Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Si Mas Kurir


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat. Usai diselenggarakannya sidang skripsi mereka. Mereka juga kembali disibukkan dengan berbagai tugas yang memang harus mereka selesaikan untuk mendapatkan gelar sarjananya. Hingga tersisa satu tugas lagi yaitu pelaksanaan acara wisuda.


Dan hari ini, didalam aula besar kampus. Sudah ramai dengan para mahasiswa yang mengenakan toga. Serta seluruh para wali mahasiswa tersebut dan juga tamu-tamu terhormat lainnya.


Disaat sang Rektor sedang memberikan sambutannya. Naziah dan Anto begitu serius menyimak segala yang disampaikan. Dan juga menikmati segala jenis acara yang diselenggarakan hari itu hingga usai dan tuntas.


Sedang Ulfi dan Tita, karena berbeda fakultas dan juga jurusan. Dan pelaksanaan wisuda merekapun mendapat jadwal dihari yang berbeda. Yaitu sehari sebelum pelaksanaan wisuda Naziah dan Anto.


Dan hari itu, entah mengapa? Ulfi dan Tita kompak beralasan, jika mereka berdua mungkin akan terlambat datang. Untuk menghadiri acara penting bagi Naziah dan Anto itu.


Dan benar saja, Ulfi dan Tita tiba di acara tersebut. Sesaat setelah acara bersua foto dengan para teman mahasiswa Naziah dan Anto hampir selesai.


"Hai Zi'... hai 'Nto...! Maaf ya kami telat?!!" ucap sapa Ulfi dan Tita berbarengan. Dan meminta maaf atas keterlambatan mereka.


"Kalian kemana aja sih...?! Hampir saja kamu sudah pulang ke rumah, kalian baru datang." ucap Naziah sedikit kesal pada Kedua sahabatnya itu.


"Maaf....??! Aku dan Tita ada urusan penting yang arus kami selesaikan hari ini." ucap Ulfi lagi menjelaskan pada Naziah.


"Emang sepenting apa sih urusan kalian itu? Hingga kalian hampir melewati acara pentingku ini." imbuh Naziah lagi sudah dengan mode merajuk dan kesal.


"Penting banget. Dan nanti kamu juga akan tahu sendiri urusan kami itu. Nggak usah merajuk kayak gitu...! Intinya kan, kami sudah sekarang, ayo berfoto bersama!!!" ucap Tita mengalihkan pembicaraan.


Meski masih sedikit kesal, Naziah pun menuruti perkataan sahabatnya itu. Dan mulai tersenyum bahagia saat melakukan foto bersama.


Di sisi lain, tepatnya di rumah Dokter Karina. Sejak pukul 10 hingga menjelang sore hari. Beberapa orang sibuk keluar masuk dari dalam rumah tersebut. Entah apa yang mereka lakukan?


Sementara Rendi dan Dokter Karina sendiri, juga sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Usai bersua foto bersama teman-teman mereka dan juga kerabat serta para sahabatnya itu.Tepat pukul 1 siang, Karena merasa lelah dan acara hari itupun telah selesai. Naziah dan Anto memutuskan untuk pulang ke kontrakan mereka. Bersama dengan Ibu Adel dan juga kedua adik Naziah serta kedua orang tua Anto. Sebelum memutuskan untuk kembali pulang kampung, ke rumah mereka masing-masing. Mereka akan beristirahat terlebih dahulu di sana.


Dengan menaiki dua buah mobil taksi online. Mereka menuju kontrakan milik Naziah dan ketiga sahabatnya itu. Sedang Ulfi dan Tita akan berboncengan menaiki motor milik Ulfi seperti biasanya.


Sesampainya di kontrakan, Naziah, Anto dan juga keluarga kecil masing-masing dari mereka itu. Langsung turun dari taksi dan masuk kedalam rumah tersebut. Setelah Naziah membukakan pintu dengan kunci rumah cadangan yang ada padanya. Sebab, Ulfi dan Tita yang membawa kunci asli belum juga sampai di sana.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum...!"


