Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Pengait Bra?!


__ADS_3

"Sudah selesai telfonnya, Mas? Kalau sudah, ayo sini! Katanya tadi perbannya mau digantikan. Aku sudah selesai mandi." ujar Naziah, sambil tangannya menggantungkan handuk kimono-nya di tiang gantungan. Dan meletakkan pakaian kotornya ke keranjang.


"Oh... udah selesai. Ya sudah, ayo!" jawab Rega. Sambil melihat kearah istrinya itu. Masih dengan tangan yang mengutak-atik ponselnya, usai telponan dengan Devan tadi. Dan mendapati istrinya itu sudah mengenakan piyama tidur lengkap dan tertutup seperti biasa serta tak lupa jilbab instan di kepalanya. Untuk menutupi rambutnya yang merupakan aurat bagi perempuan muslim.


Segera Rega meletakan ponselnya itu keatas sofa tunggal yang ada di kamar itu. Dan mendekat kearah Naziah yang sudah menunggunya disisi tempat tidur.


Rega segera duduk sambil menyingkap sedikit kaosnya. Agar memudahkan Naziah untuk mengganti dan mengobati lukanya. Karena sudah yang kedua kalinya menggantikan perban luka pada suaminya itu. Jadi, Naziah sudah sedikit terbiasa melihat roti sobek. Yang terpampang jelas di dekat wajahnya itu dan sungguh menggoda imannya.


Tak butuh waktu lama, Naziah pun selesai dengan tugas sementaranya itu. Yang bisa disebut sebagai perawat tapi hanya khusus untuk suaminya. Karena sudah selesai, Naziah segera beranjak merapikan segala peralatan dan obat-obatan suaminya itu. Untuk disimpan kembali pada kotak P3K khusus dalam kamarnya itu. Dan akan beranjak keluar dari kamar itu, kemudian.


Namun, saat tangan Naziah mulai memutar kenop pintu. Rega yang mencoba membaringkan tubuh lelahnya itu. Sejenak menahan langkah Naziah dengan pertanyaannya.


"Mau kemana?"



"Mau makan dulu, Mas. Aku lapar." jawab Naziah, datar.



"Kok pergi sendiri, nggak ngajak-ngajak?!" ucap Rega dengan wajah datarnya.



"Oh, Mas lapar juga. Kenapa nggak ngomong dari tadi. Aku 'kan nggak tahu." jawab Naziah, begitu santai.



"Ehh... kamu 'kan nggak nanya. Malah mau pergi sendiri. Lagian... sekarang kamu itu sudah punya suami, nggak sendiri lagi. Jadi... sebisanya, kalau mau kemana itu. Harus pamit dulu sama suamimu ini." ucap Rega mengingatkan Naziah. Takut, kalau istrinya itu lupa. Sambil beranjak berdiri berniat mengikuti istrinya itu.



"Aku 'kan... cuma mau keluar kamar aja dan mau ke dapur. Bukan mau kemana-mana? Kenapa mesti pamit segala sih!" jawab Naziah, ngeyel. Sambil tangannya mulai membuka pintu kamarnya itu. Dan berniat keluar lebih dulu dari suaminya. Yang juga akan ikut makan dengannya.



"Eits...tunggu dulu!" ucap Rega.


Seiring dengan ucapannya, tangan Rega juga dengan cepat langsung menarik belakang baju tidur Naziah. Dan tanpa sengaja menarik tepat di pengait bra yang Naziah kenakan saat itu. Sehingga membuat Naziah yang tak siap akan tindakannya itu. Hampir terjungkal kebelakang. Beruntung saat itu, posisi Rega memang sudah berada tepat dibelakangnya. Hingga tubuh Naziah itu tidak jadi terjungkal. Dan hanya menempel tepat di dada bidang Rega.


"Aauh!" adu Naziah spontan dengan sedikit berteriak. "Mas, apa-apaan sih?! Kok narik-narik gitu!" sambung Naziah dengan ketus. Sambil wajahnya menengadah menatap tajam wajah suaminya. Yang tingginya kurang lebih 15 cm darinya itu.



"Ya... habisnya kamu! Bukannya nungguin suami dan melangkah bersama buat keluar. Eh... malah mau mendahului." ucap Rega tanpa merasa bersalah.

__ADS_1



"Ya... tapi, nggak gitu juga caranya 'kan, Mas. Masa pakai narik-narik baju segala. Heh!!! Jadi, lepas 'kan itunya." ucap Naziah dengan nada sewot dan ambigu. Sambil menjauhi tubuhnya dari Rega dan mundur beberapa langkah.



"Hah?!" ucap Rega dengan wajah bingung. "Lepas itunya, apanya?" tanya Rega, akhirnya.



"Pengait bra aku lepas gara-gara, Mas!" ucap Naziah dengan ketus. Dia sungguh kesal pada suaminya itu.


Mendengar hal itu, wajah bingung Rega langsung berubah. Dan tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyum tipis, sangat tipis. Hingga Naziah yang sibuk meraba pengait bra yang masih menggantung dibelakang tubuhnya itu. Untuk kembali dikaitkan seperti semula. Tak dapat melihat senyuman penuh arti itu.


"Oh... maaf, Mas nggak sengaja! Ya sudah, sini Mas bantuin pasangkan!" ucap Rega, menggoda istrinya itu. Sambil pura-pura mendekat untuk membantu.



