Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Meminta Pendapat


__ADS_3

Mendengar permintaan yang mengiba dari Rega seperti. Naziah menjadi bingung sendiri harus bersikap bagaimana dan menjawab apa padanya. Naziah menatap datar wajah mengiba Rega itu, lama.


"Hemm!" desah Naziah, kasar. "Jika seperti ini, aku bingung harus menjawab apa. Aku memang perlu bicara dulu dengan Mamaku. Sini ponselnya! Kita bicara dengan beliau sekarang." sambung Naziah dengan nada lembut namun sedikit tampak malas.


Rega pun memberikan ponselnya pada Naziah. Sambil bibirnya menyunggingkan senyum bahagia. Naziah mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel Rega yang diletakkan di atas meja tepat didepannya. Rega memperhatikan tangan Naziah yang terulur itu.


"Mana cincinnya? Kenapa belum dipakai? Bukankah seharusnya kau sudah memakainya saat ini!" ucap tanya Rega tegas.


"Ada di mess. Aku lupa memakainya. Sebab, aku belum terbiasa mengenakannya." jawab Naziah santai. Sambil mulai mengisi kontak telepon Ibu Adel - Mamanya.


"Aku tidak mau tahu. Besok kau sudah harus mengenakannya. Agar para karyawan disini tahu, kalau kau itu sudah dimiliki seseorang. Dan itu juga akan menghalangi niat mereka yang terus ingin menggoda-mu. Karena, aku tidak suka mereka terus mendekatimu seperti sebelum-sebelumnya. Kau tahu makna dari cincin itu 'kan?" ucap tegas Rega dan meminta pengertian Naziah akan maksudnya itu.


Dan Naziah menjawabnya dengan malas seraya memutar bola matanya malas. "Iya...iya... Aku mengerti." 'Baru begini saja... dia sudah bisa membuatku tunduk. Bagaimana nanti, saat aku sudah menjadi istrinya? Hah...' gerutu Naziah dalam hati.


Tut...Tut...Tut... ( bunyi sambungan telefon yang terhubung )


Naziah menekan tanda loudspeaker yang tertera pada layar ponsel Rega itu. Agar mereka berdua dapat mendengar bersama-sama suara dari balik saluran telefon itu. Kemudian meletakan ponsel itu kembali di atas meja. Tepat di antara mereka berdua.


"Halo, assalamu'alaikum! Ini dengan siapa ya?" ucap Ibu Adel dari seberang telepon, bertanya.


"Wa'alaikumsalam. Ini Ziah, Ma. Apa kabarnya Mama hari ini? Sibuk nggak, Ma?" jawab Naziah lembut. Kemudian berbasa-basi sedikit sebelum memulai pembicaraannya.


"Alhamdulillah, Mama sehat dan nggak lagi sibuk. Emang ada apa, Kak? Dan ini, nomor siapa yang kau pakai?"


"Ada seseorang yang ingin berbicara dengan Mama, disini." jawab Naziah sekenanya.

__ADS_1


"Siapa Kak?"


"Ada deh... nanti Mama juga tahu sendiri. Kita video call-an ya Ma?!"


Jawab Naziah. Kemudian mengalihkan panggilan suaranya dengan video. Dan Ibu Adel pun menyambungkan panggilan video itu. Sehingga, tampaklah wajah Ibu Adel pada layar utama ponsel Rega itu.


Melihat penampakan background yang tidak biasanya dari putrinya saat ini. Ibu Adel tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Hai, Kak! Kau ada dimana sekarang? Apa kau masih di kantor?"


"Iya, Ma. Aku masih di kantor. Tapi, aku bukan di ruangan-ku, saat ini. Melainkan, di ruangan seseorang yang sok berkuasa. Yang mulai saat ini suka mengaturku sesuka hatinya. Nih...!"


Jawab Naziah dan sedikit menyindir Rega. Sambil memutar ponsel itu sedikit, agar kameranya menghadap langsung dan menampilkan wajah Rega.


"Halo juga, Wa'alaikumsalam." jawab Ibu Adel, pelan. Dan memperhatikan wajah Rega dengan seksama.


"Perkenalkan nama saya, Adrian Rega, Bu. Saya pria yang telah melamar gadis cantik milik Ibu ini, beberapa hari lalu. Apa dia sudah menceritakan tentangku pada Ibu?"


Ucap Rega memperkenalkan dirinya sendiri pada Ibu Adel - calon mertuanya itu.


