
Setelah kepergian Arjuna, si mas kurir. Naziah berbalik kearah Anto dan memberikan tatapan horor.
"Apa?!!" ucap Anto balas menatap tajam Naziah.
"Kenapa kau membuat orang itu patah hati sih? Kan kasian... " ucap Naziah dengan mata mendelik kesal kearah sahabatnya itu. Sambil beranjak masuk kedalam rumah. Dengan membawa kantong plastik yang berisi kotak-kotak makanan pesanannya tadi.
"Biarin aja. Supaya dia tahu dan tidak meneruskan rencananya yang sudah jelas-jelas akan GaTot(Gagal Total) itu, nantinya. Sebentar lagi kan, status lajangmu itu akan berubah menjadi istri orang. Jadi, tidak usah banyak tingkah deh..., Zi'!" ucap Anto bernada peringatan keras bagi Naziah.
"Seperti kata pepatah, Janur kuning belum berdiri didepan rumah. Jadi, jangan dulu berkhayal terlalu jauh. Kau sangat mengenalku 'Nto. Jadi, jangan mengekang ku dengan aturan-aturan yang belum pantas untuk aku patuhi. Jodoh, hanya Tuhan yang bisa menentukan kapan datangnya? Seperti apa ceritanya? Dan juga siapa dia? Banyak kan sekarang ini, sepasang kekasih sudah tinggal hitungan menit saja akan terikat dengan tali janji suci yang menjadikan mereka sepasang suami istri. Tetapi, tiba-tiba Tuhan mendatangkan sebuah masalah yang mampu menghalangi ikatan tali suci itu. Bukan begitu?" jelas Naziah panjang kali lebar. Dan meminta Anto untuk menanggapi penjelasannya itu.
"Iya. Tapi... apa maksudmu dengan berkata seperti itu, Zi'? " jawab dan tanya Anto semakin tak mengerti.
"Aku sudah sangat lapar. Ayo, kita masuk dulu!!! Nanti aku jelasin sambil kita makan. Oh iya aku lupa, Om dan Tante sudah beristirahat? Kalau belum, panggil makan saja dulu. Setelah tinggal kita berdua, baru aku jelasin semuanya." ucap Naziah meminta waktu untuk menjelaskan maksud perkataannya tadi.
Sambil memacu langkahnya semakin masuk kedalam rumah tersebut. Menuju keruang makan.
"Hem... baiklah. Aku lihat mereka dulu." jawab Anto pasrah.
Kemudian, Anto mencoba mengintip dari balik pintu kamar yang sedikit dibukanya. Untuk melihat keadaan kedua orang tuanya yang ada didalam kamarnya. Apakah masih terjaga dan belum terlelap dalam tidur siang mereka? Jika masih, dia akan mengajak mereka untuk makan.
Namun, setelah mendapati kedua orang tuanya yang sudah terlelap karena lelah yang mendera. Akhirnya, sambil menutup kembali pintu kamarnya itu. Anto menghela nafas lega. Karena rencananya untuk bisa segera mendengar penjelasan Naziah. Tidak jadi tertunda akibat hadirnya kedua orang tuanya.
Sementara itu, Naziah yang akan menuju ruang makan. Menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kamarnya. Dan berencana mengajak ibu dan kedua adiknya untuk makan bersama. Namun, setelah pintu kamar itu terbuka sebagian. Naziah mendapati ketiganya sudah tertidur pulas.
__ADS_1
Sebagaimana halnya Anto, Naziah pun menghela nafas pelan. Sambil menutup kembali pintu kamar itu dengan perlahan. Agar tak menimbulkan bunyi yang dapat mengganggu tidur keluarga kecilnya itu.
Kemudian, Naziah melanjutkan langkahnya menuju meja makan. Meletakkan kantong plastik yang dibawa itu ke atas meja. Dan mengambil satu kotak makanan untuk dirinya. Sebelum makan, tak lupa ia menyiapkan terlebih dahulu air minumnya.
Baru saja ia mendaratkan bokongnya di kursi meja makan. Anto sudah menyusulnya dan ikut mengambil satu kotak makanan bagiannya.
"Mereka sudah tidur, Zi." ucap Anto sambil membuka kotak makanannya. Dan bersiap untuk menyantap makanan tersebut.