"Eh.. eh..eh... Nggak perlu, Mas! Aku bisa sendiri." ucap Naziah, menolak. Dan sambil memundurkan tubuhnya dengan wajah sedikit panik.



"Nggak apa-apa. Itu 'kan lepas gara-gara, Mas. Jadi, Mas harus tanggung jawab dong...." ucap Rega, semakin ingin menggoda istrinya itu.


Karena tak ingin suaminya itu membantu dan melihat punggungnya. Dengan cepat Naziah segera mengaitkan tali bra-nya itu sembarangan. Setelah dirasa tali bra-nya itu sudah berkaitan. Segera Naziah menurunkan tangannya yang sejak tadi terlipat kebelakang tubuhnya. Dan merapikan kembali bajunya yang sedikit tersingkap di bagian belakang.


"Sudah. Sudah terpasang, Mas. Ayo sana duluan jalannya!" jawab Naziah cepat. Dan kemudian memerintahkan suaminya itu untuk jalan keluar duluan dari kamar itu.



"Nggak mau." ucap Rega santai, sambil menggelengkan sedikit kepalanya.



"Loh... kok nggak mau? Tadi katanya lapar dan mau ikut keluar, makan." ucap Naziah, bingung dengan tingkah suaminya itu.



"Maksud Mas itu... Mas nggak mau jalan duluan. Mas maunya jalan bareng kamu. Ayok!" jelas Rega, sambil merangkul lembut pundak istrinya itu. Untuk jalan bersamanya.



"Hem ... posesif. "gumam Naziah sangat pelan. Sambil pasrah dalam rangkulan suaminya itu dan melangkah bersama menuju ruang makan.


Namun, Rega yang memiliki pendengaran cukup tajam. Dia mampu menangkap suara gumaman istrinya itu. Tetapi tidak terlalu jelas apa kata yang diucapkan istrinya itu.

__ADS_1


"Kau bilang apa?" tanya Rega dengan sedikit memiringkan kepalanya melihat wajah Naziah.



"Eh, enggak! Aku nggak ngomong apa-apa." jawab Naziah sedikit gelagapan. Namun berusaha terlihat biasa-biasa saja. "Emang, Mas dengar aku lagi ngomong ya?" lanjutnya bertanya demi memastikan. Kalau pendengaran suaminya itu cukup tajam. Dan jika benar seperti itu, maka ia akan lebih hati-hati saat akan berbicara kasar tentang diri suaminya itu.



"Oh... tak apa. Iya. Mas dengar kamu sedikit mendesah dan mengucapkan sesuatu. Tapi, nggak begitu jelas. Hanya seperti desis-an saja." jawab Rega.


Beruntung, mereka telah sampai diruang makan. Jadi, Naziah langsung meminta suaminya itu untuk duduk di kursi meja makan yang ada di sana. Sementara, dia akan menyiapkan makanan untuk mereka.


"Mas duduk aja dulu. Aku siapin makanan untuk kita dulu ya." pinta dan pamitnya. Dan langsung menuju dapur. Sedang Rega menurut saja dan duduk di kursi meja makan itu.



Di dapur, Naziah bertemu dengan mamanya dan juga beberapa orang tua perempuan. Yang memang sejak tadi membantu mempersiapkan jamuan makan untuk undangan resepsi pernikahan mereka malam itu.



"Eh, Kakak! Mau ngapain?" tanya Mama Adel. Melihat Naziah sedang mengambil piring makan dan gelas.



"Kakak lapar, Ma. Mau makan. Makanannya masih ada 'kan?" jawab dan tanya Naziah.



"Oh... kamu lapar. Iya. Tentu saja, masih ada. Sini piringnya! Biar Mama minta Tante Jumi yang ambilkan makanannya untuk kamu." pinta Mama Adel mengulurkan tangannya. Meminta piring dari Naziah.



"Eh, tolong sajikan disini saja lauk pauk dan nasinya itu, Ma. Karena, Mas Rega juga mau ikut makan. Tuh dia lagi nunggu di meja makan." jawab Naziah memberi penjelasan pada Mamanya itu.



"Oh... kira'in cuma mau makan sendiri aja, Nduk. Kalau begitu, sini'in aja wadah-wadahnya itu, 'Del. Biar aku yang isi." ucap Tante Jumi. Yang memang bertugas menyajikan segala menu masakan saat itu. Untuk semua para tamu yang datang.


Setelah semua wadah yang diberikan Naziah sudah terisi. Naziah pun membawa dan menyajikannya di atas meja makan dihadapan suaminya. Tak lupa juga menyiapkan peralatan makan untuk mereka berdua.


Dan setelah semuanya siap, Naziah dan Rega pun makan dengan khusuk. Tanpa berbicara hingga makanan masing-masing dari mereka habis.


Sementara diluar sana, tepatnya dihalaman rumah Mama Adel itu. Dan didalam tenda terowongan yang masih berdiri. Para tamu undangan sudah mulai berkurang. Tinggal beberapa saja yang masih bertahan dan masih ingin menikmati malam pesta itu.


Untuk keluarga Rega, setelah acara resepsi malam itu berakhir. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke homestay. Dan sekalian berpamitan pulang kembali ke tempat tinggal masing-masing keesokan harinya. Termasuk Nyonya Devi dan Tuan Rully.

__ADS_1


__ADS_2