Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Nongkrong Bareng Sahabat di Malam Pengantin


__ADS_3

Waktu pun terus bergulir, sedang Naziah yang telah selesai membantu beberes perlengkapan dan peralatan milik para MUA itu. Sepertinya masih belum berniat untuk masuk ke kamarnya dan beristirahat. Karena, dia masih tampak sangat seru saat bercerita dengan para sahabatnya itu.


Sedang Rega, entah sadar atau tidak? Atau karena memang termasuk dalam jajaran pria muda yang gila kerja. Ia juga lupa untuk mengakhiri malam itu dengan beristirahat. Atau berniat menghabiskan malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri. Untuk bermesraan saja di kamar mereka. Eh, diapun malah terus sibuk dengan ponsel ditangannya.


Tiba-tiba, dari arah luar rumah. Masuklah Anto dengan sebuah gitar ditangan kirinya. Mendekat kearah Rega dan mengambil duduk di kursi sebelahnya. Dan saat pantatnya mulai menyentuh dudukan kursi yang akan ia duduki itu. Anto sempat memegang pundak Rega pelan, dan berkata:


"'Ga! Aku boleh minta izin nggak?" panggil dan tanya Anto pada Rega, tiba-tiba.


Karena terlalu serius dan fokus pada ponselnya. Sehingga, saat mendengar panggilan yang dibarengi dengan sentuhan dipundaknya. Spontan Rega mengalihkan pandangannya kearah pemilik tangan yang menyentuh pundaknya itu. Dan mendapati Anto(salah satu sahabat istrinya) serta orang yang juga sudah membantunya sejak ia sampai dikampung asing dan terpencil itu. Yang merupakan tempat asal Naziah Chairunnizwa, sang istri. Dan mendengar pertanyaan Anto yang membuatnya bingung. Rega pun balik bertanya.


"Izin? Izin untuk apa, Bro?" tanyanya dengan kedua kening yang saling bertautan.


"Hem... Begini Bro, karena berhubung ini malam Minggu. Dan juga mungkin malam terakhir bagi kami bisa berkumpul bareng berempat seperti ini lagi setelah sekian lama. Boleh ya, kami nongkrong dan senang-senang bareng Naziah menghabiskan malam ini? Toh, insyaa Allah besok malam dan seterusnya dia milikmu. Boleh ya, Bro?!" jelas Anto pelan dengan penuh permohonan.


"Em... memangnya kalian nongkrong dimana bersama istriku?" tanya Rega sedikit berpikir.


"Nggak kemana-mana, cuma didalam rumah ini saja. Tapi, sambil nyanyi-nyanyi dan main gitar ini. Kami ingin mengenang masa-masa kami saat masih kuliah dan ngontrak bareng, dulu. Boleh...?" jawab Anto sambil menunjukkan gitar ditangannya saat itu. Lalu kembali bertanya atas izin yang dimintanya tadi.


"Oh... kirain mau nongkrong dimana? Cuma disini toh. Ya sudah, silahkan! Asal jangan terlalu berisik ya... Takut mengganggu para tetangga yang sudah pada tidur, mungkin." jawab Rega, begitu santai. Karena lega dan senang istrinya itu tak diajak kemana-mana oleh para sahabatnya itu.


"Beres, Bro. Terimakasih sebelumnya!" ucap Anto senang. Sambil mengacungkan jempol tangannya kearah Rega. Tanda ia setuju akan nasehat Rega itu. Sambil mengayun langkah bergabung bersama ketiga sahabat perempuannya duduk melantai di atas karpet itu bareng-bareng.


"Zi! Main dong... sambil main gitar! Kangen aku, sama permainan gitar dan suaramu itu." ucap Anto seraya menyerahkan gitarnya kearah Naziah. Dan langsung disambut oleh Naziah tanpa banyak kata.


"Iya, Zi... Main dong!" timpal Tita.


"Hem... ini nih yang kurang dari tadi. Pantes saja, sejak tadi aku ngerasa kayak masih ada yang kurang sama nongkrongnya kita ini. Ternyata si Anto dan permainan gitar si Ziah." ucap Ulfi. Dengan gaya seperti sedang menemukan barang yang sejak tadi ia cari tapi baru ketemu sekarang.


"He'em." sahut Tita lagi dengan anggukan kepala cepat.


"Hem... baiklah. Akan ku mainkan. Tapi, aku harus nyanyi lagu apa?" ucap Naziah, sambil mulai mencoba memetik senar gitar dalam rangkulannya itu.


...'jreeng...!' bunyi senar gitar yang digesek....


"Eh, tunggu!" tahan Anto.


Saat matanya melihat kemunculan Elvira dan Lastri yang dari luar. Dengan masing-masing tangan membawa beberapa nampan berisi kue-kue diatasnya. Yang merupakan sisa sajian untuk para tamu undangan saat acara resepsi tadi.


"Kenapa Kak?" tanya Elvira yang heran karena Anto tiba-tiba menahan langkahnya.


"Kuenya masih adakan? Kalau masih ada, letakkan nampannya disini saja. Dan kalian, tolong bikinin minuman hangat buat teman makan kue ini ya, De!" tanya sekaligus titah Anto pada kedua adik Naziah itu.


"Huh... kirain ada apa, Kak Anto, manggil begitu?! Iya, ini kuenya masih banyak. Ya sudah, Dede sama Ade buatkan teh manis hangat aja ya, Kak?" jawab dan tawar Elvira sambil meletakan nampan ditangannya kehadapan kakak dan para sahabatnya itu. Begitupun dengan Lastri yang ikut meletakkan nampan yang ada ditangannya.


