
Sementara itu, Rendi yang tampak mengobrol santai bersama Aldi dan juga ketiga sahabat Naziah diruang tamu itu. Ia terlihat santai. Tapi sesungguhnya, hatinya begitu risau menunggu kemunculan Naziah dan juga Bundanya. Yang akan memberikan jawaban atas kerisauannya itu.
"Kenapa mereka lama sekali didalam? Apa Bunda berhasil ya membujuk Naziah untuk menerimaku? Aku harap Bunda berhasil. Ya Allah, tolong kabulkan permintaan dan permohonanku ini, aamiin..." ucap Rendi penuh doa dan harapan.
Beberapa detik berikutnya, Dokter Karina keluar dan disusul oleh Naziah dibelakangnya. Dengan memasang wajah datar, mereka ikut bergabung dan duduk di sofa yang masih kosong diruang tamu itu.
"Boleh kami bergabung? Sepertinya, topiknya seru. Hingga membuat kalian tertawa lucu." ucap Dokter Karina
Rendi tampak sedikit memperbaiki duduknya. Saat Dokter Karina dan Naziah mulai duduk.
"Ah... Dokter! Kami hanya menceritakan tentang sebab pertemuan dan perkenalan kami tempo hari pada Anto. Karena dia tidak bersama kami saat itu." jawab Tita
"Oh... seperti itu ya. Baiklah... aku ganti dulu topik pembicaraannya ya??!" ucap Dokter Karina menjeda kalimatnya.
"Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa aku bisa ikut kemari bersama Rendi dan Aldi kan? Bukan karena aku juga ingin bermalam mingguan ya... Tapi karena aku ingin datang menemui Naziah. Dengan maksud, meminta jawabannya atas lamaran anakku Rendi seminggu yang lalu." jelasnya.
Mendengar perkataan Dokter Karina seperti itu. Ulfi dan Tita yang sedang duduk dengan posisi mengapit Naziah. Langsung kompak terkejut sambil menutup mulut mereka dan menatap tak percaya pada Naziah.
Mendapati tingkah kompak kedua sahabatnya itu. Maka Naziah pun sontak mendorong wajah kedua sahabatnya itu dengan tangan kirinya secara bergantian. Dan berkata :
"Nggak usah lebay dan pura-pura terkejut begitu." ucap Naziah ketus.
"Jadi, tadi aku sudah berbicara dari hati ke hati bersama Naziah. Dan sekarang, Ziah sudah siap memberikan jawabannya pada Rendi. Dengan menunjukan tangan kanannya. Yang mana, jika jari manisnya tersemat cincin dengan permata berwarna Ungu. Itu artinya, Ziah resmi menjadi tunangan Rendi. Tetapi, jika permatanya berwarna putih. Artinya Ziah menolaknya." ucap Dokter Karina.
Kemudian, Dokter Karina sedikit berpaling menatap kearah Aldi. Dan mengerlingkan matanya untuk memberi kode pada Aldi. Atas kode itu, Aldi pun mengerti dan sedikit memperlihatkan jari jempol tangannya.
Naziah bersiap memperlihatkan tangan kanannya yang saat ini ia tutupi dengan tangan kirinya.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim, aku memilih cincin ini dengan hatiku. Dan semoga Allah meridhoi ku" ucap batin Naziah.
Dengan perlahan Naziah menunjukan tangan kanannya. Kecuali Dokter Karina, semua yang ada di ruang tamu itu. Menanti dengan level rasa penasaran yang tinggi. Dan dari jari manis Naziah, tampak melingkar cincin emas dengan batu permata berwarna Ungu memikat.
Batu permata yang ada pada cincin emas tersebut. Adalah Batu permata Amethyst yang memiliki warna Ungu memikat. Dan juga merupakan simbol kelembutan dan ketenangan hati.
Melihat itu, sontak semua orang tersenyum bahagia dan mengucap syukur. Tak terkecuali Rendi, matanya langsung memancarkan binar bahagia.
"Alhamdulillah...!" ucap semuanya
"Alhamdulillah, terimakasih Nak! Aku sangat bahagia." ucap Dokter Karina sambil memeluk Naziah.
"Dokter... seharusnya yang berterimakasih itu aku! Karena Anda sudah memilih dan menerima diriku ini." ucap Naziah merasa malu.
"Dokter?!! Mulai sekarang, berhenti memanggilku seperti itu. Belajarlah memanggilku dengan sebutan Bunda. Sebagaimana Rendi memanggilku, maka kau juga harus memanggilku seperti itu. Oke!!!" ucap Dokter Karina tak terbantahkan.
