Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Dan disinilah Naziah, di ruang rawat yang terdapat dua brankar pasien dalam satu ruangan. Dan antar satu brankar dengan yang lainnya dibatasi dengan tirai saja. Setelah tadi sempat mendapat penanganan serius di ruang IGD.


Saat ini, didalam ruangan itu baru terisi satu brankar pasien yang diisi oleh Naziah. Di sana dia hanya ditemani oleh Tita. Sementara Anto dan Ulfi sedang berada di ruangan dokter. Dan membicarakan tentang kondisi Naziah saat ini.


"Enghhh..."


Naziah melenguh sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dia memperhatikan sekelilingnya.


Dan mendapati Tita yang sedang duduk berjongkok didekat lemari kecil. Yang tersedia didalam ruangan itu. Dia sedang sibuk mengeluarkan dan meletakkan beberapa lembar pakaian. Dari dalam tas ransel kedalam lemari tersebut.


"Aku ada dimana?" tanya Naziah dengan suara lemah.


"Ehh Zi', kau sudah sadar?! Kau ada di rumah sakit. Hampir sejam yang lalu, kau jatuh pingsan di rumah. Karena kau tak kunjung sadar setelah beberapa usaha yang dilakukan Anto. Akhirnya, Anto menelfon kami dan memutuskan untuk membawamu kesini." ucap Tita menjelaskan.


"Kok dibawah ke sini sih Ta'! 'Kan..." ucap Naziah terpotong.


Karena mendengar kata rumah sakit. Naziah memaksa untuk bangun. Dan tiba-tiba di bagian perutnya terasa perih sekali. Hingga ucapannya terpotong dan berganti dengan ringisan. "Ssstt.....!"


Melihat Naziah yang kesakitan seperti itu. Tita dengan sigap membantu menyetel brankar yang ditempati sahabatnya itu. Agar bisa tampak duduk bersandar.


"Terus mau dibawah kemana Zi'? Heran deh sama kamu! Kenapa sih, kamu nggak suka ke rumah sakit?" tanya Tita dengan nada sedikit kesal. Dan bingung dengan jalan pikiran sahabatnya itu.


"Aku nggak suka sama bau dan suasana rumah sakit 'Ta. Selain itu, aku juga punya alasan lainnya." jawab Naziah lembut.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dari luar. Dan menampilkan dokter wanita paruh baya. Yang dibelakangnya disusul oleh Anto dan Ulfi.


"Assalamu'alaikum...!" ucap Dokter tersebut, Anto dan juga Ulfi bersamaan.


"Wa'alaikumsalam...." balas Tita dan Naziah bersamaan pula.

__ADS_1


"Oh...Ziah nya sudah bangun ya?!" sapa Dokter Karina. Itu tag nama pada jas dokter tersebut.


"Iya Dok'. Dia sudah bangun sekitar 10 menit yang lalu." jawab Tita menimpali.


"Alhamdulillah. Tapi, saat bangun nggak ada yang terasa sakit 'kan?" tanya Dokter Karina lagi.


"Nggak tahu Dok'. Soalnya saat sadar, dia hanya ngeluh. Kenapa dia harus dibawah ke rumah sakit? Aku bingung sama pikirannya Dok'." ucap Tita kembali menimpali dan mengasuh pada Dokter Karina.


Mendengar penuturan Tita tersebut. Dokter Karina hanya menggeleng kecil sambil tersenyum. Sementara itu, Naziah sendiri pasrah akan pengaduan sahabatnya itu tentangnya.


"Ya sudah, nggak pa-pa. Saya periksa dulu ya?!!" ucap Dokter Karina. Sambil beranjak mendekati brankar Naziah dan mulai memeriksa kondisi tubuh pasiennya itu.


Tita bergeser mundur mendekati Ulfi dan Anto yang berdiri diujung brankar Naziah.


"Apa aja kata Dokter Karina tentangnya?" tanya Tita sedikit berbisik pada Ulfi


"Sebentar... nanti akan kuceritakan." jawab Ulfi ikut berbisik.


"Nanti akan ada salah satu suster yang membawa makanan untukmu. Tolong dihabiskan ya...! Dan minum obat yang akan ditebus oleh temanmu. O iya, jangan terlalu banyak pikiran dulu!!! Biar asam lambung mu nggak naik lagi. Dan kau bisa cepat sembuh. Oke...??!" pesan Dokter Karina pada Naziah.