"Oh astaga! Benarkah kau yang melamar anak gadisku yang nakal itu? Dan kau mengatakan anak nakal itu... cantik?! Dia bahkan sangat jelek. Kau memandangnya dari sudut mana, hingga menyebutnya cantik. Dia bahkan sangat jelek, jika disandingkan denganmu. Kau tampan sekali, Nak."


Ucap Ibu Adel kagum dan memuji Rega dengan sedemikian rupa. Sedang dia menjelekkan anaknya sendiri. Membuat Naziah yang mendengarnya, mengerucutkan bibirnya.


"Mama apa-apaan sih?! Kok menjelekkan anak sendiri dan memuji anak orang. Bikin kesal aja!!!" gerutu Naziah, kesal. Tanpa menampakan wajah pada ibunya itu.

__ADS_1


Karena jika dia menampakan wajahnya itu. Maka, jarak yang dia buat untuk dirinya dan Rega akan terkikis. Untuk itu, dia menahan diri dan memilih merengut ditempatnya saja.


Melihat Naziah merengut seperti itu. Membuat Rega merasa lucu dan tersenyum geli.


"Terimakasih atas pujiannya, Bu. Tetapi, jangan terlalu memujiku seperti itu. Aku merasa biasa saja. Dan aslinya, aku tidak setampan itu kok, Bu. Mungkin hanya pengaruh kamera saja, hingga membuatku kelihatan tampan pada layar ponsel Ibu itu. Dan satu lagi, tolong... jangan katakan calon istriku ini jelek! Meski dia tampak seperti itu di mata orang. Tetapi, dia sangat cantik bagiku. Bahkan menurutku, dia sangat cantik luar dalam, Bu" ucap Rega, bijak.


Sambil mengalihkan pandangannya dari kamera kearah Naziah. Menatap dengan begitu lembut dan mesra. Rega membela dan memuji Naziah dihadapan Ibu dari Naziah itu serta Naziah itu sendiri.


Mendengar dan melihat sikap Rega pada anaknya itu. Hati Ibu Adel serasa menghangat, seketika itu. 'Ya Allah, benarkah ucapan dan sikap pria yang kulihat ini pada anak sulung-ku itu tulus? Jika benar tulus, semoga Engkau menjodohkannya dengan anak sulung-ku itu.' Batin ibu Adel penuh harap.


"Oh...maafkan Ibu, jika seperti itu?! Ibu tidak bermaksud. Sesungguhnya, Ibu hanya bercanda saja tadi."


Ucap Ibu Adel meminta maaf. Dia sedikit merasa malu atas candanya itu.


Sementara itu, Naziah yang menjadi topik pembicaraan Rega dan Ibunya itu. Sudah tersenyum simpul dengan mengalihkan pandangannya dari Rega, ke arah lain. Untuk menyembunyikan semburat merah yang mungkin terlihat di pipinya saat ini. Karena merasa tersanjung dengan pembelaan Rega atas dirinya itu.


"Iya. Tidak apa-apa. Ibu tidak perlu minta maaf, karena ibu tidak salah dalam hal ini" ucap Rega


"Emm... Bu! Sebenarnya, saya ingin mengatakan sesuatu tentang hubungan kami ini. Dan seperti yang Ibu tahu, saya telah melamar Naziah sekitar satu Minggu lalu. Dan anak Ibu ini, telah memberiku jawabannya semalam. Jujur, aku seorang yatim piatu, Bu. Tapi, saya punya seorang paman, adik dari ayahku. Beliau sudah saya anggap seperti ayah kandungku sendiri. Karena beliaulah yang telah meneruskan tanggungjawab seorang ayah untukku sejak meninggalnya ayahku.


Sehubungan dengan itu, saya telah membicarakan juga dengan beliau tentang hubungan kami ini. Dan saat semalam, Naziah telah menjawab serta menerima lamaran saya itu. Saya langsung menghubungi paman saya itu untuk membicarakan perihal diterimanya lamaran itu. Yang ternyata tanpa setahu saya, beliau telah mencarikan hari dan tanggal baik untuk diselenggarakannya pernikahan kami nanti. Pada seorang alim ulama yang dikenalnya.


Dan hari serta tanggal baik itu jatuh pada hari keempat di Minggu depan, Bu. Karena itu, saya meminta berbicara langsung dengan Ibu, hari ini. Jadi, bagaimana menurut Ibu?"


Tanya Rega akhirnya. Setelah berbicara panjang kali lebar menjelaskan maksud dan tujuannya menghubungi ibu Adel itu. Ibu dari seorang Naziah, yaitu calon istrinya.

__ADS_1


__ADS_2