
*Diruang makan khusus Rega.
Mendengar Rega memberi perintah entah tertuju pada siapa. Naziah dan Ifah saling pandang sesaat karena tak mengerti.
Namun, setelah melihat pandangan mata Rega yang langsung tertuju pada Naziah. Ifah sedikit berbisik dengan sangat lirih ke sisi telinga Naziah.
"Pak DirUt itu sedang memerintah dirimu, Mba'. Ayo sana!!!" ucap Ifah sambil segera melepaskan rangkulan tangan mereka dan sedikit mendorong tubuh Naziah.
"Sebentar, Pak! Dan maaf, sebelum saya duduk. Saya ingin bertanya, Sebenarnya... untuk apa Bapak mengajak kami kesini?" tanya Naziah sambil sekejap melirik Ifah yang ada di sampingnya.
Keluar sudah pertanyaan yang sejak tadi tertahan dibenak Naziah.
"Tentu saja, untuk makan." jawab Rega dengan nada santai. Namun cepat, singkat, padat dan jelas.
"Saya tahu. Maksud saya, apa tujuan Anda dengan mengajak kami makan bersama. Jujur!!! Saya sendiri merasa nggak enak sama karyawan lain. Apa kata mereka? Dengan melihat pegawai rendahan seperti kami ini, makan bersama Anda disini."
Kembali Naziah bertanya dengan pertanyaan yang lebih spesifik. Dan mengungkap apa sebenarnya yang dia rasakan saat ini. Setelah tadi matanya mendapati berbagai tatapan aneh dari karyawan lain. Saat mereka melewati ruang makan khusus karyawan.
Selain itu, dia juga ingin tahu tujuan sebenarnya pemimpin perusahaan mereka itu. Dengan mengajak mereka makan di ruang khusus untuknya itu.
"Sambil makan, saya ingin membicarakan sesuatu hal penting denganmu." jawab Rega jujur.
"Apa hal itu tentang perusahaan ini?" tanya Naziah lagi.
"Bukan. Ini masalah pribadi kita. Bisakah kau berhenti bertanya? Aku sudah sangat lapar, saat ini. Kau tahukan, aku baru saja keluar dari rumah sakit. Dan kau tega membuatku berdiri lama disini!" jawab Rega menjelaskan keadaannya.
Dan meminta Naziah untuk berhenti dulu bertanya. Karena, kakinya sudah merasa lelah berdiri.
__ADS_1
Mendengar itu, dengan terpaksa Naziah menurut dan duduk di kursi yang masih setia dipegang oleh Rega sejak tadi. Sambil menggerutu dalam hati. "Siapa yang suruh kau berdiri disitu? Jangan salahkan aku dong!!!". Naziah memang hanya berani berkata seperti itu dalam hati. Karena masih sadar atas posisinya saat ini yang hanya seorang karyawan. Dan tak pantas mengungkap semua itu pada atasannya.
Setelah Naziah sudah duduk manis di kursi yang disiapkannya. Barulah Rega beralih memilih kursinya sendiri. Sambil mempersilahkan Ifah untuk duduk di kursi yang tersisa di sana. Karena saat ini, mereka akan makan siang di meja makan bundar yang terdiri dari empat buah kursi.
"Kamu!!!" tunjuk Rega kearah Ifah dengan matanya. "Silahkan pilih kursimu sendiri diantara dua kursi itu!" lanjutnya masih menunjuk dengan matanya kearah dua kursi yang masih kosong dan tentunya dengan wajah datarnya.
"Te-terimakasih, Pak. S-saya akan makan di luar saja bersama ---." ucap Ifah sedikit terbata karena gugup.
Ini pertama kalinya Ifa bertemu langsung dan dalam posisi sedekat ini dengan orang nomor satu di perusahaan tersebut. Dan saat ini, dia merasa dirinya menjadi pengganggu diantara kedua orang itu. Yang entah ada hubungan apa diantara keduanya, selain hubungan Bos dan karyawan. Dia tak tahu dan tak mengerti sama sekali.
"Jangan pergi, 'Fah!!!" tahan Naziah cepat, memotong ucapan Ifah. "Tetaplah disini. Tidak baik meninggalkan kami disini hanya berdua." lanjut Naziah meneruskan ucapannya dengan menjelaskan.
"Em... baiklah, Mba'." jawab Ifah pasrah dan merasa sungkan pada Rega. "Maafkan saya, Pak!" lanjut Ifah beralih pada Rega.
"Iya. Tidak apa-apa. Saya mengerti. Duduklah dengan nyaman. Jangan pedulikan kami! jawab Rega dengan sedikit senyum. Agar, Ifah tak lagi merasa sungkan padanya.
