Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Jangan Menggodaku!


__ADS_3

"Wah...kalian sedang menertawakan ku ya??!" ucap Anto. Saat memasuki ruang rawat Naziah.


"Ihh... PD amat sih...!" ucap Tita sewot. "Mana sarapannya? Kita udah pada lapar tahu..." lanjutnya mengadahkan tangannya menyambut bungkusan yang ada di tangan Anto.


"Yah...siapa tahu aja kan? Secara yang ganteng diantara kalian itu, cuma aku loh..!!!" elak Anto narsis.


"Iya deh... semua itu benar sekali. Ya sudah, ayo makan bareng?!!!" ajak Ulfi.


"Ziah makan Bubur ayam dulu aja ya??!" ucap Anto. Sambil menyerahkan makanan khusus untuk Naziah.


"Heem...baiklah. Demi segera sembuh kan...??!" ucap Naziah pasrah sambil membuang nafas kasar. Kemudian mengambil makanan yang diberikan sahabatnya itu.


Setelah keempat sahabat itu sudah mendapatkan makanannya masing-masing. Merekapun memulai ritual makan bersama itu dengan doa. Yang selalu dipimpin oleh Anto.


Setelah selesai menyantap makanannya, Anto berujar: "Zi', jika kami meninggalkanmu disini sendiri. Apa kau tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa. Emangnya kenapa? Aku kan bukan anak kecil lagi. Kita kan punya kesibukan masing-masing. Sekarang, aku lagi dapat mandat dari Tuhan untuk rehat sejenak dari kegiatanku. Yah... aku wajib nurut. Dan kalian, silahkan lanjutkan kegiatan kalian. Tak perlu khawatir, Okey!!!" ujar Naziah


"Baiklah. Karena kami sudah selesai makan. Kami pamit ya??! Assalamu'alaikum...!" ucap Anto dan dibarengi pula oleh Tita serta Ulfi.


"Walaikumsalam." balas Naziah.


Sepeninggalan ketiga sahabatnya. Karena masih pagi dan tubuhnya masih terasa lemah. Naziah memutuskan untuk mengisi waktunya dengan membaca buku novel yang sudah dibawakan Anto.


Sahabat prianya itu memang sangat mengerti dengan dirinya. Dia sangat tahu kebiasaan Naziah. Jika sedang suntuk dan nggak bisa ngapa-ngapain.


Sedang asyik-asyiknya membaca buku. Tiba-tiba ponsel Naziah yang terletak di atas nakas di samping brankarnya, berbunyi.


Dengan sedikit malas, Naziah mengambil dan melihat nama yang tertera di ponselnya itu.


"Astagfirullahal'adzim, Mama!" ucap Naziah terkejut.


Sontak Naziah yang sedang duduk setengah berbaring itu. Bangkit dan menegakkan tubuhnya.


"Ssst... auuh!" ringis Naziah sambil memegangi bagian perut atasnya.

__ADS_1


Mendengar ringisan Naziah seperti itu. Tiba-tiba, seseorang dari luar kamar rawatnya itu. Langsung menerobos masuk tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Astaga!!! Kau kenapa Ziah?" tanya Rendi panik bercampur khawatir.


Ternyata seseorang dibalik pintu itu adalah Rendi. Baru saja tangannya bergerak untuk mengetuk pintu kamar rawat Naziah itu. Telinganya langsung menangkap suara Naziah yang meringis kesakitan.


"Hah....!" ucap Naziah ikut terkejut.


Bukannya menjawab pertanyaan Rendi. Naziah hanya melongo dengan wajah bingung.


"Ada apa? Apa lambungmu terasa perih sekali?" tanya Rendi lagi. Sambil sedikit berlari mendekati brankar Naziah.


Karena ikut terkejut dengan kedatangan Rendi yang tiba-tiba itu. Naziah sampai lupa, jika sejak tadi ponsel pintarnya terus berdering. Hingga dering kedua dari ponsel pintarnya itu kembali berbunyi. Barulah Naziah tersadar dan langsung meletakkan jari telunjuk tangannya didepan bibir. Sebagai isyarat, agar Rendi diam.


"Ssyuut!"


Mendapat isyarat seperti itu, Rendipun mengerti. Dia langsung diam dengan sebelah keningnya terangkat. Dia memandang wajah Naziah penuh tanya.


"Halo, assalamu'alaikum Ma?!" ucap Naziah. Setelah panggilan teleponnya tersambung.


"...."


"Kakak baik-baik saja Ma'. Sekarang Kakak lagi duduk didepan laptop. Sedang menunggu DosPem memberikan bimbingan secara virtual. Jadi, Mama nggak perlu khawatir ya??! Mama tiba-tiba ingat Kakak itu karena rindu aja, pasti...?!!!" ucap Naziah


"...."


