Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Sholat berjamaah


__ADS_3

Melihat reaksi Naziah yang tak ingin goda. Akhirnya, Rendi mengalah dan berhenti menggodanya.


"Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi. Tapi, boleh aku berkata jujur padamu?" tanya Rendi hati-hati.


"Kau ingin berkata jujur tentang apa?" tanya Naziah lagi


Tanpa Rendi dan Naziah sadari, Dokter Karina dan perawat asistennya sudah berdiri didepan pintu ruang rawat itu.


"Assalamu'alaikum!" ucap Dokter Karina dan asistennya sambil memperlihatkan senyum manis mereka.


"Walaikum salam Dokter!" jawab Naziah


"Walaikum salam Bunda!" jawab Rendi


Dokter Karina melangkah masuk dan mendekat kearah Rendi. Dan tanpa diduga oleh Rendi, Dokter Karina langsung menjewer telinganya.


"Kau mau menggoda pasienku??! Dasar anak nakal! Kau tahu, sejak tadi Aldi mencarimu. Katanya, kalian akan menghadiri rapat ke kantor cabang jam sepuluh nanti. Jadi, sana cepat pulang!!!" ucap Dokter Karina tanpa melepas tangannya yang sedang mencewer telinga Rendi.


"Aauh... sakit Bunda. Iya-iya aku akan pergi. Kejam sekali Ibu ini pada anaknya." ucap Rendi menggerutu kecil.


"Apa kau bilang??!" ucap Dokter Karina dengan matanya yang dibuat melotot kearah anak bandelnya itu.


"Nggak. Aku nggak bilang apa-apa Bunda...! Ya sudah, Aku pergi sekarang. Assalamu'alaikum!" ucap Rendi pada Dokter Karina. "Aku pergi dulu ya Naziah. Sampai jumpa lagi, Assalamu'alaikum!" ucapnya beralih pada Naziah. Sambil mengeringkan matanya.


"Iya, walaikumsalam." ucap Naziah sambil tersenyum geli dan membuang pandangannya kearah l Dan berbarengan dengan Dokter Karina.


Sepeninggalan Rendi, Dokter Karina dan asistennya langsung mengerjakan tugas mereka. Sesuai prosedur kesehatan yang semestinya. Yaitu memeriksa perkembangan kondisi tubuh Naziah. Setelah melalui perawatan selama sehari semalam.


"Syukurlah, kondisimu cukup cepat membaik, Nak. Jika seperti ini, kau tak perlu menginap sampai satu Minggu. Insya Allah, cukup tiga hari saja. Kau sudah boleh pulang." ucap Dokter Karina sambil merapikan alat-alat yang baru saja digunakannya.


"Alhamdulillah. Iya, Insya Allah Dokter. Setelah keluar dari sini, saya akan berusaha untuk tetap menjaga kesehatan lambungku." ucap Naziah senang.


"Iya. Kau masih sangat muda. Karena lambung yang tak sehat itulah semua penyakit berawal. Maka dari itu, jagalah selalu kesehatan lambungmu, ya?!!" ucap Dokter Karina


"Baik Dokter. Aku akan selalu mengingat pesanmu itu." ucap Naziah


"Ya sudah, kami pergi dulu. Beristirahatlah dengan cukup! Assalamu'alaikum..." pamit Dokter Karina dan asistennya.


"Iya, walaikumsalam." balas Naziah.


*

__ADS_1


*


*


Sore hari, tepat pukul 16.00 WITA. Meski masih dengan langkah yang begitu pelan dan hati-hati. Naziah tetap berusaha menuju kamar mandi untuk berwudhu. Dia berniat melaksanakan sholat ashar.


Karena masih belum kuat untuk berdiri lama. Naziah tetap melaksanakan sholat-sholatnya dengan cara duduk.


Tak berapa lama usai mengerjakan sholatnya. Naziah kembali menghibur dirinya dengan membaca Novel yang ada di ponselnya.


Tok..tok...tok...


"Assalamu'alaikum...!" ucap Rendi dan Aldi bersamaan.


"Walaikumsalam." balas Naziah. "Eh, Rendi... Aldi. Mari masuk!" lanjutnya mempersilahkan tamunya itu.


"Terima kasih. Lagi apa? Para sahabat kamu belum pada datang ya, Zi'?" tanya Rendi


"Belum. Jam segini, biasanya mereka masih di tempat kerjanya masing-masing. Mungkin setelah magrib, baru mereka kesini." jawab Naziah


"Ooo begitu ya." ucap Rendi sambil sedikit menganggukkan kepalanya. "Oh iya, kami membawakan beberapa buah-buahan berserat tinggi dan yogurt. Sesuai anjuran Bunda, Katanya : Kau harus banyak makan buah dan yogurt. Agar luka lambung kamu bisa lebih cepat sembuhnya." sambungnya.


Sambil mengangsurkan tangannya kearah Aldi. Dan Aldi langsung memberikan kantong plastik yang ada di tangannya pada Rendi.


