Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Selalu Mengejutkan


__ADS_3

Mendengar ucapan Rega, spontan langkah kaki Naziah tertahan. Kemudian membalikkan tubuhnya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Naziah malas, menatap wajah tegas Rega.


"Kenapa kau hanya mempersilahkan Devan dan ifah saja, sedang aku tidak?" tanya Rega merajuk.


"Oooh..... AU ah... malas!" jawab Naziah cuek dan segera berlalu, melanjutkan langkahnya.


Dan tanpa diduga Naziah, Rega beranjak dari duduknya. Kemudian, mengejar langkah Naziah dan mencegatnya. Dengan menahan kedua pundak Naziah dan mencoba memojokkannya ke dinding.


Namun, bukan Naziah namanya jika hanya berdiam diri. Saat mendapat perlakuan seperti itu.


Naziah refleks mendorong dada bidang Rega dengan nampan yang ada ditangannya. Hingga Rega-lah yang terpojok ke dinding dan bukan dia.


"Auh...!" adu Rega. Terkejut dengan gerakan spontan Naziah dan merasa sakit pada punggungnya yang tiba-tiba membentur dinding dengan keras.


"Astaga, Tuan!!!" ucap Naziah ikut terkejut melihat Rega yang telah terpojok ke dinding karenanya. Dan segera mendekati Rega serta membantunya berdiri tegak. "Maafkan saya, Tuan! Sungguh, saya tidak sengaja. Tuan mengejutkan saya. Karena itu, saya refleks melakukannya." sambungnya dengan wajah mengiba. Sambil mengusap-usap punggung Rega yang tadi tampak terbentur dinding dan masih terbungkus jas formalnya itu.


"Kau itu... Ssstt...!" ucap Rega sengaja memotong kalimatnya dengan sedikit meringis. Ia sudah tidak tahu kata apa yang pantas untuk menjuluki calon istrinya yang hypervigilance. Yaitu, bersikap terlalu waspada akan bahaya yang akan mengancam dirinya sendiri.


Mendengar suara benturan keras yang bersamaan dengan suara aduan Rega. Membuat Devan dan Ifah yang baru saja menikmati teh hangat buatan Naziah itu. Langsung ikut berlari masuk dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi didalam sana.


"Ada apa, Kak?" tanya Devan


"Ada apa, Tuan?" tanya Ifah


Tanya mereka berbarengan sambil menyingkap gorden dan berdiri di sana. Tepat di pembatas ruang tamu dan ruang tengah dalam mess Naziah itu.

__ADS_1


"Ini nih, 'Van. Calon kakak iparmu! Dia melakukan KDRT padaku, barusan." jawab Rega mendramatisir keadaannya.


"Ehh... apanya yang KDRT? Siapa suruh dia mengejutkanku dengan masuk kemari!" elak Naziah tak terima dikatakan melakukan KDRT.


Devan dan Ifah saling melempar pandang. Dengan wajah bingung mereka masing-masing.


"Tapi, kakak nggak apa-apa 'kan?" tanya Devan lagi, memastikan.


"Em. Seperti yang kau lihat." jawab Rega sambil sedikit merenggangkan otot pada bagian pundak kirinya yang terasa kaku. Efek benturan keras yang terjadi tadi. Kemudian melepas jasnya dari tubuhnya dan menyisakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda yang ada didalamnya.


"Ya sudah, cepat selesaikan masalah kakak. Kami akan ada diluar!" ucap Devan dan berlalu kembali ke ruang tamu dan diikuti Ifah.


"Em." jawab Rega dengan gumaman saja.


Sementara Naziah, sudah berlalu ke arah dapur sejak tadi. Dan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Sebab tadi dia sempat mengendari motor di jalanan. Yang tentu saja akan sangat banyak debu yang melekat pada wajahnya. Karena tak ingin sampai wajahnya berjerawat nanti. Maka dari itu, dia harus menghilangkan debu-debu itu dengan mencucinya.


Dan kebetulan, sejak tadi dia juga belum melaksanakan sholat isya. Jadi, dia putuskan untuk sekalian berwudhu. Kemudian mengerjakan sholat isya, setelahnya.


Dan Rega yang ternyata masih menunggunya. Dengan duduk di kursi meja makannya sambil meminum teh miliknya, yang ia bawa dari ruang tamu. Mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Segera mengalihkan pandangannya kearah sumber suara tersebut.


Hingga matanya, tak sengaja langsung tertuju ke leher jenjang milik Naziah yang terpampang begitu jelas di sana. Membuatnya lupa berkedip dan kesusahan dalam menelan saliva-nya sendiri.


