Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Buat Aku Nyaman!


__ADS_3

Dan sore hari pun tiba, seperti kata Rega pagi tadi. Kalau mereka akan kembali ke kota M sore itu juga. Akhirnya, usai melaksanakan sholat ashar tadi. Naziah dan Rega langsung meluncur menuju bandara. Sebab, mereka sudah sepakat dari awal untuk menggunakan pesawat saja. Agar, mereka lebih menghemat waktu untuk sampai. Tanpa harus duduk berlama-lama dan tersiksa didalam mobil karena pengap. Jika harus melalui jalur darat dari kota P itu ke kota M nanti.


Dan saat ini, Naziah dan Rega baru saja tiba di bandara S A dan satu-satunya bandara yang ada di kota P itu. Mereka diantarkan oleh Anto sebagai sopirnya. Mama Adel, Elvira, Lastri dan Paman Lukman yang juga ikut mengantar kedua pengantin baru itu.


Karena, mengingat luka yang dialami Rega masih sangat basah. Begitu tiba di bandara itu, tak sekalipun Paman Lukman mengizinkan Rega. Untuk mengangkat sendiri kopernya dan juga milik Naziah. Sehingga membuat Rega merasa sedikit tak enak hati.


Mulai dari menurunkan dari mobil hingga mengantarkan sampai ke ruang tunggu bandara itu. Paman Lukman sendiri yang membawa dan mendorong koper milik Rega. Sedang koper milik Naziah, diserahkan pada Anto yang membantu mendorongnya.


Saat tadi Rega mencoba menolak bantuan paman dari istrinya itu. Paman Naziah itu mengatakan sesuatu hal padanya. Sehingga membuat Rega sedikit tersenyum dan tak berani lagi untuk menolak.


Sedang Naziah, Mama Adel dan kedua adiknya sudah berjalan masuk lebih dulu kedalam area tunggu bandara. Sehingga tak lagi mendengar apa yang dibicarakan oleh ketiga lelaki beda usia itu saat ini.


"Paman, biar aku saja yang membawa kopernya?!" ucap Rega meminta kopernya dari Paman Lukman.


"Tidak apa-apa. Biar Paman dan Anto saja yang mendorong koper kalian ini. Kau jalan saja duluan. Ingat kata dokter, kau itu belum boleh mengangkat ataupun bekerja yang berat-berat. Sebelum luka pada perutmu itu benar-benar kering, nanti." ucap Paman Lukman. Sambil menyerahkan koper milik Naziah pada Anto.


"Tapi, Paman.... koperku itu tidak berat. Jadi, biar aku saja yang mendorongnya sendiri, Paman" ucap Rega mencoba menolak.


" Jangan membantah! Aku hanya ingin kalau lukamu itu cepat kering dan sembuh secepatnya. Agar nanti, kau dan keponakan tersayang ku itu. Bisa segera mencetak cucu pertama bagi kami yang sudah mulai renta ini. Karena, Paman sangat yakin, jika semalam dan seterusnya. Sebelum luka pada perutmu itu kering dan sembuh seperti sedia kala. Kau pasti tidak akan bisa melakukan apa-apa, bukan?" ucap Paman Lukman, menebak dengan sangat yakin dan benar adanya.


Membuat Rega hanya bisa tersenyum simpul dan memencet lubang hidungnya sendiri. Demi menghilangkan rasa malunya yang tiba-tiba muncul saat itu.


"Paman minta, kalian jangan menunda untuk mendapatkan momongan. Hanya karena masih sibuk dengan pekerjaan kalian masing-masing. Apa lagi saat ini, umur kalian sudah sangat matang untuk itu. Oke!!!" lanjut Paman Lukman.


"Iya, Rega. Dan jika bisa bulan depan, saat kami datang untuk menghadiri acara resepsi kedua kalian di kota M, nanti. Kami berharap akan mendapat kabar baik dari kalian tentang itu. Bukan begitu, Paman?" ucap Anto ikut menimpali. Dan meminta dukungan balik dari Paman Lukman untuk harapannya itu.


"Ah, iya. Benar itu, Anto. Paman sampai lupa akan acara resepsi kedua kalian itu." jawab Paman Lukman, nampak girang. "Iya. Kami harus menerima kabar baik itu setelah kami tiba di sana, insyaa Allah!"

__ADS_1


"Hem... Aamiin, Insyaa Allah ya Paman." jawab Rega, setelah sedikit menghembuskan nafas berat dan pelan.


