Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Manja!


__ADS_3

Setelah makanannya habis, Rega segera mengajak Naziah untuk beristirahat di kamar mereka. Yaitu kamar Rega yang mulai malam ini juga akan menjadi kamar milik Naziah. Sebab, Rega sebenarnya masih begitu lelah saat itu. Meski tadi, saat di mobil ia sudah sempat beristirahat sebentar.


"Sebentar Mas! Aku bereskan meja makannya dulu. Mas, kalau mau duluan, duluan aja. Nanti aku nyusul." ucap Naziah saat beranjak dari kursi makannya. Sambil tangannya mulai membereskan piring bekas makannya dan juga piring bekas Rega.



"Aku nggak mau. Aku maunya bareng kamu, 'Yang. Lagian, kamu mau ngapain lagi sih...? Biar Bibi saja yang membereskan mejanya dulu, malam ini. Nanti malam-malam berikutnya, baru kamu. Oke! Malam ini, aku butuh kamu. Jadi, ayo!" ucap Rega jelas menolak. Dan sudah meraih serta menarik tangan Naziah untuk mengikutinya.



"Hem... kok manja gitu sih, Mas! Apa nggak malu... Lihat tuh! Mas Devan sampai melirik Mas kayak gitu." ucap Naziah.


Saat tak sengaja matanya melirik kearah Devan. Yang saat itu bertepatan sedang melirik tajam kearah Rega. Dengan sebelah keningnya terangkat dan sambil minum.


"Uhuk... uhuk...!" Devan terbatuk-batuk karena ketahuan oleh Naziah melirik kearah kakaknya itu, diam-diam.



"Astaga! Pelan-pelan, Mas Devan." ucap Naziah dengan sedikit tersenyum geli melihat reaksi adik ipar sepupunya itu.



"Ngapain 'Van, ngelirik aku kayak gitu? Iri bilang Bos!" tanya Rega, ketus sekaligus menyindir Devan.



"Aku bukannya iri, Kak. Cuma heran aja. Sebab, setahu aku selama ini ya... Mba' Zi'! Kak Rega tuh orangnya kalem dan cool gitu. Tapi, kok sekarang beda banget ya?! Jadi, manja gitu." jawab Devan, setelah berhasil menghentikan batik yang mendadak menderanya karena terciduk oleh Naziah tadi.



"Ya, iyalah beda. Kemarin-kemarin mau manja gini sama siapa coba?! Sama kamu! Ya, nggak mungkin kan. Nanti dikiranya aku gay lagi. Ogah!!! Sekarang, karena aku udah punya tempat untuk bermanja-manja. Ya udah, ngapain dianggurin. Mubazir dong...!" balas Rega, sedikit sewot.


Sambil sebelah tangannya meraih pinggang Naziah dan merapatkan pada tubuhnya, posesif.


"Heh?! Iya deh, yang posesif dan bucin. Tau tempat dikit dong...! Aku sebagai jomblo akut, mohon dihargai dikit lah...! Bisa kan?!" ucap Devan, meminta pengertian mereka.


"Oh... maaf, nggak bisa. Auh... sakit, Yang!" tolak Rega dan tiba-tiba menjeda ucapannya dengan mengadu kesakitan. Sambil memegangi bagian perutnya yang terasa sakit. Karena tiba-tiba Naziah mencubit otot perutnya. "Suka-suka aku dong, 'Van. Makanya, nikah juga dong... sana! Biar kamu juga bisa kayak aku. Bukan begitu, Sayang?" lanjutnya dan beralih meminta dukungan dari Naziah.

__ADS_1


"Auh ah...! Aku nggak ikut-ikutan. Itu urusan kalian para pria. Udah ah, ayo! Tadi, katanya udah mau istirahat." jawab Naziah. Tak ingin mendukung siapapun dari kedua pria didepannya itu. "Kami duluan ya, Mas Devan!" lanjutnya berpamitan dan beranjak pergi lebih dulu dari ruang makan itu. Dan Devan hanya mengangguk.


"Tungguin, Yang! Jangan tinggalin aku!" ucap Rega. Sambil menahan tangan Naziah dan menggenggamnya mesra. Untuk melangkah bersama menuju kamar mereka.


Namun, sesaat sebelum mereka benar-benar masuk ke kamar. Mereka berpapasan dengan Bi' Suni yang baru saja turun dari lantai dua rumah itu. Rega mengatakan sesuatu hingga menahan langkah kaki Bi' Suni saat itu.


