
"Jadi.... ayo, mari kita saling menjabarkan tentang seperti apa diri kita ini masing-masing. Melalui dari menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan Mas berikan padamu. Oke? Setelah itu, baru giliran mu. Kenapa seperti itu? Karena sejak pertama kali mengenalmu, Mas ini sudah memiliki begitu banyak menampung rasa ingin tahu tentang diri kamu. Jadi, izinkan Mas yang melempar pertanyaan pertama untukmu. Agar, Mas mu ini tak mati penasaran nantinya. Ya...?!" titah Rega. Sambil memegangi kedua lengan atas Naziah didepannya itu.
"Hem... harus ya, Mas?" Naziah terlihat menghela nafasnya berat dan kemudian kembali bertanya, memastikan. Dan Rega hanya menjawabnya dengan anggukkan kepalanya pasti.
"Jadi, Mas mulai tanya ya." ucap Rega menghentikan sejenak kalimatnya. "Sejak kapan kamu bisa menguasai ilmu beladiri dan juga ilmu bergerak secepat kilat seperti tadi, Hem?" lanjut Rega, lugas.
"Em....aku belajar ilmu beladiri dari ayahku. Bla bla bla..." Naziah pun mulai bercerita panjang lebar tentang dirinya itu apa adanya.
Ya, Naziah mampu menguasai ilmu bela diri dasar. Sejak ia masih menempuh pendidikan usia dini, yaitu lima tahun. Dan ilmu bela diri itu memang sengaja sang ayah turunkan kepadanya. Dengan maksud membekali anaknya itu sejak dini. Demi untuk menjaga diri Naziah itu sendiri dari maraknya penculikan anak saat itu.
Almarhum ayah Yanto atau ayah dari seorang Naziah itu. Memang termaksud guru beladiri paling senior dari teman-temannya. Saat beliau masih mengabdi disebuah pesantren tempatnya menuntut ilmu sebelumnya.
\***Flash back** **on**
__ADS_1
Melihat ayahnya yang suka mengasah dan melatih ilmu bela dirinya itu dihampir setiap malamnya. Dan Naziah yang saat itu termaksud anak yang super aktif serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dia suka memperhatikan setiap gerak-gerakan ayahnya itu. Kemudian, menirukannya setelahnya dan langsung meminta sang ayah untuk menilai setiap gerakannya itu. Dan ayahnya pun dengan senang hati membimbing gerakan anaknya itu untuk menjadi lebih baik.
Seiring bertambahnya usia Naziah, ilmu bela diri yang diajarkan oleh ayahnya itu pun semakin bertambah tinggi. Namun, ilmu bela diri yang diajarkan itu. Hanya sebatas ilmu beladiri luar saja tanpa ada ilmu dalamnya. Nanti, setelah Naziah mengikuti sebuah event pertandingan ilmu bela diri persahabatan se-provinsi tempat tinggalnya. Dan dia mendapatkan juara satu. Salah seorang juri yang saat itu terkenal memiliki ilmu dalam tingkat tinggi. Menawarkan dirinya sendiri kepada Naziah. Jika Naziah suatu saat nanti ingin memperdalam ilmu bela dirinya itu. Maka, Naziah bisa mendatanginya kapan saja. Dan tak lupa, juri itu pun memberikan kartu namanya pada Naziah saat itu.
Dan saat itu, usia Naziah yang baru dua belas tahun. Yang tentunya diusia seperti itu, sebagian anak yang sering melihat sebuah ketidakadilan yang terjadi disekitarnya. Maka, hati anak tersebut akan timbul rasa empati yang tinggi. Jadi, so pasti Naziah yang masih remaja kecil saat itu. Akan memiliki impian dan bercita-cita ingin menjadi seperti seorang super hiro. Yang bisa membantu dan melindungi orang-orang terdekat serta teman-temannya. Dari ketidakadilan seseorang terhadap para kaum lemah disekitarnya.
Untuk itu, mendapat penawaran seperti itu. Dan dari seseorang yang saat itu memang sangat dikaguminya. Tanpa membuang waktu dan kesempatan yang diberikan padanya tersebut. Naziah langsung setuju untuk memperdalam dan semakin meningkatkan ilmu bela dirinya yang dimilikinya itu.
