
Usai melaksanakan sholat Ashar, baru saja tangan Naziah terulur mengambil kitab sucinya. Bunyi dering ponselnya yang berada di atas nakas dekat tempat tidurnya, seketika mengalihkan perhatiannya.
Karena dering itu adalah pertanda suatu panggilan dari seseorang. Akhirnya, Naziah bergegas mengambil ponselnya dan melihat siapa yang sedang meneleponnya itu.
Kedua kening Naziah tampak sedikit berkerut. Saat melihat nomor asing yang terpampang jelas dilayar utama ponselnya itu. Dengan ragu dan pelan, Naziah menggeser icon berwarna hijau yang tertera dilayar ponsel tersebut. Dan mendekatkan ponsel itu ke sisi telinganya.
"Halo, assalamu'alaikum. Ini dengan siapa ya?" ucap dan tanya Naziah, lemah lembut dan ramah.
"Wa'alaikum salam, Nak Ziah. Ini Bi' Suni, Zi'!" jawab Bi' Suni dari sebrang teleponnya.
"Oh... iya, Bi'. Ini nomor Bibi? Ada apa, Bi'?" tanya Naziah dengan tersenyum kecil.
"Iya, ini nomor Bibi. Nanti, tolong disimpan ya Zi'!" jawab Bi' Suni lagi. "Oh iya, Zi'. Tadi, Bibi diintrogasi sama majikan Bibi, begitu sampai didalam rumah. Dengan terpaksa, Bibi pun cerita soal kamu yang tadi nolongin, Bibi. Dan beliau pun jadi penasaran pada dirimu. Kemudian, beliau meminta Bibi untuk mengundang kamu dan Ifah untuk makan malam bersama di rumah beliau ini. Sambil berkenalan dengan mereka nantinya. Kamu mau datangkan Zi'?" sambung Bi' Suni menceritakan dan menyampaikan maksud dan tujuannya itu menelfon. Kemudian bertanya atas kesediaan Naziah, setelahnya.
"Em... begitu ya, Bi'. Sebentar, aku harus telfon Ifah dulu dan bertanya padanya. Apakah dia siap datang atau tidak. Kalau dia siap, aku pun siap!" gumam Naziah memahami. Dan izin untuk menelfon Ifah terlebih dahulu.
Masih dalam keadaan telfonnya tersambung dengan Bi' Sini. Naziah beralih menelfon Ifah.
Tu...t Tu...t (bunyi tanda telepon tersambung)
"Assalamu'alaikum, Mba' Naziah. Ada apa hm?" ucap Ifah memberi salam secara Islami pada Naziah dan kemudian bertanya.
"Wa'alaikum dan Selamat sore, Ifah!" balas Naziah sepantasnya dan balik memberi salam secara Kristiani pada Ifah.
"Selamat sore juga, Mba'." jawab Ifah
"'Fah! Ada Bi' Suni menelfon ku. Dia ingin bicara juga padamu." ucap Naziah menyampaikan maksudnya. "Aku konferensi teleponnya ya?!" sambung Naziah
Dan mulai menggabungkan kedua panggilan telepon pada ponselnya itu.
"Halo, Nak Ifah! Apa kabar?" ucap dan tanya Bi' Suni pada Ifah.
__ADS_1
"Halo juga, Bibi. Aku Baik. Ada apa, Bi?" tanya Ifah dengan mimik penasaran. Lalu menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan apa yang ingin disampaikan wanita paruh baya itu, padanya.
"Begini, 'Fah, Bibi mengundang kalian untuk makan malam di rumah majikan Bibi, malam ini. Mau ya 'Fah?" jelas singkat Bi' Suni dan kemudian bertanya dengan nada mengiba. "Ziah berkata, dia akan datang jika kau juga mau datang. Jadi, mau ya?!!!" sambungnya lagi semakin mengiba.
"Iya, 'Fah. Aku tahu, kau pasti bingung saat ini dan bertanya-tanya. Aku pasti akan menjelaskan semuanya nanti padamu. Oke!!! Itupun... jika kau tak ada rencana lain malam nanti?" timpal Naziah pada Ifah.
"Memang nggak rencana lain sih... Kita 'kan jomloh ngenes, Mba'!" jawab Ifah mengatai dirinya sendiri dan juga Naziah.
"Yah... tanpa kau katakan, aku juga sadar diri kali, 'Fah. Aku hanya berpikir, siapa tahu aja kau ada rencana traveling ke dunia mimpi atau bagaimana gitu?!" kilah Naziah mendelik sedikit kesal pada temannya itu. Dan mengutarakan praduga yang ada di kepalanya tadi.
"Halo, Bi'! Kau masih di sana?" tanya Ifah memastikan.
"Iya, 'Fah. Jadi, bagaimana?" jawab dan tanya Bi' Suni
"Iya, Bi'. Katakan saja pada majikan Bibi itu, kalau kami akan datang nanti." jawab Ifah, akhirnya mengiyakan.