"Bi', kami akan langsung beristirahat. Tolong mejanya dibereskan ya Ni'!" ucap Rega.


"Iya, Nak. Ini Bibi mau bereskan. Nggak perlu minta tolong gitu juga ah..! Karena itu memang sudah merupakan tugas Bibi Kan! Jadi, tanpa diminta tolong begitupun, Bibi Pasti melakukannya, Nak. Ya sudah, selamat beristirahat!" jawab Bi' Suni.


Namun, baru saja akan melanjutkan kembali langkah mereka. Naziah tiba-tiba teringat sesuatu dan spontan menghentikan langkahnya. Sehingga, otomatis Rega pun menghentikan langkahnya.


"Eh, oh iya, Bi'! Didalam kamar Mas Rega ada sedia teko berisi air minum nggak, Bi'?"


Mendengar pertanyaan Naziah yang ditujukan padanya. Dengan spontan pula, Bi' Suni berbalik lagi. Karena sudah sempat melangkahkan kakinya tadi.


"Aduh, nggak ada, Neng. Karena setahu Bibi, Nak Rega nggak pernah bangun untuk minum. Memangnya kenapa, Neng?" jawab Bi' Suni dan balik nanya.


"Ini... Mas Rega harus minum obat dulu sebelum dia tidur. Aku bisa minta tolong siapkan dan bawakan ke kamar, Bi'?! Aku harus mengeluarkan obatnya dulu dari dalam koperku." jelas dan pinta Naziah dengan sedikit sungkan.


Karena merasa kurang sopan dengan memerintah orang yang sangat lebih tua darinya. Sementara sebenarnya, ia bisa melakukan hal itu sendiri.


"Ya sudah, makasih ya, Bi'. Kami duluan." ucap Naziah lagi.


Kemudian, mereka pun menuju ke tempat tujuan masing-masing. Begitupun dengan Devan yang juga telah meninggalkan ruang makan dan memilih masuk ke kamarnya. Daripada hatinya akan semakin iri saja. Saat melihat kemesraan kakak dan kakak iparnya itu.




Sesampainya didalam kamar mereka. Rega langsung menuju ke kamar mandi yang ada didalam kamarnya itu. Untuk menyikat gigi dan melakukan ritual lainnya. Yang memang rutinnya dilakukannya setiap sebelum tidur malam.



Sementara, Naziah mulai membereskan isi kopernya. Dan juga isi koper milik Rega. Setelah sebelumnya, Rega sudah menunjukannya. Dimana bagian lemari untuk meletakkan pakaiannya dan juga tempat untuk pakaian suaminya itu.


__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba pintu kamar itu. Terdengar diketuk dari luar dan sudah dipastikan itu pasti Bi' Suni yang membawakannya air minum.



"Iya, masuk aja Bi'! Nggak dikunci kok." ucap Naziah dengan sedikit berteriak.



Agar Bi' Dunia mendengar suaranya. Karena, ia sedang repot menyusun pakaian kedalam lemari. Dan tak sempat untuk membukakan pintu kamar itu untuk Bi' Suni.



**ceklek**!



Bi' Duni pun muncul dengan sebuah nampan di tangannya. Yang berisi sebuah teko dan sebuah gelas didalamnya.



"Ini, Neng... airnya. Bibi taruh sini ya." ucap Bi' Suni. Sambil meletakkan nampan itu ke atas meja nakas.



"Iya, Bi'. Makasih banget ya, Bi'?! Udah mau aku buat repot." jawab Naziah sambil mengalihkan pandangannya kearah Bi' Suni dan memperlihatkan senyum manisnya. Meski tangannya masih sibuk menyalin pakaian-pakaian itu dari koper kedalam lemari dihadapannya itu.



"Ah, nggak merepotkan kok Neng... Ya sudah, Bibi pamit mau beberes dulu. Selamat beristirahat ya, Neng!" ucap Bi' Suni, berpamitan.



"Iya. Setelah beberes, Bi' Suni juga udah boleh beristirahat. Selamat malam juga." balas Naziah.



Setelah itu, Bi' Suni pun keluar dari kamar itu. Meninggalkan Naziah yang masih rempong dengan pakaiannya.

__ADS_1



"


__ADS_2