
"Apa lagi sih...?" tanya Naziah mulai kesal. Dan ini... bisa nggak, tolong lepasin??!!!" sambungnya, menunjuk dengan mata, tangan Rendi yang menggenggam erat pergelangan tangannya.
Mendengar itu, bukannya melepaskan pegangan tangannya. Rendi malah semakin mengeratkan pegangannya. Namun, tak sedikitpun membuat Naziah meringis kesakitan.
"Aku akan melepasnya. Tapi kau harus janji untuk tidak pergi!" tekan Rendi
"Aku tidak pergi kemana-mana. Aku hanya ingin ke kamarku saja." jawab Naziah mencoba sabar.
"Tidak. Tolong kembalilah duduk di kursimu??! Jika tidak, aku akan mengikutimu sampai ke kamarmu!!!"
Mohon Rendi dengan suara lembut. Namun diakhir kalimatnya, penuh ancaman.
"Gila!!!" umpat Naziah sambil membuang pandangannya.
"Terserah kau ingin mengatakan aku apa! Tapi aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Jadi... kau menurut, atau membangkang??? Kau pilih yang mana?" jawab dan tanya Rendi memberi pilihan.
"Astaga!!! Nih orang... menguji kesabaran ku saja." umpat Naziah dengan suara kecil.
"Menurutlah Zi'!!! Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting dan serius dengan mu." kembali Rendi memohon dengan melembutkan suaranya. Tanpa melepas genggaman tangannya dari tangan Naziah
"Hemmm!!!" Naziah mendesah kasar. "Baiklah. Sekarang, lepasin tanganmu?!!" jawab dan titah Naziah.
Rendi tak mengindahkan titah Naziah itu. Dia hanya melonggarkan sedikit genggaman tangannya. Lalu menarik lembut pergelangan tangan Naziah. Dan membimbingnya untuk kembali duduk di kursi teras.
Mendapat perlakuan semena-mena Rendi seperti itu. Naziah terlihat pasrah. Dalam hati, Naziah ingin sekali menjitak kepala orang yang memegang seenaknya tangannya itu.
Setelah Naziah dan Rendi kembali duduk di kursi semula mereka masing-masing. Anto malah berdiri dari duduknya. Sambil berkata;
"Aku mandi dulu ya Zi'..?! Udah gerah, soalnya pagi tadi aku belum mandi. He...he..." ucap Anto sambil cengengesan. "Aku permisi dulu ya Ren', Aldi...?!" sambungnya berpamitan pada Rendi dan Aldi.
Tetapi, saat tepat berpamitan dengan Aldi. Anto beberapa kali memberi isyarat dengan kerlinan matanya. Sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
Aldi yang mengerti isyarat Anto itu. Akhirnya ikut berdiri dan berpamitan pada Rendi saja.
__ADS_1
"Astaga!!! Ponselku ketinggalan di dashboard mobil. Aku akan mengambilnya dulu ya Ren'?!!" ucap Aldi
Dia langsung berdiri dan melangkah menuju mobilnya. Dan meninggalkan Rendi serta Naziah di teras tersebut. Namun, alih-alih mengambil ponselnya. Sesampainya didalam mobil, Aldi langsung menghidupkan ponselnya dan bermain game.
Ternyata Anto dan Aldi sengaja beranjak dari kursinya masing-masing. Demi memberi ruang privasi pada Rendi dan Naziah untuk berbicara berdua.
"Eh, kok mereka pada pergi sih...?" tanya Naziah bernada protes. Setelah beberapa saat, dia baru menyadari. Jika di teras itu hanya tinggal dia dan Rendi saja.
"Biarkan saja." jawab Rendi cuek dan santai.
Dalam hati, Naziah mengutuk para sahabat dan temannya itu. Karena telah meninggalkannya dengan Rendi.
"Dasar sahabat dan teman laknat kalian semua. Berani-beraninya mereka meninggalkanku dengan pria aneh ini."
Melihat Naziah diam dan duduk manis di tempatnya. Rendi sedikit mengangkat b*k*ngnya dan menggeser kursinya. Agar sedikit merapat dengan meja yang menjadi pemisah antara dia dan Naziah.
Debaran jantung Naziah yang tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya tanpa sebab. Demi menutupi debaran jantungnya yang seperti itu. Naziah menekan dadanya dengan cara melipat tangannya didepan dada. Dan berusaha menguasai dirinya sendiri.
Sebelum berucap, Naziah melirik sekilas wajah Rendi. Yang tampak tegas dan berwibawa.
"Zi', aku ingin belajar mengenalmu lebih dekat." jawab Rendi tanpa basa-basi.
