
Setelah mendapat persetujuan dari semua sahabat dan kedua teman barunya itu. Anto langsung beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu. Kemudian disusul oleh para sahabat dan kedua temannya.
Usai semuanya selesai berwudhu. Sesuai kesepakatan bersama, Antopun mengimami mereka dengan khusuh. Hingga rakaat dalam sholat mereka itu selesai dan ditutup dengan doa.
Dari arah luar, tepatnya dibalik pintu ruang rawat Naziah itu. Tampak seseorang mengintip dari balik jendela kecil yang ada di pintu. Pandangan orang tersebut tertuju langsung pada Rendi. Yang sedang sholat bersama teman-teman barunya itu. Dia tampak menampilkan senyum bahagianya.
"Alhamdulillah....hamba bahagia dan bersyukur atas hidayah yang Engkau berikan pada anak hamba itu. Semoga teman-teman barunya itu termaksud orang-orang yang Engkau kirimkan. Untuk membantu anak hamba kembali ke jalan yang selalu Engkau ridhoi. Aamiin...!" ucap batin Dokter Karina. Penuh syukur dan harapan serta doa.
Ternyata, seseorang yang berada dibalik pintu itu adalah Dokter Karina. Niatnya menemui Rendi dan Aldi untuk mengajak mereka pulang. Namun ia urungkan, setelah mendapati orang yang ia temui itu. Sedang melaksanakan sholat berjamaah.
Akhirnya, Dokter Karina memutuskan untuk mengirim pesan singkat saja ke nomor ponsel Rendi.
*Isi pesan Dokter Karina: "Jika sudah selesai, temui Bunda ya...! Bunda tunggu di ruangan Bunda."
Setelah menutup sholatnya dengan doa. Anto langsung berbalik dan menyalami Rendi serta Aldi. Yang berada duduk dibelakangnya sebagai makmum saat sholat tadi.
Kemudian, tanpa beranjak dari tempat sholat mereka. Anto dan Aldi lanjut berbincang-bincang ringan.
Sedang Rendi sendiri langsung beranjak dari duduknya. Dan menuju ke meja dekat sofa yang tersedia di kamar rawat Naziah itu. Dia memeriksa ponsel pintarnya. Yang sempat ia letakan di sana sebelum sholat tadi.
Rendi melihat ada pesan masuk dari ibunya. Setelah mengetahui isi pesannya, dengan segera tangan Rendi membalas pesan dari ibunya itu.
*Isi pesan Rendi : "Alhamdulillah, kami baru saja selesai Bun. Tunggu!!! Kami segera menjemputmu."
Setelah pesannya terkirim, Rendi langsung menghampiri Aldi dan Anto. Yang masih asyik dengan obrolan mereka. Yang entahlah, apa yang sedang mereka obrolkan.
"Aldi! Kita balik yuk...! Bunda sudah menunggu kita di ruangannya." ucap Rendi dengan menyentuh sebelah pundak Aldi.
"Oh iya, ayok!" jawab Aldi sambil beranjak dari duduknya. "Kita balik dulu ya bro?! Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungiku!" pamit Aldi pada Anto.
"Iya, insya Allah. Dan terimakasih atas bantuanmu sebelumnya?!" ucap Anto sambil mengulurkan tangannya sebagai tanda terimakasih.
__ADS_1
Sejenak kening Aldi terlihat berkerut dalam. Sebab mencerna ucapan Anto tersebut. "Ahh... Terimakasih kembali. Sekarang kita teman. Jadi, wajar kita harus saling bantu. Oke!!!" jawab Aldi kemudian. Sambil tangan kanannya menyambut uluran tangan Anto. Dan tangan kirinya merangkul pundak Anto.
Anto hanya mengangguk patuh. Untuk menanggapi ucapan Aldi tersebut.
"Baiklah. Ayo Ren'! Kita pamit dulu pada gadis-gadis itu." ajak Aldi pada Rendi untuk berpamitan.
Dan Rendi pun hanya mengangguk pelan dan menjawab dengan "Emm..."
"Hai...para gadis! Boleh kami ganggu sebentar?" sapa dan tanya Aldi pada Naziah, Ulfi dan Tita. "Kami ingin berpamitan. Karena Dokter Karina sudah menunggu kami untuk pulang bersama. Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi ku. Aku sudah memberikan nomor ponsel ku pada Anto. " sambung Aldi berpesan.
"Iya, terimakasih atas semuanya Aldi!" ucap Naziah.