Namun, Ifah gagal fokus dengan kalimat 'Jangan pedulikan kami!'. "Bagaimana bisa aku tak perduli? Sedang hatiku sangat kepo atas hubungan kalian. Tapi, baiklah! Jika dengan bersikap tak perduli. Kalian akan bersikap seperti halnya disaat kalian hanya berdua saja. Oke. Akan aku lakukan!" batin Ifah bermonolog.
Sementara itu, di ruangan lain, tepatnya diruang makan khusus karyawan. Para karyawan langsung bergosip membicarakan dua wanita yang baru saja ikut bersama Rega. Tanpa mereka sadari, jika Devan selaku sekretaris pribadi Rega masih ada di sana. Dan mendengar semua percakapan mereka.
"Wah... bukankah wanita yang berkerudung itu HR Manager di perusahaan ini? Untuk apa dia dan gadis bawahannya itu mengikuti Pak Rega?" ucap karyawati 1.
"Em... iya. Apa diantara kedua wanita itu, punya hubungan khusus dengan Direktur Rega?!" jawab dan tebak karyawati 2. Sambil memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengah yang sedikit ditekuk-tekuk.
Devan yang sedang melangkah menyusul Rega, Naziah dan Ifah ke ruangan khusus tempat makan mereka di kantin itu. Seketika menghentikan langkahnya dan beralih menghampiri kedua karyawati itu.
"Hai...! Boleh aku nimbrung?" tanya Devan tiba-tiba sok akrab pada kedua karyawati itu.
__ADS_1
"Eh, Pak Devan! Maaf----!"
"Berhenti mengarang cerita sebelum kalian memastikan semua kebenarannya. Karena, jika sampai kalian membuat gosip yang nggak-nggak dan Bos Rega mendengarnya. Maka, kalian harus bersiap untuk keluar dari perusahaan ini. Mengerti??!!!" ucap Devan penuh penegasan. Sambil menatap tajam wajah-wajah kedua karyawati itu. Yang sama sekali tak memandangnya karena takut melihat wajah tampan Devan yang terkesan dingin dan mengintimidasi.
"B-b-baik, Pak. Kami mengerti." jawab karyawati 2 terbata-bata sambil mengangguk patuh.
Seiring dengan kata mengerti yang diucapkan oleh karyawati itu. Devan mulai berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju tempat tujuannya tadi.
"Maafkan saya karena sedikit terlambat datang! Ada sedikit masalah diluar." ucap Devan merasa bersalah membuat ketiga orang itu seperti menunggunya untuk datang. Agar bisa makan bersama.
"Tidak perlu minta maaf, 'Van. Makanannya juga baru saja siap." jawab Rega.
"...!!!"
Mendengar penjelasan Rega itu, Devan menatap mata Rega. Seperti menuntut penjelasan lebih tentang itu. Karena menurutnya, ketiga orang itu sudah tiba di sana cukup lama. Jika tidak terjadi sesuatu, sejak tadi seharusnya mereka sudah sedang makan saat ini.
Namun Rega yang ditatap sedemikian rupa. Cuek dan mengalihkan pandangan kearah Naziah dan Ifah.
"Karena makanannya sudah siap. Mari kita makan!" ucap Rega berusaha mencairkan ketegangan itu.
Dan memulai menyantap makanannya. Begitupun dengan Devan
Sedang Naziah dan Ifah masih melakukan hal yang memang terbiasa mereka lakukan sebelum makan. Yaitu berdoa menurut keyakinan mereka masing-masing.
Karena Naziah merupakan seorang muslim. Jadi, dia berdoa dengan menengadahkan kedua telapak tangannya keatas sambil sedikit menundukkan kepala. Sedang Ifah merupakan umat kristiani. Jadi, dia berdoa dengan posisi menautkan kedua telapak tangannya sambil menutup mata.
Ya, memang seperti itulah mereka setiap kali makan bersama. Dan perbedaan tersebut tak pernah menjadi jarak untuk mereka bisa akrab. Justru, karena perbedaan itulah mereka semakin akrab. Dan punya rasa tenggang rasa yang tinggi serta saling menghargai satu sama lain.
__ADS_1
Melihat kedua wanita itu belum memulai makannya. Rega dan Devan yang sudah masing-masing akan menyuapkan sesendok makanan mereka ke mulut. Menjadi urung dan saling pandang. Kemudian kompak memutuskan untuk menunggu kedua wanita itu selesai berdoa. Barulah kembali memulai makan mereka.
Yang secara diam-diam, Rega tersenyum senang melihat perbedaan antara kedua wanita itu. Dan ikut membaca doa makan didalam hatinya.