
Setelah kepergian Adi dan Eka. Tanpa berbasa-basi, Rega langsung mengajak semuanya untuk pulang juga.
"Ayo, kita juga harus pulang! Karena besok subuh, kita sudah harus berangkat ke bandara. Sebab, kita akan mengikuti penerbangan pagi pukul 6 nantinya." ucap Rega sambil melangkah lebih dulu mendekati mobilnya yang sejak tadi. Terparkir di depan toko oleh-oleh yang mereka kunjungi sebelumnya.
Mendengar ucapan sang big bos mereka. Akhirnya, Naziah, Devan dan Ifah pun segera berbalik mengikuti langkah Sang big bos, yaitu Rega.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 30 menit. Akhirnya, mobil yang dikendarai Devan itu sampai didepan gerbang Mess Naziah.
"Kami akan menjemputmu tepat lima menit sebelum jam 5. Apa kau bisa bersiap sebelum itu?" tanya Rega. Sesaat sebelum Naziah turun dari mobilnya.
"Hem, siap nggak siap, aku harus siap bukan? Jadi, In Syaa Allah aku siap!" jawab Naziah sedikit pasrah. Kemudian mulai beranjak keluar dari mobil Rega itu.
"Mba' Ifah, apa kau akan menginap bersamanya malam ini?" tanya Rega beralih pada Ifah.
"Hah??!" ucap Ifah yang sedikit terkejut mendapat pertanyaan dari big bos arogan itu. "Em... iya, Pak. Memangnya ada apa, Pak?" sambungnya bertanya setelah menjawab.
"Tidak apa-apa. Aku titip calon istriku itu. Tolong jaga dia malam ini?!!" ucap Rega lembut.
"Ooh, siap Pak!!! Akan saya jaga. Kalau begitu, saya keluar ya, Pak!" jawab Ifah dengan gaya hormat dua jari kearah Rega. Sambil tersenyum senang, karena sang big bos arogan itu mempercayakannya untuk menjaga Naziah malam ini. Meski yang ada, jika ada apa-apa, justru dia yang akan dijaga oleh Naziah. hahaha...
"Hem, terimakasih. Pergilah!!!" ucap Rega
Sedang Naziah yang menjadi pokok pembicaraan mereka. Sudah lebih dulu menuju mess-nya tanpa memperdulikan Ifah yang masih mengobrol dengan Rega.
Ifah yang baru keluar dari dalam mobil Rega. Melihat Naziah yang sudah hampir mencapai mess miliknya. Berusaha mengejarnya sambil berteriak meminta untuk ditunggu oleh Naziah, namun Naziah bersikap cuek.
"Eh, Mba'! Tungguin aku dong...!!!" teriak Ifah.
Beberapa saat berdiam diri sambil memandangi punggung kedua gadis yang baru saja menjadi penumpang di mobil mereka itu. Dan memastikan, keduanya telah sampai serta masuk ke mess-nya dengan selamat. Barulah Rega meminta Devan kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang ke kediaman mereka.
"Oke. Ayo lanjut, De'!!!" titah Rega pada Devan.
🍃🍃🍃
Tepat saat sebuah rekaman pengajian disebuah mesjid terdekat dikumandangkan. Naziah terbangun dari tidurnya, dia diam sejenak untuk mengumpulkan nyawanya yang sepertinya masih tersangkut di alam mimpinya. Setelahnya, dia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Berhubung, dia sedang libur sholat. Jadi, waktu subuh-nya itu ia gunakan untuk membuat sarapan.
__ADS_1
Meski semalam dia harus tidur saat malam mulai sedikit larut. Karena harus berkemas-kemas sambil bercerita tentang banyak hal dengan Ifah. Itu semua, tak membuatnya harus bangun kesiangan. Karena, Naziah sudah terbiasa bangun di jam seperti itu setiap harinya.
Tepat pukul 04.30 WITA, Ifah baru terbangun dari tidur nyenyak-nya. Dia mendapati Naziah yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua di atas meja.
"Selamat Pagi, calon istri orang!" sapa Ifah sambil tersenyum dengan muka bantalnya.
"Selamat pagi juga. Apa sih? Aku punya nama kali 'Fah!" balas Naziah sedikit sewot dipanggil seperti itu.
"Hehehe.... 'kan memang calon istri orang, Mba'!" timpal Ifah lagi dengan cengengesan.