"Tidak perlu berterimakasih padaku Ziah. Sebab, aku hanya melaksanakan perintah dari bos besar saja." jawab Aldi
"Maksudmu...??!" tanya Naziah dengan kening berkerut dalam.
Mendengar pernyataan asisten pribadinya itu. Rendi spontan menatap tajam mata Aldi.
"Baiklah. Waalaikumsalam." jawab Naziah pasrah dengan rasa penasarannya yang tak tertuntaskan.
"Waalaikumsalam." balas Anto, Tita dan Ulfi hampir bersamaan. " Sampai jumpa lagi! Dan Hati-hati di jalan, Bro!" sambung Anto.
"Semoga cepat sembuh ya Zi'!" ucap Rendi pada Naziah. "Assalamu'alaikum?!" sambungnya berpamitan.
"Insya Allah, Aamiin. Waalaikumsalam." jawab Naziah.
*
Setelah beberapa saat kepergian Rendi dan Aldi.
"O... iya Zi'! Apa kau tak ingin memberi kabar pada Mamamu, kalau kau sakit?." tanya Tita
__ADS_1
"Lebih baik tidak 'Ta. Aku tidak ingin Mamaku menjadi khawatir nanti." jawab Naziah. "Lagipula, keuangan Mamaku lagi nggak stabil saat ini. Jadi, alangkah lebih baik jika beliau tidak tahu. Insya Allah... 1 atau 2 hari lagi, aku pasti sudah sembuh. Bahkan... jika boleh, besok aku sudah ingin dipulangkan saja." sambung Naziah
"Eh...eh...! Mana boleh seperti itu?!!" timpal Anto. "Jika Dokter Karina belum ngizinin, kamu nggak boleh pulang dulu!!!" sambungnya tegas.
"Hmm...! Iya. Tapi, saldo di rekening aku akan menipis 'Nto...!" ucap Naziah dengan membuang napas berat.
"Kata siapa saldo kamu berkurang? Kau tahu, Aldi mengatakan padaku. Jika seluruh biaya pengobatan dan perawatanmu. Akan dia lunasi atas perintah dari Rendi." ungkap Anto
"Aku sempat menolak. Karena kupikir, kau sendiri pasti menolakkan??!. Tapi katanya, Rendi tak pernah menerima penolakan. Jadi, mau tak mau kau harus menerimanya Zi'!" lanjut Anto
Mendengar pernyataan sahabat prianya itu. Naziah kembali membuang nafas beratnya. Dia merasa semua bantuan itu terlalu berlebihan untuknya.
"Benarkah seperti itu 'Nto??!" tanya Tita dan Ulfi kompak.
"He'em." jawab Anto sambil mengangguk pasti.
"Wah... sepertinya benar, jika Si Rendi itu... menyukaimu Zi'." ucap Tita
"Jangan asal bicara 'Ta...!" ucap Naziah. Dia tak ingin terbawa perasaan nantinya. Setelah mendengar pernyataan sahabatnya itu.
"Aku lapar. Siapa yang mau ikut cari makan diluar?" ucap dan tanya Anto pada Tita dan Ulfi. "Karena tak sempat mentraktir kalian. Tadi, Aldi memberiku uang ini untuk makan kita malam ini." sambungnya. Sambil memperlihatkan ti-ga lembar uang berwarna merah pada ketiga sahabatnya itu.
"Astaga 'Nto...!!!" ucap terkejut Naziah, Tita dan Ulfi kompak menatap tajam wajah Anto. "Kau...." sambung mereka terpotong.
"Eits...! Jangan asal mencercahku!!!" potong Anto. "Aku sudah menolaknya. Tapi, dia tidak menerima penolakkanku. Dan memaksaku harus menerima uang ini. Jadi, jangan banyak bicara lagi!!! Sekarang, siapa yang mau ikut?" jelasnya dan bertanya dengan nada tinggi.
"Baiklah... aku saja." jawab Tita. "Kami pergi dulu ya Ul'...Zi'... Assalamu'alaikum?!" pamitnya setengah berteriak. Sebab Anto sudah pergi lebih dulu meninggalkannya.
"Iya, waalaikumsalam. Hati-hati di jalan!" jawab Ulfi dan Naziah bersamaan.
Dengan segera Tita mengejar Anto. Dan meninggalkan Ulfi dan Naziah yang menunggu mereka kembali. Dari membeli makanan untuk makan malam mereka.
__ADS_1