
Malam hari, baru saja Naziah melangkahkan kakinya memasuki kamarnya. Suara dering ponsel yang ada didalam tas ransel kecilnya menghentikan langkahnya.
Melihat nama yang tertera dilayar ponsel tersebut. Langsung saja Naziah berbalik dan mengisyaratkan kepada teman-temannya untuk diam sejenak.
"Ssstt..." ucap Naziah dengan jari telunjuk tangannya diletakan didepan bibirnya.
Ketiga sahabatnya yang tadi sedang asyik menonton film pun. Langsung diam seribu bahasa dan Tita yang sedang memegang remote televisi. Spontan menekan tombol off dan mematikan televisinya.
"Halo, assalamu'alaikum!" ucapnya lembut berbicara dengan orang yang ada dibalik telfonnya, kemudian.
"......"
"Aku... masih di Mess. Kenapa?" jawab dan tanya Naziah balik.
"....."
Naziah tampak menahan tawanya. "Kau sudah tahu, kenapa harus bertanya lagi sih...?!" ucap kemudian.
"....."
"Aku baru saja sampai dan ingin mandi dulu." ucap Naziah.
"....."
"Iya, Wa'alaikum salam." jawab Naziah. Lalu menutup panggilannya.
Usai panggilan telfonnya terputus. Naziah langsung melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya. Tanpa memperdulikan ketiga sahabatnya yang menatapnya dengan penuh pertanyaan.
"Ziah... Kau menyebalkan!!!" teriak Tita sambil mengumpat kesal. "Siapa yang menelfon tadi? Aku sepertinya akan mencekiknya. Gara-gara dia, aku melewatkan adegan yang sangat menegangkan difilm ini." sambungnya mengomel.
"Dia Rendi. Silahkan kau cekik, kalau dia datang nanti?! Aku mau mandi dulu...." jawab Naziah santai bahkan sangat santai.
Mendengar jawaban Naziah yang begitu santai mempersilahkannya untuk mencekik Rendi. Tita seperti ingin memukul keras kepala sahabatnya itu juga, karena gemas dengan tingkahnya itu.
"Dasar sableng!!!" umpat Tita lagi. Namun kini dengan nada pelan. Dan kembali fokus menonton karena Ulfi telah kembali menghidupkan televisinya.
__ADS_1
Tak berselang lama, suara ketukan pintu dan salam seseorang dari luar pun terdengar. Dan membuyarkan kembali keseriusan Tita, Ulfi dan Anto yang sedang menonton film aksi.
"Assalamu'alaikum..." ucap seseorang dari arah pintu depan.
Dengan segera Anto beranjak dari duduknya. Untuk menemui tamu yang datang itu. Yang ia tahu, tamu itu adalah Rendi.
"Wa'alaikum salam. Silahkan masuk Bro-bro!" ucap dan persilahkan Anto pada Rendi yang ternyata datang bersama asisten pribadinya, Aldi.
"Ayo silahkan duduk!" ucap Anto lagi.
Saat melangkah masuk, Rendi dan Aldi serta Anto bersalaman ala mereka terlebih dahulu. Kemudian mengambil tempat duduk di ruang tamu itu masing-masing.
"Oh iya, kau ingin bertemu Ziah 'kan? Sebentar ya, aku akan panggilkan dia dulu." tanya Anto pada Rendi dan jawabnya sendiri.
Selesai mengatakan itu, Anto langsung beranjak dari duduknya. Dia pergi untuk memanggil Naziah yang masih di kamarnya.
tok tok tok
"Ziah, apa kau sudah selesai mandi? Jika sudah, cepat keluar! Rendi sudah menunggumu di ruang tamu." ucap Anto dari balik pintu kamar Naziah.
"Iya, baiklah. Aku akan menemaninya. Lagipula, dia membawa Aldi juga. Cepatlah, jangan terlalu lama! Karena sebentar lagi masuk tengah malam. Dan tahu itukan?" jawab Anto.
Dan sekaligus mengingatkan Naziah atas peraturan mereka yang tentu saja masih berlaku hingga kini.
"Iya iya, aku ingat. Pergilah!!!" jawab malas Naziah dan sedikit mengusir Anto agar segera meninggalkan pintu kamarnya.
Karena dia masih ingin melakukan sesuatu hal lagi setelah mandi. Jika Anto masih di sana dan terus menanjak bicara. Maka dia tidak bisa melakukan sesuatu hal itu, yaitu sholat Isya.
