Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Wa'alaikumsalam Sayang.


__ADS_3

"Hei...!!! Mau sampai kapan kau akan berdiri di sana hm? Dan... bukankah itu buah untukku?" ucap tanya Rega masih dengan ekspresi datar dan arogannya.


"Ekh, i-iya Tuan. Ini memang buah untuk Anda, Tuan. Saya tidak tahu, apa makanan dan minuman kesukaan Anda. Karena itu, saya hanya membawa buah ini saja." ucap Naziah sedikit terkejut dan terbata menjawab pertanyaan Rega.


Sambil mendekati dan meletakkan parsel buah yang dibawanya ke atas lemari kecil tepat di samping brankar Rega.


"Terimakasih, itu saja sudah lebih dari cukup. Aku ingin makan buah jeruk itu. Bisakah kau mengupaskannya untukku?" ucap Rega


Dan meminta bantuan Naziah untuk mengupaskan salah satu buah jeruk yang dibawanya tadi.


"Dengan senang hati Tuan. Saya akan mengupasnya. Tapi, bolehkah saya bertanya sesuatu, sambil mengupas buahnya?" jawab Naziah dengan tersenyum manis. Kemudian meminta izin untuk bertanya dengan hati-hati.


"Tentu saja. Silahkan bertanyalah!" jawab Rega datar


"Untuk apa Tuan menyuruh Tuan Devan keluar? Dan meninggalkan kita didalam satu ruangan ini!" tanya Naziah


"Untuk memberi privasi pada kita." jawab Rega santai.


"Privasi... maksud Tuan???" tanya Naziah semakin bingung.


"Kau ingin jawaban yang jujur dan to the poin. Atau jawaban asal dan sangat bertele-tele!" jawab Rega dengan memberikan dua pilihan jawaban yang harus dipilih oleh Naziah.


Mendengar pilihan yang diberikan padanya seperti itu. Naziah membatin; "Apa sih maksud si Tuan Arogan ini memberi pilihan seperti itu? Nggak mutu banget deh! Jika bukan karena coba menolongku, dia jadi seperti ini. Ogah banget aku menjenguknya."


"Hem...???!" ucap Rega menuntut pilihan Naziah.


"Saya orang yang tidak suka bertele-tele, Tuan. Jadi, sudah tentu saya minta jawaban yang jujur dan langsung pada intinya." jawab Naziah jengah.


"Baiklah. Akan ku jawab jujur. Tapi sebelum itu, ayo suapi aku potongan jeruk itu sekarang! Leherku sudah sangat terasa kering sejak tadi." titah Rega.


"Tunggu!!! Apa saya tidak salah dengar, Tuan? Anda menyuruh saya untuk menguapi Anda!" tanya Naziah memastikan pendengarannya.


Rega menggelengkan kepalanya pelan. Dan menjelaskan; "Aku sedang malas untuk menggerakkan tanganku saat ini. Jadi, kau harus menyuapiku!!!"

__ADS_1


Dengan terpaksa, Naziah pun menurut dan menyuapi big bosnya itu. Dengan satu potongan jeruk yang telah ia kupas tadi.


Entah mengapa, hanya karena ingin berbicara jujur pada Naziah. Yang merupakan salah seorang karyawati di perusahaannya saat ini. Tiba-tiba, Rega merasa tenggorokannya menjadi kering karena sangat gugup. Padahal, berulang kali berbicara didepan halayak umum dan para petinggi-petinggi perusahaannya. Dia tidak sama sekali merasakan kegugupan seperti saat ini.


Untuk itu, demi mengurangi kegugupannya itu. Rega ingin membasahi tenggorokannya terlebih dahulu dengan air jeruk itu. Setelah air dan potongan jeruk yang ada di mulut habis. Sejenak Rega terdiam sambil memandangi wajah cantik dan meneduhkan milik Naziah.


"Jujur, aku sudah lama ingin berbicara berdua seperti ini denganmu. Hanya saja, aku tidak memiliki alasan untuk bisa bertemu berdua saja denganmu." ungkap Rega.


