
Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga jam. Akhirnya, mobil yang mereka kendarai mulai memasuki gerbang. Yang menjadi pembatas desa tempat tinggal Naziah dan desa sebelumnya.
Dua menit kemudian, Naziah yang telah melihat penampakan rumahnya dari kejauhan. Mulai membuka suara untuk memberitahu pak sopir dimana tata letak rumahnya.
Karena rumah Naziah berada tepat di seberang jalan yang menikung. Jadi, rumahnya itu begitu tampak sangat jelas meski dari jarak yang masih cukup jauh.
"Pak! Rumah yang bercat hijau didepan itu ya...!" ucap Naziah lembut.
"Oh, baik Nona." jawab pak sopir, sigap. Dan mulai sedikit menaikan kecepatan laju mobilnya. Agar kuda besi mereka itu, segera sampai di rumah yang ditunjukkan oleh Naziah tersebut.
Mendengarkan Naziah yang mulai membuka suara. Rega yang tadinya berpikir perjalanan mereka masih cukup jauh dan mencoba untuk sejenak mengistirahatkan matanya. Kembali membuka mata dan melihat ke arah luar mobil melalui kaca depan mobil. Dan pandangannya langsung mendapati penampakan rumah bercat hijau yang dikatakan Naziah pada pak sopir mereka.
"Apa itu rumahmu?" tanya Rega pelan.
"Emm." jawab Naziah seraya menganggukkan kepalanya.
"Wah...! Dari kejauhan saja, sudah tampak asri. Bagaimana jika sudah berada di sana ya?" ucap tanya Rega seraya melempar pandangannya ke arah Naziah sebentar dan kembali melihat ke arah semula sambil tersenyum sumringah.
"Em. Mungkin, nanti kau tidak ingin pulang!" jawab Naziah asal dan santai.
"Benarkah!" ucap Rega seraya tersenyum kecil. "Hem, aku memang tidak salah memilihmu untuk menjadi calon istriku." sambungnya, ambigu.
Mendengar ucapan yang ambigu dari Rega seperti itu. Naziah langsung mengalihkan pandangan untuk menatap wajah Rega dengan raut wajahnya yang bingung. Tak mengerti dengan maksud ucapan dari calon suaminya itu.
Dan Rega yang mengerti maksud tatapan dari calon istrinya itu. Hanya memperlihatkan senyum simpulnya saja dan bersiap untuk turun dari mobil tersebut. Karena sang sopir telah mengarahkan mobilnya memasuki area pekarangan rumah Naziah dan mulai memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Sementara itu, tampak Ibu Adel dan kedua adik Naziah sedang menyambut kedatangan mereka. Bersama dua orang lainnya yang Rega dan Devan sendiri belum mengenalnya. Ikut menyambut kedatangan mereka.
Setelah mobil yang ditumpanginya itu memarkir dengan sempurna. Naziah segera keluar dari dalam mobil dan mendatangi orang-orang yang telah menunggu kedatangannya itu.
"Assalamu'alaikum, Ma!" ucap Naziah. Sambil menciumi tangan ibu Adel dengan takzim. Kemudian lanjut memeluk dan menciumi kedua pipi ibunya itu, mesra serta penuh dengan perasaan haru.
"Wa'alaikumsalam...!" jawab Ibu Adel lemah lembut dan menyambut mesra kedatangan putri sulungnya itu dengan haru biru.
Beberapa saat, Naziah dan ibunya tenggelam dalam suasana temu kangen mereka. Hingga mereka melupakan orang-orang di sekitarnya.
Tak ingin di cuekin begitu saja sama Kakak tertuanya itu. Dengan cepat, Lastri menarik perhatian Kakaknya itu dengan berkata :
"Kakak...!!!" panggilnya "Kau sungguh tega ya...! Apa hanya Mama saja yang kau rindukan? Sedang pada kami tidak, begitukah?!" Lanjut Lastri dengan mimik wajah yang dibuat cemberut dengan tangan menyilang didepan dadanya.
"Hehe... maafkan kakak, karena melupakan kalian?!! Ayo sini, peluk kakak!!!" ucap Naziah dengan senyuman manisnya. Dan merentangkan kedua tangannya dengan lebar.
Naziah berusaha tersenyum dalam tangis haru nya. Dia memberi izin pada kedua adiknya itu untuk memeluknya dan melepas rindu mereka padanya.
Melihat Kakak mereka telah merentangkan tangannya. Dengan segera, Lastri dan Elvira mendekat dan memeluk tubuh proporsional kakak mereka itu, sebentar. Karena, Naziah juga harus menyalami paman dan bibinya. Yang juga telah menunggu giliran mereka untuk mendapat pelukan rindu darinya.