Sebelum Anto kembali menemui Rendi dan Aldi. Dia menemui Tita dan Ulfi terlebih dahulu diruang televisi.
"Ul'! Tolong buatkan minum dong?! Untuk 3 orang ya..." ucap Anto pada Ulfi. Dan Ulfi hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Tanpa melepas pandangannya dari layar televisi di depannya.
Baru saja dia akan melangkah pergi. Namun Anto kembali menghadap kedua sahabatnya yang masih asyik menonton televisi itu.
"Oh iya 'Ta! Itu Rendi sudah datang. Apa kau masih ingin mencekiknya? Jika masih ingin, laksanakan saja sekarang. Aku ingin lihat seberapa besar keberanianmu itu untuk melakukannya. Ayo!!!" ucap Anto mencibir Tita, kemudian tertawa lepas sambil melangkah pergi. "Hahaha...."
__ADS_1
Anto sengaja mengatakan itu untuk kesenangannya mengusili Tita. Karena dia tahu, ucapan yang berisi ancaman dari sahabatnya tadi. Tidak benar-benar akan dia lakukan. Sebab, ancaman itu hanya ungkapan kekesalannya atas tingkah Naziah yang menganggu kesenangannya tadi.
Sementara Tita, mendengar cibiran dari sahabat usilnya itu. Dia hanya mampu menggigit bibirnya dengan menatap sinis kearah si usil yaitu Anto. Sambil meremas bantal sofa yang ada di tangannya.
Dan setelah sepuluh menit berlalu. Naziah pun keluar dari kamarnya dengan mengenakan pakaian santainya. Tak lupa dengan hijab instan yang selalu melekat di kepalanya.
"Assalamu'alaikum, semuanya!" ucap Naziah saat memasuki ruang tamu.
"Wa'alaikum salam, Zi'." jawab Anto dan Aldi berbarengan.
Sementara Rendi, hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian, pada detik berikutnya. Dia berdiri dan mendekati Naziah.
"Bisa kita bicara berdua saja?! Tapi tidak disini. Kita harus keluar." ucap Rendi tanpa menunggu jawaban dari Naziah. Sambil menautkan tangannya ke tangan Naziah. Dan mengajaknya pergi dari sana.
Naziah menautkan alisnya bingung. Namun terlihat pasrah saja tangannya sedikit ditarik oleh Rendi. Yang entah mau membawanya kemana.
Sambil mengikuti langkah Rendi, dia menatap Aldi. Yang diartikan oleh Aldi dengan "Aku mau dibawah kemana?". Sehingga Aldi menjawabnya dengan mengendikkan bahunya yang berarti dia tidak tahu.
Mengetahui jawaban Aldi seperti itu. Naziah pun semakin bingung dan semakin pasrah.
"Kami pergi dulu ya...?!" ucap Naziah berpamitan.
"Iya, hati-hati di jalan!!!" jawab Anto dan Aldi kembali berbarengan.
Rendi membukakan pintu mobil untuk Naziah dan menyuruhnya masuk. "Ayo masuk!". Naziah pun menurut saja. Setelah Naziah masuk, Rendi kembali menutup pintu itu. Kemudian, diapun ikut masuk dan duduk di kursi dibalik kemudi.
Sebelum menghidupkan mesin mobilnya. Tak lupa Rendi memasangkan sabuk pengaman untuk Naziah dan juga untuk dirinya. Setelahnya, Rendi pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat yang dia inginkan.
Hampir sepanjang jalan yang dituju. Naziah ataupun Rendi tidak ada yang membuka suara. Hanya Naziah saja yang terus menatap wajah Rendi yang sedang serius mengemudikan mobilnya.
Saat Rendi mengarahkan mobilnya memasuki area taman kota. Naziah kembali menautkan keningnya. "Untuk apa dia membawaku kesini? Apa dia marah padaku?" batin Naziah penuh tanya.
Rendi membawa mobilnya ditempat parkiran taman dan memarkirnya di sana. Kemudian Rendi mengunci pintu dan menutup rapat semua kaca jendela mobilnya. Tanpa mematikan mesin mobilnya. Lalu menghidupkan lampu serta AC yang ada didalam mobil tersebut.
"Apa kau sudah merasa puas... dengan berhasil membohongiku?" tanya Rendi masih di posisinya. Tetapi menatap intens wajah Naziah yang ada di sampingnya. "Apa itu artinya kau ingin menghindari ku?" tuduhnya kemudian.
__ADS_1