
Setelah melewati beberapa prosedur pemeriksaan yang penting dan harus dilakukan sebagai seorang pendonor. Akhirnya, Naziah dinyatakan sangat memenuhi syarat untuk bisa langsung mentransfer darahnya ke tubuh Rega.
Tanpa membuang waktu terlalu banyak. Usai pemeriksaan, Naziah langsung dibawa masuk kedalam ruangan dimana saat ini Rega sedang bertaruh nyawa. Akibat luka tusuk yang dialaminya beberapa waktu lalu.
Sementara itu, di luar ruangan. Devan masih menunggu dengan perasaan cemas sekali. Sesekali ia tampak melirik arloji ditangannya. Kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan mondar-mandir didepan ruangan tersebut.
Dari ujung lorong yang langsung berhadapan dengan ruang instalasi gawat darurat itu. Tampak sepasang paruh baya dan seorang pria tampan yang tampak sudah cukup berumur. Berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan tersebut.
Mendengar langkah kaki dari ujung lorong itu. Devan membuang pandangannya kearah sumber suara tersebut. Melihat dan mengetahui siapa yang datang itu. Devan dengan segera menghampiri ketiga orang tersebut.
"Assalamu'alaikum Ayah, Ibu dan Kakak!" ucap Devan sambil menyalami dan mencium tangan ketiga orang tersebut. Yang ternyata adalah Ayah, Ibu dan Kakaknya sendiri.
"Wa'alaikumsalam, Nak." jawab Rully dan Devi berbarengan, Ayah dan Ibu Devan.
"Wa'alaikumsalam, Dek. Bagaimana keadaan Rega saat ini? Dan apa yang sebenarnya terjadi, Dek?" cerca Ferry, kakak Devan. Dengan wajah tegang dan penuh kekhawatiran.
Dan hal yang sama juga terjadi pada kedua orangtuanya. Sejak mendengar kabar yang diberikan oleh Devan tentang musibah yang menimpah Rega, tadi.
Perasaan panik, cemas dan khawatir terus memenuhi hati ketiga orang itu. Hingga perjalanan udara yang memakan waktu hampir 2 Jam. Dan disambung dengan perjalanan darat selama 30 menit yang biasanya bagi mereka adalah perjalanan yang cukup singkat. Kini seakan terasa seperti perjalanan yang panjang dan begitu lama sekali sampainya.
__ADS_1
Saking khawatirnya mereka semua dan begitu syok mendengar kabar tersebut. Bahkan Devi hampir jatuh pingsan, jika saja sang suami, Rully, tidak sigap menahan tubuhnya. Saat mendengar keponakan yang sudah dianggap putranya sendiri itu terluka parah. Jika saja sang suami, Rully, tidak sigap menahan tubuhnya.
Mungkin, sang Nyonya Devi pun akan ikut dimasukan kedalam ruang instalasi gawat darurat. Karena retaknya tempurung kepalanya yang membentur lantai marmer dengan bebas saat jatuh pingsan.
**** Ya, mari kita sedikit mengenal keluarga Devan dan kaitannya antara keluarga ini dengan seorang Adrian Rega.
Rully Hassan adalah paman dari Adrian Rega. Dan memiliki istri bernama Devi kharisma Anjani. Yang juga merupakan kakak kandung dari ayah seorang Adrian Rega.
Akibat sebuah tragedi kecelakaan beruntun yang dialami beberapa tahun lalu dan menewaskan kedua orang tuanya. Akhirnya, mau tak mau, suka atau tak suka, Rega resmi menyandang sebagai anak yatim-piatu.
Rega yang masih berusia 13 tahun saat itu. Tidak diizinkan oleh Rully untuk tinggal sendiri di kota M itu. Karena itu, Rega meninggalkan kota kelahirannya itu sementara. Untuk ikut ke kota J dan tinggal serta tumbuh bersama dengan saudara sepupunya, yaitu Devan dan Ferry. Yang merupakan anak dari Kakak kandung ayahnya itu.
Hingga sampai saat ia sudah menyelesaikan sekolahnya dan sudah mampu berdiri di kakinya sendiri. Bahkan telah banyak menyerap ilmu dari pamannya dalam memimpin sebuah perusahaan. Akhirnya, Rully yang memang sejak meninggalnya adiknya mengambil alih dan mengelolah perusahaan peninggalan adiknya di kota M itu, sementara waktu. Tiga tahun lalu, memerintahkan secara langsung pada Rega untuk kembali ke kota kelahirannya sendiri yaitu di kota M. Dan memimpin sendiri perusahaan peninggalan ayahnya itu.
