
Setelah hampir setengah jam berada didalam kamar mandi. Akhirnya, Rega keluar hanya dengan mengunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Untuk menutupi bagian perut bawah hingga lututnya.
Saat mendengar bunyi pintu yang terbuka. Reflek Naziah melihat kearah sumber bunyi itu. Dan melihat tubuh sixpack dari Rega itu. Segera Naziah memalingkan wajahnya kearah lain berusaha menyembunyikan wajahnya. Meski sudah beberapa kali melihat penampakan seksi suaminya itu. Namun, Naziah masih saja merasa malu untuk itu.
Sementara itu, ternyata Rega sempat melihat tingkah malu-malu dari istrinya itu. Sehingga, muncul ide ingin menggoda istrinya itu.
Diam-diam, Rega mendekati Naziah yang terus memalingkan wajahnya. Sambil tangannya terus sibuk merapikan kembali lipatan pakaiannya. Lalu, disimpan dan susun kedalam lemari yang bagian miliknya.
Rega melingkarkan kedua tangan kekarnya ke pinggang Naziah. Dan meletakkan dagunya ke pundak kanan istrinya itu. Sambil berucap dengan pelan.
"Kenapa seketika memalingkan wajahmu saat tak sengaja melihat suamimu ini? Apa ada yang salah pada tubuhku? Atau... kau takut tergoda dan tidak mampu mengendalikan diri. Hingga tiba-tiba menerkam ku. Hem?" tanya Rega dengan sedikit memiringkan wajahnya. Hingga hembusan nafas tepat mengenai pipi milik Naziah.
Membuat Naziah sudah tidak karuan rasanya. Sejak tangan dari suaminya itu mulai melingkar di pinggangnya. Tiba-tiba saja, Naziah langsung di sergap rasa gugup. Dan kesusahan hanya untuk menelan salivanya sendiri. Belum lagi jantungnya yang mulai berdegup kencang tak beraturan, bagai genderang mau perang.
*Bagai genderang mau??🤔 Sudah seperti syair sebuah lagu ya...! 🎶 Di setiap ada kamu, mengapa jantungku berdetak? Berdetak lebih cepat seperti genderang mau perang~~~🎶 😄😄 jadi nyanyi deh... Lanjut!!!
Ditambah dengan tubuh Rega yang rasanya, semakin menempel saja pada tubuhnya. Dan juga hembusan nafas hangat yang mulai menerpa kulit pipinya. Membuat Naziah hampir hilang kendali.
"Apa benar seperti itu, Yang, Hem...? Kalau memang iya, aku tak masalah. Bukankah ada sebuah hadist yang mengatakan, jika seorang istri yang memulai lebih dulu menggoda suaminya. Maka, pahala yang akan ia terima sebagai ganjaran atas tindakannya itu adalah pahala besar. Bukan begitu?!" ucap Rega lagi sambil membawa-bawa sebuah hadist. Yang ia pernah dengar walau sepintas lalu.
Mendengar suaminya itu menyebut salah satu hadist dengan terlalu singkat. Dan jika diterapkan kepada seorang muslim yang awam. Maka, akan kurang mengena di hati seorang muslim awam itu sendiri. Dan juga menurutnya, saat ini itu yang menggoda bukannya dia. Tetapi sesungguhnya, suaminya itu sendirilah yang menggodanya saat ini. Sehingga hati dan otak Naziah yang tadinya sedikit korslet. Seketika langsung kembali konek dan siap menjawab pertanyaan. Serta meluruskan hadist yang baru saja dikatakan suaminya itu.
__ADS_1
Namun, sebelum Naziah mengutarakan unek-uneknya. Entah sadar atau nggak? Naziah memutar tubuhnya meski masih dalam rangkulan tangan kekar Rega itu. Hingga sekarang posisi tubuh mereka menjadi rapat tanpa celah. Hanya kedua tangan Naziah yang menekuk didepan dadanya. Seperti menjadi pembatas antara gunung kembarnya dan dada bidang Rega. Agar tak langsung bersentuhan.
Dan dalam posisi begitu, Rega semakin menang banyak. Sebab, dia dapat memandang wajah cantik istrinya itu dengan lebih leluasa. Tanpa ada penghalang dan tentunya lebih dekat. Hanya beberapa centimeter saja. Tetapi dalam posisi begitu, ada satu yang mungkin akan menyusahkan. Karena, tiba-tiba h*sratnya yang tadi rasanya masih dikategorikan taraf normal. Langsung seketika semakin menanjak naik level jadi tinggi.
