
"Aku akan memakai pakaianku. Kau... jangan berbalik sebelum aku izinkan!!!" ucap Rendi memerintah Risma.
Dengan gerakan terburu-buru, Rendi mengenakan pakaiannya.
Sementara Risma yang masih di atas tempat tidur dan berbalut selimut sebatas menutupi bukit kembarnya itu. Langsung tertawa terbahak bahak mendengar perintah Rendi barusan. Meski begitu, Risma tetap menurut dan tak melihat kearah Rendi sama sekali.
"Hahaha....!!! Kau lucu sekali Tuan Rendi. Untuk apa kau melarangku melihat tubuhmu itu? Bukankah semalam, kau sendiri yang melepaskan pakaian itu dan memintaku untuk melihat semuanya?!." ucap Risma setelah puas tertawa.
Mendengar ucapan Risma seperti itu. Rendi langsung menatap tajam kearah mata wanita itu. Untuk mencari kebohongan di sana. Dan Rendi tak menemukan kebohongan itu.
Seketika itu, tubuh Rendi yang semula telah berdiri tegak sambil mengancingkan kemejanya. Langsung menghentikan gerakannya dan mematung. Otaknya bekerja keras untuk mengingat semua yang terjadi padanya semalam.
"Aaaaakh....!!!" teriak Rendi sambil menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.
Saat otaknya mengingat semua bayangan tentang yang dia lakukan semalam penuh bersama Risma terlintas di sana. Ia ambruk dengan posisi bertekuk lutut dan sebelah tangan bertumpu di atas lantai untuk menahan bobot tubuhnya. Seperti posisi akan bersujud.
"Apa yang sudah kau lakukan Rendi? Sebentar lagi, kau akan menikahi tunanganmu. Tapi semalam, kau malah meniduri gadis lain." ucap Rendi lirih mencibir dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat dirundung penyesalan yang tak berguna. Sejenak Rendi kembali terdiam. Otaknya kembali berputar bagai flashdisk untuk mengingat-ingat penyebab semua yang terjadi saat ini.
"Aku mengingat. Ya, sekarang aku mengingat semuanya." ucap Rendi sambil beranjak dari posisinya. Dan mendekati Risma yang masih setia di posisinya.
"Aku dijebak. Kau... Risma!!! ucap Rendi sambil menunjuk tepat kearah wajah wanita itu. "Kau dan juga ayahmu telah bekerjasama untuk menjebakku 'kan??! Jawab!!!" bentak Rendi lagi.
Seketika itu, wajah Risma berubah sedikit pias. Tetapi ia berusaha tetap tenang. Agar Rendi tak sepenuhnya menyalahkannya.
__ADS_1
Tiba-tiba Rendi mencengkram kuat dagunya. Dan mengulang perkataannya dengan nada penuh emosi.
"Cepat Jawab!!! Jika tidak segera kau jawab, maka... jangan salahkan aku! Jika membunuhmu saat ini juga dan membuangmu ke laut. Biar tubuhmu yang menjijikan ini menjadi santapan ikan-ikan di sana. Begitu pula dengan ayahmu. Jika dia berani macam-macam padaku. Maka nasibnya akan sama sepertimu. Dan kau tahu, tidak akan ada seorangpun yang akan tahu nantinya. Jadi, aku akan aman. Sebab, tidak akan ada yang bisa menuntut ku." ungkap Rendi atas rencana yang penuh nada ancaman dengan matanya menatap nyalang tepat kedalam mata Risma.
"Apa kau tega melakukan itu padaku Ren'?" tanya Risma tidak yakin dengan ancaman Rendi itu.
Sebab, selama mengenal seorang Rendi. Risma tak pernah melihat Rendi pernah berlaku kasar pada siapapun. Meski terkadang, nada bicaranya saja yang terdengar tegas dan judes.
"A-aku s-sangat mencintaimu sejak pertama kali bertemu. Mendengar kau telah bertunangan, hatiku terasa sakit sekali. Dan aku tidak rela jika kau menjadi milik orang lain. Karena itu, aku rela melakukan ini dan memberikan mahkotaku padamu. Aku tidak menginginkan macam-macam darimu, Rendi. Kecuali, kau menjadi milikku. Jadi, tolong putuskan tali pertunanganmu dengan wanita itu. Dan menikahlah denganku?!! Dengan begitu, otomatis kerjasama antara kau dan ayahku juga akan semakin baik." ucap Risma dengan sedikit terbata-bata diawal ucapannya.
Akibat cengkraman tangan Rendi yang begitu kuat di dagunya. Namun seterusnya, ia tidak perduli dengan rasa sakit akibat cengkraman kuat itu. Dia tetap melanjutkan perkataannya dan mengungkapkan semua yang terlintas dalam benaknya saat itu. Agar dengan begitu, Rendi bisa kembali mempertimbangkan ancamannya. Setelah tahu tentang alasannya melakukan itu semua.