"Maksud Tuan???"


Tanya Naziah dengan memberanikan diri menatap wajah big bosnya itu. Dengan kening terangkat dan semakin berkerut dalam karena tak mengerti. Dia sungguh tak tahu, kemana sebenarnya arah pembicaraan Tuan big bosnya itu.


"Aku jatuh hati padamu sejak pertama kali bertemu dan melihatmu, Naziah." jawab Rega jujur tanpa melepas tatapan matanya dari wajah Naziah. Dia ingin melihat perubahan wajah dari wanita pujaannya itu. Setelah mendengar kalimat pernyataannya tersebut.


Benar saja, wajah Naziah yang awalnya tampak bingung. Kini wajahnya berubah datar tanpa ekspresi. Dan berusaha menutupi perubahan itu dengan menundukkan wajahnya. Seakan perubahan seperti itu adalah bentuk pertahanan dirinya untuk menutupi rasa trauma akan pengalaman pahitnya tentang cinta yang dialami terdahulu.


"Dan jujur, aku sudah lama mencaritahu tentangmu. Serta ingin mengatakan perasaanku ini padamu. Tapi, karena mengetahui kalau kau selalu menolak beberapa pria yang ingin menjalin hubungan dekat denganmu. Dengan alasan, kau masih trauma akan cinta tunanganmu yang dulu. Aku pun menunda niatku untuk mengungkap perasaanku padamu. Dan menunggu waktu yang tepat disaat kau sudah tidak trauma lagi. Serta kembali membuka diri untuk cinta.


Jadi, apa saat ini kau masih trauma dan tidak ingin mencoba mencintai pria lain?" tanya Rega akhirnya. Sambil menatap kedalam mata Naziah untuk menyelami perasaannya.


"Em... saya juga ingin jujur. Selama ini, saya bukannya trauma akan cinta, Tuan. Tapi, saya hanya ingin memfokuskan diri untuk mengejar karir dan membahagiakan keluarga saya. Tanpa diganggu dengan adanya urusan percintaan yang menurut saya hanya akan mengganggu konsentrasi kerja dan membuang waktu saya saja. Tetapi sesungguhnya, setiap doa dalam ibadah saya. Saya selalu meminta pada Tuhanku. Agar diberi jodoh diwaktu yang tepat, nantinya. Dan diberikan jodoh; Pria yang mencintai saya apa adanya, pengertian, yang bukan hanya menyayangi diri saya tapi menyayangi adik-adik dan ibu saya, seiman dan tentunya mampu menjadi imam saya dalam segala hal.


Dan alasan lain, saya menolak pria-pria itu. Karena, mereka itu tampak sangat tidak bersungguh-sungguh dengan saya. Seperti hanya ingin bersenang-senang saja." jelas Naziah jujur.


"Benarkah?!!" tanya Rega tak percaya dengan pandangan Naziah tentang pria-pria yang pernah menyatakan cinta padanya.


Dan Naziah menjawabnya dengan mengendikkan bahunya cuek.


"Jika aku bersungguh-sungguh dan jodoh yang Tuhan kirimkan untukmu itu, aku. Apa kau akan menerimaku?" ucap tanya Rega dengan menekan kata 'aku' dalam kalimatnya. Sambil menatap serius wajah Naziah.


"Heh... Jangan mengada-ada, Tuan! Itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi." jawab Naziah sambil bibirnya menyunggingkan senyuman kecil.


"Kenapa tidak mungkin? Apa kau tidak mendengar pernyataan ku tadi? Aku jatuh hati padamu, Naziah. Apa kau tak mengerti?" tanya Rega sambil menatap Naziah dengan tatapan mengiba.

__ADS_1


"Saya mengerti Tuan. Tapi, ---"


"Berhenti memanggilku Tuan! Aku tidak suka kau memanggilku seperti itu. Panggil aku, dengan Rega saja. Tanpa embel-embel Tuan. Aku bukan majikanmu." ucap Rega tegas dan lugas.