Hingga di minggu berikutnya, dan bertepatan dengan hari libur panjang sekolahannya. Yaitu selama hampir sebulan penuh waktunya itu. Naziah pergunakan untuk berguru pada seorang juri itu. Dan tinggal sementara diarea pesantren milik sang juri itu. Bergabung bersama para santriwati di sana dan juga para murid khusus perguruan silat lainnya. Yang sama seperti dirinya.
Dan selama sebulan itu, Naziah benar-benar memanfaatkan waktunya itu. Dan karena tingkat kecerdasan yang dimilikinya di atas rata-rata dari anak-anak seusianya saat itu. Naziah mampu menyerap semua ilmu yang diberikan oleh seorang juri. Yang kemudian menjadi gurunya selama sebulan itu. Dalam menuntut ilmu bela diri ke tingkat yang lebih tinggi dari sang ayahnya saat itu.
Sehingga kini, ilmu itu semakin mendarah daging ditubuhnya. Jadi, meski hatinya tak niat untuk menggunakan kekuatannya itu. Namun, jika tubuhnya sendiri merasa terancam akan sesuatu. Maka, secara tak sengaja atau tanpa disadarinya. Ilmu itu sendiri akan muncul dan melindungi diri pemiliknya itu. Dan ilmu yang ada pada diri Naziah itu sudah seperti memiliki khodam baginya hingga kini.
\***Flash back off**
"Dan sebab itulah, Mas. Hingga kini, jika sedang kepepet atau terdesak dalam suatu peristiwa. Maka, ilmu itu akan secara spontan keluar dari diriku sendiri sesuai kebutuhanku. Contohnya, ya seperti tadi itu! Karena kata Mas waktu sholat subuh kita tertinggal sebentar lagi. Hati dan otakku yang merasa terdesak pun spontan bergerak secepat kilat deh. Hehehe...." jelas Naziah, akhirnya. Dengan sebuah cengiran khasnya. Memperlihatkan kedua barisan giginya yang rapi dan putih.
"Em... seperti itu. Terus... kalau boleh tahu, sekarang guru kamu itu dimana? Apa Mas boleh bertemu dengannya nanti?" ucap Rega dan kembali bertanya. Masih terkait dengan penjelasan Naziah tadi itu.
__ADS_1
"Beliau sudah wafat, Mas. Setahun setelah aku selesai berguru padanya. Memangnya, Mas mau apa bertemu dengan beliau? Jika memang beliau masih ada di dunia ini...!" jawab dan tanya Naziah balik.
"Inalillahi wa innailaihi Raji'un. Semoga amal kebaikan beliau semasa hidup diterima oleh Allah SWT. Aamiin." ucap Rega cukup terkejut. Dan doanya itupun ikut diaminkan oleh Naziah.
"Aamiin. Memangnya, Mas mau apa jika bertemu beliau saat ini?" ucap dan ulang Naziah lagi pertanyaannya tadi. Karena belum terjawab kan oleh Rega.
"Tentu saja. Untuk ikut berguru juga pada beliau, Sayang. Masa iya, jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan dalam perjalanan kita, misalnya. Mas hanya bisa bersembunyi dibelakang tubuh dari istri Sholehah ku, cantik, dan multitalenta ini. Nggak pantas tahu, Sayang. Malu-maluin aja!" jawab Rega, jujur. Sambil merangkum kedua pipi Naziah. Dan kemudian kembali mengecup sekilas hidung mancung istrinya itu, gemes.
"Aamiin... Untuk doanya menjadi istri Sholehah nya. Dan untuk kata cantiknya. Aku ucapkan Syukur Alhamdulillah... Itu semua karunia terindah dari Allah untukku, Mas. Tapi, untuk kata multitalent nya. Sepertinya kata itu belum pantas untukku deh, Mas." ucap Naziah, lugas. Dengan memilah-milah setiap kata yang disematkan suaminya itu untuknya. Karena setiap kata itu memang memiliki penilaian tersendiri darinya untuk dijabarkan.
__ADS_1