"Hem... Mama, Ade sama Dede juga sudah tidur. Sepertinya, rasa lelah mereka lebih besar dibandingkan rasa laparnya. Biarkan saja. Nanti, kalau perut mereka sudah keroncongan. Pasti juga bangun dan mencari makanannya sendiri. Jadi, kita duluan saja. Selamat makan!" ucap Naziah dan mulai menyuapkan makanannya ke mulut.
"Iya. Selamat makan." balas Anto.
Dan mereka pun fokus untuk menghabiskan makanannya masing-masing dalam keheningan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Belakangan, Ziah memang terlihat berbeda dari sebelumnya. Dia tampak sering menyendiri dan terlihat melamun. Sepertinya, dia memang sedang mencoba menyembunyikan sesuatu hal. Semoga saja, dia benar akan terbuka tentang hal yang ia coba sembunyikan itu." ucap batin Anto penuh harap.
Akhirnya, Naziah selesai dengan acara makannya setelah meminum air.
"Sudah selesai. Sekarang, bisakah kau mulai menjelaskan tentang maksud dari ucapanmu tadi?!" ucap Anto menuntut. Dan Naziah menjawabnya dengan anggukan kepala pelan. Sambil menghembuskan nafasnya berat.
Lama Naziah terdiam demi menenangkan rasa sesak di dadanya. Ketika mengingat hal yang akan iya ceritakan pada sahabatnya itu.
* Flashback on
__ADS_1
Malam hari pukul 8 WITA, tepatnya dua Minggu sebelum hari itu. Naziah memberi kabar pada Rendi akan acara wisudanya hari ini melalui pesan chatnya. Dan menunggu balasan atas pesannya itu.
* *Isi pesan Naziah
"Assalamu'alaikum, 'Yang. Apa kabar? Bagaimana dengan harimu? Apakah semua baik-baik saja? Insya Allah, dua Minggu lagi acara wisudaku akan digelar. Apa kau akan datang untuk menghadiri acara pentingku itu*?"
Namun, setelah beberapa menit berlalu. Pesan tersebut hanya dibaca saja tanpa dibalas. Naziah memutuskan untuk menggosok giginya terlebih dahulu sebelum tidur.
"Mungkin dia sedang sibuk. Aku akan menyikat gigi saja dulu. Siapa tahu saja, selesai aku dari kamar mandi. Dia sudah membalas pesanku." gumam Naziah menenangkan hatinya. Sambil beranjak masuk ke kamar mandi. Dan meninggalkan ponselnya di atas nakas di samping tempat tidurnya.
Rendi yang saat ini sedang berada di kota P. Untuk melihat perkembangan proyeknya di sana. Dan juga menghadiri acara ulang tahun salah seorang pemilik saham dua puluh lima persen yang ada di perusahaannya saat ini.
Entah mengapa? Sejak siang tadi, Naziah terus teringat akan tunangannya itu. Dia merasa seperti akan terjadi sesuatu yang buruk pada Rendi. Setelah menghubungi Rendi dan mengetahui kalau dia baik-baik saja. Hati Naziah menjadi sedikit lebih tenang.
Namun, ia tak bisa memungkiri hatinya. Hingga malam ini, hati kecilnya terus merasa gelisah dan mengingat Rendi. Karena itulah, malam ini ia kembali menanyakan kabar dan keadaan tunangannya itu. Dan berusaha berpikir positif.
Usai menyikat gigi dan membersihkan wajahnya. Naziah langsung menuju tempat tidurnya. Lalu menyambar ponsel yang ia letakan di atas nakas tadi dengan tangannya. Sebab, saat masih didalam kamar mandi. Ia sempat mendengar dering ponselnya yang menandakan ada sebuah notifikasi yang masuk.
Setelah melihat layar ponsel tersebut. Ternyata benar ada sebuah notifikasi pesan yang masuk. Naziah segera membukanya dan mendapati sebuah pesan video. Kening Naziah tampak berkerut dalam.
"Video???" gumam Naziah sambil menekan tombol pemutar yang tertera pada gambar video itu dan menunggu sebentar karena sedang mendownload.
Setelah beberapa saat kemudian, video itupun terbuka dan memutar secara otomatis.
__ADS_1
Dalam hitungan detik, raut wajah Naziah yang semula tampak bingung. Kini berubah datar tanpa ekspresi saat menonton video tersebut. Dan dalam hitungan menit, dua buah butiran kristal bening tampak meluncur bebas dari mata indahnya itu. Tanpa seorang pun yang tahu, Ia menangis dalam diam.