
Setelah melakukan perjalanan udara, kini Naziah dan Rega kembali melanjutkan dengan perjalanan darat. Namun hanya butuh waktu 35 menit saja. Mereka pun sampai dikediaman Rega. Yang mana, Devan pun tinggal di sana.
Saat mobil yang dikemudikan oleh Devan itu mulai memasuki area carport. Dari arah teras, Bi' Suni sudah berdiri di sana dan siap menyambut mereka.
Setelah mobil sudah diparkirkan oleh Devan dengan benar. Dan juga telah mematikan mesinnya. Devan sedikit melihat kearah kursi belakang. Dia sedikit bingung karena tak mendapati bayangan Rega di sana. Dengan cepat Devan memutar tubuhnya untuk memastikan. Dan iapun mendapati kakak sepupunya itu sedang tertidur lelap sekali. Dengan posisi kepala di atas paha sang istri, yaitu Naziah.
Sedang Naziah yang sejak dalam perjalanan tadi. Sibuk berbicara di telfon dengan ibunya yang ingin tahu posisi mereka saat itu. Jadi, belum menyadari, jika suaminya itu masih tertidur begitu lelap. Dengan berbantalkan kedua pahanya saat itu.
"Mba'!" panggil Devan,
Sambil melambaikan tangannya kearah Naziah untuk mencari perhatian. Dan setelah Naziah melihatnya, Devan dengan cepat memberi isyarat dengan menunjuk kearah pangkuan Naziah itu.
Barulah Naziah tersadar dan segera mengakhiri panggilan telepon bersama ibunya itu.
"Ma, udah dulu ya?! Kami sudah sampai nih. Assalamualaikum!" ucap Naziah, mengakhiri panggilannya.
"Oh, Alhamdulillah... udah sampai ya? Ya sudah, Wa'alaikumsalam." jawab Mama Adel dari balik telfonnya.
"Oh, astaga... Mas! Apa kau begitu lelah? Hingga tertidur dengan begitu lelap seperti ini." ucap Naziah, pelan. Sambil segera menyimpan kembali ponselnya kedalam Sling bag-nya yang masih setia melekat di atas pundak kanannya itu.
"Mas...! Mas! Bangun yuk! Kita udah nyampe nih." panggil Naziah, sambil menyentuh dan sedikit mengguncang pundak Rega untuk membangunkan suaminya itu.
"Mas...! Nyaman banget ya? Sampai lelap banget gini!" ucap Naziah lagi, sambil terus berusaha membangunkan suaminya itu.
"Emmm... ! Udah sampai ya? Kok cepat banget!" gumam dan tanya Rega sambil perlahan membuka matanya. Tapi, belum berniat untuk mengangkat kepalanya dari pangkuan Naziah.
"Iya. Kita udah sampai dari 2 menit yang lalu. Tuh...! Bi' Suni udah dari tadi nungguin kita buat keluar dari mobil. Tapi, kitanya sampai sekarang belum keluar-keluar juga." jawab Naziah, sambil sedikit melirik Bi' Suni yang memang setia menunggu untuk menyambut mereka. "Ayo, Mas... bangun! Kasian tuh Bi' Suni, nungguin." lanjut Naziah, gemes.
__ADS_1
Sebab, Rega belum juga bangkit dari tidurannya itu. Meski, Naziah sejak tadi sudah menyuruhnya untuk bangun.
"Biarin aja. Siapa suruh nungguin!" ucap Rega, cuek.
"Eh... nggak boleh gitu, Mas! Biar bagaimanapun juga, Bi' Suni itu lebih tua dari kita. Jadi, sudah sepatutnya kita menghargai dan menghormatinya." ucap Naziah, pelan mengingatkan suaminya itu.
"Iya-iya. Aku tahu itu, Sayang. Tadi, aku cuma bercanda kali." jawab Rega, santai. "Ya udah, masih lemes nih Yang... buat bangun. Kasih multivitamin penyemangat dong...?!" sambung Rega, ambigu. Dengan nada manja.
"Hah??! Maksudnya?" tanya Naziah, bingung.
*Cup*!
Secara tiba-tiba, Rega menarik tengkuk Naziah dan mencium tepat di bibirnya. Sehingga membuat Naziah cukup terkejut dibuatnya dan tak sempat menghindar.
"Terimakasih, Sayang. Ayo, kita turun!" ucap Rega, setelahnya dan mulai bangkit.
Rega melangkah cepat memutari bagian belakang mobil itu. Kemudian membukakan pintu mobil yang ada disisi Naziah saat itu.
"Yang...! Kok mematung sih...? Ayo turun! Tadi, katanya kita harus turun cepat. Biar Bibi nggak nungguin lama." ucap Rega berusaha menyadarkan istrinya itu dari keterkejutannya itu.