"Iya, tidak apa-apa Ma'. Mama juga tetap jaga kesehatan. Jangan terlalu memaksa jika sedang kerja ya!!! Salam sama Dede dan Ade. Assalamu'alaikum...?!" ucap Naziah


"...."


Setelah memutus panggilan teleponnya. Naziah langsung bernapas lega. Dan menyimpan kembali ponsel pintarnya itu pada tempatnya semula.


"Pak Rendi! Maaf ya Pak, sudah membuatmu menunggu?!!" ucap Naziah. Sambil tersenyum manis kearah tamunya itu.


Sambil menarik kursi tunggal khusus penjenguk mendekati brangkar Naziah. Rendi berucap: "Hmm, tidak apa-apa. Seharusnya, aku yang minta maaf padamu. Karena masuk tanpa izin dan tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Habisnya, aku mendengarmu meringis kesakitan tadi. Jadi, aku buru-buru masuk karena takut kau kenapa-kenapa?!!" ujarnya menjelaskan.

__ADS_1


"Tapi, kau benar tidak apa-apa kan?" sambungnya bertanya untuk memastikan.


"Oh... tidak apa-apa Pak. Memang, tadi Aku sedikit meringis. Setelah bagian lambungku terasa perih sekali. Akibat aku tiba-tiba bergerak memperbaiki posisi dudukku. Sebab ibuku menelfon, aku tidak mau membuatnya khawatir dengan mendengar suaraku yang lemah. Karena itulah, aku harus duduk tegak supaya suaraku terdengar baik-baik saja." jawab Naziah. Balas menjelaskan keadaannya yang sebenarnya.


Rendi tampak mengangguk pelan menanggapi penjelasan lawan bicaranya itu. Namun setelahnya, ia kembali bertanya.


"Tapi... untuk apa kau membohongi ibumu seperti itu? Bukankah lebih baik jika dia tahu kalau kau sedang sakit." ujarnya.


"Kami ini orang-orang kecil, Pak. Dan Ibuku itu hanya seorang singel parent yang tinggal di desa. Sedang Aku anak tertua dari tiga bersaudara. Jadi, kami sudah terbiasa berbohong demi kebaikan bersama."


"Maksudku, aku berbohong agar ibuku tidak menjadi khawatir berat karena mengingatku. Dan akan membuatnya melakukan perjalanan jauh. Serta membuang-buang uang hanya untuk melihatku yang hanya sakit sedikit seperti ini. Sementara dirinya sendiripun sudah cukup lelah dengan segala aktivitasnya setiap hari. Aku sudah cukup dengan punya tiga sahabatku. Yang siap saling menjaga dan menemani di kota ini." jelas Naziah panjang kali lebar.


"Terus... sekarang, kemana ketiga sahabat kamu itu? Dari tadi aku tidak melihat mereka."


"Mereka sedang ke kampus. Nanti siang, baru mereka kesini lagi. By the way, kok bapak bisa ada disini pagi-pagi begini?" ujar Naziah


"Em, kebetulan aku sedang rindu padamu. Jadi, aku putuskan untuk datang dan melihatmu." ucap Rendi jujur.


"Hah??! Maksud Bapak???" tanya Naziah tak mengerti.


"Bapak-bapak?! Dari tadi, kayaknya kau memanggilku bapak-bapak terus deh... Apa aku ini terlihat seperti bapak-bapak ya??!" tanya Rendi sedikit kesal. Karena panggilan yang disematkan Naziah untuknya sangat tidak tepat.


"Emm...tidak." jawab Naziah sambil menggeleng pelan. "Jadi, aku harus memanggilmu apa?" tanya Naziah


"Panggil Rendi saja. Okey??!" tekan Rendi sambil sedikit memainkan keningnya. Bermaksud menggoda Naziah.


"Apa sih... GaJe!!!" ucap Naziah dengan membuang pandangannya kearah lain. "Baiklah...aku akan memanggilmu Rendi saja." lanjutnya.


"Nah gitu dong... kan enak dengernya!" ucap Rendi senang.


"Ngomong-ngomong, ini sudah hampir jam sembilan. Bukankah, seharusnya Dokter Karina sudah datang mengecek keadaanku?" ucap Naziah mengalihkan pembicaraan.


"Mungkin sebentar lagi. Karena itulah, sebelum beliau datang. Lebih baik, aku mengisi waktunya dengan menggoda pasiennya yang cantik ini." jawab Rendi santai. Namun matanya menatap lekat wajah Naziah.


Ditatap sedemikian rupa, tak membuat Naziah gentar ataupun tersipu malu. Seperti para gadis umumnya yang jika mendapat gombalan dari pria tampan berkelas seperti Rendi. Akan langsung tersipu malu.

__ADS_1


Naziah justru bersikap biasa saja. Dan hanya membuang nafas kasar dan kembali membuang pandangannya ke lain arah.


"Jangan menggodaku! Itu tidak akan mempan untuk ku." ucap Naziah datar.


__ADS_2