
Pertemuan pertama Rendi dan Naziah memang hanya pertemuan biasa. Namun, pertemuan yang kedua dan di hari yang sama itu. Menyisakan cerita lucu dan mengesankan bagi Rendi. Sedang untuk Naziah sendiri itu adalah pertemuan yang mengesalkan baginya.
Seiring berjalannya waktu dan karena seringnya bertemu. Serta melihat sisi-sisi lain dari diri seorang Naziah. Akhirnya, Rendi mulai jatuh hati dan menjatuhkan pilihan pada Naziah. Untuk menjadi pendamping baginya hingga masa tua nanti menjelang.
Namun, kedatangan seorang wanita yang merupakan mantan kekasih Rendi. Kini menjadi suatu ujian bagi Keharmonisan hubungan mereka.
Flashback Off
*****
"Dulu aku memang sangat mencintai dan menyayanginya lebih dari diriku sendiri. Bahkan isu-isu yang mengatakan dia berselingkuh dibelakang ku. Hanya aku anggap sebagai bualan semata. Dari orang-orang yang iri pada hubungan kami. Tetapi, setelah perselingkuhannya itu disaksikan oleh mataku. Aku langsung tidak sanggup mengendalikan amarah didalam hati ku. Sehingga, aku putuskan untuk menjauhinya tanpa memberikan alasan apapun." jelas Rendi menjeda ucapannya.
"Mungkin, karena itu Tasya masih menganggap diriku sebagai kekasih bahkan tunangannya." sambung Rendi memberi kesimpulan.
"Jika seperti itu, tolong selesaikanlah dengan baik-baik hubungan kalian?!! Saat ini aku sangat lelah Rendi. Dan aku butuh istirahat yang cukup. Jadi untuk sementara, bisakah kau tak mengganggu pikiran ku." ungkap Naziah dengan suara lemah dan wajahnya sudah tampak pucat. Sambil memijat-mijat pelan pelipisnya.
Mendengar suara lemah Naziah itu. Rendi yang sejak tadi memberi penjelasan. Dan duduk dengan menundukkan kepalanya. Langsung mendongak dan menatap wajah pucat Naziah tersebut. Seketika itupun, Rendi langsung panik.
"Ziah, kau kenapa sayang? Wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit?" tanya Rendi sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Naziah. Benar saja, suhu tubuh Naziah panas.
"Astaga Zi', kau demam sayang!!!" ucap Rendi semakin panik. "Ayo... aku antar kau ke kamarmu!" ajak Rendi dan bersiap membantu Naziah berjalan.
Rendi langsung teringat akan pesan Bunda Karina. Yang mengatakan, jika Naziah tidak bisa terlalu kelelahan dan banyak pikiran. Akibatnya, tubuhnya akan langsung drop dan mengalami demam tinggi.
Karena itulah, setelah mengetahui suhu tubuh Naziah yang panas. Dia menjadi panik sendiri.
"Aku tidak apa-apa. Kau pergilah!!! Aku bisa sendiri." jawab Naziah semakin lemah.
"Tidak Zi'. Aku tidak akan pergi. Kau sedang tidak baik-baik saja." tolak Rendi.
"Anto...! Apa kau masih di sana?" panggil dan tanya Rendi
"Iya, Ren'. Ada apa?" jawab dan tanya Anto. Sambil membuka pintu dan mengintip kearah dalam Mess Naziah itu.
"Ziah panas tinggi. Bantu aku tunjukkan kamarnya." jawab Rendi.
"Astagfirullahal 'adzim!!! Apa yang terjadi?Kenapa bisa begitu Ren?" ucap dan tanya Anto. Spontan berlari masuk dan meninggalkan Tasya yang masih duduk di kursi teras masih di Mess Naziah itu.
__ADS_1
Anto pun menempelkan punggung tangannya ke dahi Naziah. Untuk memastikan ucapan Rendi tadi, benar adanya.