"Kalau nggak enak, ya di enakin aja Ziah...!" timpal Aldi sambil tersenyum kecil. "Udah ah, kau tak perlu merasa sungkan begitu. Sekarang, kita sudah jadi teman kan??!" tanya Aldi penuh harap. Dan Naziah hanya mengangguk pelan sambil tersenyum manis.


"Ya sudah, aku keluar dulu ya?! Nggak apa-apa kan? Aku harus menelfon seseorang." pamit Aldi sedikit berbohong.


Dia melakukan itu, untuk memberi ruang pada Rendi dan Naziah. Sesuai intrupsi Rendi padanya. Sebelum mereka sampai diruang rawat Naziah itu.


Namun, baru saja Aldi menyelesaikan ucapannya. Dari arah pintu yang terbuka lebar. Sudah tampak berdiri ketiga sahabat Naziah.


"Assalamu'alaikum..." ucap Anto, Tita dan Ulfi berbarengan.


"Wah...ada tamu penting rupanya." lanjut Anto bergurau. Dan langsung bersalaman dengan Rendi dan Aldi.


"Apa kabar Bro?" tanya Anto basa-basi


"Alhamdulillah sehat. Kau sendiri, bagaimana, sehatkan pastinya??!" tanya Aldi


"Tentu saja, Bro. Demi salah satu sahabat terbaik aku diantara yang dua itu. Aku harus tetap sehat dong...!" ucap Anto. Sambil menunjuk dengan ekor mata kearah Naziah, Tita dan Ulfi.

__ADS_1


Tita yang sudah sibuk saling sapa dengan Naziah dan Ulfi. Langsung berdehem keras, saat mendengar perkataan Anto itu.


"Ekhem...ekhem..!!!"


"Mulai pilih kasih nih...?!!" sindir Tita dan menatap sinis kearah Anto.


Ulfi Pun ikut melakukan hal yang sama seperti Tita. Bahkan lebih tampak seram. Karena menatap dengan bola mata yang dibuat lebih melotot.


Sementara Naziah hanya tersenyum geli dengan tingkah para sahabat-sahabatnya itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


Melihat reaksi spontan dari Tita dan Ulfi seperti itu. Dengan cepat Anto mengambil hati mereka.


"Hehe... maaf...??! Aku hanya bergurau jhe..." ucap Anto dengan meniru gaya bicara Upin dan Ipin. Dan sambil cengengesan ia merangkul pundak Tita dan Ulfi.


"Heh!!! Serius juga nggak pa-pa. Tapi, selama satu Minggu ke depan. Jangan bicara dengan kami!!!" ancam Tita.


"Ekh...ekh.. jangan dong..! Sudah ku bilang, aku bercanda. Jangan yah..yah...ya...?!! Dosa itu loh, kalau nggak saling bertegur sapa sesama muslim. Apa lagi sampai seminggu?!!" ucap Anto gelagapan.


"Ya kamu dong yang tanggung dosanya!!!" giliran Ulfi yang bersuara.


"Astagfirullah!!! Baiklah... Agar permintaanku diterima. Bagaimana kalau malam ini, kalian aku traktir nasi ayam geprek, mau...???" tanya Anto mencoba membujuk kedua sahabatnya itu.


"Permintaan maaf, diterima. Kena kau! Hahaha..." jawab Ulfi dan Tita cepat dan kompak bertos ria. Kemudian tertawa puas.


"Ahh...sial! Mereka menjebakku." ucap Anto menahan geram dengan akal bulus dari Tita dan Ulfi itu.


Sementara itu, Naziah, Rendi dan Aldi hanya menyaksikan pertikaian kecil dari Anto, Ulfi dan Tita itu. Bak sebuah drama sinetron yang tayang di TV. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Kalian ini, selalu saja minta ditraktir dengan cara seperti itu." ucap Naziah. Dari awal, dia memang sudah menebak isi kepala kedua sahabat perempuannya itu.


"Lihatlah mereka itu Bro?! Mereka selalu seperti itu. Jadi, tak salahkan jika aku mengatakan Naziahlah sahabat terbaik ku. Karena Ziah, tak pernah seperti itu padaku." ucap Anto mengadu pada Rendi dan Aldi setengah menahan kesal.


"Sabar aja Bro...!" ucap Aldi dengan menepuk-nepuk pelan pundak Anto. "Bagaimana kalau aku saja yang traktir kalian semua? Kecuali Naziah yah. Karena dia belum boleh makan makanan keras." usul Aldi selanjutnya.


Mendengar usulan itu, sejenak Tita dan Ulfi langsung saling pandang dan bermain dengan alis masing-masing. Kemudian kompak menganggukan kepala cepat. Tanda menyetujui usulan Aldi itu.


"Wah... aku jadi tak enak padamu Bro!" ucap Anto.


"Tak apa Bro. Anggap semua ini sebagai perayaan atas pertemanan kita. Okey??!" ucap Aldi


"Ya sudah, karena sudah masuk waktu magrib. Kita sholat berjamaah disini saja, bagaimana? Ruangnya luas kok." ucap Anto. Setelah melihat jam di tangannya.

__ADS_1


"Oke" ucap Tita, Ulfi dan Aldi kompak. Sedang Rendi dan Naziah hanya menganggukkan kepala mereka.


__ADS_2