
Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Naziah tampak menghela nafas panjang dan membuangnya pelan melalui rongga hidungnya.
Kemudian melepas sabuk pengamannya dan merubah duduknya sedikit menghadap kearah Rendi. Lalu memberanikan diri untuk memegang tangan Rendi.
"Aku minta maaf?! Dan aku juga tidak bermaksud untuk menghindarimu. Aku hanya tidak ingin membuatmu repot dengan menjemputku. Aku tahu pekerjaanmu belakangan ini sangatlah padat. Karena itu, aku tidak ingin kau lelah dengan menungguku datang." ucap Naziah merasa bersalah dan menjelaskan semuanya.
"Zi'...! Kau tahu aku 'kan? Aku sangat rela meski diriku merasa lelah sekalipun. Hanya demi menunggumu kembali. Tapi, kenapa kau dengan teganya membuatku menahan rindu selama satu hari satu malam lagi Hem?!!" ucap Rendi lemah lembut. Dan balas menggenggam tangan Naziah lembut.
"Haha... kau lucu sekali Ren'." ucap Naziah sambil tertawa hambar. "Selama tiga bulan aku jauh darimu. Katanya kau mampu menahan rindu. Tapi, kenapa hanya ditambah satu hari satu malam saja? Kau sudah tidak tahan Hem...?!! Jangan alay Rendi...!!! Jika ada relasi ataupun karyawan mu yang melihatmu seperti ini. Mereka pasti akan bertanya, "Benarkah itu seorang Direktur Utama kita?" Karena setahu mereka, seorang DirUt mereka itu adalah orang yang tegas, berwibawa, dan dingin tentunya. Masa iya seperti ini???!" ujarnya panjang lebar. Sambil menyunggingkan senyum kecil di bibirnya menatap wajah Rendi.
"Jangan mengatai dengan secara jujur seperti itu di depanku. Aku hanya seperti ini saat di depanmu saja." elak Rendi meski tidak menyalahkan semua yang dikatakan Naziah tentang dirinya itu sepenuhnya tidak salah.
"Baiklah. Lupakan! Aku sudah memaafkanmu. Sekarang, aku akan bertanya hal serius tentang hubungan kita, padamu. Bagaimana dengan acara pernikahan kita yang akan dilaksanakan sebulan, setelah kepulanganmu kesini. Apa kau setuju?" tanya Rendi mengubah topik pembicaraan mereka.
"Em... maaf, aku melupakan hal itu?! Karena itu, aku belum bisa memberimu keputusanku. Sebab aku belum memikirkannya." jawab jujur Naziah.
"Astaga...! Kau membuatku seperti ingin menjadi gila saja. Agar supaya, aku bisa menerkammu dan menggigitmu kapan saja, karena gemas. Tanpa takut akan hukum yang akan menjeratku nanti." ucap setengah kesal bercampur gemas mendengar jawaban Naziah seperti itu.
"Ekh... Jangan gila dong, Bang!!! Masa iya, tampan-tampan gini jadi orang gila. Hahaha... up!!!" cibir Naziah dan tanpa sadar tertawa lepas. Kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangannya cepat setelah tersadar. Dan melanjutkan tawanya dibalik tangan tertutup itu.
__ADS_1
Melihat tawa lepas seorang Naziah. Rendi mematung sejenak. "Kau sungguh menguji kesabaran ku untuk tidak menyentuhmu Zi'. Dan aku tidak tahu, entah sampai kapan kesabaran itu akan bisa bertahan. Melihat tingkah acuh tapi peduli padaku. CK ck..." ucap batinnya.
Kemudian, Rendi berusaha membuang pandangannya ke lain arah. Agar perhatiannya pada Naziah dapat teralihkan. Sebab, jika semakin lama dia memandang gadis menggemaskan disampingnya itu. Dia seperti ingin menghukumnya. Dengan memeluk dan menggelitik gadis itu, karena telah menertawakan kesengsaraannya saat ini.
Setelah beberapa saat, Rendi melirik kearah jam ditangannya. Dan mendapati waktu telah menunjukan pukul 9 lebih.
"Ayo kita pulang! Sekarang sudah pukul 9 lebih. Dan berhenti tertawa, jika tidak ingin aku menghentikan tawamu itu dengan ciumanku!" ucap Rendi datar namun penuh ancaman untuk Naziah.
