
"Iya. Namanya Naziah. Nak Rega, kenal?"
Jawab Bi' Suni dibarengi dengan anggukan kepala pasti. Setelah mendengar nama panjang dari Ziah disebutkan oleh majikannya itu dan balik bertanya.
"Dia, salah satu karyawati di kantor kami, Bi'. Dan juga, gadis yang kemarin telah dilamar Kak Rega. Tetapi masih meminta diberikan waktu untuk berpikir dalam mengambil keputusan." jawab Devan. Bukan Rega yang menjawab pertanyaan Bi' Suni itu, tetapi dia.
"Wahh... benarkah begitu, Nak Rega?" tanya Bi' Suni dengan nada serius. Sambil menatap wajah Rega.
Dan Rega menjawab sambil melangkah kembali ke taman bunga yang berada tepat didepan rumahnya dan bersisian dengan carport. Untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda karena mendengar kedatangan asisten rumah tangganya itu.
"Iya, itu benar, Bi'." jawab Rega santai. "Ayo, Bi'! Letakkan belanjaan Bibi itu, lebih dulu. Dan bantu aku mencabut rerumputan liar yang tumbuh dan menyiram bunga-bunga ini." sambung Rega mengalihkan pembicaraan.
Rega sengaja melakukan itu, agar pekerjaannya cepat selesai. Dan bisa sedikit bersantai nanti sorenya. Serta menyusun rencana untuk bisa mengapeli Naziah di Mess. Berhubung nanti malam adalah malam Minggu.
"Em... baiklah, Nak. Bibi ke dapur dulu ya." jawab Bi' Suni patuh.
Niatnya masih ingin berbicara banyak dan bertanya banyak hal tentang hubungan majikan dan gadis yang menolongnya itu. Dengan terpaksa, ia tunda dulu. Toh, dia masih harus kembali bertemu dan membantu pekerjaan majikannya itu. Dan berencana akan melanjutkan rasa ingin tahunya itu nanti.
Dan setelah Bi' Suni masuk kedalam rumah. Rega mulai sibuk menata bunga-bunga dan memindahkan ke tempat yang dia inginkan. Sedang Devan sendiri, bertugas memangkas dan merapikan beberapa bunga bonsai. Yang menjadi pembatas taman itu dan lantai carport.
Rega tampak sangat bersemangat dan senang dengan kegiatannya itu. Meski tangannya kotor dan tubuhnya bermandikan keringat. Wajahnya tampak cerah dan sesekali tersenyum kecil karena senang. Dia memang menyukai pemandangan indah. Karena dengan begitu, mata lelahnya seharian memandangi layar komputer. Bisa kembali segar dengan memandangi warna-warni dari bunga dan hijaunya dedaunan bunga itu sendiri.
__ADS_1
Sebab itulah, dia membuat taman kecil itu. Dan mengisinya dengan berbagai jenis tanaman bunga. Yang memiliki banyak kembang dengan berbagai warna-warna yang indah, mencolok dan tentunya memiliki bau wangi yang khas dari masing-masing jenis bunganya.
Berlalu-lalang diantara bunga-bunga itu. Membuat aura ketampanan yang dimiliki Rega seperti bertambah. Apa lagi saat ini, pakaian yang dikenakannya sangat santai, tidak seperti saat ke kantor.
Jika ada orang lain di sana dan melihatnya, selain Devan dan Bi' Suni. Mungkin akan mengira, bahwa Rega masih berumur 18 tahun. Padahal saat ini, Rega telah memasuki usia matang untuk memiliki pendamping hidup, yaitu 29 tahun.
Ya, saat ini Rega mengenakan celana pendek berwarna cokelat susu dan kaos tanpa lengan berwarna hitam. Dan warna kulitnya yang putih bersih sangat kontras dengan warna pakaian itu.
Setelah selesai menyimpan dan merapikan belanjaan. Bi' Suni pun kembali menghampiri Rega dan Devan. Dan membantu kedua pria tampan itu seperti yang diperintahkan.
Sambil mencabut rerumputan liar disekitar tanaman bunga dan menggemburkan kembali tanahnya. Bi' Suni sudah tidak sabar untuk tidak bertanya pada Rega.
"Silahkan! Emang Bibi mau tanya apa? Kenapa mesti takut bertanya? Aku sudah menganggap Bibi seperti ibuku sendiri, selain Ibu Devi." jawab Rega dengan pertanyaan.
