Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Pamit Pulang


__ADS_3

"Ssst... Lukaku, Sayang!" jawab Rega sambil mendesis, saat lukanya begitu terasa perih lagi. Dan telapak tangan kirinya mencoba menekan pada lukanya itu.



"Astagfirullahal'adzim, Mas! Lukanya pasti berdarah lagi tuh. Ayo, Mas baring! Biar aku lihat dulu lukanya, kemudian diobati." ucap Naziah dan sedikit memberi titah pada suaminya itu.


Naziah membantu Rega untuk berbaring dengan perlahan-lahan. Kemudian menyingkap kaos suaminya itu untuk melihat luka tersebut. Yang memang tampak mulai mengeluarkan darah lagi.


Melihat itu, Naziah segera berlari ke luar kamar. Dan kembali lagi dengan sebuah baskom kecil yang berisi air hangat didalamnya. Kemudian, Naziah mulai melepaskan perban yang telah berlumuran darah pada luka suaminya itu. Setelahnya, ia membersihkan dan mengobati kembali luka tersebut. Lalu, memasangkan perban baru untuk menutupi lukanya.


Saat Naziah sibuk melingkarkan kain kasa ke perut suaminya itu. Dan membuat posisi wajahnya dengan wajah Rega begitu dekat. 'Cup!' satu kecupan mendarat ke pipi kiri Naziah. Saat wajahnya berada disisi kanan wajah Rega. Namun, Naziah cuek saja dan tetap melanjutkan kegiatannya itu.


Dan 'Cup!' satu kecupan lagi mendarat mulus ke sisi kanan pipi Naziah. Saat posisi wajahnya berada disisi kiri wajah Rega. Karena merasa sudah lebih baik dengan dirinya sendiri. Rega memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan diposisi itu untuk mencium pipi Naziah, gemes.


Yang ternyata, kecupan kedua dari suaminya itu. Mulai mengganggu konsentrasinya. Sehingga tiba-tiba, Naziah menghentikan gerakan tangannya itu. Lalu, menatap dingin tepat ke wajah suaminya itu cukup lama.


"Mas mau, kalau lukanya nggak jadi aku tutup. Dan malah, aku buat lebih berdarah lagi. Hem...!" ancam Naziah, masih dengan tatapan dinginnya.



"Hehe.... Jangan dong, Sayang! Emang kamu tega melihat suamimu ini lebih kesakitan lagi daripada yang tadi." jawab Rega, sambil cengengesan dan kemudian memelas.



"Nggak. Ya, siapa suruh Mas bikin kesel. Udah tahu orang lagi sibuk membantu dan mengobati lukanya Mas sendiri. Bukannya diam dan duduk dengan manis saja, saat diobati. Ini... malah nyuri kesempatan dalam kesempitan. Mengganggu konsentrasi-ku saja...!" jawab dan omel Naziah.


Sambil tangannya terus dan mulai menyelesaikan tugas mengobati luka suaminya itu. Kemudian merapikan kembali peralatannya P3K-nya itu.


"Oh... emang konsentrasi mu bisa keganggu juga gara-gara dicium gitu, Hem?!" tanya Rega, menggoda istrinya itu.



"Udahlah, Mas. Jangan mulai lagi deh...! Tadi aja, luka Mas itu berdarah lagi. Karena Masnya yang udah banyak tingkah 'kan?! Makanya, nggak usah banyak tingkah dulu deh. Sebelum tuh luka di perut sudah benar-benar sembuh dan tinggal bekasnya aja. Ayo, kita wudhu dan sholat subuh! Sebab, Adzan subuh udah selesai sejak tadi." elak Naziah.

__ADS_1


Karena, ia tahu suaminya itu mulai menggodanya. Untuk itu, Naziah coba mengalihkan pembicaraan mereka. Dengan mengingatkan dan mengajak suaminya itu untuk segera mengerjakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim, saat itu juga.


"Em... baiklah, Sayang. Ayo!" jawab Rega, menurut. Dan mulai beranjak dari duduknya dengan perlahan. Menuju ke kamar mandi mengikuti istrinya untuk berwudhu.


Dan begitulah subuh itu berlalu. Tanpa ada penyelesaian dari adegan yang cukup panas dan sempat mereka lakukan tadi itu.




Setelah selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah mereka. Seperti biasa, Naziah pasti akan menyempatkan untuk membaca kitab sucinya. Untuk semakin menambah pemahamannya atas agama dan kitab sucinya itu.



Sementara Rega, dia putuskan untuk melanjutkan pekerjaannya semalam yang tertunda. Dalam mempelajari beberapa email yang dikirimkan Devan ke ponselnya.



