mendekati daun pintu keluar mess-nya. "Pulang sana!!!" usir Naziah. Mulai sedikit kasar, sambil berdiri dan memegang daun pintu keluar itu.


Bukannya marah dan tersinggung dengan sikap serta ucapan dari Naziah. Rega malah bersikap sebaliknya. Dia berbicara dengan sangat lembut sambil bibirnya menyunggingkan senyum senang.


"Iya-iya, my future wife. Aku akan pulang. Dan besok, aku kesini lagi. Karena malam ini, aku belum bisa berbicara dengan Mamamu. Jadi, besok saja. oke?!!" ucap Rega.

__ADS_1


Usai mengatakan itu, Rega pun beranjak dari duduknya. Seraya mengenakan kembali jas yang sempat ia letakan pada sandaran kursinya, tadi. Setelah jas itu terpasang rapi pada tubuhnya. Rega akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari mess Naziah itu.


"'Van, ayo kita pulang!" panggil dan ajak Rega pada Devan.


Devan yang sedang asyik mengobrol dengan Ifah di kursi teras. Kompak mengalihkan pandangan mereka kearah sumber suara Rega. Mereka mendapati Rega yang telah berdiri enteng didepan pintu. Sudah rapi kembali seperti saat tadi dia datang.


"Pulang??!" ulang Devan lagi. "Oh, baiklah. Ayo, Kak!" sambungnya sambil beranjak dari duduknya.


"Tuan Devan!" panggil Naziah dan Devan pun langsung menoleh padanya. "Gunakan saja, lagi. Motor aku itu! Tidak apa-apa. Karena, kalau kalian menunggu taksi didepan sana di jam segini. Sudah pasti akan sangat sulit. Jadi, gunakan saja motorku itu untuk pulang." sambungnya.


"Emm..." gumam Devan mengarahkan pandangannya pada Rega untuk meminta persetujuan kakak sepupu sekaligus Bosnya itu.


Dan Rega yang mengerti tatapan dari adik sepupu sekaligus asisten pribadinya itu. Menjawab sambil mulai melangkah menuju motor Naziah yang terparkir tepat didepan teras mess itu.


"Baiklah. Ayo!" ucap Rega


"Selamat malam" jawab Ifah.


"Wa'alaikumsalam." jawab Naziah


Kemudian mengikuti juga, langkah Rega mendekati motor Naziah. Berhubung kinci motor itu masih ada padanya. Jadi, Devan tak perlu lagi memintanya pada Naziah. Sebelum mengendari motor tersebut, tak lupa Devan dan Rega mengenakan helm. Sebagai atribut keselamatan dalam berkendara.


Beruntung, helm milik Naziah dan Ifah yang mereka kenakan itu, berwarna gelap. Jadi, saat Rega dan Devan yang mengenakannya. Tidak membuat mereka tampak girly.


Saat Devan yang jadi jokinya mulai men-starter motornya. Rega kembali berpamitan pada Naziah. Tetap dengan panggilan sayangnya untuk Naziah.

__ADS_1


"Kami pergi ya, My future wife. Doakan kami sampai ke rumah dengan selamat. Assalamu'alaikum!" ucap Rega dengan senyuman menawannya kearah Naziah. Tanpa merasa malu sedikitpun pada Ifah dan Devan yang mendengar panggilan sayangnya. untuk Naziah.


Sementara Naziah sendiri, malah sebaliknya. Dia begitu malu pada Devan dan Ifah. Yang mendengar panggilan, yang disematkan Rega untuknya itu. Sebagai bentuk mengekspresikan rasa malunya itu. Naziah menatap tajam ke arah wajah Rega.


"Wa'alaikumsalam." jawab Naziah dengan mengunci kedua barisan giginya dan hanya bibirnya saja yang bergerak. Sambil menatap tajam wajah Rega. Karena menahan geram dengan tingkah calon suaminya itu.


Calon suami???


Ya, setelah Naziah menyatakan bersedia menjadi pendamping Rega, tadi. Secara otomatis, Naziah telah menjadi calon istri bagi seorang Adrian Rega.


Sedang Ifah yang melihat ekspresi wajah Naziah seperti itu. Hanya mampu menahan tawanya dengan tersenyum geli. Begitu pula dengan Devan.


Setelah salam mereka terjawab. Devan pun segera melajukan motor yang dikemudikannya itu dengan kecepatan rendah. Untuk keluar dari pekarangan mess karyawan tersebut. Menuju rumah kediaman mereka. Yang berjarak kurang lebih satu kilometer dari sana.


Sepeninggalan Devan dan Rega. Sambil membantu Naziah mengumpulkan gelas dan piring kecil bekas kedua tamunya mereka, tadi. Ifah terus mencuri pandang menatap wajah Naziah. Yang sepertinya sedang menahan senyum. Jadi, Ifah putuskan untuk bertanya. Namun sebelumnya, tak lupa Ifah menyindir sikap yang di tampakkan Naziah itu.


"Emmm, sepertinya... ada yang lagi berbunga-bunga nih! Lamaran dari Tuan Rega itu sudah diterima ya, Mba'?! Gimana reaksinya saat Mba' mengatakan iya?" tanya Ifah dengan sedikit menyenggol pundak Naziah.


"Nggak gimana-gimana. Dia biasa aja." jawab Naziah santai. Tapi, masih dengan ekspresi wajah seperti menahan senyumnya.


"Masa'??!!!" tanya Ifah dengan ekspresi wajah tak percaya menatap wajah Naziah.


"Ya sudah, kalau nggak percaya. Emang menurut kamu, dia harus seperti apa tanggapannya hah?!" ucap tanya Naziah balik, tak serius. "Sudah ah, nggak usah bahas dia. Aku ngantuk, mau langsung tidur. Ayo tutup pintunya! Besok bukan hari libur. Kita harus bangun cepat buat pergi kerja." sambungnya.


"Hem... baiklah, Mba'." jawab Ifah pasrah. Dan melaksanakan perintah Naziah barusan. Untuk mengunci pintu keluar mess itu.

__ADS_1


Sedang Naziah, sudah berlalu masuk lebih dulu kedalam. Dengan membawa nampan berisi gelas dan piring bekas yang ia kumpulkan tadi untuk dibawa ke dapur.


Karena mess Naziah itu memiliki dua kamar. Seperti malam-malam sebelumnya, setiap kali menginap di sana. Ifah pasti akan menghuni kamar yang satunya. Sedang Naziah tetap di kamar miliknya. Bukan karena tak ingin sekamar. Tetapi, ranjang yang disiapkan di mess itu. Hanya tersedia ranjang singel saja dan muat didalam kamar yang ada di sana. Jadi, karena itulah mereka tidur terpisah. Agar tidur mereka tidak saling berhimpit-himpitan. Dan demi menjaga kwalitas tidur mereka tetap tercukupi.


__ADS_2