
Setelah kedua perawat yang membantunya pergi. Kini tinggallah Naziah dan Rendi yang ada di ruang rawat itu.
"Dengan memindahkan aku di kamar rawat yang mewah ini. Kau tidak punya maksud lain kan Pak Rendi?" tanya Naziah dengan menatap curiga wajah Rendi.
Rendi yang baru saja mendudukkan b*k*ngnya di kursi yang berada tepat di samping brankar Naziah saat ini. Langsung saja balas menatap Naziah dengan kening berkerut dalam.
"Maksud lain??? Maksudmu?" tanya bingung Rendi dengan mengulang perkataan Naziah.
"Selain kasihan pada para sahabatku yang akan tidur di atas lantai saat menjagaku. Mungkinkah kau punya niat lain, begitu?!!! Secara, saat pertemuan kedua kita di hari yang sama tempo hari. Kau meninggalkan kesan tidak baik loh padaku." ucap jujur Naziah.
"Astaga! Kenapa kau bisa berpikir seperti itu Nona Naziah? Demi Allah!!! Aku tidak punya pikiran dan maksud seperti yang kau katakan itu." ucap geram Rendi dengan tuduhan yang dilayangkan Naziah padanya.
"Apa wajahku ini terlihat seperti orang jahat?!" tanya Rendi dengan tiba-tiba mendekatkan wajah dengan wajah Naziah.
Satu, dua, tiga... waktu seakan berhenti. Rendi dan Naziah saling mengunci pandangannya. Dengan posisi wajah yang tidak lebih dari satu jengkal. Membuat jantung Naziah memompa lebih cepat dari biasanya.
Di detik berikutnya, Naziah tersadar. Dan dengan segera membuang pandangannya kearah lain.
"Siapa yang tahu isi hatimu?! Bisa saja, karena perbuatanku yang menotokmu tempo hari itu. Kau menjadi dendam padaku. Dan kau berencana membuatku melarat. Dengan membayar kamar rawat yang mahal ini nanti. Benarkan??!" tuduh Naziah dengan menyipitkan matanya menatap Rendi lagi.
Tukk....
Spontan Rendi menyentil kening Naziah keras.
"Aauuhh...!" ucap Naziah sambil mengelus bekas sentilan Rendi di keningnya. "Kenapa Pak Rendi menyentil keningku? Sakit tahu!!!" gerutu Naziah
"Supaya pikiran buruk tentangku yang ada di otakmu itu, segera hilang. Dasar gadis aneh!!!" ucap kesal Rendi.
"Kita kan baru beberapa kali bertemu dan belum saling mengenal dengan baik. Ya wajarlah, jika aku bersikap waspada padamu Pak. Dengan mengungkapkan kecurigaanku itu." ucap Naziah masih dengan mengelus keningnya.
__ADS_1
"Dan ternyata, kau memang jahat loh... Kepalaku ini masih berdenyut-denyut sejak tadi. Tapi, kau malah menyentil keras keningku. Kepalaku jadi semakin sakit tahu!!!" ucap Naziah kesal dengan mode merajuk.
Melihat tanda kemerahan mulai muncul pada kening Naziah. Di bekas sentilan jarinya tadi. Spontan kedua tangan Rendi merangkum wajah Naziah. Kemudian, dengan jempol tangan kanannya. Dia membelai-belai bekas kemerahan itu. Untuk mengurangi rasa sakitnya dan warna yang timbul.
"Astagfirullahal'adzim, maaf...!!! Pasti sakit sekali ya?!" ucap sesal Rendi. "Salahmu sih... membuatku kesal dengan mencurigakan yang tidak-tidak!" lanjutnya.
Karena perbuatan lembut Rendi itu. Naziah terpaku ditempatnya. Dan tak mampu lagi berucap sepatah katapun. "Apa yang dilakukannya? Kenapa dia berlaku lembut seperti ini padaku?" batin Naziah bertanya-tanya.
"Hei!!! Apa yang kalian lakukan?"
Ucap spontan Anto setengah berteriak saat memasuki ruang rawat Naziah itu. Dan mendapati posisi Rendi dan Naziah yang begitu dekat.
Merasa terkejut, dengan gerak cepat. Naziah mendorong Rendi untuk menjauh.
"Ekh, Anto. Jangan salah paham! Dia hanya membantuku mengurangi rasa sakit di keningku, karena ulahnya juga." jelas Naziah masih sedikit lemah. Sambil kembali mengelus keningnya tersebut.
"Maksudmu??!" tanya Tita bingung
"Karena aku mengungkapkan kecurigaan ku tentangnya. Dia menjadi kesal dan spontan menyentil keningku dengan keras. Setelah melihatku benar-benar kesakitan. Dia mencoba minta maaf dan membantu menghilangkan rasa sakitku." jawab Naziah polos.
Mendengar penuturan Naziah tersebut. Tita dan Ulfi langsung tersenyum kecil. Sementara Anto langsung menatap Rendi dengan tajam. Sedang Rendi hanya bersikap santai dan tak merasa terusik. Dengan tatapan tajam yang ditujukan padanya.
