
"Ya Allah! Minggu depan? Bukankah itu terlalu cepat, Nak? Ibu tidak akan bisa mempersiapkan acara pernikahan kalian dengan waktu sesingkat itu. Apakah tidak ada pilihan waktu ya sedikit lebih lama dari sekarang, Nak? Dua atau tiga bulan ke depan mungkin!" jawab Ibu Adel dengan penawaran waktu. Dan dengan wajah yang tampak sedikit khawatir serta panik.
Rega tampak tersenyum dibalik layar ponsel itu. Untuk menenangkan calon mertuanya itu.
"Ibu tidak perlu khawatir tentang hal itu. Sebenarnya, saya sendiri telah mempersiapkan semuanya. Jauh sebelum saya melamar anak Ibu ini.
Maksud saya memberitahu Ibu lebih cepat itu. Agar Ibu bisa mempersiapkan diri saja, kedua adik Ziah, dan juga keluarga terdekat yang ingin menyaksikan pernikahan kami nanti. Serta wali nikah yang sah untuk Naziah. Karena, In sya Allah pernikahan kami itu dilaksanakan tepat tujuh hari lagi dari sekarang.
Jadi Besok, saya sendiri yang akan mengantarkan Naziah pulang ke rumah Ibu. Saya sangat tahu, kita adalah orang Indonesia. Yang tentunya memiliki adat istiadat dari masing-masing daerah yang ditinggali. Dan saya termasuk salah satu anak bangsa yang sangat menghargai adat dan istiadat yang berlaku di setiap daerah di Indonesia ini. Untuk itu, saya tahu di daerah asal calon istriku ini. Pasti ada yang namanya tradisi pingit untuk calon pengantin wanita 'kan, Bu?
Bersama dengan pulangnya Naziah nanti. Saya juga akan sedikit membantu mempersiapkan apa yang perlu saya bantu siapkan disitu. Bagaimana, bolehkah seperti itu, Bu?"
Tanya Rega, setelah bercerita dan memberi penjelasan panjang lebar pada calon mertuanya itu.
"Ya ampun, Nak! Tentu saja boleh. Tapi... Ibu sungguh merasa tidak enak padamu." jawab Ibu Adel merasa sungkan.
"Ibu...! Aku menikahi Naziah karena mencintai dan menyayanginya dengan tulus dan ingin membahagiakannya. Karena, Ibu adalah Ibu dari Naziah. Maka, Ibunya juga akan menjadi Ibuku nantinya. Jadi, jika saya ingin membahagiakan istriku. Tentu saja, saya juga harus membahagiakan orang-orang yang disayanginya. Jadi, tolong jangan menolak atau menghalangi apa yang ingin aku lakukan. Oke?!" jelas Rega lagi.
"Ya ya ya baiklah, Nak. Jika sudah seperti itu mau-mu dan juga Ziah. Ibu sudah tidak bisa berkata apa lagi. Silahkan lakukan! Dan jangan lupa memberi kabar pada Ibu nanti saat akan berangkat kemari, besok!" jawab Ibu Adel pasrah. Sambil bibir tuanya itu menyunggingkan senyum senang.
"Eh... itu bukan mau-ku, Ma. Aku tidak tahu apa-apa dalam hal ini. Karena aku baru mendengarkan juga darinya saat berbicara dengan Mama barusan." sela Naziah tak terima dikatakan semua itu rencananya bersama Rega. Sementara dia sendiri tidak tahu rencana itu.
"AU ah, aku akan pergi makan sekarang. Kau teruskan saja berbicara dengan Mamaku. Toh kalian juga sudah tampak akrab meski baru saling kenal beberapa menit lalu. Aku pergi ya, Ma!" lanjut Naziah dan akan beranjak dari kursinya.
Namun dengan cepat Rega menahan tangannya.
"Mau kemana? Apa kau lupa, kita akan makan siang bersama di ruangan ini? Sebentar lagi makanan kita akan sampai ke sini. Ayo, duduk kembali!" ucap Rega.
"Hugh...! Lihatlah, Ma! Belum apa-apa saja, pria ini sudah bersikap angkuh pada kita. Dia menyebalkan sekali, Ma!" ucap Naziah dengan membuang nafasnya kasar melalui mulut. Lalu mengadu pada Mamanya melalui panggilan video itu.
__ADS_1
"Meski baru calon istri, dia memang sudah harus patuh padaku 'kan, Bu?! Lagipula, saya menempatkan sikap angkuhku ini pada tempatnya kok. Jadi, nggak apa-apa kan, Bu?" elak Rega, membela diri.
"Sudah-sudah. Kenapa jadi saling mengadu sih...! Seperti anak kecil saja. Ingat!!! Umur kalian itu sudah hampir kepala 3. Jadi, sudah tidak wajar jika masih seperti itu. Ya sudah, Mama mau makan siang dulu. Kalian juga kan?! Sebaiknya, kita akhiri dulu pembicaraan kita ini. Assalamu'alaikum...!" ucap Ibu Adel sedikit menasehati. Lalu berpamitan untuk mengakhiri panggilan video mereka itu.
