
"Oh, kalian sudah selesai sholat?" tanya Naziah pada Rega dan Devan. Dan hanya mendapat anggukan kepala dari keduanya.
"Oh iya, Eka. Kenalkan, ini Tuan Rega... dan ini Tuan Devan. Mereka adalah---" ucap Naziah
"Aku calon suaminya, Naziah." potong Rega memperkenalkan dirinya sendiri pada Eka.Tanpa mengulurkan tangannya. Hanya melalui sebuah anggukan kepala saja.
Mendengar Rega yang memperkenalkan dirinya sendiri sebagai calon suami Naziah. Dengan raut wajah dan sikapnya yang dingin menatapnya. Seketika membuat raut wajah Eka berubah drastis. Dari yang awalnya tampak sangat mengagumi ketampanannya. Langsung berubah datar dan segera beralih pandang kearah Naziah dengan senyum terpaksanya.
"Ooo.... calonnya Mba' Naziah to! Pantas saja, kalian tampak sangat serasi. Loh Mba'...! Namaku Eka, Mas." jawab Eka, memperkenalkan dirinya.
"Saya, adik sepupunya Rega." ucap Devan menimpali. Dengan mengulurkan tangannya kearah Eka. Dan Eka menyambutnya dengan senyuman cerahnya.
"Eka." ucap Eka lagi.
"Dia pemilik mobil ini. Mobilnya mengalami gejala over heat. Suhu mesinnya cukup tinggi. Jadi, harus didinginkan dulu sekitar setengah jam lamanya. Karena baru saja pulang kerja, dia belum sempat makan. Akhirnya, sekarang dia merasa lapar. Berhubung, aku dan Ifah juga merasa lapar. Kami putuskan untuk mencari makan dulu didekat-dekat sini saja. Sambil menunggu mesin mobil itu dingin. Apa kalian mau ikut?" ucap Naziah dan diakhiri dengan memberi tawaran pada Rega dan Devan.
"Em, boleh juga. Kebetulan didekat mesjid sana, kami melihat ada sebuah rumah makan tadi. Kalian saja yang tuntun jalannya. Ayo, silahkan!" jawab Devan mewakili Rega yang hanya mengangguk saja. Dan memberi jalan pada ketiga gadis itu.
__ADS_1
Dan tanpa banyak bicara lagi, mereka pun segera menuju tempat makan yang dimaksud oleh Devan itu. Yang hanya membutuhkan waktu 2 menit saja dengan berjalan kaki secara perlahan.
Setelah sampai ditempat makan yang hanya berupa warung makan sederhana namun bersih itu. Mereka langsung mengambil posisi duduk masing-masing. Kebetulan, warung itu menawarkan konsep lesehan. Rega memilih duduk tepat berhadapan dengan Naziah dan di sampingnya ada Devan. Sedang Naziah, duduk diapit oleh Ifah dan Eka.
Usai memilih menu masing-masing. Devan bertugas untuk memesan makanan-makanan itu ke pemilik warungnya.
Sambil menunggu pesanan mereka datang. Mereka saling mengobrol santai satu sama lain. Ifah yang sejak tadi memiliki tanda tanya besar atas Naziah. Yang mengaku pada Eka beberapa saat lalu itu. Terus diam saja dan tak banyak bicara seperti biasanya. Membuat Naziah bingung dengan perubahan sikap temannya itu.
"Ada apa 'Fah? Kok diam saja, Hem...!" tanya Naziah.
"Em... aku masih kepikiran sama mobilnya Mba' Eka. Bagaimana, kalau setelah mesinnya dingin tapi belum bisa nyala juga. Apa nggak sebaiknya kita hubungi pemilik mobil derek saja? Agar mobil Mba' Eka itu langsung dibawa ke bengkel resmi saja untuk diperbaiki. Bukankah itu solusi terbaik Mba' Eka?" tanya Ifah mengusulkan dan meminta persetujuan dari Eka, sang pemilik mobil mogok itu.