Cukup ya, perkenalannya. Sekarang, kita kembali ke laptop.
*****
"Aku akan cerita, tapi kalian harus duduk dulu dan tenangkan diri kalian. Karena didalam sana, in syaa Allah setelah mendapatkan donor dari Nona Naziah dan operasinya selesai. Rega akan baik-baik saja, aamiin!!!" ucap Devan penuh harapan dan doa atas diri Rega.
__ADS_1
"Aamiin...!!!" ucap Rully, Devi dan Ferry kompak.
Kemudian mengikuti arahan Devan untuk duduk terlebih dahulu sebelum dia menceritakan semua duduk permasalahan sebenarnya yang menimpah Rega saat ini.
Setelah bokongnya sudah menyentuh rapat dan nyaman, bangku tunggu yang didudukinya. Otak cerdas Devi, kembali mencerna ucapan anak bungsunya yang menyebut satu nama wanita dalam kalimatnya barusan. Dan tak bisa menahan diri untuk tidak mencari tahu siapa wanita yang namanya disebut oleh sang anak.
"Tunggu!!!" ucap Devi tertahan. "Nona Naziah??? Siapa wanita itu?! Dan kenapa dia bisa menjadi pendonor bagi Rega?" imbuhnya mencerca dengan pertanyaan. Dan sangat ingin tahu, siapa sebenarnya pemilik nama yang disebutkan anaknya itu.
"Nona Naziah... Kebetulan, dia adalah salah satu karyawan di kantor kami. Dan awal ceritanya, saat jam pulang kantor tadi. Nona Naziah yang memang selalu pulang setengah jam setelah karyawan lain. Entah bagaimana masuknya? Beberapa preman tertangkap kamera pengawas, berada di basement. Dan menghadangnya serta berusaha ingin melecehkan Nona Naziah. Karena Rega diam-diam..."
Devan sengaja menghentikan sejenak perkataannya dan menengok kearah ruang IGD. Menjaga, jangan sampai Naziah sudah keluar dari sana dan mendengar semua perkataannya itu. Maka, habislah dia oleh Rega nantinya. Karena tak berhasil menjaga rahasia hatinya kepada Naziah yang selama ini dia pendam sendiri.
Dengan sedikit berbisik kearah tiga orang keluarganya itu. Devan melanjutkan perkataannya tersebut.
"Karena Rega diam-diam menyukai Nona Naziah itu.... Jadi, melihat Nona Naziah yang diperlakukan tidak senonoh seperti itu. Rega naik pitam dan melawan kesepuluh preman nyasar itu dengan tangan kosong. Alhasil, dia tertikam oleh salah satu preman itu.
Kemudian, Nona Naziah yang tadinya terpojok oleh para preman itu. Entah memang dia pandai ilmu bela diri atau bagaimana? Tiba-tiba saja, melawan kesepuluh preman tersebut hingga terkapar tak berdaya. Dan seperti itulah cerita yang aku saksikan dari kamera pengawas tadi sebelum kesini.
Lalu, saat tadi Rega masih dalam penanganan. Tiba-tiba seorang suster mengatakan, kalau stok golongan darah O+ yang sama seperti Rega di rumah sakit ini, habis. Sedang Rega masih membutuhkan beberapa kantong lagi. Karena lukanya terus mengeluarkan darah tak henti-hentinya. Sementara operasi penjahitan luka itu belum selesai.
__ADS_1
Aku mengatakan pada suster, kalau Rega itu tidak punya saudara sedarah lagi saat ini. Dan saat itu, Nona Naziah yang memang masih disini ingin menunggui Rega. Dia mengatakan, kalau dia memiliki golongan darah O-. Karena itulah, Nona itu ada didalam sana, Ibu." jelas Devan panjang kali lebar dan kali tinggi.
"Oh... syukurlah, kalau seperti itu. Tapi, kenapa kebetulan sekali mereka memiliki golongan darah yang sama seperti itu? Oh iya, apa gadis itu belum tahu kalau Rega menyukainya?" jawabnya dan kemudian giliran Devi mencerca Anaknya itu dengan pertanyaan lagi.