"Iya, baiklah Ma. Eh, saya sudah boleh panggil Mama kan?" jawab Rega dan kembali bertanya sebelum ibu calon mertuanya itu menutup panggilannya.
"Iya boleh, Nak. Silahkan!"
"Terimakasih, Ma. Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Rega dan Naziah hampir bersamaan.
Dan panggilan video mereka itupun berakhir. Seiring dengan itu, dari depan pintu ruangan kerja Rega yang terbuka itu. Tampak dua orang wanita sedang membawa nampan di tangan mereka. Dan mengucapkan salam didepan pintu itu.
"Assalamu'alaikum, Tuan!" ucap kedua wanita itu. "Kami membawa makanan pesanan Anda, Tuan." sambung salah satunya.
"Wa'alaikumusalam." jawab Naziah dan Rega lagi bersamaan.
"Iya. Ayo, sajikan di sini!" jawab Rega dengan menunjuk meja didepannya itu dengan matanya.
"Silahkan makan, Tuan dan Nona! Kami akan kembali lagi untuk mengambil bekas piringnya, sejam lagi. Selamat menikmati."
ucap salah satu pelayan sopan dan ramah.
"Eh, kelamaan, Mba'. Setengah jam aja, kalian sudah boleh mengambil bekas piringnya." jawab Naziah.
Mendengar itu, Rega hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Dan para pelayan itu menatap Rega untuk meminta persetujuannya. Dan Rega yang mengerti tatapan dari para pelayan itu. Hanya bisa mengangguk pelan memberi jawabannya.
"Baik, Nona. Kami akan kembali setengah jam lagi. Kami permisi?!" ucap kedua pelayan itu pamit undur diri.
__ADS_1
"Iya. Terimakasih." jawab Naziah akhirnya.
Dan para pelayan itupun keluar. Kembali meninggalkan Naziah dan Rega di sana sudah dengan makanan masing-masing yang ada dihadapan mereka.
Sebelum makan, tak lupa Naziah membaca doa terlebih dahulu. Selesai membaca doa, baru saja Naziah akan menyuapi mulutnya dengan sesendok makannya. Tiba-tiba, gerakan tangannya terhenti karena tak sengaja menatap wajah Rega.
Yang ternyata sejak berdoa tadi, Rega sudah terus menatapnya. Dan setelah Naziah membalas tatapannya itu. Dengan cepat Rega memainkan kedua alis keningnya, naik-turun.
Naziah yang tak mengerti arti isyarat yang diberikan oleh Rega padanya itu. Dengan terpaksa, mengurungkan dulu niatnya untuk makan dan bertanya.
"Ada apa? Kenapa belum memulai makan-mu?" tanya Naziah, dengan ekspresi wajah bingung.
"Sudah lama sekali kau tidak menyuapiku. Aku merindukan suapan makanan dari tanganmu." jawab Rega
"Hem! Apa ini juga salah satu alasanmu mengajakku makan siang bersama?" tebak Naziah. Setelah menghembuskan nafas kasar dari hidungnya.
"Hehehe.... iya." jawab Rega seraya nyengir kuda.
"Huf... baiklah. Sini makananmu!" ucap Naziah, lagi menghembuskan nafas kasar.
"Kita akan makan bersama. Kau harus menyuapi. Sedang aku, akan menyuapi-mu. Oke!" ucap Rega kembali mengeluarkan sikap arogannya.
"Kenapa sih... aku selalu tidak bisa menolak segala perintah-mu?! Dasar pria angkuh!!!" ucap Naziah mengumpat kesal.
"Itu karena kau memang ditakdirkan untuk menjadi jadi makmum-ku. Yang memang pantas menuruti segala perintah dariku. My future wife." ucap Rega menjawab pertanyaan yang penuh kekesalan dari Naziah tersebut.
Dan meski terpaksa, Naziah tetap menyuapi Rega. Dan Rega pun menyuapinya. Jadilah saat makan siang itu, mereka saling menyuapi satu sama lain. Hingga tanpa sadar, makanan yang ada pada piring masing-masing, habis tak bersisa.
Dan benar saja, belum sampai setengah jam. Naziah dan Rega telah menyelesaikan acara makan mereka. Dan bahkan, setelah para pelayan itu datang. Piring-piring bekas makan mereka itupun telah dirapikan oleh Naziah. Kedua pelayan itu hanya tinggal mengangkatnya dan mencucinya saja.
__ADS_1
"Oh iya, sebelum aku pergi. Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Naziah. Setelah kepergian para pelayan.
"Silahkan! Kau ingin bertanya apa Hem?" jawab dan tanya balik Rega. Sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya yang bertumpu di atas kedua kakinya yang tertekuk.