"Heh...!!! Kerjasama??? Aku tak perduli." Rendi menjeda kalimatnya dengan menghembuskan nafas kasar. "Walaupun ayahmu memutus kerjasama itu. Aku tetap tidak akan perduli, jika cara kalian seperti ini. Aku sudah sangat mencintai dan menyayangi tunanganku. Jadi, tidak mungkin aku melepasnya begitu saja. Mimpi saja kau bisa memilikiku!!!" tutur Rendi lagi sambil melepas kasar cengkraman tangannya dari dagu Risma.
"Tapi Ren', bagaimana kalau aku hamil???" ucap Risma bertanya demi mengingatkan Rendi atas apa yang sudah mereka lakukan semalam.
"Hamil??? Cihh...!" tanya Rendi dengan kembali menatap nyalang wajah Risma dan segera berpaling kearah lain seiring desisan keluar dari mulutnya. "Itu tidak mungkin terjadi. Kita hanya melakukannya sekali, bukan berkali-kali. Jadi, kau tidak akan mungkin hamil." ucap Rendi mengelak dan menekan katanya. Sambil melanjutkan gerakannya untuk turun dari tempat tidur itu.
Risma pun ikut beranjak dari sana. Sambil tetap menutupi tubuhnya dengan selimut di tangannya. Dan segera memungut pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Lalu mengenakannya dengan gerakan cepat.
"Sekali katamu?" ulang Risma kata yang ditekankan oleh Rendi padanya dengan nada tinggi.
"Kita melakukan itu dari jam 8 malam hingga hampir jam 3 subuh, Ren'. Dan kau pikir... dalam beberapa jam yang terlewati itu, kau hanya sekali menabur benihmu kedalam rahimku. Begitu??!!!" lanjut Risma penuh penekanan.
"Walaupun mungkin hanya sekali, tapi... apa kau bisa menjamin kalau benih itu tidak akan bertumbuh??!!!" lagi Risma melanjutkan katanya namun, kini dengan nada sedikit lirih dan lembut.
__ADS_1
Mendengar itu, otak Rendi kembali bekerja keras. Ia tak menampik, bahwa semua yang diucapkan Risma barusan, benar dan masuk akal.
Tetapi, mengingat Naziah dan semua rasa cintanya pada tunangannya itu. Memaksanya untuk tidak menerima semua yang terjadi saat ini. Sehingga, dia mengatakan yang seharusnya tidak dia katakan.
"Jika sampai itu terjadi, Aku akan memberikanmu uang berapapun yang kau minta. Setelah itu, jauhi aku dan secepatnya gugurkan benih itu!!!" ucap Rendi dengan meninggikan suaranya.
Kemudian, Rendi mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu.
"Tunggu Rendi!!!" ucap Risma menahan langkah Rendi. "Aku tidak menginginkan uangmu. Yang kuinginkan hanya dirimu, Rendi." lanjutnya mengiba.
Ya, jika dibandingkan dengan harta kekayaan yang dimiliki keluarga Rendi. Kekayaan keluarga Risma hampir sebanding. Tidak sampai sepuluh persen dibawah kekayaan keluarga Rendi.
Rendi tak perduli dengan ungkapan Risma barusan. Dia tetap melanjutkan langkah kakinya. Namun, Risma kembali melanjutkan perkataannya. Hingga perkataannya itu, berhasil menghentikan gerakan Rendi. Yang sudah menggapai gagang pintu dan hampir membuka pintu tersebut.
"Baiklah. Aku siap melakukan apapun untukmu. Tapi dengan syarat...!" ucap Risma sambil menatap penuh arti.
Rendi menghentikan gerakannya dan berbalik menatap wajah Risma, datar. Rendi diam menunggu kelanjutan perkataan Risma tersebut.
"Aku siap menggugurkan benih ini, jika sampai ia tumbuh. Tapi, jadikan aku kekasih gelapmu. Dan kau bisa menghubungiku kapanpun kau mau, aku siap. Asalkan, jangan buat aku menjauh darimu. Biarkan hubungan kita seperti biasa. Aku janji tidak akan mengganggumu." lanjut Risma mencoba melakukan penawaran pada Rendi.
"Terserah. Aku pegang janjimu itu." ucap Rendi dan akhirnya berlalu pergi keluar dari kamar itu.
*Flashback Off
"Aku yakin, Risma akan memegang janjinya itu, Al'." ucap Rendi meyakinkan Aldi. Usai menjelaskan semua yang terjadi.
__ADS_1
"Iya. Tapi, bagaimana dengan masalah video itu? Ziah telah melihatnya. Apa kau yakin, Ziah akan tetap menerimamu?" ucap tanya Aldi.
Karena, sejak mendengar semua penjelasan Rendi tersebut. Aldi tak menemukan solusi baik untuk semuanya. Sebab dia tahu, gadis seperti Naziah tidak akan mudah menerima Rendi begitu saja. Setelah mendengar penjelasan seperti yang diungkapkan oleh Rendi padanya itu.