Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Mengantar Naziah


__ADS_3

Tepat pukul 10 pagi, Naziah terbangun karena merasa ingin buang air kecil. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Dengan maksud mencari keberadaan Anto, namun tak menemukannya.


Merasa sudah tak tahan dengan tekanan pada kantung kemihnya. Akhirnya, Naziah memaksakan diri untuk bangun. Sambil memegangi kepala, ia berusaha untuk turun dari tempat tidurnya. Dan mulai melangkah dengan perlahan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya itu.


Namun, baru beberapa langkah saja. Tiba-tiba Naziah merasa pandangannya langsung berputar-putar. Dan sakit kepalanya semakin tak tertahankan. Seketika itu tubuhnya limbung dan siap mendarat ke lantai.


"Astagfirullahal'adzim Ziah!!!" ucap Anto terkejut.


Dalam keadaan pintu kamar yang terbuka lebar. Anto yang baru saja keluar dari kamarnya. Langsung dapat melihat tubuh Naziah yang limbung. Dengan cepat dia berlari mendekat dan sigap menahan tubuh Naziah tersebut.


"Kau mau kemana Zi'? Kenapa tak memanggilku?" tanya Anto. Sambil menahan tubuh Naziah yang hampir jatuh.


"Aku mau ke kamar mandi. Mau buang air kecil 'Nto. Tapi, tiba-tiba kepalaku pusing..." jawab Naziah semakin lemah. Sambil memegangi kepalanya.


"Ya sudah, ayo aku antar!" ucap Anto


Sambil tetap merangkul pundak Naziah. Anto menuntunnya ke kamar mandi. Sesampainya di depan pintu kamar mandi, Anto berhenti. Sedang Naziah, Dia biarkan masuk dan menutup pintu.


Setelah beberapa menit menunggu, terdengar Naziah sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi.


"Hoek, hooek..."


"Ada apa Zi'? Kau kenapa? Buka pintunya Zi?" tanya Anto dengan sedikit berteriak dari balik pintu kamar mandi itu. Tok...tok...( Anto mengetuk pintu)


Sibuk memuntahkan semua makanan yang ada dalam perutnya. Naziah tak menghiraukan teriakkan dan ketukan pintu dari sahabatnya itu. Dan terus memuntahkan isi perutnya.

__ADS_1


Hingga dimenit berikutnya, keheningan terjadi. Anto tak lagi mendengar suara Naziah yang muntah-muntah. Merasa khawatir, Anto kembali memanggil sahabatnya itu. Dan dia tak mendapatkan jawaban apapun. Berbagai pikiran buruk tentang keadaan sahabatnya itupun terlintas dipikirannya. Dan membuatnya semakin khawatir setengah mati.


Tak ingin membuat keadaan semakin buruk. Anto mencoba memutar kenop pintu itu. Yang ternyata tak dikunci oleh Naziah.


Dan benar saja, betapa terkejutnya Anto setelah pintu kamar mandi itu dibukanya. Naziah sudah terkapar pingsan tepat di belakang pintu itu. Hingga menyebabkan Anto terjepit karena memaksa untuk masuk.


"Ya Allah Ziah..." ucap spontan Anto. Sambil berusaha menggendong tubuh sahabatnya itu. Untuk dipindahkan ke atas tempat tidur.


"Ziah bangun, Zi! Ada apa denganmu?" panggil Anto dengan suara bergetar. Sambil berusaha menyadarkan dengan menepuk-nepuk halus pipi Naziah.


Namun, Naziah tak sama sekali merespon panggilannya. Membuat Anto semakin panik tapi tetap berusaha tenang. Segera Anto memberi kabar tentang keadaan Naziah saat ini pada kedua sahabatnya. Melalui nomor ponsel Ulfi.


Tut...Tut... (bunyi sambungan teleponnya)


"Ada apa Anto?" tanya Ulfi to the poin di balik telefonnya.


"Astagfirullahal'adzim, baiklah. Kami segera meluncur." jawab Ulfi


Setelah panggilan teleponnya berakhir. Setengah berlari, Anto keluar rumah. Dia bermaksud meminjam mobil pada tetangga. Untuk mengantarkan Naziah ke rumah sakit terdekat.


"Assalamu'alaikum!" ucap Anto


Tepat di depan salah satu rumah. Yang hanya berjarak antara satu rumah dari rumah kontrakan mereka.


"Walaikumsalam..." jawab pemilik rumah. "Eh...Anto. Mari masuk!" sambung pemilik rumah itu saat tahu tamunya Anto.

__ADS_1


"Makasih pak Fahrul. Saya buru-buru, maksud saya datang ke sini. Ingin meminjam mobil Bapak sebentar, boleh? Ziah sakit dan pingsan, jadi saya ingin membawanya ke rumah sakit." tanya Anto to the poin.


"Astagfirullahal'adzim... ya sudah, ayo! Biar saya saja yang antar kalian." jawab Pak Fahrul.


"Tapi, Pak..." ucap Anto.


"Tidak apa-apa. Kebetulan, saya lagi nggak sibuk." potong Pak Fahrul. "Sebentar, saya ganti baju dulu!" sambungnya sambil sedikit berlari masuk ke dalam rumahnya.


"Iya, saya tunggu di rumah ya Pak!" ucap Anto sedikit berteriak agar terdengar oleh Pak Fahrul yang sudah jauh di dalam rumah.


"Iya." jawab singkat Pak Fahrul.


Anto kembali berlari ke rumah kontrakannya. Untuk menjemput sahabatnya yang terkapar pingsan sebelum ia tinggalkan. Sesampainya didalam rumah dengan cepat Anto mencari jilbab instan milik sahabatnya itu di dalam lemari. Setelah didapatkan, Anto segera memakaikan jilbab tersebut di kepala Naziah dengan lembut dan hati-hati. Agar aurat dari sahabatnya yang sudah dianggapnya adik itu, tak terlihat oleh Pak Fahrul. Yang akan datang dan membantunya membopong tubuh sahabatnya itu.


Benar saja, setelah jilbab Naziah terpasang rapi. Terdengar suara Pak Fahrul memberi salam di pintu depan.


"Assalamu'alaikum..."


"Walaikumsalam Pak." teriak Anto dari kamar Ziah.


"Ada yang bisa ku bantu 'Nto?" tanya Pak Fahrul setengah berteriak menawarkan bantuannya.


"Tunggu saja di mobil Pak. Aku yang akan mengangkat Ziah sendiri." jawab Anto saat sudah berdiri di depan lawan bicaranya.


"Baiklah. Ayo cepat!" ucap Pak Fahrul

__ADS_1


Dengan segera Anto kembali menghampiri Naziah. Dengan cara menggendong ala bridal style, Anto memindahkan tubuh lemah Naziah dari kamar ke dalam mobil.


Pak Fahrul menunggu di dekat pintu mobilnya. Dan siap menjadi sopir untuk Anto yang akan mengantar Naziah ke rumah sakit X.


__ADS_2