"Sudah berapa lama hubungan Nak Rega dan Nak Ziah terjalin? Kok begitu dilamar, Nak Ziah nya mesti mikir-mikir dulu untuk jawab!" ucap tanya Bi' Dunia akhirnya.
"Hem... Aku tidak pernah menjalin hubungan dengannya, sebelumnya. Tapi, aku jatuh cinta padanya saat pertama kali melihatnya di acara pengangkatan jabatan pegawai di kantor, waktu itu. Tak mau jatuh cinta pada wanita yang salah atau wanita yang bersuami. Aku meminta Devan untuk mencari tahu tentangnya. Yang ternyata, dia masih sendiri dan sedang ingin sendiri untuk sementara, saat itu. Dengan terpaksa aku menunggu dan memberi kesempatan untuknya menyendiri. Yang sepertinya baru mengalami sakit hati yang cukup mendalam. Hingga belum ingin menjalin hubungan dengan pria manapun itu.
Tapi, setelah terjadinya insiden penikaman diriku waktu itu. Aku mulai mendekatkan diri padanya dengan berbagai cara yang ku buat. Hingga, kami terlihat sangat akrab hanya dalam waktu yang cukup singkat, yaitu satu Minggu. Dengan sikap perhatiannya selama aku menjalani penyembuhan. Aku sudah mengartikan, kalau dia telah membuka hatinya untukku. Karena itu, aku putuskan melamarnya hari Jum'at, kemarin. Dan Aku sudah berharap penuh, kalau dia akan langsung menerima ku.
Tetapi ternyata, dia masih membutuhkan waktu untuk berpikir. Dan aku sadar, dia memiliki hak untuk itu. Jadi, aku berikan saja dia waktu untuk berpikir." jelas Rega menceritakan semuanya dengan nada sendu.
__ADS_1
"Alhamdulillah... ternyata majikan mudaku ini memiliki hati yang lembut. Hingga tak memaksakan kehendaknya sendiri pada orang lain. Bibi salut dan bangga padamu, Nak! Tapi ngomong-ngomong, bagaimana kalau Bibi ikut bantu untuk membuka hatinya untukmu?" ucap Bi' Suni memuji dan bangga pada Rega. Lalu, menawarkan diri untuk membantu memperlancar kisah cinta majikannya itu.
"Boleh juga tuh, Bi'. Tapi, bagaimana caranya?" tanya Devan
Tiba-tiba ikut nimbrung dan menimpali ucapan Bi' Suni tersebut. Sambil mendekati posisi dimana Rega dan Bi' Suni berada. Dan menghentikan pekerjaan tangannya.
"Sebentar 'kan malam Minggu tuh! Bagaimana kalau Bibi undang Nak Ziah dan temannya untuk makan malam disini. Dengan alasan, setelah mendengar cerita dari Bibi. Jadi, majikan Bibi ingin berkenalan sambil makan malam bersama untuk membalas kebaikannya karena telah menolong Bibi." ungkap Bi' Suni mengutarakan idenya.
"Tapi, Bibi kan harus pulang ke rumah Bibi malam ini!" ucap Rega.
"Demi Nak Rega. Bibi tidak akan pulang dulu malam Minggu ini. Bibi akan menelfon Razka agar memberi tahu bapaknya. Kalau Bibi nggak pulang dulu malam ini. Sebab, Nak Rega sedang membutuhkan bantuan Bibi." jawab Bi' Suni enteng.
"Oke. Setuju, Bi'!" timpal Devan dengan senyum senang dan bersemangat. Sambil mengacungkan jempol tangannya kearah Bi' Suni.
"Oke" ucap Rega juga setuju dengan ide asisten rumah tangganya itu. Sambil menganggukkan kepalanya. "Untuk itu, ayo segera kita selesaikan pekerjaan kita ini. Dan akan menyusun rencana untuk nanti malam itu. Setelah selesai membersihkan diri nanti." sambung Rega untuk mengakhiri pembicaraan mereka itu.
"Em..." jawab Bi' Suni dan Devan bersamaan sambil menganggukkan kepala mereka.
Dan mereka pun mulai melanjutkan serta menyelesaikan pekerjaan mereka yang sempat terhenti tadi, akibat terlibat obrolan serius mereka.
Bersambung....
__ADS_1