Sedang saat keluar dari kamar mandi. Naziah yang sibuk menurunkan lengan baju manset-nya yang tadi sempat ia gulung ke atas saat akan berwudhu. Belum menyadari keberadaan Rega di ruang makannya itu. Hingga saat ia mendongakkan kepalanya. Naziah kembali terkejut seraya meraih tepian pasmina-nya untuk menutupi leher jenjang-nya itu.


"Astagfirullahal'adzim!!!" ucap Naziah terkejut. "Ya Allah, sejak kapan kau ada disitu, Tuan? Kenapa kau suka sekali mengejutkanku?" sambungnya bertanya dengan nada tinggi.


Saat Naziah terkejut, Rega pun ikut tersadar. Dan segara mengalihkan pandangannya ke lain arah sambil sedikit berdehem. "Ehem...!" Demi menetralisir perasaan aneh yang dirasakan dan tiba-tiba muncul.

__ADS_1


"Sudah sejak tadi." jawab Rega. "Aku tidak bermaksud mengejutkanmu. Aku hanya ingin meminjam kamar mandi-mu untuk buang air kecil. Tapi, kau lama sekali didalam. Jadi, aku putuskan untuk menunggu disini." sambungnya beralasan yang sepenuhnya tak salah.


"Oh, maaf?! Tadi, Aku mencuci muka sekalian berwudhu." ujar Naziah jujur. "Ya sudah, silahkan!" sambungnya mempersilahkan.


"Terimakasih." ucap Rega. Sambil beranjak dari duduknya. Namun, sebelum dia memasuki kamar mandi. Dia mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Naziah dan berucap lirih.


"Tidak perlu ditutupi. Aku sudah melihatnya." godanya seraya tersenyum devil. "Andai aku seorang vampir. Mungkin sejak tadi, aku sudah menyerang dan mengh*s*p darahmu melalui leher itu. Beruntunglah, aku hanya manusia biasa. Tetapi, aku juga pria normal yang bisa berlaku khilaf padamu. Untuk itu, jangan pernah menyajikan pemandangan seperti itu lagi dihadapan ku. Kecuali, saat kau sudah halal untukku." sambungnya


Setelah berkata seperti itu, barulah Rega melanjutkan langkahnya masuk ke kamar mandi.


Mendengar itu, Naziah merasa sangat malu sekali. Hingga semburat merah tampak tercetak jelas di pipinya. Sementara hatinya sudah sibuk merutuki kecerobohannya itu. Yang begitu saja melupakan, kalau saat ini dia tidak hanya sendiri di mess itu. Hingga sedikit bebas beraktivitas tanpa menutupi auratnya itu.


Tak ingin berlama-lama di sana dan kembali bertemu dengan Rega. Naziah segera masuk ke kamarnya. Dan mengerjakan apa yang sudah dia rencanakan, yaitu sholat isya.


Lima belas menit berlalu, akhirnya Naziah keluar dari kamarnya. Dan sudah mengganti baju manset-nya dengan t-shirt hitam berlengan panjang dan juga jilbab instan berwarna senada untuk mengganti pashmina-nya tadi.


Naziah keluar untuk menemui para tamu-tamunya yang sudah menunggunya sejak tadi. Meski hatinya merasa berat dan masih malu untuk bertemu dengan Rega karena peristiwa di dapur tadi. Tapi, dia harus keluar untuk menghargai para tamu-tamunya itu.


"Sudah selesai sholatnya?" tanya Rega saat melihat Naziah masuk ke ruang tamu itu.


Karena masih meras malu, untuk mengeluarkan suaranya saja, Naziah masih enggan. Jadi, dia hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Rega tersebut. Namun, dalam hati Naziah sibuk menggerutu dan mengumpati Rega.


'Kalau belum selesai, mana mungkin aku sudah keluar. Dasar Big Bos aneh!'


Karena masih meras malu, untuk mengeluarkan suaranya saja, Naziah masih enggan. Jadi, dia hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Rega tersebut.


"Baiklah. Di jam segini, biasanya ibumu sudah tidur atau belum?" tanya Rega lagi.

__ADS_1


"Em... sepertinya belum. Memangnya kenapa?" jawab dan tanya Naziah balik.


"Kalau belum... ayo, kau harus duduk sini dan masukan nomor ponsel ibumu ke ponselku! Karena, aku perlu berbicara penting dengan beliau, sekarang." titah Rega tak terbantahkan.


__ADS_2