"Biar aku yang membawanya. Kau tunjukkan saja dimana kamarnya?!!" ucap Rendi sekali lagi.
"Baiklah, ayo!!!" ucap Anto
"Ada apa ini? Dia kenapa?" tanya Tasya ikutan masuk dan melihat kepanikan Rendi dan Anto.
Rendi tak menanggapi pertanyaan Tasya tersebut. Hanya langsung mengangkat tubuh lemah Naziah dengan kedua tangannya. Dan Naziah yang sudah merasa sangat lemah. Tak mampu lagi untuk menolak dan hanya pasrah saja akan perlakuan Rendi. Serta berusaha berpegangan pada tengkuk leher Rendi agar tidak jatuh.
Sedang Anto pun berlaku sama. Tak perduli dengan pertanyaan yang dilontarkan Tasya. Melihat Rendi sudah mengangkat tubuh lemah Naziah. Anto bersiap membuka gorden pembatas ruangan dan menunjukan letak kamar Naziah pada Rendi.
"Sayang... kau pasti belum makan kan? Sudah jam berapa sekarang?" ucap tanya Rendi pada Naziah. Sambil membaringkan tubuh lemah Naziah itu di atas tempat tidurnya dengan perlahan.
Karena mengikuti langkah Rendi dan Anto yang membawa Naziah ke kamar. Dan posisinya yang berada tepat di depan pintu kamar Naziah. Sehingga, Tasya dapat mendengar dengan jelas panggilan Sayang yang disematkan Rendi untuk Naziah.
"Sayang??! Benarkah hubungan mereka sudah sedekat itu? Hingga, Rendi memanggil gadis itu dengan panggilan sayang seperti itu. Berarti... semua ucapan Anto tadi, benar adanya. Apa sudah saatnya aku melupakannya?" batin Tasya pesimis.
Ya, saat di teras tadi Anto memang telah menjelaskan padanya tentang hubungan Naziah dan Rendi. Jadi, Tasya sudah tak begitu terpukul mendengar kenyataan itu.
Melihat perhatian yang ditunjukkan Rendi pada Naziah seperti itu. Hati Tasya terasa begitu sakit. Dan air matanya tampak mulai menganak sungai.
Anto yang sejak tadi berdiri didekat tempat tidur Naziah. Menjadi tidak tega melihat kesedihan Tasya tersebut. Sehingga ia memutuskan untuk mengajak wanita malang itu ikut bersamanya.
"Ayo Nona Tasya... ikut aku!" ucap Anto sambil menarik tangan Tasya dan mengajaknya keluar dari kamar tersebut.
Anto pun mengajak Tasya duduk di ruang tamu Naziah saja. Karena, jika mengajak Tasya keluar. Anto tidak tahu harus kemana. Sebab dia juga cuma pendatang baru dan belum tahu seluk-beluk kota tersebut. Dan mau jalan pun ia tidak punya kendaraan sendiri di sana.
"Duduklah dan menangislah Nona. Aku siap menemanimu disini." tawar Anto setelah sampai di ruang tamu.
Namun, bukannya duduk setelah dipersilahkan oleh Anto. Tasya malah tetap berdiri dan tiba-tiba menabrak dada bidangnya. Kemudian menangis dengan suara tangisan pilu di dada bidangnya.
"Ekh...!!!" ucap Anto terkejut mendapat pelukan tiba-tiba itu.
Dengan terpaksa, Anto pun perlahan membalas pelukan wanita malang itu. Dan menepuk pelan punggung wanita cantik yang bernasib malang itu. Untuk menenangkan hatinya.
"Astaga, kau membuatku terkejut Nona!" ucap Anto lagi. "Baiklah... Jika dengan menangis seperti ini dapat membuat sakit hatimu terasa sedikit terobati. Aku tak apa. Tetapi, tolong pelan kan suaramu?!! Sebab, kau akan mengundang perhatian seluruh penghuni Mess yang ada di sini. Dan akan membuat kita dalam masalah baru nantinya." sambung Anto lembut namun penuh peringatan.