Sementara itu, hampir setiap teman yang aku tanya tentang berapa biaya untuk turun mesin mobil matic. Selalu jawaban mereka adalah dikisaran 5 jutaan bahkan lebih. Mendengar itu, aku jadi berpikir untuk memperbaikinya. Sebab, dengan biaya perbaikan sebesar itu. Dan gajiku yang hanya dibawa kisaran setengahnya dari biaya itu. Harus berpikir tujuh kali dong untuk melakukannya. Belum lagi setelah itu, tapi mobilnya masih rusak lagi. Bisa gila aku!!!" jelas Eka panjang kali lebar. Dan merengutkan wajahnya saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
Sehingga membuat Naziah dan Ifah sedikit tertawa melihatnya. Sedang Rega dan Devan sibuk dengan pembicaraan mereka sendiri dan tak perduli.
Meski mereka baru saling kenal saat itu. Dengan pembawaan Naziah dan Eka yang sama-sama mudah bergaul. Membuat mereka mudah akrab satu sama lain. Begitupun dengan Ifah.
__ADS_1
"Hehehe... Sebenarnya, biayanya itu hanya tergantung pada kerusakan dan sparepart mesin yang memang perlu penggantian saja. Jika memang mesin telah mengalami kerusakan berat. Barulah biayanya itu bisa mencapai nilai uang segitu. Setahu aku, di setiap bengkel resmi. Biaya overhaul atau biasa disebut turun mesin itu. Memang, paling sedikit 2 jutaan dan paling banyak... ya sekitar 5 jutaan. Dan dari biaya 5 jutaan itu, sebenarnya sudah termasuk kedalamnya. Upah dari jasa para montir profesional yang menangani kendaraan tersebut. Serta bayar sparepart asli dari pabrik yang harus digantikan pada kendaraan itu. Tapi, nggak tahu deh kalau di bengkel abal-abal." jawab Naziah menceritakan segala pengetahuannya tentang hal tersebut.
"Emang Mba' Naziah tahu darimana semua tentang itu? Apa Mba' punya teman seorang mekanik ya?!" ucap Ifah semakin ingin tahu.
"Em... iya." jawab Naziah singkat.
Karena makanan pesanan mereka telah sampai dan pelayan sedang menatanya kehadapan mereka masing-masing.
"Oh iya, aku baru ingat! Mba' Naziah bergelar sarjana teknik, bukan?! Kalau boleh tahu, Mba' ngambil jurusan teknik apa waktu kuliah dulu?" ucap tanya Ifah yang tanpa sadar, semakin mendalam ingin mengulik segala tentang Naziah.
"Ssst...! Makannya udah datang. Ayo baca doa dulu kemudian fokus makan dulu. Nanti saja lanjutkan ceritanya." ucap Naziah dengan sedikit berbisik kearah sisi telinga Ifah.
"Baik, Mba'." ucap patuh Ifah pada Naziah. Yang memang menurutnya adalah seseorang yang patut menjadi panutan baginya.
Seperti sebelum-sebelumnya, Naziah dan Ifah selalu membaca doa dengan sikap dan tata cara agamanya masing-masing. Membuat Eka yang baru melihat hal itu, sedikit menatap bingung. Namun setelahnya, ia pun mengerti dan memahami apa yang sebenarnya dilakukan oleh kedua wanita yang baru saja dikenalnya itu. Dan bibirnya tampak menyunggingkan senyuman sambil terus menatap Naziah dan Ifah.
Sementara itu, Rega dan Devan seakan tak terlalu perduli dengan ketiga gadis yang ada dihadapan mereka itu. Entah karena akan segera menggelar hari pernikahannya dan cuti menikah nanti. Sehingga, membuat Rega dan Devan tak pernah membuang waktu mereka. Untuk terus membahas tentang jalannya bisnis mereka ke depan, di manapun dan di segala situasi.
__ADS_1
Usai berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Kelima orang itu pun memulai acara makan mereka. Dengan tanpa berbicara satu sama lain dan hanya memfokuskan diri. Untuk memindahkan makan dari piring untuk memasukkan kedalam lambung mereka.