"Hah?!!! Maksudmu?" tanya Naziah setengah terkejut dengan kening berkerut dalam, bingung.
"Maksudku... aku ingin tahu semua tentangmu, lebih dari para sahabatmu mengenal dirimu." ucap Rendi.
"Apa sih Ren'? GaJe banget!!!" ucap Naziah semakin bingung. "Jika hanya ingin menjadi seperti sahabat ku. Kau tak perlu mengenalku lebih dari siapapun. Cukup----" sambungnya terpotong.
Karena Rendi langsung memotong ucapan Naziah tersebut. "Itu karena aku tak ingin hanya sekedar teman ataupun sahabat. Tapi jika Allah mengizinkan, aku ingin kau menjadi pasangan hidupku dunia dan akhirat Ziah..." jelas Rendi.
Mendengar pernyataan Rendi seperti itu. Sejenak Naziah terdiam sambil menatap wajah Rendi datar. Kemudian, di detik berikutnya Naziah tertawa terpingkal-pingkal. Sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Entah mengapa, mendengar pernyataan itu perutnya terasa dikelitik.
Rendi yang melihat reaksi Naziah demikian. Menjadi bingung dan kesal sendiri. Karena Naziah seperti menganggapnya hanya bercanda.
__ADS_1
"Kau pikir aku bercanda??!"ucap Rendi. Dan Naziah hanya menganggukkan kepalanya. Sambil berusaha meredam tawanya.
"Aku bahkan tidak pernah seserius ini mengungkapkan perasaan ku pada wanita yang baru aku kenal, Naziah." lanjut Rendi serius.
Naziah langsung terdiam dan memperbaiki cara duduknya yang sempat tak beraturan.
"Kau serius???" tanya Naziah beo. "Kupikir, kau bercanda Ren'... Maaf...??!" lanjutnya.
"Tidak perlu minta maaf. Karena aku tak membutuhkan maaf darimu. Yang ku butuhkan adalah jawabanmu." ucap Rendi semakin serius.
"Tapi Ren', Aku belum siap untuk itu." jawab Naziah.
"Alasannya...?" tanya Rendi meminta penjelasan.
"Untuk saat ini, aku masih ingin seperti ini Ren'. Apalagi, kuliahku sangat membutuhkan perhatian dan waktuku dalam beberapa bulan ke depan. Jadi, aku tidak ingin membagi perhatian dan waktu ku lagi. Dan itu sudah merupakan alasan utama ku untuk tidak menjalin hubungan lebih dari kata teman dengan pria manapun." jelas Naziah
"Zi'..., kau tidak perlu membagi perhatian dan waktumu untuk ku. Karena aku yang akan membagi perhatian dan waktuku untukmu." ucap Rendi lagi menyakinkan Naziah.
"Nggak usah gombal Ren'. Aku nggak akan termakan dengan rayuan gombalmu. Aku sudah cukup mendengar gombalan dari beberapa pria yang selama ini merayuku." ucap Naziah
"Ssh..." desis Rendi. Dia tampak menggigit bibir bawahnya. Karena gemes mendengar jawaban Naziah yang tetap kekeh dengan pendiriannya. "Zi', jika kau tetap menganggap aku hanya merayu dan menggombal saja. Maka aku akan nekat menemui orang tua mu saja." sambungnya
"Untuk apa kau ingin menemui orang tua ku?" tanya Naziah dengan nada sedikit sinis.
"Untuk memintamu secara langsung saja." ucap Rendi tak main-main.
"Heh???! Terserah kau saja. Lakukan saja jika kau bisa. Aku akan lihat?!!!" ucap Naziah dengan nada menantang.
"Baiklah. Kau tunggu saja kabar dariku. Aku akan menerima tantangan mu itu!" balas Rendi. "Masuk dan beristirahatlah!!! Aku pulang dulu. Assalamu'alaikum?!" sambungnya langsung memberi perintah dan berpamitan pulang. Dan menyempatkan memperlihatkan senyum menawannya pada Naziah.
"Iya, Wa'alaikum salam." jawab Naziah dan hanya tersenyum sangat tipis untuk membalas senyuman Rendi itu.
Dengan sedikit berat hati, Rendi melangkahkan kakinya keluar dari rumah kontrakan Naziah itu. Dan masuk kedalam mobilnya yang di sana sudah ada Aldi yang menunggunya sejak tadi.
__ADS_1
Sebelum melajukan mobilnya, Aldi menyempatkan membunyikan klakson mobil. Untuk tanda berpamitan juga pada Naziah dan para sahabatnya yang ada didalam rumah. Dan Naziah yang masih setia duduk di kursinya. Hanya melemparkan senyum lebarnya kearah Aldi dibalik jendela mobil.