Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Terimakasih Dalam Bentuk Lain


__ADS_3

Lima menit berlalu, setelah memulai makannya. Namun, Rega belum juga membuka pembicaraan yang dikatakan akan dibahas bersama Naziah sambil makan.


Sementara itu, Naziah menunggu dengan sabar. Sambil terus memakan makanannya yang hampir habis. Mungkin dia akan bicara setelah menyelesaikan makannya, pikir Naziah. Sehingga, Naziah tak urung untuk menghabiskan makanannya itu.


Setiap kali makan, Naziah memang tidak pernah membutuhkan waktu lama. Bahkan, jika disandingkan dalam sebuah pertandingan lamanya waktu makan dengan seorang prajurit tentara sekalipun. Naziah, mungkin saja akan mendapat poin sama atau bahkan menang. Dan kebiasaannya itu tak luput dari peran ayahnya. Yang pernah memberi wejangan padanya. "Jika dalam bekerja, hargailah waktu yang diberikan. Namun, jangan pernah mendzolimi tubuhmu sendiri. Dan membiarkan tubuhmu sendiri merasa sakit. Karena dipaksa terus bekerja tanpa diberi tambahan nutrisi tenaga untuk berpikir dan bergerak.


Setelah makanan dalam piring milikinya habis tak bersisa. Sedang ketiga orang teman makannya itu. Terlihat, baru menghabiskan setengah bagian makanan dari piring mereka masing-masing. Untuk itu, demi menghibur diri agar tidak jenuh dalam diam. Karena tak berani bicara lebih dulu didepan Rega dan sekretarisnya itu. Serta menjaga, akan dianggap tidak sopan nantinya. Naziah memutuskan untuk memeriksa ponselnya. Barangkali terdapat notifikasi ataupun pesan masuk di sana.


Dan benar saja, setelah lampu layar ponsel itu dinyalakan. Di sana terpampang jelas, beberapa pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau.


Kedua jari jempol tangan Naziah pun langsung bergerak cepat membuka kunci layar ponselnya. Dan mulai membaca pesan-pesan tersebut. Yang tentunya pesan itu, tak lain dan tak bukan dari para sahabat, kedua adik serta ibunya. Yang isi inti dari semua pesan itu adalah ucapan selamat dan doa-doa terbaik atas pencapaian umur oleh Naziah saat ini.


Saat sedang asyik membaca pesan-pesan itu. Bibir Naziah, spontan terus menyunggingkan senyum sepanjang membaca pesan-pesan tersebut. Sambil tanpa seorangpun tahu, kalau dalam hatinya sedang mengucap syukur. Karena, merasa bahagia telah dikaruniai hidup yang dikelilingi dengan orang-orang yang perhatian dan sangat menyayanginya.


Saking asyik dan larut di dunia yang tercipta dalam benda yang berbentuk pipih di tangannya. Tanpa Naziah sadari, kalau Rega dan Devan telah selesai makan dengan hampir bersamaan. Dan saat kedua pria itu akan mengakhiri makannya dengan minum air dari gelas masing-masing. Spontan, tangan mereka yang sudah meraih gelas berisi air minum itu, terhenti begitu saja. Dengan pandangan keduanya tertuju pada Naziah. Keduanya terpaku secara bersamaan memandangi senyum yang ditampilkan oleh bibir indah milik Naziah itu. Yang tampak memukau dan sangat manis terasa bagi kedua pria itu. Bahkan, gerak cepat dari mulut keduanya yang tadi sibuk mengunyah habis dan akan menelan makanan itu dengan air. Seketika memelan dan memaksa menelan begitu saja makanan itu tanpa air.


Akibat dada yang terasa sesak karena menelan paksa makanan. Membuat Rega sadar lebih dulu dari Devan setelah beberapa saat terpaku. Dan membuang pandangan kearah lain serta bersegera untuk meminum air, agar sesak di dadanya hilang. Namun, pandangan yang terbuang itu. Justru tertuju pada Devan yg masih terpaku memandangi Naziah yang belum berhenti tersenyum sambil terus memperhatikan ponsel di tangannya. Hingga rasa sesak yang dirasakan Rega berganti dengan rasa kesal terhadap sekretaris sekaligus adik sepupunya itu.


"Tundukkan pandanganmu, 'Van. Jangan memandangi yang akan menjadi milikku, seperti itu!!! Aku tidak suka." ucap tegas Rega menegur Devan. Segera, setelah menandaskan air minum dari gelasnya.


Sedikit terkejut mendengar ucapan yang berisi teguran keras baginya itu. Dengan segera Devan mengalihkan pandangannya ke lain arah. Sambil meneruskan niatnya untuk minum yang sempat terjeda tadi.

__ADS_1


"Maafkan saya Bos?!! Itu reaksi spontan yang tidak disengaja." ucap Devan setelahnya.


Dan Ifah yang juga mendengar ucapan teguran Rega untuk Devan itu. Serta melihat, apa yang menyebabkan kalimat teguran itu keluar dari mulut Rega. Langsung memaksa otaknya berpikir dan menarik kesimpulan sendiri. Atas jawaban dari pertanyaan yang sejak tadi muncul dibenaknya. Tentang hubungan antara direktur dan teman sekaligus atasan dari devisinya, yaitu Naziah.


