Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Gitu kok repot?!


__ADS_3

   Beberapa saat, Naziah yang terkejut dengan aksi Rega yang tak diduganya itu. Dia hanya diam saja tanpa membalas pangutan suaminya itu.


   Merasa ciumannya tak berbalas, Rega menarik bibirnya. Untuk menghentikan ciumannya itu.


    "Kenapa diam saja, Hem?" tanya Rega dengan suara pelan.


Dan Naziah menggeleng pelan sambil menunduk malu. "Nggak apa-apa. Boleh jujur nggak?" jawab dan tanyanya kemudian.


"HM? Tentu saja, boleh. Emang mau bilang apa?" persilakan Rega, lembut. Sambil menatap lembut pula wajah Naziah. Tanpa melepas pelukannya dari pinggang istrinya itu.



"Aku masih malu dan gugup sekali, Mas. Kalau aku membalas, nanti seperti kemarin malam lagi, Mas terlalu bersemangat. Sampai lupa diri dan tanpa sadar memulai bergerak dengan bebas. Dan lukanya itu, jadi berdarah lagi deh. Dan... apa iya, kita akan melakukannya malam ini? Apa luka Mas udah nggak apa-apa? Emang mau lukanya nggak sembuh-sembuh? Hanya karena ngga sabar. Hem??!" ujar Naziah mencerca dengan pertanyaan demi memberi peringatan pada suaminya itu. Yang sesungguhnya, dalam hati ia masih belum siap menyerahkan harta yang paling berharga dari dirinya itu.


"Yang jangan ngomong gitu dong, Sayang. Setiap ucapan itu bisa jadi adalah doa... loh. Tentu saja, Mas ingin cepat sembuh. Tapi, yang dibawah sini udah memberontak dan ngga sabar, Yang. Gimana dong...?" jawab dan tanya Rega, memelas.


Dan sebelum diakhir kalimatnya, matanya mengarah ke bagian bawah tubuhnya. Yang tampak sedikit menyembul dari balik handuk yang ia kenakan saat itu. Setelah sedikit memberi jarak diantara mereka dengan memundurkan tubuhnya beberapa centimeter.


"Kita main tipis-tipis aja dulu. Gimana? Sambil berdiri aja kayak gini. Sepertinya sedikit lebih aman untuk Mas." lanjut Rega, memberi idenya. Yang seketika membuat mata Naziah membulat sempurna.


'Posisi biasa-biasa aja... kata orang yang udah berpengalaman, rasanya sakit. Gimana posisi berdiri...? Ya Allah... kok gini amat sih suamiku?!' batin Naziah.



"Kenapa melotot? Boleh ya...?" tanya Rega lagi, semakin memelas.



"Emmm... aku mandi dulu ya, Mas. Sekalian mikir-mikir dulu, boleh apa nggak? Kalau boleh, kita sholat dulu. Terus....itu!" jawab Naziah dan akhir kalimatnya, ambigu.



"Itu... itu apa?" tanya Rega sambil mulai tersenyum senang. Karena menurutnya, istrinya itu mengizinkannya bermain tipis-tipis seperti maunya tadi. Dan mulai melonggarkan pelukannya dari pinggang Naziah.

__ADS_1



"Bobok." jawab Naziah, cepat. Dan langsung meloloskan diri dari suaminya itu. Kemudian melangkah cepat ke kamar mandi.



"Eh... Kok bobok sih... Yang!" ucap Rega dengan sedikit berteriak dan memanyunkan bibirnya.


Sementara Naziah sudah tak perduli lagi akan teriakan suaminya. Karena sudah masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandinya.


Sesampainya dikamar mandi, ternyata bukannya langsung mandi. Naziah masih bersandar di belakang pintu itu. Ia masih menenangkan debaran jantungnya. Yang sejak beberapa menit lalu terus bertalu-talu tanpa henti. Sejak dalam pelukan suaminya tadi itu.


"Ya Allah... apa iya, malam ini juga aku akan menyerahkan mahkota yang selama ini aku jaga. Dan aku junjung tinggi dimana pun aku berada." ucap Naziah berbicara sendiri. "Ini sungguh membuatku bimbang. Satu sisi hatiku masih berat. Sedang disisi lain, aku ingin menjadi istri Sholehah. Yang selalu berbakti dan menuruti apa kata suami. Ya Allah, mohon bimbing hati dan pikiranku ini. Agar sejalan dan memilih pilihan yang sesuai pilihan darimu. Aamiin...!!!" sambungnya, berpasrah sepenuhnya kepada Tuhannya.