Ucap Ibu Adel, kedua adik Naziah dan kedua orang tua Anto berbarengan saat melangkah memasuki rumah tersebut.


"Wa'alaikum salam..." balas Naziah dan Anto juga berbarengan.


Tiba-tiba sebuah nada notifikasi pesan chat terdengar masuk ke ponsel Naziah. Yang langsung menghentikan langkahnya yang akan menuju kamarnya. Naziah membaca pesan tersebut yang ternyata dari Tita.


"Ma, Ade dan Dede...! Langsung ke kamarku saja ya...! Dan beristirahatlah dengan nyaman. Saya mau telfon Tita dan Ulfi dulu sebentar." ucap dan pamit Naziah pada ibu dan kedua adiknya. Dan hanya mendapat anggukan kepala dari ketiga orang terkasihnya itu.


Tut...Tut... (bunyi sambungan panggilan telepon Naziah)


"Halo..." ucap Naziah langsung terpotong. Sebab Tita sudah langsung berbicara diseberang sana. Dan tanpa memberi kesempatan pada Naziah untuk bertanya.


"Iya, Zi'. Kami masih ada urusan lain lagi. Jadi, kami belum bisa kembali ke rumah sekarang. Jika kamar kamu sempit, suruh Ade sama Dede untuk istirahat di kamar kami saja. Oke!! Assalamualaikum. Tut..Tut..." jawab Tita dan langsung memutus panggilannya usai mengucap salamnya.


"Apa-apaan sih mereka ini? Nggak biasanya mereka kayak gini. Mereka pasti menyembunyikan sesuatu dariku. Nanti saja aku mengintrogasi mereka, setelah mereka kembali."


Naziah menjedah ucapannya dengan menghela nafas beratnya.


Setelah beberapa menit duduk menunggu di teras. Akhirnya, sebuah motor terlihat memasuki lorong dan memarkir tepat didepan rumah kontrakan tersebut.


"Permisi...! Dengan Mba' Naziah ya?" ucap dan tanya Mas kurir pengantar makanan itu.


"Iya, benar." jawab Naziah santai sambil beranjak dari duduknya dan mendekati kurir tersebut. "Kok lama sih Mas? Aku udah lapar banget tahu." imbuh Naziah berkeluh kesah.


"He..he... maaf Mba'??! Jalanan menuju kesini tadi itu sedikit macet. Dan aku terjebak ditengah kendaraan lain. Mau tak mau, aku harus menunggu kemacetannya terurai dulu, baru lanjut kesini." jawab Mas Kurir itu jujur. Sambil memberikan kantong plastik yang berisi kotak-kotak makanan pesanan Naziah ke tangan Naziah.


"Baru pulang dari wisuda'an ya Mba'?" tanya Mas kurir tersebut berbasa-basi. Saat Naziah sedang sibuk mengeluarkan dompet dan uang dari dalam tas jinjingnya.


Karena melihat penampilan Naziah yang masih rapi dan cantik dengan makeup naturalnya. Serta masih mengenakan tunik batik dengan hiasan Payet yang indah dan juga rok span model duyung berwarna hitamnya. Seperti yang dia lihat saat di kampus tadi.


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan kepadanya oleh Mas kurir tersebut. Naziah sedikit terkejut dan menatap bingung Mas kurir itu. "Kok Mas ini bisa tahu sih, kalau aku baru saja dari acara wisuda'an?!" batin Naziah berucap bingung.

__ADS_1


Melihat wajah kebingungan Naziah. Mas Kurir tersebut mengerti dan segera menjawab kebingungannya itu.


"Saya tahu Mba', karena saya juga ada di acara itu tadi. Untuk mendampingi adik saya yang juga salah satu dari teman satu fakultas dengan Mba' Naziah. Namanya Gilang Arkana. Apakah Mba' Naziah mengenalnya?" ucap Mas kurir itu menjelaskan dan bertanya untuk meyakinkan Naziah.