Sambil mulai menghidupkan mesin mobilnya dan mematikan lampu didalam mobil itu. Kemudian melajukan mobil tersebut meninggalkan tempat itu.
Sementara Naziah, langsung berusaha menghentikan tawanya. Saat mendengar ancaman Rendi yang selalu seperti itu. Diapun lama-lama menjadi waspada diri. Karena takut ancaman itu akan benar-benar direalisasikan oleh Rendi.
"Aku beri waktu kau sampai besok untuk memberikan keputusan mu, Zi'." ucap Rendi kembali membuka obrolan mereka. Didalam perjalanan kembali ke kontrakan Naziah.
"Oh iya, apakah kau tidak ingin membeli sesuatu untuk para sahabatmu di rumah?" tawar Rendi. Saat pandangannya melihat pedagang martabak manis di depan sana.
"Ingin. Tapi, aku sedang tidak membawa uang saat ini. Siapa suruh kau langsung menarikku keluar tadi?!" jawab Naziah lesu. Kemudian menyalahkan Rendi yang tidak memberinya kesempatan untuk menyiapkan sesuatu sebelum pergi.
"Aku menawarkan padamu untuk membelikannya Sayang... Bukan untuk menyuruhmu membelinya dengan menggunakan uangmu." ucap Rendi sambil sebelah tangannya yang tidak memegang setir mobil, mencubit lembut pipi Naziah karena sudah sangat gemas sejak tadi dengan tingkah gadis disampingnya itu.
__ADS_1
"Auh... itu sakit Ren'" ucap Naziah sambil mengusap-usap bekas cubitan Rendi di pipinya.
Dan tanpa memperdulikan lagi keluhan Naziah itu. Rendi langsung turun dan keluar dari mobilnya. Setelah memarkirnya ditepi jalan terlebih dahulu. Dia turun membeli martabak manis itu sebagai buah tangan mereka untuk para sahabat Naziah.
Kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan Naziah tadi
*****
Hari cuti libur selama tiga hari pun berlalu. Kini Naziah kembali masuk dan belajar di kampusnya. Seperti sebelum-sebelumnya.
Dan Naziah juga telah memberi keputusan atas permintaan Rendi untuk menikahinya. Sebulan setelah kembalinya Naziah dari kota M pun. Sudah Naziah jawab sesuai dengan banyak pertimbangan.
Karena kuliahnya tinggal satu semester lagi. Jadi, ia putuskan untuk menyelesaikan saja terlebih dahulu. Dan meminta Rendi untuk menunggunya, jika memang siap menunggu beberapa bulan lagi. Tapi jika tidak, Naziah pun tidak akan memaksanya.
Dan Rendi pun mengatakan siap untuk menunggunya. Sampai kapanpun Naziah memintanya. Meskipun raut wajah Rendi tampak lesu, saat mengatakan itu semua. Tetapi, dia tidak punya pilihan lain lagi. Selain menerima keputusan Naziah itu. Karena dia sudah sangat mencintai dan menyayangi Naziah. Setelah tali pertunangan yang mengikat hati mereka waktu itu.
Agar perjalanan waktu yang dirasa lama itu segera berlalu dengan cepat. Rendi pun menyibukkan dirinya dengan menyelesaikan tugas-tugas proyek properti yang saat ini tengah ia jalani. Dan selalu menyempatkan diri menemui Naziah saat waktu senggangnya. Dan jika berada diluar kota, saat merasakan rindu. Maka, mereka akan bertatap muka melalui panggilan video call saja dari ponsel masing-masing.
Sedang Naziah sendiri, berusaha keras untuk segera menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Dan tentu saja, dia harus lulus dengan nilai-nilai baik tentunya. Agar nantinya tak mendapat semester tambahan. Yang diakibatkan kurangnya pencapaian dari nilai-nilai standar yang ditentukan oleh mata kuliahnya.
__ADS_1
Begitu cepat waktu berlalu dan hari ini adalah hari dimana kampus Naziah. Akan mengadakan sidang akhir bagi mahasiswa maupun mahasiswinya. Yang akan menentukan mereka lulus atau tidaknya mendapatkan gelar sarjananya.
Dan beberapa hari sebelum hari itu akan terjadi. Naziah dan para sahabatnya begitu kompak sibuk melakukan persiapan bagi diri mereka masing-masing. Namun tetap saling mengoreksi disaat ada yang dirasakan kurang dari hal-hal itu.