"Kasihan sekali sahabat kita ini Ul'...! Sudah sakit, bukannya disayang-sayang. Eh...malah tambah disakiti!" ucap Tita
Dengan nada sedikit mencibir Naziah. Tita mendekati sahabatnya itu. Dan menggantikan posisi Rendi. Sedang Ulfi bergerak membereskan barang-barang Naziah. Yang baru saja dibawanya, kedalam lemari yang tersedia dalam ruangan itu.
"Permisi ya Pak Rendi yang terhormat...! Biar saya saja yang membantu mengurangi rasa sakit pada kening sahabat saya ini. Jika tidak, pawangnya akan mengamuk dan akan membuat kekacauan di ruangan ini nantinya." ucap Tita lagi sambil melirik kearah Anto. Dan Anto langsung menatap tajam sahabatnya itu.
Mendengar permintaan itu, Rendi langsung mundur. Dan berdiri tepat di samping asistennya, Aldi.
__ADS_1
Tita mengganti posisi Rendi yang berdiri di samping Naziah. Dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Rendi tadi pada Naziah. Yaitu mengusap-usap bekas kemerahan yang ada pada kening Naziah.
"Sekarang, bisa kau jelaskan padaku, Zi'? Siapa kedua pria ini?" tanya Anto dengan tatapan mengintimidasi kearah Naziah
"Hem... Kenalkan 'Nto, ini namanya Pak Rendi dan itu Pak Aldi asistennya. Ssst... Dan Pak Rendi serta Pak Aldi, kenalkan ini satu-satunya sahabat pria dari kami bertiga. Namanya Febrianto biasa disapa Anto."
Naziah menjeda ucapan dengan sedikit meringis sambil memegangi perutnya.
"Sebenarnya,---" ucap Naziah kembali terpotong.
"Sudah, biar aku saja yang jelaskan!" potong Ulfi. "Sebenarnya, kami juga tidak tahu mereka siapa?! Sebab kami hanya bertemu secara kebetulan saja. Saat pulang kampung kemarin. Melihat mobil mereka yang tiba-tiba mogok. di pegunungan. Ziah ----(bla-bla)"
Ulfi mulai menceritakan dari awal saat pertemuannya mereka berlima. Hingga mengenal Rendi dan Aldi.
"Perkenalkan Mas Anto! Nama saya, Rifaldi. Dan ini bos saya, namanya Rendi Rahardian. Kami pendatang baru di kota ini. Namun, perusahaan kami sudah berdiri sejak satu tahun lalu. Melalui orang kepercayaan dari perusahaan kami. Dan saat ini, kami sedang memperluas perusahaan kami ke kabupaten lain yang ada di kota ini." ucap Aldi terjeda.
"Kami bertemu Nona Ulfi saat di kantin tadi. Dan kami mendengar kalau Nona Naziah sedang dirawat di rumah sakit ini. Kebetulan sedang berada di sini. Kami putuskan untuk menjenguknya. Dan tak disangka, yang menangani Nona Naziah itu. Adalah Ibu dari Tuan Rendi ini. Jadi, anggap saja semua fasilitas ini. Sebagai tanda terimakasih pada Nona Naziah karena pernah menolong kami." jelas Aldi panjang kali lebar.
"Hem, baiklah. Aku mengerti. Aku minta maaf sebelumnya??! Karena sudah berprasangka buruk pada kalian. Dan terima kasih untuk semua ini." ucap Anto mulai sedikit tersenyum ramah.
"Iya, tidak apa-apa. Terimakasih kembali." balas Aldi.
"Ahh..., leganya!" ucap Tita tiba-tiba "Kalau damai begitu kan enak dilihatnya. Jangan seperti tadi! Saling lotot- melototi aja. Bikin aku gemes sendiri jadinya. Masuk magrib nih.... Kita sholat di musholah yuk Ul'?!" ucap Tita selanjutnya. Kemudian mengajak Ulfi.
"Oh iya, pergilah. Biar aku sholat disini saja bareng Ziah." ucap Anto menimpali Tita. "Kalian... mau sholat bareng?" tawar Anto pada Rendi dan Aldi.
Rendi dan Aldi saling pandang. Kemudian, "Emm... Tapi, kami tak membawa peralatannya Mas Anto." jawab Aldi mewakili Rendi.
"Tak apa. Seorang pria itu, jika tiba waktu sholat. Tidak perlu peralatan lengkap. Asal pakaiannya sudah menutup aurat. Dia bisa sholat dimana saja ditempat yang bersih dan suci menurutnya. Kebetulan aku selalu membawa sajadah travelku kemanapun. Jadi, kita gunakan ini saja untuk alasnya." ucap Anto.
__ADS_1
Kemudian dia beranjak ke toilet di ruangan itu untuk berwudhu lebih dulu. Sedang Naziah sendiri, sudah dibantu Ulfi dan Tita untuk berwudhu sejak tadi. Sebelum keduanya memutuskan untuk berangkat ke musholah.
Setelah melewati perkenalan dan perbincangan yang cukup panjang. Akhirnya, Anto mengimami Rendi dan Aldi di ruangan itu. Serta Naziah yang sholat dengan posisi setengah berbaring di atas brankarnya.