"Gilang Arkana??!" ucap Naziah sambil mengingat-ingat nama itu. " Em... aku kenal. Hanya saja, kami tidak begitu akrab, Mas." jawab Naziah datar dan singkat. Setelah mengingat siapa pemilik nama itu.


"Ya... jelas saja Mba tidak akrab. Orang adik saya itu orangnya pendiam dan tidak suka bergaul dengan sebrang orang, Mba'." ucap Mas kurir itu sedikit menjelaskan tentang adiknya.


"Aku mau jujur Mba'. Awalnya, aku tidak percaya dengan omongan adikku. Yang mengatakan, kalau satu-satunya cewek yang satu fakultas dengannya itu. Orangnya cantik dan lemah lembut. Sebab yang ada dalam pikiranku, cewek yang senang belajar tentang mesin kendaraan. Pasti tipe cewek tomboi, tutur katanya kasar dan berpenampilan seperti pria juga. Tapi... ternyata aku salah. Dan perkataan adikku itu sepenuhnya benar. Mba'... memang sangat cantik dan bertutur katapun sangat lembut. Sangat bertolak belakang dengan yang saya pikirkan. Maafkan saya ya Mba'??!" ucap jujur Mas kurir itu dan meminta maaf atas praduganya yang salah.


"Tidak apa-apa, Mas. Ini... uangnya." ucap Naziah kemudian memberikan uang pas untuk membayar makanan tersebut beserta upah antarnya kepada Mas kurir itu.


"Em... boleh kenalan nggak Mba'?" tanya hati-hati Mas kurir itu. Sambil mengulurkan tangannya kearah Naziah.


Naziah terlihat menghela nafas berat saat memandang tangan yang terulur kearahnya itu. Setelah terlihat sedikit berpikir, akhirnya Naziah menyambut uluran tangan itu juga dan menyebutkan namanya.


"Naziah. Teman-teman ku biasa memanggilku Ziah. Jadi, panggil Ziah saja." ucap Naziah sambil sedikit tersenyum.


"Arjuna, nama saya Arjuna Mba'. Biasa dipanggil Juna." ucap bahagia Mas kurir itu memperkenalkan dirinya. Sambil tersenyum dengan sangat lebar memperlihatkan kedua barisan gigi putihnya. Tak lupa juga kedua lesung pipinya yang begitu dalam.


Melihat bagaimana seorang Mas kurir itu mengekspresikan kebahagiaannya. Naziah merasa lucu dan tersenyum geli.


"Biasa aja kali Mas. Nih... uangnya." ucap Naziah. Sambil kembali memberikan uang yang sejak tadi ia berikan pada Mas kurir itu. Tapi tak diambil-alih juga oleh si Mas kurirnya.


"Aku ambil ya Mba'. Terimakasih. Oh iya, jangan tersenyum Mba'. Nanti aku jatuh cinta dan tergila-gila padamu." ucap Arjuna jujur. Sambil tak lepas memandangi wajah Naziah.


"Ehemmm. Jangan jatuh cinta padanya, Mas. Dia sudah ada yang punya. Nggak lihat tuh... cincin di jari manisnya!!!" ucap Anto tiba-tiba keluar dari dalam rumah sambil berdehem keras. Dan menatap tajam kearah Arjuna.


Mendengar ucapan itu dengan cepat dan spontan. Arjuna menarik tangan kanan Naziah. Untuk memastikan ucapan Anto itu. Melihat benar bahwa telah melingkar sebuah cincin di jari manis Naziah. Perlahan tapi pasti, Arjuna melepas tangan Naziah.


"Maafkan saya Mas??! Saya kira Mba' Ziahnya masih jomblo." ucap Arjuna lesu.


"Aku patah hati Mba'. Patah sepatah-patahnya." ucap Arjuna pada Naziah dengan wajah sendu. "Terimakasih sudah mau berkenalan denganku. Saya permisi. Assalamu'alaikum." ucapnya dan berpamitan. Sambil segera menaiki motornya dan pergi dari sana.

__ADS_1


"Maaf...??! Wa'alaikum salam." jawab Naziah sambil menahan senyum gelinya.


__ADS_2