"Ya...ya...ya! Kau memang benar. Tapi, nggak usah diperjelas kayak gitu juga kali." jawab Naziah dengan malasnya. "Sudah sana, hilangkan muka bantal-mu itu! Baru kita sarapan bersama." sambungnya memberi perintah dengan suara lembut.
Bagai seorang kakak sungguhan bagi Ifah. Karena sebab itu pula, Ifah begitu betah bersama dan berteman dengannya. Meski mereka adalah orang lain tanpa ikatan darah ataupun agama. Sikap Naziah yang sangat mengayomi, bijak, dan penyayang. Mampu membuatnya nyaman dan merasa disayangi seperti seorang adik.
"Baik, Mba'. Aku akan langsung mandi saja. Sebentar lagi kan udah jam masuk kerja. Jadi, setelah Mba' berangkat nanti bersama Pak Rega. Aku juga sudah bisa langsung berangkat ke kantor." jawab Udah patuh dan sedikit menjelaskan.
"Hem. Itu lebih baik." ucap Naziah menimpali.
Dan setelahnya, Ifah menuju kamar mandi. Sambil menunggu Ifah, Naziah menyibukkan dirinya. Dengan membuka sebuah notifikasi yang baru saja masuk ke ponselnya.
*Notifikasi
📩 Big Bos Arogan;
📨 My self
[Wa'alaikumsalam. Sudah setengah jam yang
lalu. Ada apa? Apa kau sudah dalam perjalanan kemari!]
📩 Big Bos Arogan;
[Belum. Aku baru saja selesai mandi. Oh... syukurlah. Kupikir kau masih tidur. Kau sedang apa sekarang?]
📨 My self
__ADS_1
[Aku sedang menunggu Ifah untuk sarapan bersama. Dia masih mandi.]
[Bibi Suni ada? Apa kalian sudah dibuatkan sarapan olehnya?]
📩 Big Bos Arogan;
[Wah... kau perhatian sekali. Apa kau khawatir padaku? Bi' Suni, ada. Aku harus berpakaian dulu, baru akan sarapan.]
📨 My self
[Jangan GeEr! Aku hanya tidak mau direpotkan dengan orang sakit dalam perjalanan nanti. Ya sudah, berpakaian lah dan pergi sarapan. Aku juga akan sarapan sekarang. Karena, Ifah sudah selesai mandi. Assalamu'alaikum!]
📩 Big Bos Arogan;
[Baiklah, Ratuku. Aku siap berpakaian dan pergi sarapan.]
[Selamat menikmati sarapanmu!]
[Wa'alaikumsalam*]
Beberapa saat berlalu, akhirnya Ifah selesai mandi dan juga telah rapi dengan pakaian kantornya. Dia menghampiri Naziah yang telah menunggunya di meja makan.
"Aku sudah siap, Mba'. Mari makan!" ucap Ifah sambil menarik kursi untuk didudukinya.
"Iya. Ayo!" jawab Naziah
Dan mereka berdua pun mulai sarapan. Sambil mengobrol santai.
Sedang Rega di kediamannya, juga telah selesai berpakaian. Kemudian menuju dapur untuk sarapan bersama Devan. Setelah beberapa saat lalu Bibi Suni telah memanggilnya. Dan mengatakan, kalau sarapan mereka telah ia siapkan di meja makan.
*****
Setelah menempuh perjalanan jauh selama sejam lebih. Mobil yang dikendarai oleh Devan dan ditumpangi oleh Rega dan Naziah. Telah memasuki area bandara Sultan Hasanudin.
Devan memarkir mobilnya tepat didepan pintu masuk bandara tersebut. Rega segera turun dari mobil. Rega membantu Devan menurunkan koper-koper bawaan mereka dan juga milik Naziah dari bagasi mobilnya.
__ADS_1
Sedang Naziah sendiri, tidak bisa berbuat apa-apa selain berdiri melihat kedua pria itu saja dari atas lantai lobi bandara tersebut. Dia tidak diizinkan oleh Rega untuk mengangkat koper-koper itu. Sejak dia berangkat dari mess-nya. Rega memang sudah mengambil alih koper milik Naziah itu untuk didorongnya.
Dan Naziah yang terbiasa melakukan segalanya sendiri. Setelah mendapat perlakuan seperti itu, rasanya tak enak dan tak nyaman. Namun, mengenal Rega yang tak menerima penolakan. Karena itu, Naziah hanya bisa pasrah dan menggerutu dalam hati. Sebab tak senang, jika hanya berdiam diri saja.