Mendengar segala perkataan yang berupa permintaan dari Paman dan sahabat dari istrinya itu. Rega seakan mendapat tugas berat sekali dan harus ia kerjaan. Apapun dan bagaimanapun keadaannya saat itu.


Namun, diam-diam hati kecilnya ikut mengaminkan harapan dari Paman Lukman dan Anto itu. Meski salah satu sudut hati sedikit ada rasa ragu pada dirinya sendiri. Dia ragu, apakah dalam waktu secepat itu? Istrinya itu akan segera luluh dan menyerahkan hati dan mahkotanya itu begitu saja. Mengingat sebelumnya, saat akan memulai ingin lebih mengenal istrinya itu beberapa bulan lalu. Rega begitu membutuhkan banyak waktu, kesabaran, tenaga dan bahkan raganya sampai terluka dulu. Barulah istrinya itu mulai sedikit membuka diri padanya.


' Tapi, subuh tadi.... aku sudah sempat merasakan manis bibirnya, kok. Jadi, aku harus yakin, jika beberapa malam ke depan. Istriku itu pasti luluh dan mulai membuka hatinya itu untuknya. Karena dia adalah istri Sholehah ku. Sudah barang tentu, dia tidak akan berani menolak ketika suaminya akan meminta hak atas dirinya itu. Dan semoga saat ia menyerahkan dirinya padaku, nanti. Hatinya ikhlas tanpa ada rasa keterpaksaan sedikitpun. Aamiin!!! ' batin Rega memanjatkan harapan dan doanya kepada Rabb-nya. Setelah meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia harus bisa menaklukan hati Naziah itu.




Saat sudah berada dalam gedung bandara itu. Naziah dan Rega langsung melakukan check-in tiket online yang telah ia pesan sebelumnya, semalam. Dan setelah mendapat boarding pass nya masing-masing. Dan sudah memastikan bahwa koper-koper mereka sudah masuk kedalam bagasi pesawat. Tanpa harus menunggu berjam-jam lamanya di bandara itu. Rega dan Naziah langsung digiring menuju pintu keberangkatan mereka. Dan bersiap untuk berangkat meninggalkan kota P itu menuju kota M. Dan juga sudah berpamitan kepada orang-orang yang telah mengantar mereka saat itu.



Dan setelah menempuh perjalanan udara selama hanya 1 jam lebih sepuluh menit. Akhirnya, pesawat yang membawa Naziah dan Rega itu telah landing dengan selamat.




"Assalamu'alaikum, 'Van! Apa kau sudah lama menunggu?" ucap Rega sesaat sudah berada didekat Devan.



"Wa'alaikumsalam, Kak. Tidak. Aku juga baru sampai sekitar sepuluh menit yang lalu." jawab Devan.

__ADS_1



"Assalamu'alaikum, Mba'! Sini kopernya, biar aku masukin bagasi. Mba' Ziah silahkan masuk aja ke mobil." sapa Devan pula pada Naziah, sopan dan hormat.



"Wa'alaikumsalam, Devan. Terimakasih ya!" balas Naziah sambil tersenyum hangat.



Dan setelah mengatakan itu, Naziah pun masuk kedalam mobil seperti perintah Devan tadi. Namun, Naziah sedikit bingung saat mendapati Rega ternyata juga ikut duduk di bangku belakang. Bukannya duduk di kursi penumpang depan, menemani Devan yang akan menyetir.



"Loh... Mas! Kenapa nggak duduk didepan untuk menemani Devan? Malah duduk di belakang sih...!" ucap Naziah, sambil mendudukkan dirinya di kursi penumpang dan bersisian dengan tempat duduk Rega saat itu.



"Luka pada perutku sedikit ngilu rasanya sejak tadi. Mungkin, karena efek terlalu lama duduk di pesawat tadi. Jadi, aku ingin disini aja bareng istriku." jawab Rega. Dan kemudian dengan tiba-tiba berbaring dan sudah meletakkan kepalanya keatas paha Naziah. "Aku ingin tidur sebentar dan berbaring disini" lanjutnya.



Sambil menarik tangan kanan Naziah yang sedikit mengambang keatas karena cukup terkejut dengan tingkah laku suaminya itu. Dan meletakkan keatas kepalanya.



"Tolong buat aku nyaman ya, Sayang!" pinta Rega, pelan. Dengan mata yang mulai terpejam.

__ADS_1



Dan Naziah yang masih sedikit terkejut. Tak mampu berkata apa-apa, selain menuruti permintaan suaminya itu. Dan mulai mengusap-usap kepala suaminya itu, lembut.


__ADS_2