"Assalamu'alaikum, Paman...! Bibi...!" ucap Naziah sambil menyalami takzim tangan kanan dari paman dan bibinya itu.
"Wa'alaikumsalam, Nak." jawab paman dan bibinya, bersamaan dengan senyuman bahagia mereka. "Baru beberapa tahun saja, paman tak melihatmu secara langsung. Kau sudah berubah,
tampak semakin dewasa dan juga semakin cantik, sayang. Pantas saja, pria ini sampai rela meninggalkan pekerjaannya. Dan bela-belain mengantarkan mu sampai rumah, seperti ini. Jadi, bisakah kau memperkenalkannya pada kami sekarang. Hmm..?!!" sambung Paman Lukman, paman dari Naziah. Sambil merangkul pundak keponakan kebanggaannya itu.
__ADS_1
"Tentu saja, Paman." jawab Naziah dengan sedikit tersipu malu mendengar pernyataan pamannya itu.
Sementara itu, Rega dan Devan menyalami ibu Adel dan kedua adik Naziah. Sambil memperkenalkan diri mereka masing-masing. Meski Rega telah berkenalan dengan ibu Adel sebelumnya. Tak ayal, berkenalan secara langsung itu lebih afdol rasanya. Daripada hanya berkenalan melalui udara atau panggilan video lewat aplikasi dalam ponsel.
"Mas...! Mendekatlah kemari! Dan perkenalkan dirimu pada Paman dan Bibiku ini." panggil dan pinta Naziah pada Rega dengan suara lemah lembutnya.
"Iya." jawab Rega, patuh. "Aku ke sana dulu ya, Bu?!" izin Rega pada ibu Adel.
"Iya, pergilah Nak! Kau memang harus mengenal mereka." ucap Ibu Adel, pelan dengan senyum lembut dan tulusnya. Serta sedikit menepuk pundak calon menantunya itu.
Kemudian, Rega pun mendekati Naziah yang berdiri didekat Paman dan Bibinya. "Perkenalkan, nama saya Rega, Paman... Bibi.... Dan benar, seperti ucapan paman tadi. Keponakan paman ini semakin hari semakin cantik. Karena itulah, aku rela meninggalkan sejenak segala kesibukanku. Hanya demi untuk mengantarnya kemari dan memastikan keponakan paman ini. Sampai dengan aman dan selamat ke rumahnya. Dan Aku titipkan dia pada kalian, sebentar. Yang in syaa Allah, akan aku jemput kembali nantinya disaat waktu yang ditentukan. Bolehkah begitu, Paman?!" lanjut Rega panjang lebar setelah memperkenalkan dirinya dan menyalami Paman Lukman takzim.
"Oh... baiklah. Jika begitu, mari kita bicarakan semuanya didalam!" jawab Paman Lukman, ramah.
"Baik, paman." jawab Rega sambil mengangguk pelan. "Tapi sebelum itu, perkenalkan paman! Ini adik sepupuku, namanya Devan." sambung Rega memperkenalkan Devan yang sejak tadi setia berdiri di belakangnya.
Mendengar namanya disebut, Devan pun mendekat dan memperkenalkan dirinya pada Paman dan Bibi dari seorang Naziah itu.
Usai acara penyambutan yang penuh rasa haru dan perkenalan singkat itu. Ibu Adel pun langsung mengajak masuk para tamu-tamunya itu kedalam rumahnya.
Sementara itu, Elvira dan Lastri yang melihat pria paruh baya yang menjadi sopir dari kakak dan kedua teman prianya itu. Sedang sibuk sendiri mengeluarkan barang-barang bawaan yang sudah pasti milik Kakak mereka, Naziah. Langsung turut membantu pria paruh baya tersebut. Kemudian, mempersilahkan pak sopir itu untuk ikut masuk kedalam rumah.
Merasa hanya orang luar saja dan tak berhak ikut campur urusan keluarga dari para penumpangnya itu. Pak sopir itu hanya meminta izin duduk di kursi teras saja. Dan Lastri serta Elvira pun mengizinkan tanpa harus memaksanya. Namun tak lupa, mereka juga menjamunya sebagai tamu seperti halnya, Rega dan Devan.
Sementara itu, didalam rumah, tepatnya di ruang tamu. Naziah, Rega, Ibu Adel, Paman Lukman, Bibi Yani dan juga Devan. Sudah mulai membicarakan tentang perihal acara pernikahan Naziah dan Rega yang akan di gelar satu Minggu lagi.
__ADS_1