"Siip! Makasih sebelumnya ya, Dede dan Ade!" ucap Anto mengacungkan jempolnya kearah kedua gadis belia itu. Yang juga sudah seperti adiknya sendiri.


Kemudian, keduanya beranjak melanjutkan langkah mereka yang tertahan itu menuju dapur. Dan melaksanakan perintah sahabat dari kakak mereka itu. Yang juga sudah seperti kakak pula bagi mereka.


"Hem... pas banget nih, jadi teman nongkrong kita." ucap Anto sambil mencomot salah satu kue dan memasukannya ke mulutnya.


"Oh iya, 'Ga! Gabung sini yuk! Kita habiskan kue-kue ini sambil nongkrong. Aku tahu, sejak tadi kau bekerja terus kan lewat ponselmu itu?!" ajak Anto dengan mulut yang masih terus mengunyah kue yang didalam mulutnya itu. Dan juga mencoba menebak apa yang sejak tadi Rega lakukan pada ponselnya itu.


"Inikan malam bahagiamu. Jadi, biarkan dulu badan dan otakmu itu beristirahat. Ayo, kita rileks bareng dulu malam ini. Sebelum besok mulai sibuk dengan urusan masing-masing, oke!" lanjut Anto.


"Heh... baiklah, Bro." jawab Rega pasrah. dan mulai ikut bergabung dan duduk melantai bareng diruang tamu itu. Dia memilih duduk di samping Anto. Dan persis didepan Naziah, sang istri.

__ADS_1


Dan... jadilah malam itu, Rega dan Naziah hanya menghabiskan malam pengantin mereka. Dengan nongkrong sambil bernyanyi-nyanyi dan mengobrol santai bersama para sahabat karib dari Naziah itu. Tanpa melakukan hal-hal mesra seperti yang dilakukan para pengantin baru lainnya, pada umumnya.


Naziah nampak sibuk menyetel bunyi yang dihasilkan gitar itu. Setelah dirasa pas, dia pun mulai memainkan musiknya. Sebagai penggiring lagu yang dia nyanyikan dan yang diminta oleh Ulfi dan Tita.


Paase Aaye... Dooriyaan phir bhi kam na hui...


(Kau datang... mendekatiku namun tetap ada jarak)


Ek adhuri...si hamari kahani rahi


(Kisah cinta kita tetap tidak lengkap)


Aasmaan ko zameen, ye zaroori nahi,


jaa mile... jaa mile...


(Ini bukan seperti langit yang selalu harus memenuhi bumi)


Ishq saccha wahi, jisko milti nahi manzilein...manzilein...


(Cinta sejati adalah cinta yang tidak mencapai tujuan)


Rang thhe, Noor tha, Jab kareeb tu tha


(Ada warna, ada cahaya, bila kau di sampingku)


Ek jannat sa tha, ye jahaan...


(Dunia ini bagaikan surga


(Di atas pasir, terlihat sesuatu seperti namaku)


Likh ke chhod gaya, tu kahaan...


(Kau menulisnya lalu menghilang meninggalkanku)


Hamari Adhuri Kahani...


Hamari Adhuri Kahani...


Jamari Adhuri Kahani...


Hamari Adhuri Kahani...


(Kisah kita belumlah lengkap)


Khushbuon Se Teri, Yuhin Takra Gaye...


(Aku bertabrakan dengan aromamu tak tahu bagaimana)


Chalte Chalte, Dekto Na, Hum Kahaan Aa Gaye


(Lihatlah, sambil berjalan, seberapa jauh aku datang)


Jannatein Agar Yahin, Tu Dikhe Kyon Nahin

__ADS_1


(Jika ini adalah surga, lalu mengapa aku tak menemukanmu)


Chaand Suraj Sabhi, Hai Yahaan...


(Bulan dan matahari, semua disini


Intezaar Tera, Sadiyan Se Kar Raha


(Aku sudah menunggumu, sejak puluhan tahun)


Pyaasi Baithi Hai Kab Se Yahaan...


(Hingga aku kehausan disini sejak begitu lama)


Hamari Adhuri Kahani....


Hamari Adhuri Kahani...


Hamari Adhuri Kahani...


Hamari Adhuri Kahani...


(Kisah kita belumlah lengkap)


Pyaas Ka, Ye Safar Khatam Ho Jayega...


(Untuk memuaskan dahaga perjalanan ini harus berakhir)


Kuch Adhura Sa Jo Tha Poora Ho Jayega


(Sesuatu yang belum lengkap harus segera diselesaikan


Jhuk Gaya Aasmaan, Mill Gaye Do Jahaan


(Langit telah sujud, kedua dunia pun telah bertemu)


Har Taraf Hai Milan Ka Samaa...


(Dimana pun kau melihat hanya akan ada pertemuan)


Doliyan Hair Saji, Khushbuein Har Kahin


(Tandu dihiasi, wewangian tersebar dimana-mana)


Padhne Aaya Khuda, Khud Yahaan...


(Bahkan Tuhan sendiri telah datang membaca ini)


Hamari Adhuri Kahani...


Hamari Adhuri Kahani...


Hamari Adhuri Kahani...


Hamari Adhuri Kahani...

__ADS_1


(Kisah kita belumlah lengkap)


__ADS_2