__ADS_1
Mendengar itu, Tasya pun perlahan menurunkan suara tangisannya. Dan hanya tersedu-sedu meluapkan segala kesedihan dihatinya itu.
Meninggalkan Anto dan Tasya yang ada di ruang tamu. Kita kembali pada Rendi dan Naziah.
Setelah memberi obat pereda nyeri lambung pada Naziah. Rendi beralih ke dapur Naziah. Dan mencoba membuat oatmeal yang memang telah tersedia di lemari penyimpanan Naziah di dapurnya.
Setelah oatmealnya siap, Rendi pun menyajikannya di sebuah mangkok. Kemudian membawa makanan tersebut ke kamar.
"Sayang... kau harus makan dulu. Setelah itu, baru kau boleh beristirahat ya...!" ucap Rendi pada Naziah sambil menarik kursi meja rias yang ada di sana untuk di duduki. "Aku suapi ya...?!!" sambungnya bersiap menyuapi Naziah.
"Aku bisa sendiri Ren'...!" tolak Naziah lagi sambil berusaha untuk duduk bersandar di kepala ranjang tempat tidurnya.
"Sayang... bisa nggak, kamu itu nurut aja! Kau tahukan, jika aku marah... aku akan menghukummu meskipun kau sedang sakit sekalipun. Dan kau pasti tahu, apa hukuman yang akan kuberikan untukmu kan...??!!!" ucap Rendi sambil menaikturunkan kedua keningnya.
"Oke...baiklah. Ayo suapi aku!!!" jawab Naziah terpaksa.
Sebab sangat tahu hukuman yang dimaksudkan oleh Rendi itu. Naziah pun segera mengiyakan dan pasrah saat Rendi menyuapinya. Dan Rendi tersenyum simpul dengan kepatuhan Naziah itu.
Beberapa menit berlalu, setelah Naziah menghabiskan makanannya hingga tandas. Dan juga sudah meminum obat penurun suhu panas tubuhnya. Naziah pun bersiap untuk tidur.
"Apa kau akan kembali ke kota P malam ini juga, Ren'?" tanya Naziah. Saat Rendi sedang menyelimuti tubuhnya.
"Apa kau ingin aku kembali malam ini?" tanya balik Rendi. "Em... sayangnya tidak. Karena kau sakit, Aku akan menginap di sini untuk menemanimu." lanjut Rendi santai.
"Tidak perlu menjagaku Ren'. Jika penghuni Mess yang lain mengetahui aku membawa pria didalam Messku. Aku pasti akan mendapat masalah besar nantinya." jelas Naziah
"Hm... bukankah itu baik?!! Kita akan langsung dinikahkan, bukan?" jawab dan tanya Rendi.
"Jangan gila!!! Aku tidak mau seperti itu." jawab Naziah kesal.
"Iya-iya... aku tahu Sayang. Aku hanya bercanda. Maafkan aku ya...?!! Tapi, bolehkah Tasya menginap disini denganmu? Kasian dia tidak punya tempat menginap malam ini. Mau mencari hotel sudah terlalu larut. Bolehkan?" tanya Rendi setelah menjelaskan.
"Em.... boleh. Biarkan dia tidur di kamar yang satunya." jawab Naziah
"Alhamdulillah, terimakasih ya. Istirahatlah!!! Aku akan menemuinya." jawab Rendi sambil membelai puncak kepala Naziah yang berbalut jilbab sporty. Dan Naziah hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Rendi itu. Kemudian, menutup mata dengan perlahan dan mencoba untuk tidur.
Begitulah malam itu berlalu, bersyukur sahabatnya Anto ada di sana bersamanya. Sehingga membantu Naziah menyelesaikan masalah cinta segitiga yang baru saja dihadapinya. Dan Tasya pun telah menerima dengan ikhlas. Atas berakhirnya hubungannya bersama Rendi. Serta mengikhlaskan Rendi untuk Naziah.
__ADS_1