Sehingga mengakibatkan, senjatanya kini mulai tegak berdiri dan seperti menyembul dari balik handuk yang dikenakannya. Sebagai respon dari tubuhnya atas posisi intim itu. Namun, ia berusaha tetap tampak biasa-biasa saja dengan senyum cool-nya. Dihadapan istrinya yang mungkin tak menyadari posisi intim mereka saat itu.
"Sebelumnya, aku minta maaf ya, Mas. Dan bukan juga bermaksud menggurui Mas. Tetapi sebaiknya, jika kita sedang ingin mengamalkan dan mengenalkan sebuah hadist Qur'an terhadap seseorang. Janganlah terlalu singkat atau ambigu seperti itu. Yang akan menimbulkan keraguan, kekaburan, ketidakjelasan dan sebagainya. Alangkah lebih baiknya, jika dijelaskan dengan sejelas-jelasnya. Agar seseorang itu bisa tertarik dan ikut mengamalkan hadist tersebut, seperti diri kita sendiri."
"Contohnya hadist tadi! Berbunyi seperti ini; "Siapa saja seorang istri yang menawarkan diri untuk suaminya dengan suka rela, maka ganjarannya adalah:
Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka;
Dicatatkan untuknya dua ratus ribu kebaikan;
Diangkat untuknya dua ratus derajat di surga.
Seperti itu, Mas...! Maka dengan begitu insyaa Allah, seorang istri atau muslim itu sendiri. Akan tergerak hatinya untuk berlaku baik sebagaimana sebuah hadist itu menjelaskan padanya. Demi mengharapkan ridho dan ganjaran itu."
__ADS_1
"Dan lagi, sepertinya ada salah deh..." ucap Naziah menjeda kalimatnya.
Setelah menjelaskan cukup panjang kali lebar. Membuat Rega menautkan dan mengangkat salah satu keningnya, penasaran dan bingung. Namun tak memudarkan senyuman di bibirnya. Karena kagum mendengar penjelasan tentang hadist yang memang sengaja ia singkat. Karena tahu, meski singkat atau ambigu. Istri cerdas dan sholehah nya itu akan langsung mengerti serta paham akan maksud hadist itu.
"Perasaan aku, tadi itu, tak ada diantara dari kita berdua yang menggoda lebih dulu. Tapi, justru dengan Mas datang padaku terus memelukku seperti tadi dan begini. Jadinya, Mas lah yang menggodaku lebih dulu. Dan itu juga berarti... dalam hal ini, hadist itu tak akan berlaku lagi. Sebab, hadist itu akan berlaku bilamana sang suami tak berh*srat pada sang istri karena sesuatu hal. Sementara, Mas... sejak tadi mungkin sudah berh*srat duluan. 'kan?!"
"Jadi lebih baik, sekarang Mas pakai baju tidurnya. Terus minum obatnya... lalu bobok. Aku mau mandi dulu. Sebab, sejak tadi sudah gerah juga. Nanti nggak nyaman jika langsung bobok. Aku mandi dulu, ya?!" pamit Naziah, sambil sedikit mendorong tubuh Rega. Agar segera melepaskan rangkulannya dan menjauh dari tubuhnya.
Tetapi, bukannya terlepas. Rega justru semakin mempererat pelukannya.
"Baiklah. Jika kau tahu aku sudah berh*srat padamu sejak tadi. Bukankah tugasmu sebagai istri harus menuntaskan h*srat suamimu ini. Dan akan menjadi dosa untukmu sebagai istri jika menolaknya. Hal itu juga ada hadist-nya 'kan?!" ucap Rega, pelan. Dengan semakin mengikis jarak antar mereka berdua.
Dan pandangan matanya sudah semakin berkabut dengan g*Airah. Dan hanya tertuju pada satu titik. Yaitu bibir mungil serta menggoda milik istrinya itu untuk segera dicicipinya.
Mendengar pernyataan suaminya itu. Naziah yang tadinya sudah sedikit rileks. Kembali menegang, gugup dan lehernya terasa tercekat lagi. Namun, sebisa mungkin Naziah menyadarkan dirinya agar tak hilang kendali.
"Tapi, Ma..."
Baru juga Naziah ingin berucap sesuatu. Namun, Rega telah lebih dulu membungkam mulutnya. Dengan ******* bibirnya lembut, sangat lembut. Meski sudah sangat dikuasai oleh h*srat yang menggebu-gebu. Tetapi, Rega masih bisa menguasai dirinya. Dan berusaha mencumbu dengan pelan serta lembut sekali. Agar istrinya itu merasa sangat disayangi dan dicintai olehnya.
Segitu dulu ya...! ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
Bye....