Dan mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda istrinya itu lagi. Kemudian bibirnya sedikit menyunggingkan senyum licik, karena kembali berhasil mencuri ciuman dari istrinya itu.
Mendengar ucapan Rega seperti itu, Naziah pun tersadar. Dan kemudian melirik tajam kearah suaminya itu. Sambil menggemeletukkan gigi-giginya, menahan geram atas kecurangan yang baru saja dilakukan suaminya itu terhadap dirinya.
"Jangan seperti itu! Karena itu, bisa dibilang perbuatan nggak sopan pada suami loh, Yang." ucap Rega. Kini gilirannya yang mengingatkan istrinya itu agar tak berbuat dosa kepadanya.
"Astagfirullahal'adzim! Astagfirullahal'adzim...! Ya Allah... ampuni dosaku! Hem..." ucap Naziah dan menghembuskan nafasnya kasar melalui hidungnya. Demi membuang rasa marah pada suaminya itu. Yang seperti menumpuk didalam dadanya saat itu.
__ADS_1
"Mas Rega sih...! Kenapa mesti nyuri-nyuri seperti itu? 'Kan bikin aku kesal." keluh Naziah mengeluarkan unek-unek yang dirasakannya itu. Sambil bergegas keluar dari mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Rega sejak tadi.
Sementara, Bi' Suni yang sejak tadi masih setia menunggu dan berniat menyambut kedua pengantin baru itu. Hanya bisa tersenyum bahagia melihat perdebatan kecil antara sepasang pengantin baru dihadapannya itu.
"Assalamu'alaikum, Bi'!" ucap Naziah dan Rega bersamaan.
Kemudian, tangan Naziah terulur dan menarik tangan kanan wanita paruh baya itu lembut, untuk diciumnya.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Ayo, mari silahkan masuk! Kalian pasti sangat lelah dan juga pasti sudah sangat lapar, saat ini. Bibi sudah siapkan makam malam untuk kalian. Jadi, kalian harus makan malam dulu. Setelahnya, baru kalian boleh beristirahat." jawab Bibi Suni.
Sambil merangkul pundak Naziah dan mengajaknya untuk masuk kedalam rumah pribadi Bos mudahnya itu. Yang tak lain yang dimaksud itu adalah Rega. Sambil sebelah tangannya menarik koper milik Naziah untuk ikut dibawa masuk. Sedang koper milik Rega, sudah sejak tadi dibawah masuk oleh Devan lebih dulu bersamanya.
Dan mereka pun langsung menuju ke ruang makan dalam rumah itu. Setelah sesampainya mereka di sana. Ternyata Devan juga sudah ada berada di sana. Menunggu mereka untuk makan malam bersama.
"Kok lama banget sih, kak! Kalian kemari-nya. Aku udah lama nih nunggunya. Bahkan hampir saja aku jamuran disini. Kak Rega, tidurnya kayak kebo ya Mba' Zi? Jika sudah tidur, sedikit susah dibangunin ya." ucap Devan, bersungut-sungut dan merajuk.
"Heh?! Dasar adik nggak sopan! Masa, kakak sendiri disamain sama kebo sih. Enak aja! Aku benar-benar lelah, makanya aku tidurnya kebablasan tadi. Lagipula, aku tuh memang masih belum benar-benar sehat saat ini. Karena luka sialan ini." ucap Rega, nggak terima dirinya disamakan dengan hewan. Dan berusaha memberi pembelaan terhadap dirinya itu, sendiri.
"Hehe...maaf, Kak?! Habisnya, aku udah sangat lapar sejak tadi, nungguin kalian. Dan karena kalian sudah di sini. Ayo, mari kita makan sekarang!" ucap Devan lagi, sambil cengengesan nggak jelas.
"Em." jawab Rega hanya dengan gumaman nya saja.
Dan kemudian, Rega pun menarik salah satu kursi makan. Dan mempersilahkan Naziah untuk duduk di kursi itu. Setelah memastikan istrinya itu sudah duduk dengan nyaman di kursinya. Barulah Rega menarik satu kursi di dekat Naziah untuk dirinya sendiri.
"Ya sudah, selamat makan ya! Bibi izin ke kamar utama dulu ya Den Rega. Buat bawa koper Neng Ziah ini ke sana." pamit Bi' Suni.
"Iya, Bi'. Silahkan! Dan terimakasih sebelumnya!" jawab Rega,
__ADS_1
Dan setelah kepergian Bi' Suni, mereka pun memulai acara makan malam mereka itu. Dengan hening dan hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring saja yang terdengar. Sebab mereka bertiga sangatlah menjunjung tinggi adab tak berbicara saat makan seperti itu.