"Alhamdulillah... baik 'Fah. Akan Bibi sampaikan. Terimakasih sebelumnya!" ucap Bi' Suni bersyukur dan berterimakasih.
"Iya. Terimakasih kembali, Bi'. Karena Ifah sudah mengatakan seperti itu. Maka, itu jugalah jawaban dariku." timpal Naziah.
"Oh iya, apa perlu kami bantu, Bi'?" ucap Ifah menawarkan bantuan.
"Tidak perlu, 'Fah. Kalian kan tamu, nantinya. Nanti saja, kalau kalian sudah saling kenal dengan majikan Bibi ini. Dan beliau ingin membuat acara besar yang membutuhkan tenaga bantuan. Bibi tidak akan sungkan untuk memanggil kalian. Bolehkan?" ujar Bi' Suni
Yang sejenak, urung memutus panggilannya karena mendengar tawaran dari ifah, tadi. Dan kembali bercerita panjang lagi.
"Oh iya, Bi'. Tentu saja boleh." jawab Ifah.
"Baiklah. Bibi tutup, Assalamu'alaikum!" ucap Bi' Suni akhirnya.
"Iya, Wa'alaikum salam." jawab Naziah dan Ifah bersamaan dari balik telefonnya.
__ADS_1
Dan panggilan bersama Bi' Suni pun berakhir. Tinggal panggilan telefon antara Naziah dan Ifah saja yang masih tersambung.
"Ya sudah, usai sholat magrib aku jemput kamu ya 'Fah! Harus sudah siap, oke!!! Aku mau lanjut ngaji dulu. Alaikum, 'Fah!" ucap Naziah dan mengingatkan. Kemudian undur diri dari panggilan telefon mereka berdua.
"Oke, Mba'. Wa'alaikum salam." jawab Ifah bersemangat.
Setelah panggilan telefon sudah diakhiri semua. Naziah kembali melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda. Karena, sebuah panggilan telefon dari Bi' Suni.
......................
Sementara itu, di kediaman Rega. Saat panggilan telefon antara Bi' Suni, Naziah dan juga Ifah. Ternyata, Rega dan Devan ikut mendengarkan obrolan antara ketiga orang yang terlibat dalam panggilan telefon itu. Sebab, Bi' Suni memang dengan sengaja me-loadspeker panggilan telefon nya. Itu juga dia lakukan atas pemintaan Rega dan Devan yang ingin mendengar langsung jawaban dari mulut Naziah sendiri.
Dan, saat Bi' Suni memutus panggilan telefon di ponselnya. Kompak Rega dan Devan mengucap hamdalah sambil mengusap dada masing-masing. Dan menerbitkan senyuman sumringah dari bibir mereka berdua. Begitupun dengan Bi' Suni, dia pun ikut bahagia atas kebahagian yang dirasakan majikannya itu.
"Ya sudah, Bibi mau ke dapur dulu ya Rega dan Devan. Bibi mau menyiapkan makanan enak dan spesial untuk calon istri Rega itu." pamit Bi' Suni
Sambil beranjak dari duduknya yang tadi melantai bareng Rega dan Devan. Di karpet bulu yang memang disiapkan di sana. Untuk digunakan bersantai saat menonton TV di ruangan itu.
"Oke, Bi'. Jika butuh bantuan kami, jangan sungkan untuk memanggil kami ya, Bi'!" ucap Rega yang masih mempertahankan senyuman kecil yang ada di bibirnya.
"Oh iya, Bi'. Apa Bibi pandai membuat menu pencuci mulut juga?" tanya Rega kembali saat teringat akan hal itu. Sebelum asisten rumah tangganya itu benar-benar pergi menuju dapur.
"Hehehe... Kalau itu sih, Bibi tahunya cuma kue tradisional doang, 'Ga. Bibi nggak tahu selera anak muda zaman sekarang, seperti apa." jawab Bi' Suni sambil menghentikan langkahnya. Kemudian tampak cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Ya sudah, nggak apa-apa, Bi'. Silahkan lanjut! Biar saya dan Devan saja yang cari dan beli di luar melalui ponsel." ucap Rega memutuskan.
Dan Bi' Suni pun kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur. Yang sempat terhenti tadi, kala mendengar pertanyaan yang dilontarkan Rega padanya.
Memang Rega ingin membeli menu pencuci mulut itu, diluar. Tapi, dia putuskan untuk bertanya terlebih dahulu pada ARTnya itu. Jika memang asisten rumah tangganya itu mampu membuat salah satu saja, menu pencuci mulut. Maka, untuk apa membelinya lagi di luar, pikir Rega.
Mengetahui kalau ARTnya tidak bisa membuat menu pencuci mulut yang dimaksud. Rega pun mengajak Devan untuk mulai berselancar membuka aplikasi penyedia berbagai menu makanan yang terdapat dalam fitur pada ponsel mereka.
__ADS_1
Bersambung dulu ya gaes.... dadah 👋
Salam sehat selalu...!