"Apa Pak Direktur Rega menyukai Mba' Naziah? Sehingga, memberi teguran keras pada Pak Sekretaris Devan seperti itu. Yang sepertinya, kalimat yang terlontar itu mengartikan, kalau Mba' Naziah itu adalah miliknya. Dan tidak ada seorangpun yang boleh melihat senyuman Mba' Naziah itu, selain dirinya. Wah... selain tegas, dingin dan berkharisma. Meski juga sangat tampan luar biasa. Pak Direktur Rega juga sangat posesif terhadap miliknya... rupanya! " monolog batin Ifah.


Sementara Naziah yang menjadi pokok pembahasan. Sama sekali tak mengerti apa yang terjadi. Dan wajah yang awalnya menampilkan senyum bahagia. Langsung berubah bingung menatap wajah Rega serta Devan bergantian dengan kedua ujung kening dalamnya sedikit bertaut dan terangkat.


Karena tak menemukan arti apa-apa dari tatapannya. Naziah beralih menatap Ifah dengan pandangan menuntut jawaban atas kebingungannya itu. Namun, Ifah pura-pura tak mengerti dan hanya mengendikkan bahunya sekali.


Menyadari Rega, Devan dan Ifah telah selesai dengan acara makannya. Naziah menghentikan aktifitasnya bermain ponsel dan menyimpan kembali benda berbentuk pipih miliknya itu ke kantong blazernya. Kemudian, dengan sedikit berdehem untuk mencairkan suasana. Yang sungguh, sejak awal membuatnya sangat canggung dan merasa tak nyaman.


"Memangnya, siapa yang bilang saya berubah pikiran hm?!" ucap Rega, malah balik bertanya.


"Memang nggak ada yang bilang, Bapak. Saya hanya bertanya saja. Siapa tahu, Bapak memang berubah pikiran. Jadi, kami sudah bisa pergi sekarang dan kembali bekerja." jawab Naziah santai, menjelaskan.


"Kalaupun saya berubah pikiran dan nggak jadi membicarakan hal yang saya katakan tadi. Dan kalian pikir, saya akan semudah itu membiarkan kalian pergi begitu saja?!" ucap Rega ambigu.


"...??!" Naziah dan Ifah saling pandang dengan wajah bingung.


"Maksud, Bapak, apa?" tanya Naziah

__ADS_1


"Ini pertama kalinya saya makan bersama orang lain selain Devan, disini. Dan aku tahu, hampir seluruh wanita-wanita diluar ruangan ini. Sangat ingin berada diposisi kalian seperti sekarang ini. Tetapi, mereka tidak pernah dan tidak akan semudah itu mendapat kesempatan seperti ini dariku. Sedang kalian... mendapat kesempatan itu dengan mudah dariku. Karena itulah, kalian seharusnya bersyukur dan terimakasih untuk itu." jelas Rega dengan disertai sindiran halus diakhir kalimatnya.


Yang bagi seorang Ifah, itu adalah hal langkah yang pernah terjadi pada Big Bosnya itu. Yang selama ini dikenal sangat irit dalam berbicara dengan bawahan seperti mereka berdua itu. Kini malah berbicara cukup panjang lebar di sana.


"Tentu saja, kami akan mengucapkan terimakasih kepada Bapak tadi. Jika, memang Bapak sudah tidak ingin berbicara tentang hal yang dikatakan itu. Bapak...!" jawab Naziah. Dengan menekan kata terakhirnya karena mulai merasa kesal seperti dipermainkan oleh Big Bos mereka itu.


"Aku menginginkan rasa terimakasih dalam bentuk lain. Dan sebagai atasan gadis itu didevisi yang sama. Aku ingin kau yang mewakilinya dan memberikan bentuk terimakasih itu." ucap Rega meminta sesuatu pada Naziah dengan sedikit bermain teka-teki.


Naziah dan Ifah kembali saling melempar pandang satu sama lain. Dengan raut wajah yang sudah sangat kentara bingungnya. Apalagi Big Bos mereka itu meminta sesuatu dari mereka dengan cara bermain teka-teki. Sehingga menimbulkan pikiran negatif di kepala mereka. Namun, dengan cepat pula pikiran itu dibantah oleh diri mereka d


sendiri. Karena tak pernah sekalipun melihat atau mendengar Big Bos itu berlaku seperti itu.


"Kalau begitu, jujur saja dan jangan lagi berbelit-belit! Katakan, bentuk terimakasih seperti apa yang Bapak inginkan?" tanya Naziah tak sabar. Dan juga tak ingin berprasangka buruk yang membuat dosa untuk otaknya.


Kira-kira... bentuk terimakasih seperti apa yang diinginkan Rega dari Naziah ya???


Kalian penasaran...


Silahkan berikan komentar kalian dibawah ya!!!


Dan jangan lupa, tekan tanda 👍, jika kalian suka sama cerita novel amatir dan fiksi ini. Beri 🎁, jika kalian senang dengan ceritaku ini. Dan tekan tanda Vote, bila berkenan di hati kalian. Serta berikan komentar positif yang mampu memberi motivasi untuk ku. Agar terus menulis dan menjadi penulis yang lebih baik lagi. Oke!!! Terimakasih semua 😘😘😘 Salam hangat dariku 💕.

__ADS_1


__ADS_2