"Saya tahu Anda bukan majikan saya, Tapi, Anda adalah atasan saya di kantor." jawab Naziah.


"Ini rumah sakit Naziah... bukan di kantor. Dan kita hanya berdua disini. Jadi, berhenti berbicara formal. Jika kau tidak mengindahkan perintahku. Maka, kau akan menerima konsekuensi dariku." ancam Rega


"Emang konsekuensi seperti apa yang akan Anda berikan untuk saya saat ini, Tuan?" tantang Naziah tanpa nada takut sedikitpun.


"Aku akan mencium bibirmu itu." jawab Rega cepat dan sedikit lirih. Namun tetap terdengar oleh pendengaran Naziah yang tajam.


Rega yang memang sejak tadi terfokus pada bibir Naziah yang merah merona alami dan menggoda untuk disentuh. Segera mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Heh!!! Saya pikir Anda itu berbeda dari CEO-CEO yang ada di dunia ini dan di dunia novel. Ternyata sama saja, mesum!." ucap Naziah dengan nada lirih pada kata 'mesum'. "Anda tidak akan bisa melakukan itu pada saya dalam keadaan seperti sekarang ini, Tuan!!!" sambung Naziah semakin menantang Rega.


"Apa kau menantangku?" tanya Rega geram mendengar pernyataan Naziah itu.


Namun secepatnya pula, Rega tersadar dengan keadaannya saat ini. Jika ia memaksa untuk sedikit saja membungkuk. Maka, luka sobek yang dialaminya dan telah dijahit itu. Bisa-bisa jahitan akan terbuka dan kembali sobek. Untuk itu, dia segera mengalihkan pembicaraan mereka dan kembali ke topik awal.


"Baiklah, lupakan tentang konsekuensi itu. Lanjutkan ucapanmu yang terpotong karenaku tadi!" perintah Rega.


"Em... sebentar saya sudah lupa akan mengatakan apa tadi. Siapa suruh Tuan memotong perkataan ku?!! " ucap Naziah menyalahkan. "Oh iya, Tuan memang jatuh hati pada saya. Jatuh hati, bukan berarti mencintai. Untuk itu, jangan suka mengada-ada dengan mengatakan, kalau Anda adalah jodoh yang dikirim Tuhan untuk saya!" lanjut Naziah setelah mengingat ucapannya yang terpotong tadi.


"Astaga... kau itu!!! Baiklah. Tunggu aku sampai sembuh. Setelah itu, aku akan langsung membawamu ke KUA saja." ucap geram Rega. Yang sebenarnya, ucapannya itu bukan hanya ucapan semata. Dan akan benar-benar merealisasikannya nanti.


"Terserah, Tuan! Untuk saat ini, saya memang tidak akan mudah percaya pada ungkapan cinta pria padaku." jawab Naziah santai. "Jam besuk sudah selesai. Saya harus pulang. Anda harus menghabiskan buah jeruk ini nanti, agar tidak mubazir. Nih...!" lanjut Naziah sambil melirik arloji ditangannya. Dan menyerahkan piring berisi potongan jeruk yang telah dipotongnya tadi pada Rega.


"Baiklah. Pulanglah dan hati-hati di jalan!!!" ucap Rega memperingatkan Naziah. "Oh iya, selama aku dirawat, kau harus setiap hari menjengukku. Oke!!! Tidak ada penolakan (titik)." lanjut Tega memberi perintah.


"Hem... baiklah, Tuan. Saya akan datang setiap hari. Ini memang seharusnya menjadi tanggungjawab ku. Karena, jika bukan karena menolongku; Anda tidak akan terluka seperti ini." jawab Naziah pasrah. Dan mulai beranjak dari duduknya.


"Saya pergi dulu, Assalamu'alaikum!!" imbuh Naziah benar-benar pamit.

__ADS_1


"Iya. Wa'alaikumsalam sayang." jawab Rega lembut.


Naziah sudah tak perduli dengan panggilan yang disematkan Rega dalam membalas salamnya. Dia langsung berlalu pergi begitu saja dengan senyuman manisnya.


__ADS_2