"Yah... seperti itu." ucap Dokter Karina senang.
"Assalamu'alaikum Bu Adel! Kau sudah menyaksikan semuanya kan? Anakku berhasil menaklukan hati anakmu. Jadi, mulai sekarang kita adalah calon besan." ucap Dokter Karina
Dia langsung menyapa ibu Adelia yang diam-diam menyaksikan acara pertunangan dadakan antara Naziah dan Rendi itu.
"Wa'alaikumsalam Bu Karina. Iya, Alhamdulillah. Aku sungguh bersyukur dengan diciptakannya ponsel pintar seperti ini. Walaupun kita berada di jarak yang berjauhan. Tapi, kita bisa saling melihat satu sama lain. Aku sudah menyaksikannya. Aku ucapkan terimakasih pada Anda, Bu Karina. Karena sudah memilih anakku itu." jawab Ibu Adelia tersenyum tulus dari balik layar ponsel.
"Jangan seperti itu Bu...! Justru Aku yang bersyukur. Karena putraku ini bisa bertemu putri cantik seperti anak Ibu ini. Sudah cantik, punya banyak keahlian unik. Dan keahlian itu hanya satu dari seribu gadis di dunia ini yang akan memilikinya. Jadi, harusnya aku yang bersyukur dan berterimakasih pada Ibu. Insya Allah, jika mereka benar berjodoh. Berarti, Nak Ziah ini adalah anakku yang dititipkan Tuhan pada Ibu." ujar Dokter Karina sambil tersenyum bahagia.
Mata Dokter Karina menatap dalam wajah teduh Naziah. Yang tampak sedikit salah tingkah. Karena ulah Rendi yang menatapnya bak seekor singa yang siap menerkam mangsanya.
__ADS_1
"Ya sudah, karena malam mulai larut. Kami akan pamit pulang. Panggilan videonya aku tutup ya Bu Adel, Assalamu'alaikum...!" buru-buru Dokter Karina mengakhiri pembicaraannya dengan Ibu Adelia.
"Iya. Ya sudah, Wa'alaikum salam Bu. Hati-hati di jalan!!!" ucap Ibu Adelia.
Dokter Karina dan Ibu Adelia pun segera mengakhiri panggilan video mereka.
"Rendi...!!! Apa yang kau lakukan?" sentak Dokter Karina. Sambil menatap putranya itu dengan bola mata yang membulat sempurna.
"Ekh... Bunda! Rendi nggak buat apa-apa kok?!!!" ucap Rendi terkejut dan langsung mengelak. Kemudian, berpura-pura membuang pandangannya ke lain arah.
"Cepat kalian ke mobil!!! Ambil dan bawa kesini kotak yang Bunda bawa tadi. Kita harus merayakan kebahagiaan ini dengan para sahabat Ziah sejenak." titah Dokter Karina pada Rendi dan Aldi.
"Hem... baiklah Bunda." jawab Rendi dan Aldi kompak.
Rendi beranjak dari duduknya dengan malas. Sedang Aldi tampak menyunggingkan senyum menatap Rendi.
"Karena Ziah sudah resmi menjadi calon menantuku dan juga tunangan Rendi. Jadi, mari kita rayakan ini dengan yang manis-manis. Aku sudah membeli kue dan juga minumannya tadi, sebelum kesini. Tapi sebelum itu, bisa ambilkan piring dan gelas milik kalian?!" ujar Dokter Karina.
"Oh iya, biar aku ambilkan." jawab Naziah cepat. Dan langsung beranjak dari duduknya sambil menarik lengan Ulfi untuk menemaninya.
Malam minggu itupun menjadi malam bersejarah bagi Naziah. Dan juga sekaligus menjadi malam panjang baginya.
Tepat pukul 11 malam, Rendi dan Dokter Karina serta Aldi berpamitan pulang. Dan meninggalkan Naziah dan ketiga sahabatnya.
Setelah tamunya pergi, Naziah menutup pintu rumah mereka. Kemudian mereka membagi tugas untuk membersihkan ruang tamu. Anto mengambil tugas untuk menyapu lantai. Sedang ketiga sahabat perempuannya itu mengambil tugas mencuci pering bekas yang mereka gunakan tadi, di dapur.
Setelah menyelesaikan tugasnya masing-masing. Barulah mereka mengistirahatkan tubuh mereka di kamar masing-masing.
__ADS_1