Setelah selesai mengaji, Naziah putuskan untuk keluar kamar. Untuk membuat dan menyiapkan sarapan untuk mereka. Tetapi, saat melihatnya akan beranjak keluar kamar. Rega menahan dan mengajaknya untuk mengobrol sebentar. Sebab, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada istrinya itu.




"Baik, Mas." jawab Naziah, menurut. Dan mulai mendudukkan dirinya didekat Rega yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang.



"Semalam Devan menelfon ku dan mengatakan. Jika besok, pemimpin perusahaan X dari Jepang. Yang merupakan calon distributor baru kita. Akan datang ke kota M untuk bertemu denganku. Dan akan melanjutkan pembahasan kami tentang sistem kerja perusahaan mereka dalam mendistribusikan produk mereka itu, nanti. Dan Tuan Funihiro tidak ingin aku diwakili. Jadi, bisakah kita balik ke kota M nanti sore? Kita akan naik pesawat saja. Bagaimana?" jelas Rega, perlahan-lahan dan bertanya setelahnya. Untuk meminta pendapat istrinya itu.



"Em... Tapi, aku masih ingin disini loh...! Dan juga, masa kita langsung main pergi aja sih. Ninggalin rumah Mama yang masih cukup berantakan ini. Setelah acara yang dibuat untuk kita kemarin. Tetapi, pekerjaan Mas juga penting. Jadi, gimana ya?" ujar Naziah, berat hati dan menampilkan wajah sendu.

__ADS_1



"Ya sudah, Mas 'kan bilang tadi, jika kamu setuju. Kita akan pulang nanti sore. Jadi, kita bisa berpamitan lebih dulu sama Mama, saat sarapan nanti. Setelahnya, kita bisa mulai bergerak untuk beberes rumah Mama ini, hingga siang nanti. Kamu bisa ajak para sahabat mu 'kan? Buat bantuin kita! Biar cepat selesai. Jika mereka siap bantu kita. Mas janji akan traktir mereka apa saja. Buat ucapan terimakasih. Bagaimana?" tanya Rega lagi. Setelah menjelaskan lebih detail maksud ucapan awalnya tadi.



"Hem.... tanpa Mas atau aku pun yang meminta untuk membantu beberes rumah ini. Para sahabatku itu memang tetap akan datang kemari hari ini. Buat bantu kita beberes. Bahkan, yang akan datang membantu kita. Bukan hanya mereka saja. Semua tetangga yang rumah Mamaku ini, pasti akan datang membantu. Sebab, seperti itulah kebiasaan disini. Setiap ada upacara adat ataupun acaranya dan ada di desa ini. Semua tetangga bahkan warga yang tak memiliki kesibukan lain."



"Mereka pasti akan berbondong-bondong datang ke tempat acara tersebut. Dan bergotong royong untuk mempersiapkan tempat hingga membereskan setelahnya. Segala sesuatunya yang mereka pakai dan gunakan saat acara itu. Jadi, Mas nggak usah khawatir untuk masalah beberes rumah itu. Ya sudah, baiklah. Kita akan pulang nanti sore. Sekarang, Mas istirahat aja dulu. Aku mau keluar dulu untuk menyiapkan sarapan. Ya?!" pamit Naziah, setelah menjelaskan cukup panjang lebar tentang kebiasaan warta warga di kampungnya itu.



"Oh syukurlah, kalau begitu. Ya sudah, sebelum meninggalkan ku sendiri dikamar ini. Maukah kau memberikan Mas mu ini sesuatu yang bisa bikin Mas betah nantinya, untuk menunggumu. Hem....?!" ucap Rega, sambil menghembuskan nafas lega.



Kemudian sempat-sempatnya memberikan sebuah teka teki untuk istrinya itu.



"Maksudnya apa, Mas? Nggak usah pakai main teka-teki segala. Aku buru-buru nih. Jadi, aku malas mikir, Mas. Ayolah! Biar kita cepat sarapan, nantinya.



Tanpa banyak tanya dan teka teki lagi. Langsung saja Rega menuruti istrinya itu untuk mengatakan maksudnya tadi. Dengan....



'"**Cup**' "Sudah. Selamat membuat sarapan, Sayangku! Dah...." ucap Rega, santai. Sambil sedikit melambaikan tangannya. Untuk berdah-dah ria. Setelah berhasil mendaratkan kembali kecupan bibirnya itu ke bibir Naziah.


__ADS_1


Karena lagi-lagi suaminya itu bergerak tanpa izin dan memberinya kejutan untuknya. Naziah hanya bisa pasrah, sedikit mendelik kesal ke arah suaminya yang cukup menyebalkan baginya itu. Dalam beberapa jam terakhir ini.


__ADS_2