"Dan ini resep obat yang harus ditebus. Segera ambil, agar Ziah bisa meminumnya selesai makan nanti. Saya akan pergi memeriksa pasien lain. Permisi, assalamu'alaikum...!" ucap Dokter Karina berpamitan.


Sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi resep obat untuk Naziah, pada Anto. Yang harus ditebusnya di apotik rumah sakit nanti.


"Baik Dokter. Terima kasih, walaikumsalam!" ucap Anto. Sambil menyambut secarik kertas pemberian Dokter Karina tersebut.


"Walaikumsalam..." ucap Naziah, Ulfi dan Tita bersamaan.


Setelah kepergian Dokter Karina, Anto mendekati Naziah. Dan memohon izin juga untuk pergi.

__ADS_1


"Aku dan Ulfi akan keluar untuk menebus obatmu dulu, ya Zi'. Setelah itu, Ulfi yang akan membawakan obatmu kesini. Sementara aku akan pulang ke rumah dulu untuk bersiap-siap. Aku akan masuk kerja dulu. Nanti malam, aku akan kesini lagi. Dan mengganti Ulfi dan Tita untuk menjagamu. Nggak pa-pa 'kan?" pinta Anto


"Iya nggak pa-pa 'Nto. Terimakasih ya...atas bantuannya?!" ucap Naziah


"Hmm.... kau ini, kayak sama siapa aja. Pakai terimakasih segala. Sudah ah.... aku pergi dulu, assalamu'alaikum!" ucap Anto.


"Ayo Ul', ikut aku!" ajak Anto kemudian pada Ulfi.


"Iya walaikumsalam. Hati-hati di jalan 'Nto!!" ucap Naziah dan Tita hampir bersamaan.


Antopun mengangguk sambil melangkah pergi bersama Ulfi. Meninggalkan Tita dan Naziah di ruangan perawatan itu.


"Maaf ya Zi'??! Tadi aku ngadu sama Bu Dokter nya." ucap Tita merasa sungkan.


"Iya nggak apa-apa. Lagian...mau marah juga percuma. Akunya sudah disini kok." ucap Naziah tulus dan jujur.


"Emang... alasan lain yang kamu maksud itu apa Zi'? Selain nggak suka bau dan suasana rumah sakit!" tanya Tita lagi kepo.


"Aku takut. Jika aku sakit dan diperiksa oleh dokter. Terus divonis penyakit yang susah untuk sembuh. Dan nanti, aku jadi kepikiran deh...!!" jawab Naziah jujur dan polos.


"OOO astaga Ziah...! Hanya karena itu toh??!! Kupikir karena apa Zi'! Justru kalau kau cepat diperiksa dan terdeteksi mengidap penyakit parah. Maka dokter akan segera berusaha menyembuhkan pasiennya. Dengan cara tepat dan cepat. Tapi, kalau kita tidak pernah periksa. Dan hanya tebak menebak saja. Terus menggunakan dan mengkonsumsi obat-obatan yang salah. Akibatnya, bukannya sembuh, penyakit itu makin tambah parah lagi. Kamu mau...???!" ucap Tita menjelaskan panjang kali lebar.


"Ihh... amit-amit deh 'Ta. Aku nggak mau." jawab Naziah bergidik ngeri.


"Makanya, kamu nggak perlu takut lagi untuk memeriksa ke dokter di rumah sakit. Toh... nggak ruginya 'kan?!! Jadi, karena sekarang penyakit yang terdeteksi tidak terlalu parah. Kau harus semangat untuk sembuh okey...??!" ucap Tita memotivasi Naziah lagi. Sambil mengangkat dan memperlihatkan kepalan tangannya.


"Iya Bu dokter. Terima kasih atas penjelasannya. Dan saya akan semangat untuk sembuh. Semangat!!!" ucap Naziah ikut menirukan gerakan yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Meski masih terlihat lemah.


"Hahahaaa..."

__ADS_1


Kemudian mereka tertawa bersama. Dan karena perutnya masih terasa perih. Sambil tertawa Naziah terus memegangi perutnya itu.


__ADS_2