Setelah lebih dari 30 menit lamanya melakukan ritual mandinya. Akhirnya, Naziah menyelesaikan aktivitasnya itu. Saat tangannya ingin meraih handuk untuk membalut tubuh polosnya itu. Betapa terkejutnya dia saat mendapati tidak adanya handuk kimononya yang tergantung di sana. Hanya ada handuk lilit saja yang berukuran sedang. Dan seketika rasa gugup serta panik menyelimuti hatinya.


"Ya Allah, kenapa aku bisa lupa sih... membawa handuk mandi aku! Astaga...!!! Apa ini merupakan jawaban darimu atas doaku tadi, Ya Allah?" ucap Naziah sambil menepuk jidatnya sendiri dengan pelan.


"Hem... jika sudah begini, mau tak mau, suka tak suka. Aku harus minta tolong sama Mas Rega. Buat ambilin handuk ku didalam lemari, tadi." sambungnya, memutuskan.


Dengan perlahan, Naziah melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar mandi. Dia membuka sedikit pintu kamar mandinya. Kemudian, ia sedikit mengintip keluar.


"Mas...! Mas Rega....!" panggil Naziah dengan suara sedikit keras namun tetap lembut.



"Iya, Sayang. Ada apa?" jawab dan tanya Rega.



"Mau minta tolong, boleh? Handuk aku ketinggalan didalam lemari itu, Mas. Aku lupa bawa." jawab Naziah.


__ADS_1


"Em... kalau nggak salah, disitu ada handuk deh, Yang. Mas lagi nanggung nih." ucap Rega, jujur karena memang ia sedang memeriksa sebuah email yang baru saja dikirimkan Devan ke laptopnya.



"Mas... please deh, Jangan bercanda! Masa iya, aku hanya menggunakan handuk kurang bahan ini sih! Nggak lucu tahu, kalau aku sampai jalan kesitu dengan posisi begini sih... Mas!" ucap Naziah, tak terima penawaran yang diberikan suaminya itu. Karena sangat tak masuk akal baginya.



"Emang kenapa sih...? Disini 'kan nggak ada siapa-siapa. Cuma ada Mas dan kamu. Jadi, nggak apa-apa. Keluar aja sini!" ucap Rega lagi.


Mendengar pernyataan dari istrinya tentang keadaannya saat ini. Seketika, fokus Rega yang tadinya hanya tertuju pada laptopnya. Langsung teralihkan dan melirik kearah kamar mandi. Dimana tempat istrinya itu saat itu berada. Dan otaknya pun seketika kembali melenceng. Ia ingin melihat tubuh seksi dari istrinya itu. Sehingga, ia bersikukuh dengan penawarannya tadi.


Setelah menikah, sosok Rega yang tampak kalem dan cool. Berubah jadi sangat jahil dan mesum pada istrinya itu.


"Tapi, Mas... aku malu." jawab Naziah.



"Kenapa mesti malu? Mas ini suamimu loh... Kamu tampil polos aja didepan Mas, nggak dosa. Malah pahala, Yang... Mas lagi sibuk banget nih!" jawab Rega, pura-pura semakin serius bekerja didepan laptopnya.


"Nggak mau. Please deh, Mas! Aku udah kedinginan nih..." balas Naziah, mulai memelas penuh dengan permohonan.


Lama mereka seperti itu, tanpa ada yang mau mengalah. Hingga pada akhirnya Naziah pun mengambil keputusan yang menurutnya sangat berat untuk diambilnya.


"Hem... baiklah, aku keluar. Tapi, Mas tolong duduknya balik badan dulu ya." ucap Naziah lagi.



"Hemmm... baiklah. Keluarlah! Begitu aja repot banget sih, Yang." jawab Rega. Sambil memutar tubuhnya agar sedikit duduk menyerong dan tampak tak melihat istrinya itu saat keluar dengan hanya mengenakan handuk pendek.



"Hehe... maaf, Mas!" ucap Naziah, pelan dan sedikit sungkan.

__ADS_1


__ADS_2